Langsung ke konten utama

Menu Ala Sarmili

Ini cerita tentang masak-memasak waktu tingkat pertama kuliah dulu. Setelah kita tahu teknik memasak yang baik, ternyata masalah masih selalu datang silih berganti. Benar kata orang tua dulu, tak ada jalan yang dilalui untuk menjadi orang besar, kecuali akan penuh dengan perjuangan. Dan sekarang sudah terbukti, berat badanku naik berkali-kali lipat dibanding jaman kuliah dulu #adaaqua?

...

Kebetulan saya dapat kontrakan di "jalan protokol" Sarmili, kawasan yang populer waktu itu. Kepopuleran jalan atau tepatnya gang Sarmili tidak bisa lepas dari sosok berwibawa pak Haji yang memiliki banyak kamar kos-kosan waktu itu. Ditambah hmmm... anaknya yang bisa jadi bahan pembicaraan dari masa ke masa. Itu menurut yang kos di sana lho ya, kebetulan saya kos di rumah lain beberapa jarak dari rumah pak Haji... #cariaman:P

Lokasinya agak ke dalam lumayan jauh, ditambah lagi kalau hujan, yaah biasalah, becek ! jadi bawaannya malas saja kalau mau makan di luar. Alasan ini juga yang memperkuat ‘kenekatan’ teman-teman untuk ambil keputusan yang paling berat sepanjang hidup selama ini : ‘masak sendiri’ ! Alasan utama adalah ‘tide money policy’ akibat kondisi eksternal (kiriman wesel, red) yang tidak menentu. Mau tahu apa itu wesel, bisa tanya orang tua atau kakek-neneknya (hadeeuh ketahuan di jaman apa ya saya kuliah waktu itu... baiklah)

Yang paling kelihatan siap untuk ‘proyek’ masak sendiri adalah teman baikku, mas Rony, karena dia satu-satunya yang pakai kaos ‘BANKOM’ yang waktu itu diplesetkan sebagai Bantuan Kompor :D.

Meskipun waktu itu kalau kita beli di warteg, selalu pilih menu termurah ‘sego sepalih kalih tempe setunggal bonus teh pait’ (nasi setengah tempe satu plus teh pahit) dengan harga 350 rupiah, tapi tetap saja harus cari cara yang lebih hemat lagi. Dan itu saya rasakan kalau kita masak sendiri. Salah satu trik hemat waktu itu adalah masak mie instan sendiri dan dengan membaginya menjadi dua untuk dua kali makan #betapangensnyaya:D. Kalau untuk membagi mie nya, gampang... tidak ada masalah. Yang sulit adalah membagi dua bumbu nya, kadang-kadang karena pembagian bumbunya tidak pas, separo yang pertama kepedesan dan separo yang kedua kasinan... #nasib.

Salah satu kendala yang kita alami waktu itu adalah kalau hujan deras, air sumur kontrakan keruh banget alias buthek. Tidak tahu persis kenapa bisa seperti itu, mungkin karena kurang dalam. Tapi kalau hujan gerimis aja sih tidak masalah. Sampai suatu ketika pas hujan deras banget dan pada malas keluar untuk makan, kami memutuskan untuk masak saja. Prosedur masak sudah dijalankan sesuai SOP (bukan masak soup ya :P) dan sambil menunggu nasinya masak kita ngobrol-ngobrol sambil terus ngecek jam, soalnya sudah pada laper, perut keroncongan, malahan ada yang ndangdutan... #ehhh.


Pas pada saat yakin sudah masak, saya lihat nasinya, ternyata benar-benar di luar dugaan, nasi jadi kuning ke coklat-coklatan…. Saya bilang ke teman-teman, ‘ini ngeliwet nasi kok jadinya nasi goreng’. Akhirnya teman-teman tidak ada yang berani makan menu baru itu: nasi goreng ala sarmili, hehe.



Komentar

  1. Balasan
    1. makasih atas kunjungannya Bu, edisi Sarmili ceritanya tidak tentang masak-masak lagi :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.