Naskah Amarah

Presiden marah,
Pada Menteri


Menteri marah,
Pada Dirjen

Dirjen marah,
Pada Direktur

Direktur marah,
Pada Kasubdit

Kasubdit Marah,
Pada Kasi

Kasi marah,
Pada Staff

Staff marah
Pada orang  rumah,

Orang rumah bertanya
"Aku salah ?"

Staff menjawab


Tidak!,


marah
Tak selalu karna ada salah

Marah dan kena marah
Sudah tertulis di naskah

Kita hanya memerankannya



Ujung Harapan, 1 juli 2020

#ceritarekaan
#kesamaantokohdanjabatanhanyakebetulan

RINDU MAL


Suara kalian menggema penuhi telinga,
Sayup terdengar dentingan musik menambah berisik,
Sesekali toa menganga memanggil nama,
atau sekedar menyemat serangkai maklumat
sembari melontarkan persen harga potongan,

Terus saja jejakku menjejak,
Menyusuri mengkilat ubin berkotak-kotak,
Menjadi pematang deretan kedai beranak pinak,
Yang terkadang suaranya kompak berpaduan:
“Silakan, Kakak!”
“Nyari apa, Kakak!”
“Mampir dulu, Kakak!”
Sungguh sosok adik yang durhaka,
Seolah-olah ramah, tapi minta uang di belakangnya,

Aku hanya menggelengkan kepala,
Memasang senyuman dari logika,
Melangkah tanpa perlu petunjuk arah,
Lalu memilih singgah pada segelas kopi gula merah,
Duduk menyeruput dengan pandangan tak luput,
Bergumam sendiri: “Wah, sungguh gadis yang imut!”

Hingga tatapan beradu membuat beringsut,
Dia menghampiri nyaliku yang mulai menciut,
Perlahan mendekat dan makin dekat,
Berdiri diam lima sentimer di seberangku,
Lalu menuangkan segelas kopi gula merah,
Keras menerpa kulit wajahku,

Aku hanya terdiam sambil menyeka,
Mengatur nafas gelagapan,
Tak berani melirik matanya,
Dia sekejap membuyarkan: “Ngimpikno Sopo?”

Kisah Senin Soreku Bersama Kekasih Gelapku

Pukul 17.25
Di Senin sore beberapa ratus minggu yang lalu,

Braaakkk ...!!! Aku menggebrak badan kemudi keras sambil berteriak kesal. Sesak sekali rasanya ketika rasa marah dan sedih tumpang tindih dalam rongga dada ini. Aku melambatkan laju kendaraanku sejenak sebelum merasakan aliran hangat membasahi kedua mataku. Pelan lalu semakin deras dan menguras emosi. Aku benar-benar tergugu. Beberapa menit berlalu, aku merasakan sedikit demi sedikit rongga dadaku terasa lebih ringan. Aku meraih tissue, menyeka sisa-sisa air mata, menarik nafas dalam, lalu mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu.

***
“Kamu gak suka ya Mas, aku kasih surprise seperti ini?”, Ajeng menatapku dengan rasa bersalah. “Mas ... ngomong donk, jangan diem aja dari tadi aku dicuekkin,” matanya menatapku dengan gusar.

“Ini bukan masalah aku suka atau nggak ya, tapi aku tuh bener-bener gak habis pikir lho dengan kamu. Ngapain coba kamu melakukan hal sekonyol ini? ‘Kan aku sudah bilang ke kamu, sekarang ini nih kerjaan di kantor sangat banyak, dan aku sedang gak bisa lembur karena istriku sudah beberapa hari ini migrain nya kambuh. Aku harus segera pulang ke rumah, bawa sisa pekerjaan, nanti sampai di rumah harus gantian ngurusin anak-anak, bantu mereka mengerjakan PR, setelah semua tidur aku baru melanjutkan pekerjaan kantor. Aku lelah Jeng ... Tolong kamu pahami itu!”, aku berbicara dengan nada tinggi. Keletihanku seminggu belakangan ini sepertinya memang butuh untuk dilampiaskan.

