Kata-Kata

Kata-kata kadang meluncur begitu saja
Saat eforia melanda
Lupa, bisa jadi ada yang terluka
Kadang akibatnya tak terduga

Kata-kata bertebaran di mana-mana
Tak perlu kau ambil semua
Mana yang diingat mana yang dilupa
Pilihlah dengan bijaksana

Kata-kata bisa jadi penyemangat jiwa
Saat diri lemah tak berdaya
Perlahan hangat mengalir di jiwa
Memberi amunisi bagi diri tuk berkarya

Tangis adalah kata-kata tak terucap
Berjuta makna dapat diungkap
Bagi yang mampu memahaminya
Cukuplah sudah penjelasannya

Katamu begini, kataku begitu
Berupaya mencari titik temu
Berbeda pendapat kadang perlu
Tapi tak perlu terus beradu

Jakarta, 28 Sep 2018



Selamat Menempuh Hidup Baru

Selamat menempuh hidup baru kawan
Hari ini kau ucap janji suci dihadapan penghulu
Disamping wanita pilihanmu
Semoga dapat menjalin hidup lebih bermakna

Suka dan duka akan datang menghampiri
Bersama mengarungi bahtera
Menjalani hidup sampai akhir nanti
Membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah

Jadikan dia teman seperjalanan
Menapaki jalan lurus yang kau pinta
Carilah penerang jalan dan rambu-rambu
Agar selamat sampai di tempat yang dituju

Banyak godaan, cobaan dan ujian
Semua harus dihadapi dengan ilmu
Tanpa ilmu, gamang menyergap sepanjang masa
Tak tau arah mana hendak dituju

Menjalani hidup apa adanya
Menuntun kepada kebenaran
Menjalani hidup penuh kepura-puraan
Dapat menuju jurang kehancuran

Tak ada manusia yang sempurna
Terimalah dia apa adanya
Bersama memperbaiki diri
Saling mengisi dan bersinergi

Jakarta, 10 Oktober 2018


Prapatan: Prapto dan Prapti dalam Tulisan (Cerita Fiktif Belaka)

SALAH SASARAN

Prapto dan Prapti memutuskan membangun biduk rumah tangga pada empat bulan silam. Terhitung masih pengantin baru, kedua insan ini senantiasa diselimuti perasaan rindu yang menggelora. Keduanya masih terbuai dalam pusaran kasmaran yang memang membuat ketagihan.

Sayangnya tuntutan pekerjaan dan kerasnya ibu kota membuat intensitas pertemuan mereka menjadi tak total. Waktu mereka lebih banyak berkutat di jalan, kantor dan peraduan. Untung di zaman sekarang berbagai media sosial bisa memudahkan segala urusan, pun mengungkapkan perasaan.

Prapto dan Prapti menjaga kualitas komunikasi dengan rutin berbalas pesan whatsapp tiga detik sekali. Hal yang serupa terjadi di akun media sosial mereka yang lain. Berbagai tulisan nyata menunjukkan yang dirasa. Mulai dari rindu, cinta, hingga sindir-sindiran berbau romansa. Semuanya demi menjaga manisnya berumah tangga.

Siang ini Prapti sungguh merasa lelah. Berkas-berkas pekerjaan masih menumpuk di mejanya. Meskipun dari pagi hari sudah bersusah payah tapi sepertinya tumpukan kertas di meja tak kunjung musnah. Untuk sekadar mengendurkan kepenatan, terpikir untuk memainkan musik perlahan. Dipilihlah daftar lagu yang masih tersimpan agar bisa segera didengarkan.

"Astaghfirullahaladzim," ucap Prapti lirih saat tersadar.

"Kemarin kata pak ustadz, musik kan gak boleh," seketika Prapti mematikan dan membatalkan niatnya.

Menghibur diri dan mengalihkan perhatian, akhirnya Prapti mengambil ponselnya dan membuat status whatsapp.
"Kangeen The Groove"

Di sisi kota Jakarta yang lain, Prapto sedang duduk santai di meja kerjanya. Pekerjaannya hari ini relatif tak menguras pikiran. Di siang hari yang terik Prapto juga masih terlihat segar karena pendingin udara di ruangannya baru saja diganti. Dalam kesenggangan, Prapto menengok ke arah ponselnya yang baru tiga detik yang lalu diletakkan.

