Baju Lebaran

"ih kamu ih... mama capek nyari-nyari kamu ga ketemu.. jangan keliling-keliling terus dong"

"jangan gitu atuh.. mamah ga suka deh.. nanti kalau kamu ilang gimana"

"dedek.. dedek.. sini jangan berdiri di tengah jalan, nanti ketabrak orang"

"Eh.. itu.. ada temennya.. tapi temennya ga nangis tuh... pinter... adek jgn nangis yah"

Suara-suara itu lalu lalang melintasi telinga kanan dan kiri. Terdengarnya tak jelas, banyak distorsi karena semuanya masuk secara bersamaan. Namun frekuensinya sama, nyaring dengan desibel tinggi. Bising memang tapi bukan salah mereka, salah saya memilih berada di sana.

Kerongkongan masih terlarang dari kucuran air, pun dengan asupan makanan, sedangkan mentari tetap setia membagi-bagikan sinar panasnya. Periode dibelenggunya setan ini sudah mendekati akhir yang seharusnya ditandai dengan ramainya orang ke masjid di saat malam. Di Indonesia, tanda itu ada tambahan, pasar dengan segala turunannya juga ikut menjadi ramai, bahkan di sepanjang hari.

Aku, yang masih terdaftar sebagai warga negara Indonesia juga terpaksa andil membuktikan kesahihan tambahan pertanda menjelang satu Syawal. Salah satu sudut pasar di wilayah Jakarta Barat menjadi pilihan. Istri dan anak sebagai pelanggan utama tak lupa ikut serta. Berjalan pelan menyusuri barisan pakaian berbagai ragam. Seperti orang menyeberang, senantiasa tengok kanan kiri untuk mencari yang mencuri perhatian.

Entah bagaimana ceritanya, di tengah kebisingan, kami terpisah oleh sapuan lautan manusia yang ombaknya bergerak ke segala arah. Anakku aman dalam gendongan ibunya, sedangkan aku mencoba mencari keberadaan mereka. Tumpukan baju menambah kesulitan pencarian, belum lagi seliweran manusia yang tak ada yang tahu kapan berhentinya.

Langkah terus melaju namun yang dicari belum juga ketemu. Ketika kaki terus berjalan, tiba-tiba pandangan tercekat pada sosok bapak yang tak lagi muda. Beliau dengan wajah datar sedang memandangi gaun untuk anak kecil yang tergantung. Sesekali nampak dia menggaruk kepala yang dihiasi sedikit rambut putih. Alam bawah sadar mengajakku bergerak mendekatinya meskipun tak tahu mau apa. Ketika jarak kami hanya terpaut sekitar dua meter, mulut Bapak itu mengeluarkan suara
"kalau untuk usia sepuluh bulan.. segini muat ga ya?"
Aku bertanya-tanya pada siapa dia bicara, tak ada orang di samping dan belakangnya. Sepertinya juga bukan berujar padaku.

"hmmh.. kayanya cukup deh Pak.. ini sampai usia satu tahun...tapi tergantung anaknya seberapa juga sih Pak"

Terlihat wajah yang familiar melongok sambil bergeser dari balik persembunyiannya. Ia menengadah memperhatikan gaun pilihan bapak tadi, sambil terus menggendong anak mungil yang mengoceh dengan kosakata yang belum jelas terdengarnya. Akhirnya pencarianku berakhir.

Meskipun kini kami kembali bertiga, tapi kedua mata tetap lekat ke sosok Bapak seorang diri tadi. Air mukanya masih saja datar, bajunya juga sudah sedikit kusam. Kulihat di tangannya sudah tergenggam gaun anak kecil yang ditanyakan tadi. Aku masih penasaran, dia membeli untuk anak atau untuk cucunya. Tapi tak mungkin aku tanyakan kepadanya.

Perburuannya tampaknya belum usai. Beberapa kali beliau memandangi beberapa model baju untuk anak-anak berkelamin perempuan. Wajahnya tetap datar, tidak menampakkan tanda-tanda kebahagiaan. Pikiran burukku berkata bahwa Bapak ini sebenarnya terpaksa membelikan baju baru untuk lebaran. Atau mungkin beliau kebingungan harus membeli baju model apa. Bisa juga beliau memikirkan label harga yang tak bisa dibilang murah. Ah, kenapa saya jadi berpikir macam-macam, mungkin memang raut muka Bapak itu begitu adanya.

