Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Perayaan Hal-Hal Kecil

Terima kasih untuk segelas  teh  yang menenangkan pagi, untuk sapaan kawan yang datang saat aku hampir mati suri. Aku bersyukur untuk pintu yang tertutup rapat, karena ia melindungiku dari jalan yang salah dan sesat.   Syukurku bukan hanya untuk kemenangan yang benderang, tapi juga untuk luka yang kini mulai tenang dan jarang. Terima kasih, diriku, sudah mau terus mencoba, meski dunia berkali-kali memintamu untuk menyerah saja. Jakarta, 30 Desember 2025

Akar yang Tak Terlihat

  Tahun ini bukan tentang seberapa tinggi aku mendaki, tapi tentang seberapa kuat aku berdiri saat bumi berguncang sepi. Ada hari-hari di mana napas terasa seperti beban, dan malam-malam panjang yang penuh dengan keraguan.   Namun lihatlah, aku masih di sini. Menjahit kembali harapan yang sempat robek berkali-kali. Ternyata aku lebih tangguh dari yang kukira, lebih berani dari rasa takut yang sempat bertahta. Aku adalah pemenang atas badai yang kupukul mundur sendiri. Jakarta, 31 Desember 2025

Syukur Dalam Gelap

  Terima kasih untuk hari yang telah usai, Yang membuat hidup penuh dengan warna. Untuk setiap tawa dan air mata,   Kini saatnya merebahkan kepala, Menyerahkan sisa hari pada Sang Pencipta, Dalam doa yang tulus tanpa ada dusta.   Malam ini aku tidur dengan tenang, Yakin bahwa esok adalah berkah baru, Yang menungguku di balik tirai biru. Jakarta, 30 Desember 2025

Akhir Sebuah Malam

Langit hitam mulai berubah kelabu, Bintang   bintang satu per satu menghilang, Tanda bahwa cahaya akan segera datang.   Embun pagi mulai membasahi daun, Membawa kesegaran yang baru lahir, Saat masa kekuasaan malam berakhir.   Selamat tinggal pada sunyi yang damai, Sampai kita bertemu di senja nanti, Saat dunia kembali ingin menepi.  Jakarta, 30 Desember 2025

Karet Gelang Sang Adik – Bagian Ketiga

Beberapa hari berlalu sejak kejadian di rumah sakit itu. Kaki Kara sudah tidak lagi bengkak, meski ia masih harus berjalan agak pincang. Bu Arini tidak hanya membayar biaya rumah sakit, tapi ia juga mengantarkan mereka kembali ke tempat tinggal mereka yang sempit di dekat pabrik. Melihat kondisi tempat tinggal Kari dan Kara yang hanya beralaskan kardus dan beratapkan seng berkarat, hati Bu Arini tergerak. Ia teringat akan janjinya pada diri sendiri untuk selalu berbuat baik sebagai rasa syukur atas hidupnya. "Kari," panggil Bu Arini suatu sore saat ia berkunjung membawa beberapa potong pakaian layak pakai dan buku-buku pelajaran bekas. "Ibu punya sebuah kedai kecil di dekat taman kota. Ibu butuh seseorang untuk membantu merapikan meja dan mencuci piring di sore hari. Apa kamu mau?" Mata Kari berbinar. Ini adalah jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan di sela isak tangisnya saat menjaga Kara yang sakit. "Tentu, Bu! Saya mau. Tapi... bagaimana dengan Kara? Saya t...

Jejak Yang Tertinggal

Lihatlah ke belakang, ke jalan panjang yang telah kita lalui, Ada banyak jejak kaki yang membuktikan betapa kuat kita mendaki. Melewati kerikil tajam hingga padang bunga yang harum mewangi.   Setiap jejak adalah kenangan tentang perjuangan dan tawa, Tentang bagaimana kita saling menguatkan saat salah satu kecewa. Membangun benteng asmara dari bata-bata sabar dan doa.   Jangan takut melangkah ke depan meski jalanan masih misteri, Sebab jejak-jejak masa lalu telah mengajari kita cara berdiri. Berdua kita akan terus berjalan menyongsong mentari pagi. Jakarta, 29 Desember 2025

Keabadian Kecil

Cinta ini mungkin tak akan pernah masuk dalam buku sejarah, Namun di dalam duniaku, ia adalah sesuatu yang paling megah. Sesuatu yang membuat hidupku tak lagi terasa sia-sia dan lelah.   Kita hanyalah dua manusia biasa yang sedang mencoba, Menyatukan dua kepala di antara badai suka dan duka. Menuliskan bab demi bab cerita di atas lembaran waktu yang ada.   Biarlah ini menjadi keabadian kecil milik kita berdua, Tanpa perlu pengakuan dunia, tanpa perlu banyak kasta. Cukup aku, kamu, dan rasa yang akan tetap ada selamanya. Jakarta, 29 Desember 2025 

