Berpikir Tanpa Kotak

Sambil gowes tadi pagi saya mikir: apakah selalu berpikir "out of the box" itu bagus? Mungkin iya apabila pikiran itu benar-benar "keluar dari kotak", tapi bagaimana bila ternyata pikiran yang "out of the box" tadi ternyata masuk ke "another box"? Keluar dari kotak yang satu, masuk ke kotak yang lain.
Pikiran tersebut dipicu oleh maraknya pemberitaan di radio tentang ruwetnya peraturan-peraturan di Indonesia. Sampai-sampai Pak Jokowi dengan geram menyampaikan kekesalannya akan hal tersebut. Pak Jokowi menyoal tentang bangsa Indonesia yang memiliki banyak sumber daya, banyak investor yang berminat menanamkan modal, tapi semuanya sia-sia karena aturan-aturan yang ruwet. Terkait hal tersebut, Pak Jokowi bahkan 'mengultimatum' para menteri agar tidak lagi membuat aturan-aturan yang bikin ruwet.
Kekesalan Pak Presiden tersebut dapat dipahami. Bagaimana tidak? Tidak terhitung banyak peluang investasi yang terhambat bahkan hilang hanya karena aturan yang tidak memungkinkan. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai kebijakan deregulasi, yang intinya untuk menyederhanakan semua aturan-aturan terkait. Alih-alih tercapai, deregulasi yang dilakukan malah menghasilkan regulasi baru yang justru menghambat kegiatan investasi. Dalam sebuah wawancara, seorang anggota KADIN menyampaikan bahwa nyatanya masih banyak ego-kementerian dalam penyusunan suatu regulasi.
Dalam praktek terbaik, deregulasi memang banyak dilakukan untuk memangkas regulasi yang tumpang tindih, memotong rantai birokrasi, meningkatkan efisiensi dengan regulasi yang lebih sedikit dan sederhana. Adanya regulasi baru yang dihasilkan dari proses deregulasi bukanlah sesuatu yang salah. Namun ketika regulasi baru tersebut kemudian tidak mendukung tujuan dilakukannya deregulasi, maka masalah baru pun timbul.
Melakukan deregulasi di tengah carut marutnya regulasi negara ini bukanlah hal yang mudah. Regulasi tumpang tindih, duplikasi tugas dan fungsi adalah sebagian kecil gambaran wajah regulasi kita. Upaya deregulasi yang sifatnya parsial cenderung tidak efektif karena selalu terbentur dengan "ego-kementerian". Arahan pimpinan untuk mencari solusi yang "out of the box" malah menghasilkan solusi "inside another box" .
Para pembuat kebijakan publik atau para menteri harusnya sadar  bahwa "kotak kementerian-nya" hanyalah untuk membatasi tugas, fungsi dan kewenangannya. "Kotak-kotak" tersebut dibuat untuk merapikan susunan, struktur dan untuk mempertegas bahwa "isi kotak" yang satu tidak tercampur dengan "isi kotak" yang lain. Ketika bicara kepentingan nasional seharusnya semua "kotak" itu tersusun rapi sehingga terlihat "tanpa kotak" hanya satu "kotak" besar yaitu INDONESIA.
Apa yang terjadi sekarang, dan itu yang dikeluhkan sebagai "ego-kementerian" adalah bahwa pemikiran-pemikiran hanya terkungkung dalam satu kotak masing-masing atau terjebak ke dalam kotak yang lain. Benar apabila dikatakan bahwa masing-masing mengatakan bahwa kebijakannya adalah untuk kepentingan negara, sesuai amanat undang-undang atau sesuai dengan arahan presiden. Namun tidak disadari bahwa hal tersebut dapat menyebabkan "susunan kotak-kotak" itu tidak rapi lagi, bahkan menghalangi "kotak-kotak" yang lain. Melakukan deregulasi sama halnya dengan mengurai benang kusut. Ketika kita hanya berkutat  pada inti benang kemungkinan yang terjadi adalah benang semakin kusut, terikat mati atau bahkan putus. Tapi ketika kita mengurai satu demi satu dari posisi benang terluar, yang paling terlihat dan yang paling bebas, kemungkinan untuk berhasil akan sangat besar. Demikian pula halnya dengan deregulasi. Semua regulasi harus diurai dan dilihat satu persatu, dari yang terkait langsung, terkait tidak langsung bahkan yang kemungkinan akan terkait. Para pemangku kepentingan harus diidentifikasi dengan jelas, siapa saja dan berada di layer yang mana. Dampak regulasi yang baru harus benar-benar diukur untuk mendapatkan manfaat bersih yang sebesar-besarnya. Konsekuensi kebijakan juga harus dipertimbangkan dengan hati-hati termasuk mitigasi risiko yang mungkin terjadi.
Tidak mudah? Iya, karena deregulasi seharusnya memang dilakukan secara bertahap dan dibuatkan peta jalannya. Deregulasi yang dilakukan dalam waktu yang sempit peluang keberhasilannya akan sangat kecil. Akan banyak regulasi yang terlewat, banyak pemangku kepentingan yang tidak teridentifikasi dan tidak diajak konsultasi. Satu-satunya jalan untuk memperbesar peluang tersebut adalah dengan "thinking without the box". Semua pembuat kebijakan terkait duduk bersama tanpa "kotak" masing-masing. Yang dicari adalah "win some-loose some solution", bukan "win-win solution" karena jika demikian akan ada yang menang banyak dan menang sedikit. Semua harus berpikir untuk kepentingan yang lebih besar dan lebih penting daripada "kotak"-nya. Berpikir tanpa kotak dapat membuat kita melihat permasalahan secara keseluruhan. Membuat kita melihat lebih jelas hambatan-hambatan yang ada dan yang mungkin ada. Saya yakin apabila para menteri dan pembuat kebijakan publik mampu berpikir tanpa kotak maka masalah-masalah bangsa ini akan terselesaikan dengan cepat, tepat dan rendah biaya.