Larut ke dalam perburuan kami sendiri, perhatianku lepas dari Bapak tadi. Sudah tidak sempat terlintas segala asumsi tentang si Bapak. Semua terhalang oleh pertanyaan semacam "bagus yang ini apa yang ini ya?" "kira-kira ini muat ga ya?" "mendingan yang ini apa yang ini?" "harga segini mahal ga ya?" "yang ini lucu kan ya?"

Antrian pembeli yang sudah cukup panjang membuatku geleng-geleng kepala. Terbayang lamanya waktu saat membayar nanti. Hingga pandanganku kembali terhenti pada sosok Bapak tadi. Ternyata beliau sudah antri menuju kasir. Aku lihat sudah ditenteng dua potong baju anak perempuan. Saat beliau berbalik selesai dari membayar, yang kulihat masih sama. Ekspresinya masih datar, senyumnya tidak tersungging, langkahnya juga masih perlahan. Tidak menampakkan kepuasan berhasil membelikan baju lebaran. Perlahan dia melangkah gontai menjauh hilang menembus keramaian.

Budaya baju baru lebaran memang bukan hal baru. Pernah aku bertanya kepada entah siapa, katanya itu pengejawantahan anjuran Nabi Muhammad menyambut idul fitri. Meskipun setelah ditelisik, anjuran yang ada hanya memerintahkan mengenakan pakaian yang terbaik. Pemaknaan terbaik ini mungkin memang beragam. Bisa dari yang sudah ada dipilih yang paling bagus. Bisa juga dengan membeli yang baru agar mutlak baju itu jadi yang paling bagus yang dipunya.
Yang paling penting adalah tidak berlebihan dan memaksakan diri. Dua hal itu bisa menggeser makna dari pengagungan menyambut hari yang fitri menjadi sombong diri atau malah penderitaan demi nafsu sehari.

Nyonya Tua Bergaun Putih*


"Tapi, saya sudah buatkan you kue kentang..."


Cuma kalimat itu yang mendorongku naik bus kota demi sekadar mengunjungi seseorang yang tidak kukenal di sore hari. Menelusuri kumpulan gedung apartemen dan membuka salah satu pintunya hanya untuk melihat seorang ibu yang sudah teramat sangat tua membuat kue... rasanya seperti di film The Matrix ketika tokoh Neo pertama kalinya bertemu dengan Nyonya Oracle yang bijaksana (itu kata adikku lho).

Minggu lalu, ibu ini menemukan nomor teleponku terselip di buku tabungan. Ia menelepon ke rumah, kemudian ke kantor, lalu mengingatkan bahwa aku pernah berkata akan berkunjung dan mengobrol dengannya. Tentu aku masih ingat itu semua. Hanya saja pertemuan kami terjadi lorong rumah sakit, ketika sama-sama menunggui keluarga yang dirawat inap. Setiap hari ia selalu mengenakan gaun putih, selendang putih, dan sepatu putih. Tampak seperti berusia 50 tahun, ia berkata sebenarnya sudah berusia lebih dari 80 tahun. Meski percakapan kami terasa menyenangkan dengan bahasa yang gado-gado, aku tak mengira akan berlanjut seperti ini. 

Aku selalu menyukai persahabatan. Hanya saja ... ketika bahasa menjadi tidak penting dan hati nurani yang lebih sering bersuara, terutama ketika aku merasa disayangi, ada semacam upaya terselubung untuk merasionalisasikan semuanya supaya menjadi masuk akal di kepalaku yang kecil ini. Ketika logika itu tidak kutemukan, aku pun menjadi makhluk penakut.

Jadilah aku datang mengunjungi Mrs. Lily sekadar membayar hutang atas janjiku itu. Yang benar saja, dari segi bahasa, ras, latar belakang kebudayaan, agama, dan usia ... begitu banyak perbedaan kami. Ada banyak perasaan bangga dan sedikit rasa takut ketika ia menyambutku dengan pelukan dan kecupan "I love you"... atau sewaktu ia memberitahu telah bercerita kepada satu putranya bahwa seorang 'anaknya' akan berkunjung hari ini.

Ia mengajakku ke dapur untuk melihatnya memanggang kue yang teksturnya seperti martabak. Sebelumnya, adonan yang terbuat dari kentang setengah matang itu telah dibiarkan Mrs. Lily tergeletak selama berjam-jam di meja makan selama menunggu kedatanganku.