Karet Gelang Sang Adik - Bagian Kedua

Kisah Kara dan Kari sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut : Karet Gelang Sang Adik Wajah Kara yang biasanya ceria kini pucat pasi. Panas tubuhnya meningkat drastis, dan kakinya yang mungil membengkak kemerahan di sekitar luka bekas besi berkarat itu. Kari, yang hanya seorang anak remaja, merasa dunianya seolah runtuh. Ia mencoba mengompres dahi adiknya dengan kain lusuh yang dibasahi air tawar, namun rintihan Kara tak kunjung reda. "Sakit, Kak... dingin..." bisik Kara lirih, tangannya mencengkeram erat karet gelang pemberian ibu muda tempo hari. Karet itu kini melingkar di pergelangan tangannya yang kurus. Kari tahu ia tidak bisa berdiam diri. Di saku celananya, hanya ada beberapa keping koin hasil mereka mengumpulkan botol plastik kemarin. Jumlahnya takkan cukup untuk membawa Kara ke klinik, apalagi rumah sakit besar. Namun, bayangan wajah orang tuanya yang hilang ditelan abu Merapi seolah memberinya kekuatan. Ia tidak boleh kehilangan satu-satunya keluarga yang ia mil...

it's getting really crowded here

katamu aku suka berasumsi padahal aku lebih suka tidak berada disini katamu kau tidak mencintainya tapi saat bersumpah atas nama Tuhan, maksudmu Tuhan yang mana? curangkah sorot mata lain yang mengundang senyumku? jika ada nama yang lain dalam hening sembah sujudmu? tak peduli jika kau lahir dari dua orang yang tak tahu cara mencintai tak jadi hakmu untuk terus mencaci hati yang selalu memaklumi karena pada akhirnya… luka akan berhenti memaafkan pisau dan dendam tak lagi menyembunyikan dirinya dari rasa takut dan risau jadi siapa di antara kita yang berani untuk lebih dulu akui?

email I can't send

embun pagi mengapa sendu lingkaran hari mengapa absis jangan begitu ini momenku tak peduli aku bukan penulis selamanya kamu abadi dalam karyaku jangan banyak bertanya apa makna dari untaian kata jangan biarkan aku jadi pendusta karena jawabannya akan selalu sama masih kamu yang jadi pemenangnya entah sampai kapan.  

what we did not become

we were not a story that forgot how to end, we were a pause, long enough to breathe yet too short to stay. you were like coming up for fresh air, it’s like I was drowning and you saved me. I chose a life that already knew my name, and you chose silence a love so sincere  it doesn’t make a sound. if there is any mercy in this, it’s that we couldn't break what we never claimed. and if I miss you,  let it be gently, like missing a window after learning how to breathe outside. there's many kind of love, this is the one that doesn’t ask for possession, or a future, it simply exists, quietly, with respect. it was never meant to turn into something we shouldn’t become. not the kind that crosses lines, only the kind that wishes you well, even from a distance.

Duka Kami untuk Sumatera

Malam itu, Malam yang mestinya damai dengan sinar bulan Dan nyanyian binatang malam yang melenakan berganti seketika, Menjadi malam yang tak akan pernah terlupakan   Bayi yang terbuai dalam ayunan, terpekik menjerit Ibu-ibu berteriak, bapak-bapak berlari kalang kabut Ribuan burung terbang riuh menjauh… Rumah, sawah, kendaraan, dalam sekejap hanyut   Malam itu, keheningan malam menjadi gegap gempita Suara gemuruh yang mengalahkan suara badai membahana Yang akhirnya,  hanya terdengar suara takbir bersahutan Allohu akbar…   Sudah berapa meter lumpur menggunung Dan batang raksasa menumpuk Ketika air mulai menyusut, menyisakan perih yang berpaut   Dan di bawah itu, tanahku.. Orang tuaku, abang dan adik-adikku.. Entah sudah berapa banyak air mata tumpah, Dan kepedihan membawa sumpah serapah Semua mencari siapa yang salah   Tapi hidup sebagian kami belum berakhir Kami berpegang erat satu sama lain, Saling men...

