Langsung ke konten utama

How Do You Say "Mjölk"?





It is 11 noon.

I was on a tram. After asking for her permission, I took an empty seat beside an old lady. On my lap was a plastic bag covering two containers full of cooked pasta with pesto sauce, tuna, and turkey sausage … my potluck for a friend’s party. Then the white-haired and blue-eyed old lady wearing a beige overcoat and knitted shawl started this conversation.

Where do you come from?

Indonesia.

What are you doing here?

Study.

How long will you stay?

Two years, hopefully. I will return in 2015.

Would you work here?

I don’t think so.

Why?

My study is funded by my office. I need to get back to work after I am finish, otherwise, I have to return the money.

(A moment of silence, then the old lady sighed)

Well, I sent my son to study in London. Now he stays and works there, barely has breaks. He works so hard, until night, even in Sundays. It is different with here. Work in Sweden might be better, you know?

Yes, it could be.

(A moment of silence)

Oh, well. Now I am going to stop in a few minutes. How do you say “mjölk” in English?

Milk.

Yes, I think would stop and buy some milk in the grocery store. What is “milk” in Finnish?

I do not know, I am sorry. Are you Finnish?

No, I came from northern Sweden.

I see.

(Silence again)

Oh, dear … what is “milk” in German?

I do not know, I am sorry. Do you speak German?

No, I am just wondering. So many languages in my head I get confused.

Oh …

(The tram stopped. The door was opened)

Well, it’s up to you. I think you‘d better stay. You could work here, if you like. Bye (walked down, waved and smiled)

Bye (waved and smiled)


[So far that I remember, this is the third time I had an interesting conversation with a stranger in Sweden.]

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...