Langsung ke konten utama

Menjenguk Orang Sakit

Apakah kamu pernah sakit sampai dirawat di rumah sakit? Mudah-mudahan belum, ya. Atau mungkin kamu pernah menjenguk orang sakit di rumah sakit atau juga menunggu orang yang sakit? Nah semua pertanyaan ini, saya pernah mengalami ketiga peristiwa itu.
Saya ingin membahas tentang perilaku orang yang menjenguk orang sakit di rumah sakit. Kalau kita pernah atau sering pasti kita bisa mencatat beberapa perilaku orang menjengukorang sakit (belibet amat ya bahasanya).

Tipe pertama, orang datang menjenguk murni untuk memberi semangat dan mendoakan si pasien. Tak ada nasihat yang keluar dari mulutnya, hanya doa dalam hati dan kata-kata yang membesarkan hati pasien dan keluarganya.

Tipe kedua, orang yang sok tahu, hehehe. Banyak banget yang kayak gini. Contoh template kalimatnya adalah, “ Coba deh minum ramuan ini, banyak yang sembuh. Apapun penyakit yang diderita pasti sembuh. Itu Pak Dawet juga sembuh minum ramuan biji A dicampur dengan buah B. 
Mungkin benar, kalau untuk orang yang sehat ramuan itu akan menambah kebugaran, tapi untuk orang yang sedang menjalani perawatan medis, please atuh lah jangan sok tahu. Ketika seorang pasien sampai terbaring di rumah sakit, keluarga kan sudah memutuskan itulah yang terbaik bagi si pasien. Jangan nambah-nambahin atau ngerecokin. Bayangkan kalau saran orang itu diikuti, terus ternyata ramuannya bertentangan dengan obat yang diberikan dokter, gimana coba kalau si pasien bukannya sembuh malah tambah parah sakitnya, mau tanggung jawab?

Tipe ketiga, orang yang heboh sendiri. Contoh dialognya seperti ini.
A: Sakit apa? Kenapa bisa dirawat?
P alias Pasien: Jadi gini …
A: Sama kayak gue, waktu itu gue lagi di jalan tiba-tiba dada gue sakit, trus gue langsung ke rumah sakit. Dokter bilang #***&&&### … bla …bla … bla. 
P: Oh (mulai sadar diri)
A: Gue aja nggak nyangka kalo gue bisa  sakit kayak gitu ####++++&&&--@@@@ … bla … bla … bla
P: kok jadi dia yang cerita soal sakitnya sendiri (dalam hati tentunya).

Tipe keempat, suudzon sama yang sakit atau mengadu domba, contohnya seperti ini:
B: Jangan suka marah-marah makanya. Gue denger juga kemarin lu berantem di kantor sama si Nganu sampe lu kolaps begini.
P: Kata siapa?
B: Kata si Ngene begitu. Dia lihat kejadiannya..

Tipe kelima, suka menasihati. 
C: Sudah jangan terlalu capek kerja, jangan stres. Anggap saja sakitnya ini sebagai penghapus dosa. Yang ikhlas saja, yang sabar.
P: Kurang sabar dan ikhlas gimana ya saya? (hatinya menjerit)

Tipe keenam, yang pertama dilakukannya adalah foto bersama pasien, terus dishare ke WA Grup. Namanya sudah dicatat sebagai penjenguk. Padahal mungkin saja si pasien nggak mau wajahnya diabadikan ketika sedang sakit.

Tipe ketujuh, orang yang sangat dermawan. Selalu membawa oleh-oleh yang banyak. Dari mulai buah, makanan, sampai gado-gado (eh itu kan makanan juga).

Tipe kedelapan, silakan tambahkan sendiri.
Kalau kamu masuk tipe yang mana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...