*tulisan ini juga dimuat di https://ikoerba.wordpress.com/2017/07/26/berpikir-tanpa-kotak/


Malu dan Lelah

Seharusnya aku malu kepada matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi.

Seharusnya aku malu kepada burung-burung yang tak pernah lelah menjemput rezeki diwaktu pagi,  dan baru pulang diwaktu petang dalam keadaan kenyang.

Seharusnya aku malu kepada semut yang tak pernah lelah membawa makanan yang berukuran lebih besar dari tubuhnya yang mungil.

Dan... seharusnya aku malu kepada Allah SWT yang tak pernah lelah memberikan kasih dan sayangnya untukku, meski aku sering lalai dalam taat kepadaNYA.


Anak Baru





"Bagaimana tadi hari pertama di sekolah? Gurunya bilang apa saja?" Begitu cecar mama sepulang aku dari sekolah. Aku hanya bisa menjawab, "Ga tahu Ma, tadi ngga kedengaran suara gurunya."

"Lho, kok bisa? Kamu duduk di mana?"

"Aku duduk di pojok Ma"

"Kalau begitu besok kamu cari tempat duduk di depan ya?"

"Iya Ma."

Jadilah besoknya aku duduk di depan, dan itu hanya berlangsung 5 menit ... sebelum serombongan cewek kece mencecarku, "Ih, kamu .... Kamu siapa sih? Ini tempat duduk kita tauuu.... Sana, gih. Kamu harus pindah." Kujawab, "Tempat duduknya bebas kan? Siapa yang duluan datang boleh duduk di mana saja?" Dan mereka berkata, "Pokoknya ini tempat duduk kita, kamu harus pindah sekarang." Pokoknya adegannya mirip sinetron-sinetron zaman sekarang deh. Heran juga sih, teman-temanku itu belajar dari mana ... khan waktu itu belum ada sinetron. Maklum, TV kita cuma ada 1 saluran yaitu TVRI. Satu-satunya serial pendek tentang anak sekolah cuma ada ACI (Aku Cinta Indonesia). Silakan di-google untuk tahu betapa jadulnya program televisi kami semasa SD.

Jadilah aku pulang dan mendapatkan pertanyaan yang sama seperti kemarin, dan memberikan jawaban yang sama seperti kemarin. Payah? Tidak juga. Sebab, meski sering sial dalam hal sosial, aku sering beruntung dalam hal akademis. (Hampir) selalu juara umum selama di bangku SD dan SMP, sementara 15 dari 20 tahun masa studiku sampai saat ini selalu dibiayai dengan beasiswa. Termasuk gelar master of science di negeri Viking dan Thor.

