siapakah yang mengirimkanmu pesan saat kita tengah berbincang sedekat ini?
ada kisah yang konon tervalidasi,
hidup kadang memang menghadirkan tragedi,
tahun tahun ini dengan segala bujuk rayu dan manipulasi,
engkau mendekati banyak lelaki,
kau relakan dirimu seumpama trophi,
kepalamu bergelayut mesra di bahu satu lelaki,
berjalin tangan dengan lelaki berbeda di lain hari.
Berbincang mesra dengan lelaki penyanyi di pagi hari,
makan malam romantisnya dengan lelaki penari.
Menangis sedih ditinggal lelaki pemikir yang pergi,
lalu bergegas bercengkerama dengan lelaki pemuja sepi.
Bertukar pesan menggoda dengan lajangnya lelaki,
berkirim swafoto dengan lelaki beristri.
Apakah kau pikir ini kan abadi?
apakah Lima tahun atau enam tahun lagi,
pesonamu masih akan mampu menaklukkan banyak lelaki ?
Lima atau enam tahun setelah hari ini,
Kulit wajahmu mungkin takkan elastis lagi,
minuman dan krim pelawan usia yang kau beli,
tak akan berkhasiat menunda atau membuat berhenti
menebalnya garis senyum di ujung pipi,
menegasnya kerutan sepanjang dahi
Rambutmu yang dahulu berurai wangi,
akan memutih sewarna kabut pagi,
semir rambut hitammu hanya menguji konsistensi,
bertahan dalam hitungan hari.
Langkahmu, yang dulu ringan dan percaya diri,
akan mulai tertatih mengisyaratkan nyeri,
gemeretak pelumas lututmu yang kurang isi
Aku kasih tahu rahasia kecil ini, Drupadi
kebanyakan mereka kaum lelaki brengsek sekali
penyanyi atau penari,
pebasket atau pelari,
lajang atau beristri ,
siapapun yang saat ini kau dekati,
mungkin berbeda dalam puja puji,
tapi kebanyakan mereka visual sekali
Kelak, saat tubuhmu tak menarik lagi,
mereka akan bergegas pergi,
dan kisahmu yang berawal dari hasrat hewani,
tak akan pernah abadi
ah .....yaa sudahlah Drupadi
Malam telah melangkah jauh menjelang pagi,
Lekaslah pergi
lelakimu pasti sudah pulang kembali.
(Pada hari minggu, sebelum bertugas mencuci baju, 30 Nov 25)