Drupadi (3)

D rupadi siapakah yang mengirimkanmu pesan  saat kita tengah berbincang sedekat ini?  pesan yang membuatmu sumringah tersenyum sendiri, bagai senyum  gadis usia belasan yang jatuh hati, aku tak ingin bertanya jauh, ku tahu  kau akan punya jawaban seribu versi,  k arena nama belakangmu "alibi" Drupadi, ada kisah yang konon tervalidasi, kelihaianmu  beralibi begitu teruji, suatu ketika ada perempuan yang lelakinya kau dekati,  m enemukan setumpuk bukti,  kalau kau lah  yang memulai bermain api, alih alih segera berhenti,  seperti juru kampanye engkau memilih pergi kesana kemari,  m enyulap fakta terlihat fiksi,  mengubah  kisah nyata seolah rekaan orang yang dengki Kau tahu hasilnya, Drupadi  begitu banyak orang yang memberimu simpati Drupadi...drupadi,  hidup kadang memang menghadirkan tragedi, perempuan   yang kau tikam dadanya dengan belati,  d isalahkan karena ceceran darahnya mengotori...

Book Review: “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” karya Idrus (1948)

Gambar
"Jalan Lain ke Roma" merupakan satu dari beberapa cerpen yang dituangkan oleh Idrus dalam buku ini yang terbit pada tahun 1948. Namun, alih-alih menampilkan kisah perang yang heroik, Idrus justru menyajikan potret kehidupan masyarakat biasa yang jenaka sekaligus satir di tengah masa revolusi kemerdekaan. Pertama, kita akan berkenalan dengan tokoh utamanya, yang bernama "Open". Kisahnya berfokus pada perjuangan seorang individu biasa yang berada dalam kebingungan mencari cara untuk bertahan hidup ketika situasi serba tidak pasti. Ia sampai harus berganti-ganti profesi. Awalnya ia bekerja sebagai guru, kemudian beralih menjadi guru agama, mencoba menjadi pengarang, dan akhirnya memilih menjadi tukang jahit. Ini merupakan potret realistis mengenai pencarian jati diri.  Poin kedua adalah hal yang membedakan Idrus. Ketika sastrawan lain umumnya menulis kisah pahlawan yang gagah berani, Idrus justru berani mengkritik pencitraan tokoh ataupun jagoan.  Ia menggunakan sindir...

Bang Toyib

Bang Toyib... Usah gundah, wahai sahabat karib, Sudah lumrah dan memang galib, Dalam hidup a da saja si paling ajaib, Yang lupa kalau roda nasib, Kadang berputar dan membawa semua raib Satu persatu tersingkaplah aib, Terbuka jelas, tak lagi gaib (celetukan menjelang Maghrib, 211125)

Prasangka

Prasangka , Kadang makin tanak Ketika kita membuat jarak Kadang pelahan hilang Seusai sedikit bincang Kadang kian mereda  Setelah bicara terbuka Maka, Seandai tak bisa Tak berprasangka Lekaslah berbincang atau bicara Sebelum semua membuncah jadi prahara

satu hari di bulan oktober

dalam ringkuk kepada Tuhan maaf aku lancang menyebut nama lengkapmu doaku bersajak semata merayu-Nya agar kali ini saja takdir berpihak kepadaku bukan aku memaksa, hanya saja seumur hidup aku mau lihat lesung pipimu. entah nanti kau seatap dengan siapa ah, kuharap itu denganku. entah nanti kau sebut namaku dengan lantang dalam jabat tangan ayahku atau malah kau revisi sumpahmu malam itu kepadaku ah, mungkin hanya Tuhan yang tahu. aku terbiasa jalani duniaku dalam hitam-putih dunia tak banyak warna sampai kamu ada aku diam sebentar sadar kamulah mahakarya-Nya. sepucuk doa menjawab kegelisahanmu dari pembicaraan yang selalu kuhindarkan menepis ketakutanku akan sebuah ikatan  sehingga kita tak harus lagi berjalan di tempat yakin hati sudah kutempatkan pada orang yang tepat. jika tulisan ini sampai di ponselmu suatu hari… kau mungkin sadar bercandaku kali ini menjauh, semata-mata agar seriusku kau ketahui karena tak kan ada langkah mundur untukmu apa yang membuat kita bisa bersama, mak...

Kinerja Ekonomi Indonesia per September 2025

Gambar
27 Oktober 2025   Kinerja Ekonomi Indonesia Hingga 30 September 2025, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia menunjukkan kondisi fiskal yang sehat dan terkendali . Pendapatan negara mencapai Rp1.863,3 Triliun , sebagian besar didukung oleh Penerimaan Pajak dan PNBP. Di sisi belanja, total realisasi mencapai Rp2.234,8 Triliun , dengan alokasi terbesar untuk Belanja Pemerintah Pusat dan Transfer ke Daerah. Keseimbangan antara pendapatan dan belanja menghasilkan Defisit APBN yang rendah , yaitu Rp371,5 Triliun ($1,56\%$ dari PDB), dan Keseimbangan Primer yang surplus sebesar Rp18,0 Triliun. Ini mencerminkan pengelolaan keuangan negara yang hati-hati dan menjadi fondasi kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Kekuatan ekonomi domestik tercermin dari aktivitas masyarakat dan dunia usaha yang tetap ekspansif . Tren penjualan ritel dan Indeks Aktivitas Manufaktur Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif, ditopang ole...