Satu-satunya beasiswa itu luput dariku adalah di masa kelas 6 SD, dan meski hari itu aku tidak merasa senang ... tidak juga merasa sedih. Maklum, bagaimana kita bisa merasa 'kalah' kalau belum pernah merasa 'menang' karena memang selalu menang? Sama halnya dengan seorang anak yang selalu hidup dengan penuh cinta dan tidak tahu makna 'cinta' sebelum ia merasakan patah hati. Sama halnya dengan seorang anak yang tidak pernah memikirkan uang sampai tiba waktunya ia mencari uang. Tapi itu semua adalah topik untuk cerita lain.

Yang kutahu, setelah mendengarkan pengumuman kepala sekolah melalui pengeras suara di panggung tengah bazaar, waktu itu aku hanya mengobati kehilangan beasiswa dengan jajan ke kantin untuk membeli wafer superman. Dan di sanalah aku merasa sedih, bukan karena apa-apa ... tapi karena melihat temanku, Maria, menangis. Melihat matanya yang sembab dan merah, aku tak bisa untuk tidak bertanya, "Maria kenapa? Ada apa Maria?"



Ia terkejut melihatku, dan buru-buru menghapus air matanya ... sambil bergerak menghindariku. Tentu saja aku bingung, meski Maria tidak berkata apa-apa. Alhamdulillah ada seorang teman melihat kebingunganku, karena setelah kami beranjak pergi ia berbisik kepadaku, "Maria sedih karena tidak dapat beasiswa juara umum."


Aku bertambah bingung, "Mengapa sedih? Khan tidak apa-apa tidak dapat beasiswa ataupun juara umum. Tahun ini aku tidak dapat juara umum. Aku tidak dapat beasiswa. Apakah aku harus sedih juga?"




Temanku memandang dengan tajam, "Kamu tidak mengerti ya. Maria selalu mengharapkan mendapat beasiswa dan menjadi juara umum selama bersekolah di sini. Selama 5 tahun, selalu kamu yang mendapatkan hadiah itu. Selama 5 tahun ... dia kehilangan kesempatan itu. Tahun ini, kamu memang tidak juara umum. Tapi tidak juga Maria. Dia sangat sedih karena kelas 6 ini adalah kesempatan terakhir untuknya menjadi juara umum."

Dan .... itulah pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan sesuatu yang dinamakan dengan 'rasa bersalah.' Membuat orang lain tidak bahagia karena sesuatu yang kukira selama ini membuatku bahagia. Tapi benarkah selama itu aku bahagia? Mungkin iya, karena aku melihat ayah dan ibuku tersenyum. Selama mereka tersenyum bahagia, aku bahagia. Aku tidak terlalu peduli dan tidak terlalu memikirkan bagaimana perasaanku sendiri. Tentu saja kelihatannya keren selalu juara umum dan selalu mendapatkan beasiswa. Yang tidak pernah kukatakan kepada orang lain adalah, "Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa bisa begini. Jangan tanya resepnya karena aku juga sedang mencari. Yang jelas, belajar itu menyenangkan." Berpikir tentang perasaan hanya terjadi ketika aku mulai beranjak puber. Tapi, tentu saja itu untuk cerita yang lain.


NB: 
Tulisan ini terinspirasi fenomena tahun ajaran baru, di mana saat ini seluruh orang tua dan siswa baru sedang berharap-harap cemas menjelang kenaikan kelas. Bagaimana suasananya? Bagaimana sistemnya? Apakah anak saya akan betah? Apakah gurunya baik? Apakah anak saya akan mendapatkan teman? Dan seterusnya, dan seterusnya. Saya belum pernah menjadi orang tua. Tapi saya pernah menjadi murid baru. Dengan menceritakan beberapa situasi yang kurang menyenangkan yang pernah dialami di sekolah, mudah-mudahan saya bisa bisa berbagi harapan dengan pembaca ... bahwa semua akan baik-baik saja. Semoga.








Rindukah?

Rindu...
Rasanya seringkali menggebu...
Saat kepergian jd kenyataan,
kerinduan seketika menjalar,
Dengan catatan dia yang disayang.
Baru sedetikpun beranjak,
kerinduan akan mulai memuncak.