“Iya Mas ... Maaf. Aku cuma kangen kamu, gak lebih. Aku tau mas mesti cape dengan rutinitas sekarang ini, aku juga gak ada niat mau menambah-nambah beban pikiran Mas kok.”, kali ini suara Ajeng terdengar sangat parau. Aku tau, dia sedang menahan tangisnya.

“Kangen? ‘Kan kita masih terus komunikasi, Jeng. Setiap pagi, setiba di kantor, kamu orang pertama yang aku telpon, begitupun dalam perjalananku pulang dari kantor. Kamu jangan seperti Abege gak jelas deh”, ah kali ini aku benar-benar ingin memuntahkan kesuntukanku. Ada rasa bersalah yang menyelinap ketika aku masih dengan nada tinggi mengomel kepada Ajeng, perempuan yang sudah  beberapa bulan ini menjadi kekasih gelapku.

“Mas, cukup!”, kali ini aku tersentak mendengar suara Ajeng yang berbalik emosi. Aku tertegun sejenak ketika mendapati wajahnya yang sudah bersimbah air mata namun tatapan matanya penuh amarah. Sungguh suatu kombinasi yang tidak pas. “Aku minta maaf kalau kamu merasa kedatanganku kali ini mengganggu kamu. Kamu gak perlu juga sebegitu marahnya ke aku. Jika dengan berkomunikasi via telpon cukup untuk menahan rasa rindu ini, aku gak akan ada bersama kamu saat ini. Tapi aku kali ini benar-benar kecewa, Mas. Aku gak minta kamu ajak jalan kemana-mana, nggaaakk ... buatku, bertemu kamu sebentar saja sudah lebih dari cukup,” belum selesai Ajeng melanjutkan kata-katanya, aku sudah menyela.

“Oya? Trus apa sekarang ini kamu gak bikin repot? Ya gak mungkin kan aku membiarkan kamu pulang sendiri dari kantorku? Sementara kamu tau kalo hari Senin, jalanan macetnya parah. Mengantar kamu pulang berarti aku harus membuang waktu lebih kurang 2 jam untuk bisa sampai di rumah. Belum lagi nanti istriku bolak balik telpon ngomel-ngomel mempertanyakan kenapa aku pulang begitu larut,” kali ini aku benar-benar menghardik Ajeng.

“Mas, tolong turunkan aku disini sekarang,” Ajeng menatapku tajam. Di matanya yang bening, aku melihat luka yang dalam. Aku tau dia sangat kecewa dengan kemarahanku. Aku juga sadar kalau aku terlalu berlebihan, namun aku tak tau mengapa aku tidak dapat  membendung emosiku.

Aku melambatkan laju kendaraan, lalu menepi di depan salah satu halte yang terlihat cukup sesak dengan orang-orang yang berlomba mengejar kendaraan umum.

“Terima kasih ya Mas buat semua. Sekali lagi, aku minta maaf karena sudah merusak malam mu. Hati-hati”,  Ajeng bergegas turun dari mobilku, setengah berlari berbaur bersama orang-orang yang berada di halte itu.

***
“Huuuffttt ... Astaghfirullahal’adziim ...,” aku membatin pelan. Aku baru sadar kalau Ajeng tidak terbiasa menggunakan kendaraan umum, bahkan aku juga tidak yakin kalau dia tau di halte apa dia tadi turun. Ya, itu salah satu kelemahannya. Ajeng tidak pernah bisa mengingat arah suatu alamat. Kelemahan ini juga yang membuatku sering over-protected terhadapnya, sehingga sejak beberapa bulan hubungan kami, Ajeng tidak aku ijinkan kemana-mana jika tidak aku yang mengantarkan. Kecuali ke kantorku, itupun setelah beberapa kali aku harus mengarahkan pengemudi taksi yang membawa Ajeng.