Kami makan kue dan mengobrol di sofa sambil menonton saluran Star TV. Aku yang biasanya geli dan tidak tahan mencela film-film India kini berupaya mengalihkan dorongan itu dengan meminta Mrs. Lily untuk menerjemahkan dialog tokoh pria dan wanita di sela isak tangis dan lagu-lagu mereka. Ada saatnya ia menyeka setitik air di sudut matanya ketika memberitahuku bahwa tokoh wanita kasihan kepada suaminya karena telah dikucilkan oleh ibu mertua yang tidak merestui pernikahan meraka (aduh mak... jadi pingin nangis juga ni). Berikutnya adalah acara seperti Indonesian Idol, dengan artis-artis pendatang India yang unjuk kebolehan dari breakdance sampai striptease, diselingi iklan arisan berhadiah Maal Amaal dan iklan pembersih kloset.

Mrs. Lily mengajakku touring sekeliling apartemen. Dapur, ruang makan, ruang tamu, kamar putranya, kamarnya sendiri, sampai ke balkon yang menghadap ke lapangan badminton di pinggir jalan. Ia juga menunjukkan foto-foto lamanya. Ada foto ayahnya yang seorang haji besar di Candigarh, ada foto ayah dan ibu mertuanya, ada foto cucunya, dan di sudut ruang makan ada tempat sembahyang putranya yang beragama Hindu, dilengkapi dengan patung dewa mengenakan kalung bunga. Suaminya sendiri beragama Islam, sementara putrinya yang berprofesi sebagai dokter telah menikah dengan pria Iran dan juga beragam Islam. Sebenarnya aku sendiri juga kurang jelas mengenai kepercayaan Mrs. Lily ini karena di perkumpulan tempatnya bersembahyang juga bergabung rekan-rekannya dari Jepang dan Cina.

Ia bertanya apakah aku anggota suatu perkumpulan arisan. Kataku, ayah dan ibuku ikut arisan ... tapi aku sendiri kurang tertarik dengan aktivitas tersebut. Mrs. Lily meminta supaya diajak apabila aku mengikuti arisan juga, ia ingin menggunakan namaku. Bila kami menang, semua hadiahnya diberikan untukku.

Mrs. Lily tinggal di apartemen bertiga bersama seorang putra dan pembantu. Minggu sore ini, putranya pergi bermain golf dan akan pulang sekitar pukul tujuh malam. Biasanya, Mrs. Lily hanya berdua bersama pembantunya sembari menunggu putranya pulang kerja pukul delapan malam dari kantornya di Kuningan. Seorang putranya lagi tinggal di Kelapa Gading sementara yang lain ada yang tinggal di Kemang, Poncol, dan bagian barat Jakarta.

Aku bertanya padanya tentang Drupadi, film wayang teranyar yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo. Oh ya, ternyata betul, menurut Mrs. Lily, Drupadi adalah tokoh wayang yang mempunyai lima suami (wow keren...). Tapi, bagaimanakah hal itu bisa terjadi? Apakah suami-suami Drupadi tidak cemburu? Mrs. Lily menjelaskan bahwa Drupadi di kehidupan pertamanya adalah manusia tanpa suami. Sewaktu ia dihidupkan kembali (yaitu reinkarnasi), Drupadi berdoa agar diberikan suami... dan ia mengulang doanya itu sampai lima kali. Arjuna adalah suaminya yang pertama, ia memenangkan Drupadi dari sebuah sayembara panahan. Arjuna pulang ke rumah dan memberitahu ibunya bahwa ia baru saja mendapatkan hadiah, lalu ibunya meminta agar hadiah itu dibagi berlima bersama saudara-saudaranya yang lain. Jadilah Arjuna membagi Drupadi dengan Yudhistira, Bima, dan tokoh-tokoh wayang lainnya yang aku tidak ingat namanya. Dari kelima suaminya itu, Drupadi mempunyai lima orang putra ... dan lagi-lagi aku tidak hapal penjelasan Mrs. Lily kecuali bahwa Gatutkach (bahasa india-nya Gatotkaca kali ya?) adalah putra Bima.

Aku pamit pada pukul lima sore, dibekali Mrs. Lily dengan oleh-oleh kain sari, satu tupperware penuh dengan kue kentang, dan satu botol baby powder buatan Malaysia. She asked me to step by and say hello on lunch break sometimes ... and I think I have no reason to say 'no' for her nice invitation.