Segala kenangan indah,
mencuat dari memori alam sadar.
Terkadang air mata meleleh,
menerpa buncahan kerinduan yang tertahan,
Atau malah tersungging senyuman sendirian,
mengenang potongan-potongan kenangan.

Laksana seorang kekasih yang bepergian,
Tak ingin tapi harus merelakan.
Bukan pergi untuk tak kembali,
Hanya berlalu sembari menanti.
Berharap takdir masih menyuratkan.

Kebiasaan saat bersama, coba tetap dijaga terbiasa,
Mengiringi penantian dalam napak tilas kenangan.
Rutin mengunjungi waktu dan ritual yang sepadan,
Menjadi obat penawar hingga tibanya pertemuan.

Berduyun bergandengan menghampiri panggilan adzan,
Terjaga bersujud di akhir sepertiga malam,
Duduk bersimpuh membaca Al Qur'an,
pun menahan haus dan lapar dari fajar hingga petang,
Kenangan amalan yang musti istiqomah dimakmurkan,
Teman rindu menanti Ramadhan kembali pulang.

Andai tak lagi dikerjakan walau sedikit,
atau mungkin tak terlintas di pikiran,
Tanda kerinduan sebatas isapan.
atau mungkin memang tak rindu?
atau memang tak pernah diamalkan,
saat kita masih bertemu dulu?





Takbir Keliling

Adzan isya' berkumandang seperti biasa, iramanya sama dengan saat dua hari lalu aku menginjakkan kaki di sini. Namun malam ini tak sama dengan malam sebelumnya. Sholat isya' yang dari sebulan lalu diikuti dengan sholat tarawih, malam ini tak lagi begitu, selepas imam melakukan salam, kumandang takbir bertalu-talu dari toa masjid berganti-gantian.

Aku browsing sejenak sebelum beranjak pulang dari masjid. Pantas saja, ternyata sidang itsbat telah resmi menetapkan 1 Syawal 1438 H jatuh esok hari. Segera kugeber motor menyusuri jalan kecil yang bopeng di mana-mana, sambil ikut mengumandangkan takbir meski perlahan. Tampak anak-anak kecil berpakaian putih sudah mulai bersiap berkumpul, laki-laki  perempuan. Di halaman SMP di depan masjid juga sudah disiapkan mobil yang sudah dihias ala timur tengah dengan lampu putih sebagai penerangan. Semangat sekali mereka. Menggambarkan kebahagiaan menyambut lebaran. Sedangkan aku masih sedikit kikuk, aneh rasanya malam ini, suasana Ramadhan masih melekat di kebiasaan. Tapi di satu sisi aku tentunya menyambut gembira, besok kami berhari raya.

*****

Sasa sudah merengek untuk bergegas berangkat, padahal belum terlihat tanda-tanda akan dimulai. Sasa adalah keponakanku yang 'ngeyelnya' luar biasa meskipun sudah dua tahun sekolah TK. Kami sudah bilang kalau mulainya masih lama, tetap saja dia bergeming, memaksa mengajak segera berangkat. Berkali-kali dia berteriak, "itu sudah kedengeran takbirnya, uda mau jalan...ayo cepet berangkat!"

Belum lagi adiknya, Zidan, yang meski sudah empat tahun tapi ngomongnya belum jelas, ikut merengek mendukung kakaknya untuk segera berangkat. Mereka berdua telah siap dengan menggenggam lampu batang yang bisa menyala warna-warni.

"Itu takbir di Masjid", Aku menjawab singkat dan mencoba mengacuhkan mereka meskipun suaranya memekakkan telinga. Aku masih sibuk memakaikan jaket dan jilbab ke anakku, Aqila, sebagai persiapan agar tak masuk angin keluar malam-malam.