Tiba-tiba ada rasa sesal yang teramat sangat menyelinap dalam hatiku. Tidak seharusnya aku melampiaskan kelelahanku kepada Ajeng. Dari sejak pertama kali kami bersama, baru tadi itu aku menghardiknya.  Padahal tak ada yang salah dengan rasa rindunya. Pun sejak awal Ajeng sudah bilang kalau dia bisa pulang pakai taksi. Dia hanya ingin bertemu, melihatku, menghilangkan rasa rindunya, itu saja. Kini rasa bersalah berbalik menjadi rasa khawatir yang memuncak. Aku bergegas meraih gawaiku, coba menghubungi Ajeng, 1... 2 ... 3 kali tidak dijawab. Secepat kilat aku membelokkan mobilku pada jalan yang mengarah kembali ke halte dimana aku menurunkan Ajeng. “Ya Tuhan, semoga Ajeng masih menungguku, “aku bergumam penuh harap. Namun sia-sia. Aku menyapu pelan wajah orang-orang yang berdiri di halte tersebut sambil terus menghubungi telpon seluler Ajeng. Nihil... Ajeng tak ada disana. “Maafin Mas ya,  Jeng ... semoga kamu baik-baik sampai di rumah.”.

** Well you only need the light when it’s burning low,
Only miss the sun when it starts to snow,
Onlyknow you love her when you let her go
Only know you’ve been high when you’re feeling low,
Only hate the road when you’re missing home
Only know you love her when you let her go, and you let her go ...


**Let her go -- Passenger

ROHINGYA; Para Pencari Suaka

Sembilan puluh empat nyawa
Terombang ambing di tengah samudera
Di sebuah perahu kusam nan renta
Tertiup angin ombak menggurita

Lapar dahaga mendera
Isak tangis para balita
Kecemasan yang menyiksa
Ajal mendekat jarak sedepa

Mereka adalah anak manusia
Terampas hak asasi kemanusiaannya
Karena ulah penguasa durjana
Demi nafsu dunia

Entah berapa lama menahan asa
Menanti takdir yang akan diterima
Terpasrahkan semua kepala Penggenggam Jiwa
Hingga pertolongan itu tiba

Adalah nelayan Aceh menjadi perantara
Menjemput rezeki dipertemukan dengan pengungsi Rohingya
Terpanggil rasa peduli pada sesama
Memberi pertolongan tanpa jeda

Duhai, Aceh lon sayang
Duhai, Rohingya malang
Doaku, doa kami tak berbilang
Kelak, keadilan kan terbentang


Ahad, 28062020


LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN GUGATAN MASA LALU


Lelaki ini terperenyak. Sederet aksara bersungkup rahasia menggugat bayangannya. Menyeret paksa luka-luka lama, menggenangi diri dengan darah basi. Menggurati hati yang bahkan sudah tidak ada spasi. Lelaki ini tak tahu lagi. Harus tertawa geli atau menangis sedih. Cinta coba-coba, mencumbu nafsu di sudut-sudut kota adalah masa lalu yang sudah terbingkai rapi. Terpajang di bilik-bilik sunyi patala[1]. Menggugahnya tak ubah memicu daiwi astra[2], akan menghancurkan bahkan yang tak berdosa. 