* Catatan:
Versi asli tulisan ini dibuat pada bulan Agustus 2009 dengan judul "Meeting Oracle"

Midnight Sun in Mölnlycke



Last night was memorable. We had a dinner at a friend’s house in a suburban area, for a farewell, a welcoming, a set of vegetarian dish, and a little board game. This is summer. The sun still shining all the way until midnight ... that we almost missed the last bus to town. Ten of us ran through the hilly road amidst the purple sky and jumped over the terminal’s steel fences to catch the midnight bus. All sweating, heart racing, losing breath and feeling fool like Cinderella. Good we had our shoes on.


May 2014

Synchronicity


Have you ever experienced random things in your life which have no direct cause 
-and-effect relationships but somehow share a meaning?

You talked so much about an inspiring person in graphology you wanted to meet but unfortunately he had already died, suddenly your friend told you this person was actually her professor and thesis supervisor in architecture. So now you can imagine what it is like to meet and talk to the graphologist.
In other time, another friend told you about a mysterious dream of 3 questions, that you easily answered because someone had told you all of the answers long time ago. Thanks to an 80-year-old Indian lady in white. You both met in a hospital ward while waiting for a sick family. She invited you to her house, told you her life story which started long before your own country independence. Later taught you how to cook and baked a chocolate cake without electric appliances.

Strangely, now you never heard anything from her anymore as she had disappeared completely from your life without a trace. You knocked at the door, waited. But there was no one except the howling winds throughout the corridors. The house was completely empty that you started to doubt the person was actually a human being. Thus, all that’s left was not only mystery of your friend’s dream on 3 questions today; but also a mystery of your own life experience.
In a different time, you felt desperate for not knowing where to sleep in a foreign country 12,000 kilometers away from your own bedroom tomorrow night, since almost no one answered your 178 application emails looking for a place to dwell, aside of 200 abandoned applications on apartment rent sites. You had a good reason to be worried, as it would affect your life for the next 2 years. In the same moment right before your departure, you met a person in boarding room … going to the same destination like yours … taking the same airplane like yours … and offered a place for you to stay for a few days.
Call it coincidence, call it serendipity. But a notable icon in psychology, Carl Jung (who is also a friend plus rival of another notable psychologist, Sigmund Freud) has a scientific term for it: Synchronicity. Other names of it are acausal parallelism and meaningful coincidence. Relying on logic and evidence, we tend to think everything should always have cause and effect. It seems to us that in order to take care of our reputation, we need to have the ability to defend our argument with facts and figures. But to pretend that we are able make sense of everything would only bring us closer to fooling ourselves. For Jung, the meaning of an event is more important than its cause and effect.

Synchronicity is what connects our internal world with external circumstances.
Jung first thought about synchronicity when he met Albert Einstein and discussed about Relativity Theory, thus inspired him to think about the relativity of time and space as well. But he kept his thought for himself until he finally met another physicist, Wolfgang Pauli, 30 years later. Their correspondence was collected in a book called “Atom and Archetype”, while Jung himself wrote more extensively about his theory in “Synchronicity: An Acausal Connecting Principle.” Jung and Pauli coined a term “Unus Mundus” (One World) for the seemingly random events which are actually synchronized in deeper order.

How Do You Say "Mjölk"?





It is 11 noon.

I was on a tram. After asking for her permission, I took an empty seat beside an old lady. On my lap was a plastic bag covering two containers full of cooked pasta with pesto sauce, tuna, and turkey sausage … my potluck for a friend’s party. Then the white-haired and blue-eyed old lady wearing a beige overcoat and knitted shawl started this conversation.

Where do you come from?

Indonesia.

What are you doing here?

Study.

How long will you stay?

Two years, hopefully. I will return in 2015.

Would you work here?

I don’t think so.

Why?

My study is funded by my office. I need to get back to work after I am finish, otherwise, I have to return the money.

(A moment of silence, then the old lady sighed)

Well, I sent my son to study in London. Now he stays and works there, barely has breaks. He works so hard, until night, even in Sundays. It is different with here. Work in Sweden might be better, you know?

Yes, it could be.

(A moment of silence)

Oh, well. Now I am going to stop in a few minutes. How do you say “mjölk” in English?

Milk.

Yes, I think would stop and buy some milk in the grocery store. What is “milk” in Finnish?

I do not know, I am sorry. Are you Finnish?

No, I came from northern Sweden.

I see.

(Silence again)

Oh, dear … what is “milk” in German?

I do not know, I am sorry. Do you speak German?

No, I am just wondering. So many languages in my head I get confused.