Saya Menulis, Karena Saya Belum Selesai Bodohnya

Saya menulis, bukan karena tahu semua jawaban, tetapi karena pertanyaan masih menempel di dinding kepala, bergaung seperti gema yang enggan padam. Saya menulis, sebab kebodohan saya bukan akhir, ia hanya jalan lengang yang menuntut langkah, sebuah kesalahan yang menuntut koreksi, sebuah ketidaktahuan yang memohon cahaya. Saya menulis, karena di setiap kata ada kemungkinan, di setiap kalimat ada celah belajar, dan di setiap salah eja, ada pintu menuju pengertian baru. Saya menulis, karena saya masih bodoh, dan mungkin akan selalu bodoh, tapi di antara huruf-huruf ini, saya belajar mencintai kebodohan saya, sebagai alasan untuk terus mencari, sebagai alasan untuk tidak berhenti Jadi, jangan kira saya menulis karena sudah sampai. Saya menulis karena saya masih berjalan. Saya menulis karena saya masih bodoh, dan barangkali akan terus begitu. Tapi biarlah, selama tinta ini mengalir, kebodohan saya tidak diam, ia terus belajar, ia terus mencari, ia terus menulis. Dr. M. Lucky Akbar, K...

Gebrakan Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih dalam Menggedor Pertumbuhan Ekonomi

Mencari Arah Baru Pertumbuhan Ekonomi Dalam beberapa dekade terakhir, pembangunan ekonomi nasional Indonesia banyak bertumpu pada sektor-sektor perkotaan dan industri berskala besar. Namun, realitas menunjukkan bahwa lebih dari 40% penduduk Indonesia tinggal di perdesaan, dengan sektor pertanian, perikanan, dan UMKM menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Ketimpangan pembangunan antara kota dan desa menjadi perhatian besar, dan upaya untuk meratakan akses terhadap sumber daya ekonomi mulai menunjukkan gejala positif. Salah satu terobosan menarik yang muncul dalam konteks ini adalah hadirnya dua inisiatif strategis: Danantara dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih . Keduanya tidak sekadar proyek pemberdayaan, melainkan ekosistem terintegrasi yang memadukan teknologi digital, kelembagaan gotong‑royong, dan investasi berbasis komunitas. Makalah ini mengeksplorasi desain, capaian, serta tantangan keduanya, seraya menakar prospek mereka sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi inklusif di ...

Rekonsiliasi Nasional Demi Menjaga Kerukunan dan Stabilitas

Gelombang protes dan demonstrasi yang belakangan terjadi di berbagai wilayah tanah air merupakan tanda bahwa bangsa ini sedang diuji. Rasa ketidakpuasan sebagian rakyat terhadap sikap sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang dianggap arogan dalam merespons aspirasi publik telah memunculkan ketegangan. Apalagi, dalam peristiwa kerusuhan beberapa waktu lalu, terlihat adanya lapisan masyarakat seperti para pengemudi ojek online (ojol) yang justru menjadi korban terpinggirkan. Mereka terjebak di antara dinamika politik, aspirasi rakyat, dan tindakan aparat di lapangan. Namun, di tengah situasi ini, ada satu hal yang harus kita jaga bersama: persatuan dan kerukunan masyarakat Indonesia. Bangsa ini berdiri kokoh bukan hanya karena kesamaan bahasa, tanah air, dan sejarah perjuangan, tetapi juga karena semangat persaudaraan yang menembus sekat perbedaan. Bila persatuan runtuh, maka peluang keluar dari krisis akan semakin tipis. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan satu pihak dan memben...

Upaya Dana Desa Membangun Persada

  Representasi Keadilan fiskal Sejak digulirkan menjadi salah satu kebijakan keuangan negara pada tahun 2015, Dana Desa telah menjadi simbol komitmen negara dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di Indonesia. Melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, pemerintah menghadirkan skema pembiayaan langsung dari APBN ke lebih dari 75.000 desa di seluruh Indonesia. Tujuannya bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga untuk membangun kemandirian desa sebagai pilar utama Indonesia yang sejahtera dan inklusif. Dana Desa bukan sekadar alokasi anggaran, tetapi juga representasi keadilan fiskal. Desa yang selama ini termarginalkan kini memiliki akses terhadap dana pembangunan, yang penggunaannya ditentukan sendiri melalui musyawarah desa. Inilah bentuk desentralisasi fiskal yang paling nyata dan menyentuh akar rumput. Pada tahun anggaran 2025, pemerintah mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp71 triliun. Hingga 14 Juli 2025, Menteri Keuangan Sri Mulyani melaporkan bahwa Dana...