Alhasil setelah semua siap, kami mulai berjalan ke arah jalan besar. Ternyata sudah ramai orang berjajar. Ada yang duduk di atas motor yang distandar. Ada pula yang sengaja membawa karpet untuk duduk lesehan. Tanganku sudah terasa pegal karena berjalan dengan Aqila di gendongan. Tetap kutahan demi anakku bisa memperoleh pengalaman perdananya.
Tak lama ibu mertua berujar, "wiwit e soko prapatan ngarep kono, mlaku mrono wae po?" (mulainya dari perempatan di depan sana, apa kita jalan ke sana saja)
Aku tak terlalu jelas mendengarnya karena jalanan sangat ramai. Melihat aku mengernyitkan dahi, sepertinya istriku mengerti, dia mengulang perkataan ibu mertua "mulainya dari perempatan depan, kita jalan ke sana aja ya"
Terbayang jarak yang masih sekitar dua ratusan meter, lumayan. Tapi aku tetap mengangguk setuju.

Perempatan yang disebut-sebut menjadi titik awal keberangkatan itu sudah dijejali penonton di sepanjang pinggiran jalan. Terlihat Polisi berompi hijau terang mencoba mengatur lalu-lintas yang mulai terlihat padat merayap. Mereka dibantu sukarelawan panitia dan beberapa pemuda-pemudi berpakaian pramuka. Karena belum juga mulai, aku mengusulkan untuk memesan wedang ronde di warung lesehan sambil menunggu. Sasa yang sudah tak sabar tak setuju, dengan lantang dia berkata "aku ga mau jajan, aku mau nunggu di sini, nanti kalau mulai kan ga kelihatan". Padahal penjual wedang rondenya juga ada di pinggir jalan situ. Dasar anak kecil batinku. Tanpa menghiraukan pihak yang tak setuju aku meminta istriku untuk memesan wedang ronde dan aku menuju tempat lowong yang paling pojok beralaskan tikar. Melihat aku dan Aqila sudah duduk santai, akhirnya Ibu mertua, Sasa, Zidan dan ayah mereka juga ikut menyusul. Aku ledek Sasa yang tadi tegas menolak ajakanku. "Katanya tadi ga mau jajan" ujarku dengan ekspresi meledek yang kental.
"Ya kan aku ga mau jajan wedang ronde... jajan mie ayam bakso aja" jawabnya membela diri.

*****

"Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laailaaha ilallahhu Allahu Akbar... Allahu Akbar walilla hilhamd...!"

Takbir terdengar lantang dari sound system yang terpasang. Suara jedar jeder dari rombongan drum band mengiringi gema takbir yang dilafalkan. Di sudut jalan juga nampak cahaya dari barisan lampion kotak yang dibawa oleh rombongan anak-anak berjilbab dan berkopyah. Lampionnya digerakkan naik turun sesuai instruksi dan irama lagu yang mengiringi.

Seketika porak poranda lah mangkok wedang ronde yang baru saja terhidang. Sasa dan Zidan langsung teriak-teriak sambil bergegas menuju tepi jalan karena tahu pawai takbir keliling akan dimulai. Aku juga jadi ikut tergesa-gesa beranjak menonton. Untung segera sadar bahwa hangatnya wedang ronde lebih baik dinikmati terlebih dahulu. Aku menghabiskannya sendiri sedangkan rombonganku yang lain sudah siap sedia berdiri di pinggir jalan.

Aku penasaran dengan reaksi Aqila. Ini pertama kalinya dia menyaksikan takbir keliling seperti ini. Raut mukanya kelihatan bingung menyaksikan keramaian di hadapannya. Belum lagi, pawai mobil hias diiringi barisan tua-muda, anak-anak-dewasa, laki-laki-perempuan dengan kostum bermacam-macam. Lampu-lampu juga menyala terang berkedip-kedip penuh warna. Takbir juga terus dikumandangkan dari pengeras suara yang disematkan di masing-masing mobil hias yang melintas.

Banyak sekali yang berpartisipasi. Rombongan mengusung identitas masjid-masjid yang tersebar di kecamatan Playen, Gunung Kidul. Masing-masing menunjukkan kreativitasnya. Ada yang membawa lampion, ada yang memainkan drum band dengan peralatan lengkap, ada juga yang hanya melambai-lambaikan bendera kecil dari kertas minyak. Oh iya, ada juga yang membawa lampu batang warna-warni seperti punya Sasa dan Zidan, juga dilambai-lambaikan. Dari beragam penampilan itu, yang paling banyak dibawa adalah replika Ka'bah, Gajah dan burung ababil. Mereka ber-teatrikal usaha penghancuran ka'bah oleh pasukan gajah yang gagal karena diserang burung ababil yang membawa batu panas. Penonton langsung antusias dan merangsek ke depan saat adegan itu diperagakan.