"Wuih, bojoku bikin status whatsapp," bisik Prapto dalam hati.

Sejenak Prapto merenung dan mengernyitkan dahi, kemudian bergumam, "sejak kapan aku diberi panggilan the groove sama Prapti?"

Dengan cekatan Prapto langsung membalas status istrinya itu, "Tenang honey, The Groove ba'da maghrib sudah sampai rumah"

Prapti heran menerima balasan whatsapp dari suaminya. Namun tak butuh waktu lama Prapti tertawa-tawa sendiri dan segera menyadari keluguan suaminya. Dia hanya membalas pesan dengan emoticon mencium.

Rupanya Prapto masih penasaran kenapa dirinya dipanggil 'The Groove' oleh istrinya. Bergegas dia raih papan ketik di depannya dan mencari arti 'The Groove" di internet.

"Hmmh, ternyata artinya alur, maksudnya apa ya?" Prapto mandang ke langit-langit sambil mencoba berfilosofi.

"Ooh, mungkin maksudnya, aku lah sekarang yang menjadi alur cerita hidupnya," Prapto senyum-senyum sendiri.

"Romantis sekali emang bojoku iki, jadi ingin cepat pulang"

Beberapa waktu kemudian, senja mulai berkunjung, tanda waktu bekerja sudah di ujung , dan saatnya menembus kemacetan menuju rumah kontrakan. Sepanjang perjalanan pulang Prapto masih saja senyum-senyum sendiri dan merasa berbangga hati. Motornya terus ditunggangi melaju bak kuda poni.

Hingga akhirnya alam beralih dari terang ke gelap. Prapto menginjak rem tepat di depan pintu rumah kontrakannya. Dengan perasaan deg-degan Prapto mengetuk pintu dan mengucap salam, "Assalamualaikuum"

Prapti yang sudah sampai rumah sejak sore tadi perlahan membuka pintu dan menjawab salam suaminya, "Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"

Langsung diraih tangan suaminya dan dicium sepenuh hati sebagai wujud bakti seorang istri. Prapto pun memberikan kecupan kecil di dahi sang istri sebagai tanda sayang seorang suami.

Tak lama kemudian, dengan semangat dan suara lantang, Prapto membentangkan tangan dan berteriak, "The Groove sudah pulaaang!"

- Sekian -

Merayakan Kebohongan

Dirum : Kenapa judulnya itu Urug?
Urug : Lagi musim!

Dirum : Musim bagaimana Urug? Lagi pula masa sesuatu yg buruk dirayakan. Mbok ya kalau mau merayakan itu merayakan kebaikan.

Urug : Itulah Dirum. Jika kita merayakan kebaikan dengan melakukan hal-hal baik, maka keburukan dirayakan dg melakukan hal-hal buruk.

Dirum : Maksud lo? Eh, maksud Urug?

Urug : Jika kita melihat orang melakukan satu hal buruk lalu banyak orang membullynya bahkan merendahkannya. Bukankah artinya itu kita telah menambahkan keburukan?

Dirum : Hal buruk kan memang rendah Urug dan membully orang yg melakukan keburukan itu biar orang itu kapok. Semacam sanksi sosial lah gitu.

Urug : Nah, ada dua hal sebenarnya disitu kan. Perbuatan buruk dan yang melakukan perbuatan itu. Yang kamu katakan tadi adalah kamu benci perbuatan buruk dan benci juga pelakunya. Kamu mempersempit ruang bagi pelaku untuk memperbaiki kelakuannya jika begitu Dirum.

Dirum : Apa maksud Urug kita mesti seperti kutipannya Mahatma Gandhi itu, 'Bencilah dosa, Sayangilah orang yang berdosa'

Urug : Kamu pikirkanlah Dirum dan renungkan. Lagi pula memangnya kamu tidak pernah berbohong. Coba aku tanya, 'Sudah berapa kali hari ini kau berbohong pada Tuhan?'

Dirum : Lho?

Urug : Ya coba cek saja. Berapa kali kamu memujinya Maha Pengasih dan Penyayang juga Maha Besar tapi ketika kau ketemu kenyataan yg tak sesuai harapan kamu kesal dan pesimis. Kau sering mengucap syukur pada-Nya tapi tak berbagi. Bukankah kata-katamu telah menjadi kebohongan jika begitu.

