Langsung ke konten utama

Belajar Menjadi …

 Betapa indahnya jika kita bisa berbagi dan berempati terhadap sesama sesuai dengan ajaran Rasulullah. Berbagi dan berempati tidak harus menjadi orang pintar dengan lulus dari perguruan tinggi terkenal, cukup dengan belajar menjadi orang yang peduli terhadap sesama dan memliki sense of emphaty terhadap orang-orang yang berkekurangan. Sungguh mulia jika ada manusia seperti Rasulullah dengan banyak ilmu tetapi tidak pelit untuk berbagi. Seperti ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk.

        Saya memang bukan orang yang pintar dan sukses dalam kehidupan baik pekerjaan dan pendidikan, tapi saya coba belajar menjadi orang yang bersyukur, qona’ah dan berempati. Kita bisa berempati terhadap sesama yang memilki kekurangan baik fisik dan non fisik. Cerita berikut ini mengenai empati saya terhadap istri, anak-anak dan ibu mertua. Awalnya cerita empati ini karena saya ingin mendampingi anak saya yang akan menghadapi ujian nasional tingkat sekolah menengah pertama. Sebenarnya momen ujian nasional sih biasa aja jika dibanding dengan ujian nasional pada tahun-tahun sebelumnya. Karena ada perubahan kebijakan atas kurikulum yang digunakan makanya ujian nasional tahun ini tidak seheboh tahun-tahun sebelumnya. Tapi si umi tetap mengalami ketar-ketir jika anaknya tidak masuk sekolah negeri. Makanya saya mencoba berempati untuk menanggung burden itu dengan mengajukan libur saat anak akan menghadapi ujian nasional dan sekaligus pelajaran berharga dalam hidup bahwa liburan di rumah pun dapat memberikan manfaat yang tidak kalah dengan liburan di luar rumah. Meskipun saya tipe orang yang senang terhadap proses bukan hasil. Jadi jika hasilnya nanti tidak masuk ke sekolah menengah negeri, saya tetap dukung atas hasilnya.

Pelajaran pertama, saya belajar menjadi seorang istri. Bagaimana sibuknya seorang istri mengurus kebutuhan anak-anak dan suami hingga urusan rumah tangga. Seorang istri harus segera bertindak cepat ketika ada anggota keluarga sakit. Seorang istri juga harus pandai mengatur kebutuhan harian dan bulanan dalam rumah tangga. Bagaimana mereka harus sibuk agar semuanya dapat terpenuhi tanpa kekuarangan sesuatu apapun. Sungguh sebuah kesalahan jika para suami marah terhadap istri yang sudah banyak melakukan tugas rumah tangga dengan segala kekurangan dan kelebihan. Saya pun salut kepada para wanita yang bekerja dengan kemampuan ganda, berpikir untuk tempat kerja dan rumah tangga. Salam hormat untuk para wanita pekerja. Akhirnya saya merasakan suasana hening di suatu momen untuk dapat rehat sejenak dari kesibukan rumah tangga. Makanya para  ibu rumah tangga memang perlu liburan sejenak dari segala rutinitas untuk melepas lelah, penat dan aktifitas rumah tangga lainnya. Makanya saya tidak akan pernah bisa menjadi seorang istri yang sempurna karena belajar menjadi seorang istri tidaklah mudah karena banyak hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh suami, misalnya melakukan tugas dapur, antar jemput anak-anak sekolah, memberikan kasih sayang kepada anak-anak dan bersikap sabar saat segala sesuatunya tidak sesuai dengan keinginan.  

Pelajaran kedua, saya belajar menjadi seorang anak. Membimbing anak dalam belajar tidaklah mudah. Alhamdulillah, anak saya termasuk independent student, kecuali jika menemui kesulitan baru bertanya kepada saya. Saya sebisa mungkin akan memberikan jawaban sesuai kemampuan berpikirnya. Alhamdulillah juga, saya masih bisa menjangkau pengetahuan tingkat sekolah menengah pertama dimana hampir seluruh mata pelajarannya sudah masuk ke tingkat sekolah menengah atas. Makanya saya berlibur di rumah untuk bisa mendampingi dan menemani jika si anak mengalami kesulitan tanpa harus menelpon ke kantor jika saya tidak libur. Tidak mudah dan tidak sulit untuk belajar menjadi anak, karena pada dasarnya mereka hanya ingin diperhatikan dan dipenuhi segala keinginannya. Hal terpenting adalah bagaimana menjelaskan dengan bahasa yang santai dan enak agar mereka bisa menerima penjelasan atas alasan kita. Tidak ada resep yang pas dalam mendidik anak bahkan resep yang ampuh pun tidak ada di dunia, karena setiap anak itu memilki keunikan tersendiri dan setiap keluarga juga memiliki cerita yang berbeda-beda. Itulah pelajaran kedua saya, belajar menjadi anak yang ternyata cukup seru untuk dipahami.