Pawai takbir keliling seperti sudah akan selesai karena mobil dan motor yang sedari tadi tertahan perjalanannya sudah mulai dipersilahkan lewat oleh aparat yang bertugas. Beberapa penontonpun juga sudah ada yang mulai berjalan pulang. Aku yang sudah mulai lelah dan mengantuk, mengajak istriku dan yang lain untuk kembali ke rumah. Tapi lagi-lagi.... "Aahh.. aku ga mau pulang, itu kan belum selesai, aku mau nonton sampai habis... biar aku marem!" (marem=puas), Sasa kembali resisten dengan rencana-rencanaku.
"Ini uda selesai tauk, tu.. uda pada bubar semua.. uda ga ada yang lewat lagi" jawabku tak mau kalah.

"Iih.. Pakdhe, ga percaya.. tu liat.. masih ada yang lewat tuh!" teriak Sasa sambil menunjuk ke arah rombongan yang baru saja muncul. Kali ini aku yang kalah. Ternyata benar, pawai belum usai, masih ada rombongan yang tersisa. Di kejauhan tampak anak-anak mengenakan pakaian putih-putih membawa lampu warna-warni yang dilambai-lambaikan sambil bertakbir bersama. Di belakangnya diikuti ibu-ibu dengan gamis hitam-hitam juga membawa lampu warna-warni sambil bertakbir dan sesekali tersipu karena tetangganya ada yang menonton. Lalu, diikuti remaja putri dengan gamis hitam dan jilbab kembang-kembang seragam. Mereka sempat membentuk formasi dengan juga melambaikan lampu warna-warni yang di pegang tangan kanan-kirinya. Setelah mendekat mereka semua ternyata memakai masker. Mungkin malu kalau-kalau ada gebetannya yang nonton. Dan yang terakhir, rombongan remaja putera denga alunan drum bandnya mengawal mobil hias ala timur tengah dengan tirai putih dan lampu putih pula.
Wah, ini rombongan dari masjid tempatku sholat isya' tadi. Ternyata di dalam mobil hias tadi ada anak kecil yang didandani seperti abu nawas dan duduk bersila menghadap ke depan. Total sekali penampilannya.

Takbir keliling malam itu berjalan meriah. Semua orang larut dalam suasana suka cita. Hingga tak terasa malam telah cukup larut, saat kini ku terbaring di atas kasur dengan sesekali mengurut kaki sendiri. Di luar sana masih juga terdengar takbir dari sound system mobil-mobil yang melintas. Masih terdengar juga raungan-raungan cempreng motor-motor yang sengaja memamerkan eksistensinya. Ditambah lagi suara dar-der-dor dari kembang api yang tak henti-henti. Padahal hari sudah tengah malam. Semoga kemeriahan ini berlanjut esok hari. Dan Semoga mereka semua tak lupa bahwa besok pagi waktunya Sholat Idul Fitri. Sekian.

Dibatas Masa


Ada masa
Dimana yang hidup akan mengalami episode kematian
Terpisah dari kerabat dan rekan sejawat
Seperti sekuntum bunga yang terlepas dari induknya
Terhempas oleh angin hingga menjangkau jarak yang cukup jauh.
Ah....apalah yang mau disombongkan oleh diri ini
Jika sudah tiba masanya, maka akan mengalami hal yang sama.

#Muhasabah
#28Ramadhan

Kala

Terngiang raut wajahmu yang ceria
Saat ku duduk bersimpuh di beranda
Tak kuat rindu ini menahan
Ingin rasanya segera berjumpa

Tawa candamu yang menyejukan
Seakan menggiring asa yang hilang
Kutemukan sosok yang kudambakan
Ingin rasanya kudekap sepenuh jiwa

Rasanya ingin mengulang kejadian itu
Rindu peluh yang tertunda
Jika hal itu terjadi kembali
Merdeka rasanya jiwa dan raga ini

#edisimasihdikantor



Puisi ini dapat dilihat pada laman :

Pasar Kaget

Pasar Kaget berbeda dengan pasar tradisional dan pasti juga berbeda dengan pasar malam. Jika ditilik melalui “paman gugel”, ada beberapa pengertian seperti di laman ini https://id.wiktionary.org/wiki/pasar_kaget bahwa pengertian pasar kaget adalah pasar sesaat yang terjadi ketika terdapat sebuah keramaian atau perayaan. Pengertian yang sama di laman http://www.deskripsi.com/p/pasar-kaget Mungkin siapapun bisa mencari arti lain dari pasar kaget ini.