Oh …

(The tram stopped. The door was opened)

Well, it’s up to you. I think you‘d better stay. You could work here, if you like. Bye (walked down, waved and smiled)

Bye (waved and smiled)


[So far that I remember, this is the third time I had an interesting conversation with a stranger in Sweden.]

100 Tahun Yang Lalu




Pada suatu ketika, ada daerah yang sangat sengsara.
Panen gagal. Air langka. Penduduknya sulit mendapatkan pekerjaan. Makanan jarang ditemukan. Polusi dan penyakit di mana-mana.
Hampir separuh penduduknya memilih untuk mengadu nasib di belahan bumi yang lain. Mereka memutuskan untuk naik kapal dan tidak kembali lagi.
Daerah itu bernama Gothenburg. Seratus tahun yang lalu. Ia sangat miskin dan tertinggal dibandingkan tetangga-tetangganya, ketika Denmark dan negeri-negeri di Eropa Barat sudah maju dalam industri dan peradaban.
Karena emigrasi besar-besaran di masa itu, penduduk Gothenburg jauh lebih sedikit daripada populasi orang Swedia yang pindah dan tinggal di Chicago. Itu pun bukan pilihan utama, sebab mayoritas migran Swedia pada awal abad ke-20 lebih banyak ditemukan di wilayah Midwest, khususnya Minnesota, Amerika Serikat.
Pada suatu ketika, seratus tahun kemudian. 2014.
Ada suatu daerah yang menjadi pelabuhan terbesar di Eropa Utara. Kota ini sangat maju, sehingga salahsatu perlintasan tram-nya menjadi yang tersibuk di seluruh Skandinavia. Semua bangsa berbondong-bondong datang ke daerah ini, melalui darat, laut, dan udara. Seandainya pun ingin belajar bahasa asing, sering-seringlah naik kendaraan umum karena di sana engkau akan mendengar bahasa-bahasa dari 7 benua (kecuali benua Antartika alias Kutub Selatan).
Di Gothenburg, industri-industri menancapkan giginya. Manufaktur, otomotif, telekomunikasi sampai pariwisata, bermacam bidang usaha menunjukkan suksesnya di sini.
Orang-orangnya juga menarik. Berbeda dengan kebanyakan penduduk metropolitan yang cenderung tergesa-gesa dan kurang ramah, di Gothenburg kita mudah menemukan orang tersenyum dan bertanya apa kabar. Kalau ke pasar atau bertemu pelayan toko, jangan lupa mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa, sebab jika tidak maka mereka yang akan mengucapkannya kepada kita … dan aku jamin kita akan merasa malu daripada bangga.
Kalau keluar atau masuk gedung di tempat umum, jangan lupa memegang pintunya untuk orang-orang di belakang kita … sebab itu adalah adab yang tidak tertulis. Begitu juga, adab yang tidak tertulis untuk memencet tombol bantuan “jembatan otomatis” untuk penumpang yang naik atau turun kendaraan umum dengan kursi roda, atau ibu-ibu dengan kereta bayi, atau lansia dengan tongkat berjalannya.
Betapa jauh bedanya suatu negeri seratus tahun yang lalu dengan sekarang.
itulah yang membuatku optimis, siapa tahu seratus tahun ke depan Indonesia juga bisa dibanggakan oleh penduduknya, generasi tua dan muda. Semoga.