Pelajaran ketiga adalah belajar menjadi ibu mertua. Ibu mertua masih tinggal dengan saya setelah bapak mertua meninggal pada tahun 2013. Ibu mertua sudah cukup lama ikut kami. Tidak mudah bagi beliau untuk bisa beradaptasi dengan saya selaku kepala rumah tangga. Pasti ada hal-hal yang menjadi kerikil-kerikil masalah di suatu saat nanti. Kondisi kesehatan beliau juga tidak sesehat dulu ketika masih ada bapak mertua. Dengan segala kondisi ibu mertua, beliau tetap semangat untuk belajar memahami Al Qur’an dan terjemahannya dan terkadang juga menghadiri beberapa maj’lis untuk sekedar menambah pengetahuan tentang Islam dan kesibukan di hari tuanya. Alhamdulillah, sejauh ini kondisi ibu mertua masih lebih baik dengan pengobatan rawat jalan. Makanya kami pun juga sepakat beliau tetap bersama kami. Saya belum tentu bisa menjadi beliau sekarang karena kondisinya akan berbeda nanti. Makanya saya belajar untuk bisa berempati dengan kondisi beliau sekarang. Saya jadi teringat pesan dari Ibnu ‘Abbas tentang “Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara”. Maka jika sudah teringat hal ini, saya langsung semangat lagi untuk bisa belajar menjadi orang lain.

Pelajaran keempat, adalah belajar menjadi kepala keluarga. Jujur saya sampaikan bahwa hingga saat ini saya belum yakin apakah saya ini adalah kepala keluarga yang sempurna. Masih banyak kekurangan yang perlu saya perbaiki. Dengan segala kekurangan itu, kita selalu bisa berkaca dengan baik dan obyektif bahwa selalu ada kesempatan untuk berbuat baik dan berempati kepada orang lain, baik istri, anak, ibu mertua, kawan, rekan kerja, orang-orang yang tidak beruntung dan masih banyak lagi. Jika sudah melihat ke kaca ada yang tidak pas, maka kita cenderung untuk merapihkan. Demikian juga dengan kekurangan kita, kekurangan sebagai kaca yang bisa membantu kita untuk melakukan perbaikan. Setelah perbaikan dilakukan dan hasilnya tetap sama, maka kita perlu bersyukur sehingga nanti hasil yang kita peroleh adalah keberkahan.

        Mari kita lakukan 5 perkara sebelum datang 5 perkara. Tidak juga menggurui dan tidak juga memaksa, cerita ini merupakan refleksi saya selama liburan menemani dan mendampingi anak ujian nasional tingkat sekolah menengah pertama. Berkah dari itu adalah adanya cerita yang telah saya sampaikan sebelumnya. Silahkan diambil yang baik dan positif, karena masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam diri saya. Makanya kekurangan sebagai cermin untuk melakukan perbaikan. Dengan melakukan perbaikan dengan cermin yang terbatas itu, saya mencoba belajar menjadi orang lain dan mencoba berempati dengan keadaan orang lain. Jika kekuatan itu bisa muncul dengan orang-orang terdekat, maka semangat itu juga bisa menyebar ke orang-orang yang tidak kita kenal. Mari kita bisa mengambil ilmunya padi, “Semakin berisi, semakin merunduk. Saya hanya ingin berbagi pengalaman alam raga saya dalam sebuah tulisan yang nantinya bisa dinikmati oleh berbagai macam orang. Semoga berkenan untuk membaca dan menghayati. 

Tulisan ini dapat juga dilihat di https://rulyardiansyah.blogspot.co.id

Komentar

  1. Masya Allah, terimakasih sudah berbagi ilmu, banyak pelajaran yang bisa saya ambil!

    BalasHapus
  2. sukak.. barakallah Pak Ruli dan keluarga

    BalasHapus
  3. subhanallah... inspiratif mas...

    BalasHapus
  4. Meski sedang libur, ternyata melakukan riset sosial. Sungguh menarik! Terima kasih sharingnya Pak Ruly :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mba Embun, mba Embun juga inspirasi saya

      Hapus
  5. Balasan
    1. Sama-sama pak Indra. Pak Indra juga inspirasi saya juga dan siap belajar bersama

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...