*
"Ini kupat tahu paling enak se-Asia Tenggara" bual Perempuan itu lucu. Lelaki ini hanya tertawa. Mana ada kupat tahu diperingkat layaknya sekolah. Kupat tahu itu mungkin bukan yang terenak seperti bualannya, tapi menikmatinya akan selalu dirindui bertahun-tahun setelahnya. "Coba lihat tumpukan bunga-bunga ungu itu!" Perempuan itu sudah berpindah lagi. Cepat sekali layaknya gonta ganti kanal televisi. Dilihat sekilas, tak suka lalu ganti. Lelaki ini cuma geleng-geleng kepala. Cekrek...cekrek...We keep this love in photograph, we made these memories four ourselves[3]. Bagai puzzle yang saling melengkapi. Tuhan menciptakan keindahan Perempuan itu bagai tumbu ketemu tutup dengan hamparan ungu guguran bunga yang jatuh. Lelaki ini membeku, terhipnotis pantulan prisma yang tak terduga. Jalanan kota perjuangan ini memang selalu hangat. Meski tak sehangat dulu saat wedhus gembel masih nyaman berkubang lava. "Keretamu nanti jam berapa?" tanya Perempuan itu, entah yang ke berapa. Lelaki ini hanya membalas dengan tawa, "nanti juga jumpa" sambungnya. Perempuan itu terlihat mempesona, dalam balutan cardigan abu. Kontras dengan rambutnya yang berwarna ungu. "Dingin ya?" tegur Perempuan itu sambil mengurangi suhu pendingin udara. Lelaki ini cuma tersenyum. Kecanggungan merayapi ruangan sempit itu. Seminggu terasa cepat sekali berlalu, menyisakan deru nafas memburu siang malam tak kenal waktu.

*
Lelaki ini masih menatapi gugatan aksara itu. Tidak lupa tapi tidak benar-benar ingat yang mana. Waktu adalah senjata yang ampuh, menggilas angkuh makhluk-makhluk fana. Tak terkecuali rasa. Dibukanya sebuah layar baru, lalu mulai menuliskan kata "Aku adalah sekarang, laluku mungkin sama dengan lalumu, tapi tidak kemana aku akan menuju".


Jakarta, 27062020




[1] Alam bawah
[2] Senjata para dewa
[3] Photograph, Ed Sheeran

Sabtu

Bukan salah waktu
jika punya banyak nama yang berulang
Mungkin itulah cara kita memberi nama
agar sesuatu yang berlalu dan tak bisa kembali
seolah datang lagi

Sabtu, J0620

Renjana nan cela


Hujan Di Bulan Juli

Riana memandangi saldo rekening di layar ponselnya. Senyum lebar mengembang di bibirnya. Sejenak ia menyenderkan tubuh di kursi kerjanya. Ia tak peduli orang lalu lalang di depan kubikelnya. Beberapa orang mengajaknya makan siang di kantin tapi Riana menolaknya. Ia terlalu bahagia hari ini jadi perutnya terasa penuh dan tak perlu diisinya.

“Hei, dari tadi kulihat kamu senyum-senyum sendiri nggak jelas gitu. Ada apa?” tegur Dina. Ia melongok dari belakang kursi Riana.

“Enggak kenapa-kenapa sih. Cuma aku lagi happy aja soalnya apa yang kumimpikan sejak lama akan segera terwujud,” jawab Riana.

“Ke Seoul?” bisik Dina.

“Heeh.” Riana membalikkan kursinya sehingga ia berhadapan dengan Dina.

“Jangan berisik, ya! Aku belum minta ijin sama Bu Tiur. Tahu sendiri kan Bu Tiur kayak gimana orangnya,” pinta Riana.

“Tenang, aku jagonya simpan rahasia penting,” ujar Dina.

“Besok aku mau ambil cuti. Urus visa. Mudah-mudahan semuanya lancar. Nggak sabar rasanya ketemu Bayu. Udah setahun ini kami cuma berbalas email. Dia terlalu sibuk untuk sekedar membalas chat-ku. Apalagi videocall. Aku ingin memberinya kejutan dengan tiba-tiba muncul di Seoul,” terang Riana bersemangat.

“Kamu nggak ngabarin Bayu dulu?” tanya Dina heran. Riana menggelengkan kepalanya.

“Gila, ya! Kalau misalnya pas kamu ke Seoul si Bayu-nya pergi ke kota lain atau pulang ke Jakarta, apa nggak sayang tuh uang dan  tenaga yang kamu habiskan selama ini?”