An INFJ Learns Typology


Currently, I am learning typology. It is like rolling down into a rabbit hole with all of its beautiful metaphors and terminologies. Not only I should memorize the 16 mnemonics, it is almost like a song that is better to just sing along than to remember the lyrics. It may sound cliché, but the more I learn typology then the more I know things are not as simple as they may have seemed. There are dominant, auxiliary, tertiary, and inferior functions of each personality type. It shows different ways of people to get and use their mental energy; to obtain, sort and process information; and also to make a decision and to do an action according to these information they have. All in all, at least there are 16 ways of doing this. How interesting!
What I knew later is that everyone is not bound only to 4 functions in a type. People have all the combination of 8 introverted/extroverted functions, but what distinguish between types is the levels of its strength and the order of functional stacks. Just like automobiles, basically every personality type has all the basics, but there are specific automobiles for specific terrains and purposes. There are cars for racing arenas, off-roads, inner cities, suburbs, deserts, or even water bodies. So is the same with personality; each of us will thrive and shine in a perfect time and place.
I took 3 different tests at 3 different places, and all of them signify that I am an INFJ. Thus, I concluded that my dark side is my ‘Se’ … only to know that I was wrong. An inferior function does not equal to bad traits; it only implies a strength which one has less control or less conscious of it. INFJs extroverted sensing is much as a strength as their introverted intuition. They absorb everything, the good and the bad. Thus, it is a blessing and a curse at the same time. So if I want to know about my dark sides at all, I should care more on my ‘shadow functions’. Basically, it is all the opposite of normal functions. So, the darkest of all for an INFJ is the ‘Si’.
Typology introduces me to vultology, socionics, and all the jargons. Then suddenly psychology, neurology, technology, and sociology are all emerged and tangled in the web for science. Basically, the idea is that human psyche manifests itself in physical and facial expressions. However, it may seem unnatural to watch human expressions without context. Therefore, what happens inside (neurology) and outside (sociology, technology) may have the same importance with the notion of ‘psychology’ itself.
Interestingly, there is a webtool to determine one’s personality only by sample of one’s twitter posts, webpage or blog. I think it is fascinating. Just check it out in http://www.typealyzer.com. More tools can be found in http://www.uclassify.com. I cannot help to giggle when the tool asserted that one of my blog posts had been written by a 65-year-old man. But I guess it only justifies the widely held notion that INFJs are social chameleons; thanks to ‘Fe’ function. This is also confirmed further by the tests on 3 of my blogs; revealing ISFP, ISTP, and ESTJ respectively … still hiding this INFJ chameleon.

Menangislah, Asti

Sofi berdecak kagum sambil matanya terus menatap layar ponselnya. Tangannya bergerak memencet tombol di ponselnya. Badannya tetap terbaring di tempat tidur. Kebetulan Deni, suaminya belum pulang kerja. Anak-anaknya sudah tidur. Sambil iseng menunggu suaminya pulang kerja, Sofi membuka-buka ponselnya.
“Duh cantiknya. Awet muda pula, pake kosmetik apa sih?” Sofi menuliskan kalimat pujian di foto yang diposting Asti, teman SMA nya  di media sosial.
“Kosmetiknya standar kok, nggak ada istimewa, hehehe,” jawab Asti menjawab pertanyaan Sofi.
“Tapi kok kulit wajahmu bisa sebening itu ya, bikin iri aja,” Sofi masih terus memuji Asti di media sosial.
“Ah, bisa aja kamu,” Asti membubuhkan emoticon tersipu menjawab pujian Sofi. Setelah itu banyak sekali pujian kepada Asti karena memang di foto itu Asti sangat cantik. Seperti gadis muda 20 an tahun, walau sebenarnya umurnya sudah diatas 40 tahun. Beberapa teman dunia maya pun mengamini apa yang dibilang Sofi kepada Asti. Semua mengagumi kecantikan Asti.
Sofi bangkit dari tempat tidurnya. Dia menatap wajahnya di cermin yang tergantung di kamar tidurnya. Bibirnya digerakkan ke kiri dan kanan. Tampak olehnya kerutan di daerah sekitar bibirnya yang bertambah dari hari ke hari. Kemudian Sofi menggerakkan kelopak matanya dan ia juga mendapati daerah sekitar matanya pun sudah mulai banyak kerutan.
Sofi menghela nafas panjang. Belum lagi flek hitam yang semakin menyebar ke seluruh wajah semakin menambah kegalauan Sofi.  Sebagian rambutnya mulai memutih membuat Sofi merasa semakin galau. Sangat jauh berbeda dengan wajah Asti yang dilihatnya di media sosial.
“Kamu lagi ngapain?” tiba-tiba Deni sudah muncul di kamarnya.
“Kok udah disini aja, nggak kedengaran suaramu,” Sofi berusaha menghindar dari pertanyaan Deni. Sofi merasa malu suaminya memergoki apa yang dilakukannya.
 “Kamu masih cantik kok, walau nggak secantik dulu,” goda Deni seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Sofi.
“Gombal!” balas Sofi.
“Beneran kok, istriku masih cantik,” Deni mencoba meyakinkan Sofi.
“Buktinya aku nggak malu kok bawa kamu kemana-mana,” goda Deni sambil memeluk istrinya. Pelukan hangat suaminya menentramkan hati Sofi.
“Tapi temanku waktu SMA, kok masih tetap kinyis-kinyis ya. Wajahnya masih segar, kulitnya mulus. Cantik banget, malah lebih cantik daripada waktu sekolah dulu.”
Deni tersenyum mendengar celotehan Sofi. Rupanya pancingan Deni berhasil membuat Sofi mengeluarkan isi hatinya.
“Nggak apa-apa kok, setiap orang punya kelebihan dan keberuntungan masing-masing,”
“Kelebihanku apa ya?” Sofi masih belum puas.
“Kelebihanmu punya suami yang baik dan ganteng, hahaha,” canda Deni.
“Narsis ah,” balas Sofi sambil tertawa lepas.
***