     Sebenarnya bukan hal yang khusus saya ingin menceritakan mengenai pasar kaget ini. Tapi ada keperluan lain untuk anak-anak yang senang mendengarkan suara dari gawainya melalui earphone (kalau bahasa anak-anak saya bilangnya “kuping-kuping” karena alat itu mencantol di kuping makanya disebut seperti itu). Nah perjalanan ke pasar kaget ini merupakan yang kedua kali karena pembelian pertama cukup memuaskan dari sisi kualitas dan kekuatan karena sering terjatuh dan dijual dengan harga Rp10.000,-. Cukup murah bukan ? Sehingga ketidaksengajaan ini memberikan inspirasi bagi saya untuk menceritakan mengenai pasar kaget.

Pengalaman ke pasar kaget pernah saya jalani juga saat penempatan di Majene. Pasar kaget di Majene ini ada setiap hari Rabu malam setiap minggu kecuali merupakan hari libur nasional, maka tidak ada pasar kaget. Suasana kota yang cukup sepi dan tidak ada aktivitas sejak jam 20.00, menjadikan pasar kaget dan pasar malam menjadi obat rindu atas keramaian dan hiruk pikuk hiburan. Bahkan saat kami masih di Bekasi, adanya pasar malampun tidak kami datangi, namun berbeda di Majene, hampir setiap hari, kami datangi pasar malam yang beroperasi selama 2 minggu dan berada di stadion sepak bola setempat. Suasana, waktu, jumlah pengunjung, hiruk pikuknya, barang yang dijual dan tujuan ke pasar kaget dan pasar malam cukup berbeda. Itulah pasar kaget dan pasar malam di Majene.

Suasana pasar kaget di Bekasi ramai dan penuh sesak. Padahal Iedul Fitri  masih beberapa hari. Pasar kaget menjelang Iedul Fitri ini pun lebih ramai dibanding hari biasa. Pasar kaget ini juga hanya ada pada Selasa malam dan letaknya di sebuah gang yang hanya cukup satu mobil untuk bisa lewat. Sebenarnya menjadi sebuah anomali meskipun banyak mal-mal tumbuh bak jamur di musim hujan, tetapi masih ada pasar kaget yang cukup ramai dan penuh sesak juga. Pasar kaget ini menjual berbagai kebutuhan yang hampir sama di mal-mal kecuali mobil. Namun kalau soal kualitas jangan dibandingkan dengan barang-barang yang dijual di mal-mal. Barang-barang yang dijual seperti pakaian, perlengkapan shalat, peralatan dapur, perkakas, perlengkapan gawai, peralatan listrik, perlengkapan kosmetik, makanan dan minuman dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Sesampainya kami di pasar kaget, terdengar suara ramai anak-anak bermain kejar-kejaran. Ada juga celoteh antara anak dan ibunya, diantara tawaran para penjual di pasar kaget itu.

“Silahkan dipilih … dipilih … yang murah … yang bergaya …” begitulah salah seorang penjual pakaian yang “kekinian” yang menjajakan dagangannya kepada pembeli.

Kemudian juga terdengar nasihat seorang ibu kepada anak remajanya,

“Nak, kita gak perlu ke mal ya, kan pakaian disini cukup bagus – bagus dan mengikuti trend kekinian. Kan ayahmu belum ada uang untuk pergi ke mal, lagi pula kalau kita ke mal, pengeluarannya menjadi lebih banyak dibanding kita belanja di tempat ini.” Begitulah terdengar samar-samar suara si ibu kepada anaknya.

Setelah menguping pembicaraan antara pedagang dan pembeli, kami pun bergegas menuju ke penjual earphone dan setelah mencoba dan suara speaker-nya sudah sesuai harapan, barulah kami bayar Rp30.000,- untuk 3 earphone. Setelah itu kami menjelajah menuju sisi agak ke dalam pasar kaget. Ramainya para pembeli dan penjual yang berjejal seperti sekelompok semut yang sedang mencari makan. Saat melenggang, kami pun mendengar percakapan antara penjual dan pembeli yang lain.