“Enggak mungkinlah! Bayu nggak akan pulang kalau kuliahnya belum selesai. Ia juga nggak bakalan main-main ke luar kota karena dia bukan tipe yang seneng jalan,” jawab Riana dengan yakin.

“Ya sudahlah, kudoakan semuanya lancar, ya.”

“Terima kasih,ya” ujar Riana.

Bagi Riana waktu sebulan itu rasanya terlalu lama untuk ditunggu. Ia tak sabar ingin segera memeluk Bayu, lelaki yang bertahun-tahun telah mengisi hatinya. Sayangnya sejak tiga tahun yang lalu, Bayu mengucapkan selamat tinggal kepada Riana karena ia akan melanjutkan kuliahnya di Seoul.

Riana sengaja memilih waktu bulan Juli untuk bertemu  karena pada bulan itu Bayu mendapat libur semester sehingga ia dan Bayu bisa menghabiskan waktu berdua lebih tenang tanpa mengganggu waktu belajar Bayu. Riana merasa bangga karena Bayu mendapat beasiswa untuk melanjutkan  S-2 ke Korea Selatan walau sebetulnya ia merasa kehilangan karena selama ini ke mana-mana mereka selalu berdua. Mulai dari berangkat sampai pulang kerja.

Mereka berdua merencanakan pernikahan apabila Bayu telah lulus kuliah. Semuanya telah direncanakan dengan matang oleh Riana dan keluarga Bayu. Riana tak sabar menanti saatnya nanti ketika ia dipersunting oleh Bayu.

“Jangan senyum-senyum sendiri, Non! Aku jadi takut. Ayo ke kantin dulu,  lapar nih,” ajak Dina sambil menggeser kursi ke kubikelnya.

“Ayuk, deh.”

Kali ini Riana tak bisa menolak permintaan temannya itu. Ia mengambil dompet dari dalam tasnya. Kemudian berdiri dan mengikuti langkah Dina menuju kantin. Bahagia mengiringi langkah Riana saat itu.

                                      ***

 

Siang itu cuaca sangat terik. Matahari menyinari bumi dengan segenap kekuatannya. Riana merasa seluruh langkahnya diberkahi karena cuaca cerah yang mendukungnya. Ia memasukkan barang bawaannya ke dalam koper besar yang baru saja dibelinya.

Tak lupa ia membawa beberapa jenis makanan kesukaan Bayu. Riana sudah membayangkan kalau Bayu akan lahap memakan makanan Indonesia yang dibawanya. Sepanjang siang itu Riana terus bendendang riang.

“Na, apa kopermu nggak overweight nanti? Bawaanmu kok banyak banget. Bawa apa saja, sih?” tanya mamanya Riana sambil memeriksa isi koper anaknya.

“Aku bawa makanan kesukaan Bayu, Ma. Lumayan, bisa buat stok juga. Mudah-mudahan sih nggak overweight.”

“Ya terserah kamu, Na. Cuma Mama heran aja, kenapa kamu nggak ngabarin Bayu sih?”

“Kan aku mau kasih surprise, Ma.”

“Mudah-mudahan Bayu bisa menerima surprise dari kamu, Na,” ujar Mama.

“Ah Mama, bukannya dukung aku malah ngomong kayak gitu,” balas Riana kesal.

“Mama kan cuma nanya, nggak ada maksud apa-apa kok. Semua kan harus dibicarakan dengan Bayu. Jangan sampai Bayu malah keganggu dengan kedatangan kamu.”

“Mama! Kok gitu sih? Dukung aja anaknya,” bentak  Riana kesal.

“Ya udah, Mama nggak akan ikut campur lagi.”

Mama keluar dari kamar Riana meninggalkan. Riana  kesal kepada mamanya. Ia merasa mamanya tega kepada dirinya, bukannya mendukung malah bicara yang tidak-tidak. Riana mengepak kembali barang-barang yang akan dibawanya.