“Sofi, ketemuan yuk!” begitu pesan yang diterima Sofi dari Asti.
“Aku kangen,” Asti melanjutkan pesannya.
Sekilas Sofi membaca pesan Asti. Saat itu Sofi sedang menyelesaikan pesanan kue dari beberapa orang ibu-ibu yang sering bersama-sama dengan Sofi menunggui anaknya di sekolah. Diletakkannya ponselnya tanpa menjawab pesan Asti.
Ponselnya kembali berbunyi. Sofi masih belum bisa membuka pesan di ponselnya. Dia masih sibuk menata kue kering yang sudah masak ke dalam toples. Setelah toples ditutup, Sofi mencuci tangannya dan mengelapnya sampai kering. Sofi mengambil ponselnya dan membuka pesan yang belum sempat dibacanya tadi.
Ternyata Asti kembali mengirimkan pesan kepada Sofi.
“Sofi sayaaaaaang,” Sofi tersenyum.
“Iya sayaaaaaang,” balas Sofi sambil membubuhkan emoticon hati.
“Besok yuk ketemuan, aku pengen ngobrol sama kamu,” ujar Asti.
“Aku minta ijin suamiku dulu ya. Kalau bisa siang, pas anakku sekolah,” jawab Sofi.
“Kutunggu kamu di restoran Ceria ya, besok. Daag,” Sofi tersenyum membaca pesan Asti.
Sofi langsung berpikir baju apa yang akan dikenakannya waktu bertemu Asti besok. Asti pasti datang dengan dandanan yang elegan dan semua benda yang melekat di tubuhnya adalah barang-barang yang mahal harganya. Suami Asti adalah seorang pengacara dengan bayaran yang mahal dan sering wara wiri di layar kaca menemani kliennya. Perasaan minder menghinggapi Sofi.
Sofi merasa hidupnya bak bumi dan langit apabila dibandingan dengan kehidupan Asti. Walaupun suaminya bekerja di perusahaan besar, tapi posisinya hanya pegawai terendah di perusahaan itu. Makanya Sofi menerima pesanan kue-kue kering. Hanya itu yang bisa Sofi lakukan untuk meringankan beban suaminya membiayai kehidupan keluarga.
Hati Sofi deg-degan akan kembali bertemu dengan Asti. Rasanya ingin sekali Sofi membatalkan janji bertemu Asti. Di sisi lain, Sofi sangat ingin ketemu dengan Asti, teman sebangkunya ketika SMA dulu. Masa sekolah dulu, Asti adalah teman terdekat Sofi. Kemana-mana mereka berdua selalu bersama dan tak pernah terpisahkan. Mengingat itu, Sofi melupakan perasaan mindernya dan menguatkan tekad bertemu dengan teman lamanya itu.
***