“Berapa harganya ini mas?  

“1 lusin cuma Rp10.000,- aja. Garpu juga sama. Ibu mau beli yang mana?”
“Sebentar ya mas, saya hitung dulu uangnya. Ini mas, saya beli 2 lusin, 1 lusin sendok dan garpu ya.

“Baik bu, …terima kasih ya bu.”  

Kemudian kami berjalan ke arah dalam, semakin banyak suasana tawar menawar antara pembeli dan pedagang. Pada titik tertentu, saya tak sengaja mendengar juga percakapan yang cukup menggugah hati saya.

“Berapa harga jilbab putih ini?” tanya seorang ibu bersama ketiga anaknya kepada penjual pakaian muslim. Anaknya yang besar seusia anak saya kelas V SD dan adik-adiknya masih kecil.

“Gak mahal bu, cuma Rp40.000 untuk 2 jilbab. Ibu mau beli berapa?”

Ibu tadi masih tertegun dan melihat antara jilbab tadi dan dompetnya hingga berkali-kali dan akhirnya “Mas apa gak bisa kurang? Saya mau ambil 2 jilbab, 1 untuk anak saya yang besar dan 1 lagi untuk saya.”

“Maaf bu, untungnya gak dapet untuk jilbab ini, gimana kalau Rp35.000,-? Ibu bisa ambil dua jilbab. Saya belanjanya agak jauh bu dan gak ketutup modalnya kalau ibu tawar segitu.”

Mendengar ucapan dari pedagang itu, akhirnya si anak yang tertua mendadak bilang, “Mak, saya gak usah dibelikan jilbab dulu kalau uangnya kurang. Lagipula saya kan masih anak-anak dan kalau emak perlu, beli aja untuk emak dulu. Kan Idul Fitri gak harus pake yang baru asalkan bersih dan tidak kotor.”

Terkejutlah si ibu tadi, dalam pikirnya siapa yang mengajarkan ketauladanan kepada anaknya yang besar ini hingga anaknya berpikiran seperti itu, sedangkan dia memang ingin membelikan jilbab untuk anaknya. Akhirnya ibu tadi tidak jadi membeli jilbab karena masih ada jilbab yang masih layak di rumah sepanjang masih bisa dipakai dan anaknya telah mengingatkan bahwa membeli barang itu sesuai dengan kebutuhan (need) bukan keinginan (want).

Itulah sekelumit percakapan yang saya tangkap secara sekilas di pasar kaget malam itu. Jika mendengar beberapa percakapan tadi, rasanya saya perlu banyak bersyukurkarena adanya pasar kaget itu bisa menjawab kebutuhan dan keperluan bagi masyarakat yang berpenghasilan cukup dan pas-pasan. Mungkin geliat seperti pasar kaget, pasar tradisional dan pasar-pasar murah yang sejenis perlu dibiarkan tumbuh sesuai kebutuhan masyarakat dan diberikan ruang untuk tetap bisa tumbuh. Pemerintah hanya mengatur bagaimana aturan main atas pertumbuhan pasar tadi. Memang perputaran uang di pasar kaget ini dan sejenisnya tidak mencapai ratusan milyar seperti transaksi di Indonesia International Motor Show atau pasar senggol seperti di Summarecon Mall Bekasi. Namun adanya pasar kaget yang tersebar di sekitar kota Bekasi akan mengurangi tingkat kejahatan di lingkungan masyarakat. Sekilas saya melihat bahwa banyak masyarakat yang terpinggirkan juga ikut berjualan dan hal ini menjadi trend positf. Saya termasuk orang yang beruntung dan bersyukur karena masih bisa merasakan suasana pasar kaget dan pasar malam tradisional, sehingga saya bisa membeli kebutuhan yang lain di pasar kaget atau pasar sejenis lainnya. Salam sejahtera untuk semua, salam pasar kaget.

***

Cerita ini dapat juga dilihat pada  https://rulyardiansyah.blogspot.co.id/2017/06/pasar-kaget.html