Nyonya Tua Bergaun Putih*


"Tapi, saya sudah buatkan you kue kentang..."


Cuma kalimat itu yang mendorongku naik bus kota demi sekadar mengunjungi seseorang yang tidak kukenal di sore hari. Menelusuri kumpulan gedung apartemen dan membuka salah satu pintunya hanya untuk melihat seorang ibu yang sudah teramat sangat tua membuat kue... rasanya seperti di film The Matrix ketika tokoh Neo pertama kalinya bertemu dengan Nyonya Oracle yang bijaksana (itu kata adikku lho).

Minggu lalu, ibu ini menemukan nomor teleponku terselip di buku tabungan. Ia menelepon ke rumah, kemudian ke kantor, lalu mengingatkan bahwa aku pernah berkata akan berkunjung dan mengobrol dengannya. Tentu aku masih ingat itu semua. Hanya saja pertemuan kami terjadi lorong rumah sakit, ketika sama-sama menunggui keluarga yang dirawat inap. Setiap hari ia selalu mengenakan gaun putih, selendang putih, dan sepatu putih. Tampak seperti berusia 50 tahun, ia berkata sebenarnya sudah berusia lebih dari 80 tahun. Meski percakapan kami terasa menyenangkan dengan bahasa yang gado-gado, aku tak mengira akan berlanjut seperti ini. 

Aku selalu menyukai persahabatan. Hanya saja ... ketika bahasa menjadi tidak penting dan hati nurani yang lebih sering bersuara, terutama ketika aku merasa disayangi, ada semacam upaya terselubung untuk merasionalisasikan semuanya supaya menjadi masuk akal di kepalaku yang kecil ini. Ketika logika itu tidak kutemukan, aku pun menjadi makhluk penakut.

Jadilah aku datang mengunjungi Mrs. Lily sekadar membayar hutang atas janjiku itu. Yang benar saja, dari segi bahasa, ras, latar belakang kebudayaan, agama, dan usia ... begitu banyak perbedaan kami. Ada banyak perasaan bangga dan sedikit rasa takut ketika ia menyambutku dengan pelukan dan kecupan "I love you"... atau sewaktu ia memberitahu telah bercerita kepada satu putranya bahwa seorang 'anaknya' akan berkunjung hari ini.

Ia mengajakku ke dapur untuk melihatnya memanggang kue yang teksturnya seperti martabak. Sebelumnya, adonan yang terbuat dari kentang setengah matang itu telah dibiarkan Mrs. Lily tergeletak selama berjam-jam di meja makan selama menunggu kedatanganku.

Kami makan kue dan mengobrol di sofa sambil menonton saluran Star TV. Aku yang biasanya geli dan tidak tahan mencela film-film India kini berupaya mengalihkan dorongan itu dengan meminta Mrs. Lily untuk menerjemahkan dialog tokoh pria dan wanita di sela isak tangis dan lagu-lagu mereka. Ada saatnya ia menyeka setitik air di sudut matanya ketika memberitahuku bahwa tokoh wanita kasihan kepada suaminya karena telah dikucilkan oleh ibu mertua yang tidak merestui pernikahan meraka (aduh mak... jadi pingin nangis juga ni). Berikutnya adalah acara seperti Indonesian Idol, dengan artis-artis pendatang India yang unjuk kebolehan dari breakdance sampai striptease, diselingi iklan arisan berhadiah Maal Amaal dan iklan pembersih kloset.

Mrs. Lily mengajakku touring sekeliling apartemen. Dapur, ruang makan, ruang tamu, kamar putranya, kamarnya sendiri, sampai ke balkon yang menghadap ke lapangan badminton di pinggir jalan. Ia juga menunjukkan foto-foto lamanya. Ada foto ayahnya yang seorang haji besar di Candigarh, ada foto ayah dan ibu mertuanya, ada foto cucunya, dan di sudut ruang makan ada tempat sembahyang putranya yang beragama Hindu, dilengkapi dengan patung dewa mengenakan kalung bunga. Suaminya sendiri beragama Islam, sementara putrinya yang berprofesi sebagai dokter telah menikah dengan pria Iran dan juga beragam Islam. Sebenarnya aku sendiri juga kurang jelas mengenai kepercayaan Mrs. Lily ini karena di perkumpulan tempatnya bersembahyang juga bergabung rekan-rekannya dari Jepang dan Cina.

Ia bertanya apakah aku anggota suatu perkumpulan arisan. Kataku, ayah dan ibuku ikut arisan ... tapi aku sendiri kurang tertarik dengan aktivitas tersebut. Mrs. Lily meminta supaya diajak apabila aku mengikuti arisan juga, ia ingin menggunakan namaku. Bila kami menang, semua hadiahnya diberikan untukku.

Mrs. Lily tinggal di apartemen bertiga bersama seorang putra dan pembantu. Minggu sore ini, putranya pergi bermain golf dan akan pulang sekitar pukul tujuh malam. Biasanya, Mrs. Lily hanya berdua bersama pembantunya sembari menunggu putranya pulang kerja pukul delapan malam dari kantornya di Kuningan. Seorang putranya lagi tinggal di Kelapa Gading sementara yang lain ada yang tinggal di Kemang, Poncol, dan bagian barat Jakarta.

Aku bertanya padanya tentang Drupadi, film wayang teranyar yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo. Oh ya, ternyata betul, menurut Mrs. Lily, Drupadi adalah tokoh wayang yang mempunyai lima suami (wow keren...). Tapi, bagaimanakah hal itu bisa terjadi? Apakah suami-suami Drupadi tidak cemburu? Mrs. Lily menjelaskan bahwa Drupadi di kehidupan pertamanya adalah manusia tanpa suami. Sewaktu ia dihidupkan kembali (yaitu reinkarnasi), Drupadi berdoa agar diberikan suami... dan ia mengulang doanya itu sampai lima kali. Arjuna adalah suaminya yang pertama, ia memenangkan Drupadi dari sebuah sayembara panahan. Arjuna pulang ke rumah dan memberitahu ibunya bahwa ia baru saja mendapatkan hadiah, lalu ibunya meminta agar hadiah itu dibagi berlima bersama saudara-saudaranya yang lain. Jadilah Arjuna membagi Drupadi dengan Yudhistira, Bima, dan tokoh-tokoh wayang lainnya yang aku tidak ingat namanya. Dari kelima suaminya itu, Drupadi mempunyai lima orang putra ... dan lagi-lagi aku tidak hapal penjelasan Mrs. Lily kecuali bahwa Gatutkach (bahasa india-nya Gatotkaca kali ya?) adalah putra Bima.

Aku pamit pada pukul lima sore, dibekali Mrs. Lily dengan oleh-oleh kain sari, satu tupperware penuh dengan kue kentang, dan satu botol baby powder buatan Malaysia. She asked me to step by and say hello on lunch break sometimes ... and I think I have no reason to say 'no' for her nice invitation.

* Catatan:
Versi asli tulisan ini dibuat pada bulan Agustus 2009 dengan judul "Meeting Oracle"

2 komentar:

  1. Lagi, tulisan mba embun ni asik di simak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih :) ini adalah kisah nyata. Sayang sekali telah bertahun-tahun lamanya sudah tidak ada kabar berita dari nyonya bergaun putih. Semoga ia baik-baik saja.

      Hapus