Langsung ke konten utama

Kisah Iteung, Episode Tester Roti

Iteung mah selalu betah kalau berada di mal. Adem banget. Kalau boleh sih mau bawa kasur dan bantal biar dibolehin tidur di mal. Soalnya di rumah nggak punya pendingin ruangan. Cuma punya kipas angin. Itupun baru nyala kalau udah ditepuk-tepuk bagian atasnya sambil dibacain mantra biar nyala. Anginnya pun bercampur sama debu. Iteung males nyuci kipas angin.

Cuma pak Satpam udah melotot duluan waktu Iteung bawa  tenda dan perlengkapan tidur. Padahal cuma semalam Iteung pengen ngerasain tidur di mal yang dingin. Baiklah, Iteung nurut aja deh, daripada pak Satpamnya stress ngadepin Iteung.

Keliling mal rasanya nggak afdol kalo Iteung nggak beli makanan. Buat pencitraan aja kalau udah jalan-jalan di mal. Mau pamer sama ceu Kokom, tetangga sebelah kalau Iteung sudah seperti orang-orang kaya belanja di mal.

Kalau beli baju mah tetep di mang Ujang, tukang kredit dari daerah Singaparna. Jualan mang Ujang mah komplit. Dari mulai daster sampe panci ada. Bisa dicicil sepuluh kali, sehari boleh tiga kali cicilan.

Keluhan mang Ujang adalah, para customer itu kalau mau ambil barang semua muncul didepan rumah. Giliran bayar pada ngumpet, bahkan pura-pura lagi pergi. Kenapa Iteung ngelantur ya?

Di depan toko roti Iteung berhenti sambil celingak celinguk.
"Masuk aja Bunda!" ujar seorang perempuan dengan rok pendek dan celemek putih.
Iteung senyum aja, agak bingung baca nama toko yang susah dibaca dengan lidah Iteung yang terbiasa makan singkong.
"Ada testernya kok, Bunda," sambungnya lagi.
Mendengar kata "tester", alam bawah sadar Iteung langsung bereaksi. Pikiran Iteung menuntun raga memasuki toko roti itu.

"Ini lho, roti isi kacang merah. Paling favorit disini. Coba aja dulu!" si mbak meyakinkan Iteung.
"Biasanya kalau di kampung mah dibikin sayur lho, mbak," ujar Iteung.
Si mbak cuma diam, mungkin kesal juga, ada orang kok noraknya nggak ketulungan.
Iteung nyobain potongan kecil roti. Satu potong belum berasa enaknya. Potongan kedua mulai kerasa kacang merahnya, potongan ketiga baru pas rasanya.
"Iya mbak, enak rotinya," suara Iteung keluar nggak jelas karena mulut masih penuh roti.
"Mau ambil berapa, Bunda?" si Mbak minta kepastian Iteung. Sepertinya Mbaknya pengalaman digantungin sama cowok deh.
"Sebentar...." Iteung melangkah ke sisi sebaliknya.
"Ini rasa apa, Mbak?"
"Rasa orange, Bunda," si Mbak masih sabar.
Iteung ambil tiga potong kecil roti. Rasanya memang enak. Wajah si Mbak mulai prihatin ngelihat Iteung.
Iteung muter lagi nyari roti rasa yang lain. Semuanya enak.
"Kalau ini rasa apa, Mbak?" ini potongan terakhir yang akan Iteung cobain.
"Itu rasa kesal yang tertinggal di hati ," ujar si Mbak sambil cemberut.
"Jangan cemberut Mbak, nanti susah dapet jodoh."
Muka si Mbak tambah serem. Alisnya naik. Baki yang dipegang diayun-ayun.
"Ibu mau beli yang mana?"
"Nggak jadi Mbak. Saya udah kenyang," Iteung tutup wajah pake tas takutnya baki mendarat di kepala Iteung.
Si mbak udah nggak tahan lagi sama Iteung. Iteung digiring keluar dari toko roti.

"Pertanyaan terakhir Mbak. Ada tester minuman nggak?"
Si Mbak menangis keras di pojokan mal sambil garuk-garuk tembok.

Jakarta, 12 Mei 2017



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...