                             ***

Riana duduk di bagian depan bis yang akan membawanya ke bandara Soekarno Hatta. Matanya menatap ke arah luar bis. Dalam pikiran Riana tergambar rencana-rencananya untuk menghabiskan musim panas bersama Bayu di Seoul. Ia sudah browsing di internet, beberapa tempat yang akan dikunjunginya berdua. Senyum Riana semakin mengembang ketika membayangkan kegembiraan yang akan dibaginya berdua.

Riana juga membayangkan kalau Bayu akan membicarakan rencananya ke depan menghabiskan waktu denganya. Membeli rumah bersama, memiliki anak dan menjalani masa depan bersama. Rasanya semua indah di mata Riana.

Entah kenapa tiba-tiba hujan turun membasahi bumi. Riana takjub melihat titik-titik air membasahi jendela bisnya. Selama musim kemarau beberapa bulan , inilah pertama kalinya hujan turun membasahi bumi.

Saat turun dari bis di terminal tiga Bandara Soekarno Hatta, Riana berhenti sejenak karena menikmati  aroma tanah yang tersiram hujan setelah sekian lama kering. Riana selalu senang dengan bau itu.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia membuka tasnya dan mengambil ponsel. Rupanya ada pesan dari Sean, teman kuliah  Bayu di Seoul.

Kok bisa nyambung gini? Apakah Sean yang meneleponnya ataukah Bayu yang meminjam ponsel Sean? Atau Bayu punya firasat kalau aku akan datang ke Seoul?

Riana masih ragu membuka pesan yang masuk. Ia takut Bayu mengetahui kalau ia akan datang ke Seoul. Riana berjalan ke arah tempat duduk yang berada di depan pintu masuk bandara. Ia duduk di kursi. Koper yang dibawanya diletakkan di sampingnya.

Berita duka cita

Telah meninggal sahabat kami Bayu Gemilang pada hari ini jam 9 pagi di Solo, Jawa Tengah. Jenazah akan dikebumikan pada jam ….

Seluruh persendian Riana terasa kaku. Ia tak sanggup lagi membaca pesan selanjutnya. Nafasnya terasa berhenti saat itu juga. Riana tak tahu apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Dunianya terasa berhenti seketika.

                                   ***

“Sudah sebulan ini Bayu pulang ke Solo. Ia di rawat di rumah sakit. Maafkan Ibu, Nak. Bayu melarang Ibu memberitahumu. Ibu bertanggung jawab penuh ke kantor karena merahasiakan kabar Bayu sakit.”

“Kenapa, Bu?” suara Riana serak mendengar penjelasan ibunya Bayu.

“Bayu tak ingin kamu sedih, Nak. Dia tak ingin membuyarkan mimpi-mimpimu. Dia sangat mencintaimu, Nak. Sekali lagi maafkan Ibu,” suara ibunya Bayu tercekat menahan tangis.

“Aku merasa dibohongi. Ibu tahu, saya mendapat kabar kalau Bayu pergi pada saat saya sudah di bandara lho, Bu. Saya mau mengunjungi Bayu di Seoul padahal ternyata Bayu sudah ada di Solo. Pikiran Ibu di mana? Salah saya apa, Bu?” Suara Riana bergetar menahan emosi.

“Maafkan, Ibu.”

Riana terduduk lemas di depan pusara Bayu. Hujan mengiringi kepedihan hati Riana. Ia merasa semua orang jahat kepadanya.

Satu per satu orang meninggalkan tempat pemakaman Bayu. Hanya Riana yang tertinggal di sana.

Semua mimpinya kandas begitu saja tanpa bekas. Yang lebih menyakitkan adalah ia sama sekali tak tahu tentang kondisi Bayu selama ini. Pantas saja selama ini Bayu tak pernah mau kalau diminta melakukan videocall dengan Riana.

“Kenapa, Bayu, kenapa?”  tanya Riana sambil terus menangis. Hanya sunyi di tengah rintik hujan yang menemani Riana.

                                        Selesai