Dirum : @#$&@@..

J1018

Gempa Bumi



Tapak-tapak tua berbekas di atas alas
Telah lama menghuni pongah berdiri
Peran penjaga bumi jatuh terjerembab dalam kerusakan
Gumpalan tanah yang jadi moyang dipakainya tumpuan kemaksiatan

Ingatkah engkau pada masa penciptaan
Malaikat sempat tak setuju penunjukan dirimu
Watak perusak jadi alasan ragu
Sang Khalik membelamu karena Dia yang Maha Tahu

Acuhmu masih saja meninggi saat petunjuk jelas menerangi
Larangan tetap kau daki, perintah beraninya kau kangkangi
Lirih nasihat tak lagi mempan
Teriakan peringatan tak jua menggetarkan

Kini penggenggam bumi bertindak
Al Malik menurunkan setitik kuasa yang dipunya
Membolak balik lempengan daratan
Mengangkat yang di bawah, meruntuhkan atribut lambang jumawa
Air asin pun diajaknya beranjak
Menggulung segala apa yang diajak
Sang Raja sejak lama telah berkata,
Musibah alam semesta adalah andil tangan manusia

Bukan...bukan hanya Palu - Donggala
Bukan pula waktu silam bagian barat nusa tenggara
Tapi seluruh insan di negeri Indonesia
Semua karena kalian, seluruhnya karena kita
Mereka jadi akibat teguran keras kepada kita
Mereka jadi akibat balasan atas dosa kalian

Apakah kini kalian hanya berdiri bersedih hati
Bermodal muka sedih yang tak tentu dari hati
Membiarkan mereka di sana menderita sendiri
Jadi penebus banyaknya dosa-dosa kita di sini
Bergerak dan bangun lah...
Ulurkan tangan suapkan bantuan
Sebagai permintaan maaf kita pada mereka
Yang luluh lantak oleh desingan teguran atas kesalahan masing-masing kita
Dan yang pasti, karena kita semua utuh bersaudara.

Mimpi Yang Tak Sempurna

Sejumput mimpi tercecer di akhir lelap

Saat telinga tergagap gawai memekak

Terduduk dalam gelap, kupaksa kantuk mendekat

punguti mimpi yang terserak

Ada kamu di situ

Ada aku tentu

lalu gelap

Terkilas stasiun yang dingin

dengan roda-roda besi yang bisu dalam hening

Ada kamu di situ

Ada aku tentu

bayangan hitam memekat

Dahulu kita tidak berjarak

meskipun kita tidak selalu dekat

Dahulu kita tidak berjarak

walaupun badan tersekat-sekat

hati sudah terikat

Ada kamu di situ

Ada aku tentu

bibirmu mengukir kata

mataku menatap hampa

sia-sia

karena tak juga kutemukan makna

dari mimpi yang tak sempurna



Jakarta, 01102018

Berbagi 7 Rindu

Rindu (1)
Rindu adalah tentang mengingat
Jika engkau mengatakan itu berat,
mungkin karena engkau belum merasakan
beratnya melupakan

Rindu (2)
Bagi pikiran, sepi adalah soal jumlah
Bagi hati, sepi adalah tentang keterikatan
Pada hati yang sepi, panggilan rindu nyaring berbunyi

Rindu (3)
Rindu yang murni itu dirasakan
Sedangkan rindu yang kau tuliskan
adalah rindu yang telah terkontaminasi pikiran

Rindu (4)
Jika rindu hanya tentang keinginan untuk bertemu
maka ia akan hilang saat pertemuan datang
Tetapi ternyata tidak begitu
Karena setiap kali kau bertemu
Sesungguhnya kau bukan hanya melepaskan
Tetapi juga sedang menjemput lebih banyak kenangan

Rindu (5)
Seperti juga cinta, rindu tak berhutang apa-apa pada kata
Katalah yang menerima banyak dari mereka

Rindu (6)
Rindu tiba ketika kenangan yang merasa sepi
membutuhkan kenangan sejenis untuk menemani

Rindu (7)
Rindu adalah perasaan
Jarak dan waktu adalah kesadaran
Dan pertemuan adalah tentang
seberapa besar perasaan mempengaruhi kesadaran