“Mas, saya turun disini aja deh.”
“Restorannya masih di depan lho.”
“Nggak apa-apa deh, disini saja. Saya mau ambil uang dulu ke ATM.”
“Disini mana ada mesin ATM, Bu. Adanya di depan restoran itu.”
Sofi tersipu malu mendengar perkataan pengemudi ojek online yang dipesannya.
“Nggak apa-apa mas, saya mau melemaskan kaki. Pegal juga duduk di motor sedari tadi,” ujar Sofi. Pengemudi ojek menghentikan motornya. Sofi mengeluarkan dompetnya dan memberi sejumlah uang kepada pengemudi ojek tersebut.
“Terima kasih, Bu,” ujar pengemudi ojek sambil berlalu dari hadapan Sofi.
Sofi berjalan di tengah teriknya matahari siang itu. Jangan sampai Asti tahu kalau dia menumpang ojek siang itu. Sampai di restoran, terlebih dahulu Sofi menuju toilet. Sofi menyapukan bedak di wajahnya. Bibirnya diolesi lipstik berwarna lembut. Kemudian disisirnya rambut pendeknya biar terlihat lebih rapi. Sofi menghela nafas, bersiap diri bertemu dengan Asti yang sempurna di mata Sofi. Asti yang cantik, bersuamikan orang kaya, ganteng dan terkenal.
Sofi duduk menunggu Asti yang belum muncul dengan gelisah. Sofi belum berani memesan makanan karena takut Asti tidak jadi datang. Dari mana Sofi sanggup membayar makanan di restoran sebagus ini. Bisa dipastikan uang belanja seminggu bakal habis untuk satu kali makan disini.
“Hai, Sofii,” tiba-tiba Asti datang memeluk Sofi. Tercium wangi yang dari sekujur tubuh Asti.
“Pasti parfum yang mahal yang dipakai Asti. Ah beruntungnya kamu, Asti,” Sofi bergumam dalam hatinya. Sebelum berangkat tadi, Sofi pun sempat menyemprotkan minyak wangi remaja milik Rena, anak gadisnya yang banyak diiklankan di layar kaca.
“Apa kabar, Sofi sayang?” sapa Asti ramah.
“Baik, As. Kamu tambah cantik aja.”
“Ah kamu juga cantik kok,” jawab Asti sambil duduk di depan Sofi.
Asti mengambil buku menu dan memesan makanan. Sofi hanya mengikuti apa yang dipesan Asti karena Sofi tidak terbiasa makan di tempat mewah.
“Takut salah pesan,” begitu alasan yang disampaikan Sofi kepada Asti.
“Kamu ngapain aja, Sof?”
“Aku di rumah, jagain anak-anak. Kadang kalau ada yang pesan kue kering, aku bikini juga. Kamu pesan ya sama aku,” jawab Sofi sekalian promosi kue kering buatannya.
“Tenang, nanti aku pesan banyak ya,” jawab Asti sambil tersenyum.
Sofi memandangi Asti dengan kagum. Kulit Asti mulus dan bersinar. Make up yang digunakan sangat pas, pasti Asti memakai make up yang mahal. Rambut Asti yang bergelombang dan berwarna coklat kemerahan sangat serasi dengan bentuk wajahnya. Asti memang sosok yang sempurna.
Sofi melirik ke tas yang diletakkan di atas meja. Sofi menelan ludah, sepertinya tas yang dipakai Asti adalah tas mewah yang sering dipakai selebriti di layar kaca. Baju yang dipakai Asti pun pasti rancangan desainer ternama. Sofi semakin minder berhadapan dengan Asti.
Sofi penasaran dengan sepatu yang dikenakan Asti. Dengan sengaja Sofi menjatuhkan tasnya. Kepalanya masuk ke kolong meja untuk mengambil tasnya dan mencuri pandang sepatu yang dikenakan Asti. Mata Sofi semakin membelalak setelah tahu sepatu yang dikenakan Asti. Sofi meneguk air minum yang tersedia.
“Kenapa, Sofi?” tanya Asti.
“Kamu beruntung ya, memiliki segalanya,”
“Kamu lebih beruntung, fi. Kamu punya segalanya,” ujar Asti.
Sofi heran mendengar jawaban Asti.
“Kamu terlihat sangat bahagia, fi. Dulu Deni mengejar-ngejarmu sampai jadian. Aku yakin Deni pasti memperlakukan kamu dengan baik. Deni pasti sangat mencintai kamu. Kamu juga punya anak-anak yang manis. Aku iri sama kamu, fi,” Air mata Asti jatuh di pipi.
 “Aku nggak punya anak. Suamiku jarang pulang. Malah dia sudah punya anak dengan perempuan lain. Suamiku menganggap kemewahan yang diberikannya padaku sudah cukup sehingga dia merasa tidak punya kewajiban untuk pulang ke rumah. Aku bertahan karena aku nggak mau ibu bapakku kecewa. Aku nggak kuat, fi,” tangis Asti pecah.
Sofi terkejut melihat reaksi Asti. Ditatapnya wajah Asti. Terlihat guratan kepedihan di matanya. Kepedihan yang tersembunyi di balik pulasan bedak merek terkenal. Sofi tak berani berkata-kata lagi. Sofi takut Asti semakin terluka. Sofi hanya bisa memeluk Asti dan membiarkan Asti mengeluarkan segala unek-uneknya.
Sofi ingin sekali berlari pulang ke rumah. Sofi akan memeluk Deni dan kedua anaknya, hanya untuk mengucapkan terima kasih atas kebahagiaan yang diberikan selama ini.

Jakarta, 15 Juni 2017