Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender. Trus apa lagi ya pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...
Bagus!
BalasHapusbahasa pujangga nih... top
BalasHapusTerima kasih mas Gun dan mas Jo. Masih menggali arsip lama, berharap bisa memancing munculnya tulisan baru :)..
BalasHapusKira-kira ini tentang apa ya? Tentang kebebasan? Tentang pencarian? (jadi penasaran)
BalasHapusTentang kemandirian. pada akhirnya segalanya kembali pada nurani kita sendiri. orang mungkin membimbing tapi menentukan kita mau bagaimana adalah kesunyian masing-masing..
Hapus