JANGAN LUPA (JALAN) PULANG

Dalam satu sesi ghibah di kantin, tiba-tiba topik obrolan beralih tentang seorang pejabat yang terkenal alim dan aktif dalam komunitas keagamaan tapi juga terkenal "lincah" dalam mencari tambahan penghasilan. "Ada apa yaaaa...?" tanya gue menirukan Dian Sastro dalam film Aruna dan Lidahnya. Maksud gue, kok bisa sesuatu yang sangat berlawanan bisa berjalan seiring. Tidak terlihat tanda-tanda penurunan semangat beribadah, pun, tidak sedikitpun ada risih untuk tetap "lincah" dalam mencari peluang menambah tabungan. "Justru itu bro!" sergah temen gue. "Dengan ketaatan beliau beribadah, beliau tahu betul caranya untuk tobat, gak kayak lo". Sebuah pernyataan yang menyebabkan kami ngakak bareng.

Di tahun 80-90 an, Abang gue paling senang berkendara ke Jakarta saat liburan. Perjalanan dari Palembang ke Jakarta saat itu paling cepat dapat ditempuh dalam waktu 15-18 jam. Di Jakarta biasanya Abang gue itu berkeliling mengunjungi kerabat yang kebetulan tinggal di Jakarta atau bertandang ke rumah teman-teman kerjanya. Selain muter-muter Jakarta, biasanya juga kami ke Bandung atau Cirebon. Semua dilakukan dengan berkendara. Saat itu kami belum kenal teknologi GPS, handphone juga belum jamannya. Namun tanpa itu semua, Abang gue dengan pede-nya nyetir kesana-kemari hanya berbekal alamat ataupun rambu-rambu jalan. Abang gue seolah-seolah sangat hapal jalanan di Jakarta, Bandung ataupun Cirebon. Karena penasaran, gue sempet nanya gimana Abang gue bisa menghapal jalanan di Jakarta, yang menurut gue sangat banyak dan membingungkan. Sambil tertawa Abang gue menjawab "ya pokoknya ikutin jalan aja, kalo buntu atau salah jalan ya tinggal balik lagi". "Yang penting kita ingat jalan yang sudah kita lewati, jadi nggak bingung kalau mau pulang" lanjut Abang gue.

Sebuah pertanyaan yang paling sering gue terima ketika obrolan tentang kota kelahiran gue, Palembang, adalah "sering pulang ke Palembang?" atau "kapan terakhir pulang ke Palembang?". Sebuah pertanyaan yang lazim dan gue pun sering melontarkan pertanyaan yang sama ke lawan bicara gue. Sebuah pertanyaan yang mendefinisikan bahwa setiap orang yang merantau pasti akan pulang ke tempat dari mana dia berasal. Orang Palembang pasti pulang ke Palembang, orang Medan pasti pulang ke Medan, orang Kalimantan pasti pulang ke Kalimantan, dan seterusnya dan seterusnya. Dulu, pada saat awal gue akan merantau, Almarhum Bapak saya cuma berpesan "cari istri orang Jawa, kabari kalo udah nikah atau mau nikah, dan jangan lupa pulang".

Jangan lupa pulang. Sebuah pesan sederhana yang sarat akan makna. Setiap orang pasti punya tempat, orang, moment atau satu titik untuk pulang. Jangan lupa pulang. Sebuah pesan yang mengingatkan kita bahwa sejauh apapun kita pergi, kita tetap harus pulang. Entah secara harfiah ataupun bukan. Apakah kita sudah menuju ke arah yang benar, atau kita telah menyasar entah kemana, tetap jangan lupa pulang, jangan lupa jalan pulang. Perjalanan pulang  tidak selamanya linier dengan perjalanan berangkat. Adakalanya lebih lama atau bahkan lebih cepat. Sebuah perjalanan yang tidak dapat kita pastikan waktunya, pun, tidak dapat kita pastikan apakah kita punya cukup waktu. Untuk pulang, kita hanya perlu kesadaran bahwa kita harus pulang. Kemanapun kita melangkah, apapun yang sudah kita kerjakan, ingatlah selalu untuk tetap pulang.

***

Jakarta, 01102018