Menjelang Pesta di Negeri Mimpi

Di negeri mimpi
Lintasan hari mulai Hiruk pikuk oleh imaji dan narasi narsis bertumpuk
Di sela panji dan bendera partai  berbagai bentuk,
Adu ide dan gagasan semata barang lapuk

Rakyat bisa sejenak laksana raja,
Lupa penat dan nestapanya masa,
Terbuai bujuk rayu mendayu
Kandidat kandidat gelap mata,
halalkan cara demi suara

Mereka
berlomba mengaku saudara,
Bemanis sapa seumpama kawan dekat,
Berebut cepat menjalin rantai kerabat,
Beradu muslihat untuk sepakat

Sesaat  ternampak lamat
Perih kenangan lima tahun terlewat,
Ketika  janji manis serupa hikayat

Jika bukan karena hak dan kewajiban
Sebagian rakyat mungkin telah mual,
Pesta itu sekedar mengulang ritual
kampanye penuh bual  berjejal,
Puja puji diri bertebaran bagai iklan kecap para penjual,
"Kamilah kandidat paling bermoral,
Memilih kami takkan menyesal"

Seolah  rakyat  kaum bebal,
Yang tak pernah menganggap hianat sebagai soal,
Jelang pesta rakyat di rangkul,
Habis pesta rakyat ditinggal,

Jika bukan karena hak dan kewajiban
Sebagian rakyat  mungkin telah muak,
Karena syahwat kekuasaan,
tubuh tubuh uzur berlaku bak kanak kanak,
hilaf setitik lawan jadi amunisi cela yang semarak,
Amal budi diri jadi ajang riya ke halayak,

Seolah rakyat tak pernah menyimak,
Tingkah tingkah nan tamak ,
Angkara muka yang bergejolak,
Serupa benar, tak pernah sempurna
tertutup  kata dan citra  yang dipermak

Di negeri mimpi
Lintasan hari mulai hiruk pikuk oleh,
Imaji dan narasi narsis bertumpuk,
Memancang pada setiap ujung gang,
Memenuhi setiap celah ruang,

Entah dari mana mereka datang?

(stasiun cakung, 31 Jan 19)

Purnama perigee



Semalaman,
katanya purnama semakin dekat,
sinarnya benderang

tapi aku tak tahu,
mungkin karena,
semalamam,
cahayamu mengalahkannya

#tetehnumaketiung
(Ujung Harapan, 20 Febr 2019)

Barang bawaan yang kita tinggal,

Seorang teman bercerita,
Barang bawaannya ditinggal di bandara,
Karena ongkos bagasi pesawat lebih mahal dari harganya

teman yang satu lagi bercerita,
Barang bawaannya ditinggal di stasiun kereta,
Karena dimensinya melebihi kotak batasan masuk kereta

Seorang teman yang satu,
tak lagi bisa cerita,
barang bawaannya
ditinggal di dunia,
Karena hanya tubuh berbalut kafan yang masuk keranda





Juanda, nunggu kereta sore ini

Toga Ke-Empat

Pagi itu, Depok dianugerahi gerimis. Saya sebut anugerah, karena gerimis selalu berhasil menghadirkan suasana hati yang seimbang dalam proporsi yang sempurna. Gerimis pagi itu terjadi pada Sabtu, Dua Februari 2019. Gerimis yang menjadi saksi penyematan toga ke-empat yang berhasil disematkan di kepala. Seperti ketiga toga sebelumnya, toga kali ini pun diperoleh dengan segala perjuangan dan pengorbanan: moril, materil, emosi dan waktu. Selalu ada kisah naik-turun yang menyertainya. Tidak hanya cerita tawa, tapi juga  keterpurukan karena ketiadaan data, jenuh dengan berbagai jenis literatur, bahkan amarah saat lalai menyimpan hasil olah data dan jaringan listrik padam.
Toga ini menjadi penyempurna dari segala pergulatan akademis di berbagai levelnya. Toga ke-empat ini seperti hidangan penutup, yang menyempurnakan sajian menu makan malam romantis bersama kekasih hati.  
Senang…, pasti!!!
Bangga…, apalagi!!!
          Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Euforia tersebut berhenti di hari ketiga. Setelah pertanyaan jahil muncul di kepala “Setelah Doktor, trus napa?”
       Sebagai manusia yang dilengkapi syahwat berupa eksistensi diri dan pengakuan lingkungan, saya juga tidak luput dari kepemilikan ekspektasi yang kadang melampaui kursi langit. Ada arogansi “merasa berhak” atas sesuatu yang mulai menggoda diri. Ekspektasi dan arogansi yang terus tumbuh hampir tanpa kendali. Hingga…, kitab Adam Smith yang ditulis pada tahun 1776 berhasil menghancurkan semua pondasi negatif yang sudah mulai mengeras. Membaca kembali kitab suci para ekonom ini, menarik kembali pada kesadaran bahwa akan selalu ada “kekuatan tak terlihat” yang dapat merubah sesuatu.
Jika, Eyang Smith menyatakan bahwa terdapat “invisible hands” yang akan menyeimbangkan pasar. Saya mengadopsinya bahwa selalu ada “invisible constraints” yang dapat menggagalkan keinginan. Ya…keinginan, bukan tujuan apalagi cita-cita. Karena keinginan adalah sebuah subjektivitas, sedangkan tujuan atau cita-cita merupakan objektivitas. Perbedaannya terletak pada rasionalitas ukuran yang digunakan. Subjektivitas tidak dapat dilihat relevansi logisnya, it’s all about  individual's preference.
Kesadaran ini sangat berharga karena dapat mengendalikan ekpektasi dan membunuh arogansi yang tidak perlu. Kesadaran ini pun perlu dibagi, bahwa sekolah itu untuk membentuk cara berfikir kritis sehingga meningkatkan kinerja. Sekolah itu untuk menuntut ilmu, dan….
Ilmu dipelajari, (bukan) untuk promosi;
Ilmu dipelajari, (bukan) untuk kaya;
Ilmu dipelajari, (bukan) untuk menangan;
Ilmu dipelajari, (bukan) untuk populer;
.
.
. 
Ilmu dipelajari, untuk diamalkan…        

Baby Blues

Aku tertegun melihat dua garis pada alat testpack yang berada dalam genggaman. Waw, ternyata aku hamil lagi, padahal anakku yang pertama masih berusia lima bulan. Saat itu juga aku baru dua bulan aktif kembali bekerja. Berbagai perasaan berkecamuk di hati.
“Kok bisa gue hamil?” Waktunya nggak tepat,” aku hanya bisa garuk-garuk kepala yang emang gatel sih karena udah seminggu  nggak ketemu shampoo.
Beberapa hari kemudian kuulangi lagi tes nya, hasilnya tetap sama. Aduh, benar-benar surprise yang nggak bikin bahagia. Kebayang kerepotan yang akan kualami punya dua anak bayi. Saat itu aku merasa malu dengan kondisiku. Yang agak menolong, saat itu aku sedang menjalani tugas diluar kantorku. Aku ditugaskan membantu konsultan, jadi aku bisa menyembunyikan kehamilan dari teman-temanku.
Waktu itu, setiap ditanya teman-teman kantor tentang badanku yang membesar, aku hanya menjawab kalau aku memang gemuk karena banyak makan. Paling teman-teman berpikir, berapa banyak makanan  yang dikonsumsi sampai badanku bengkak begitu. Namun seiring berjalannya waktu aku mulai bisa menerima kehamilanku karena aku bagaimanapun juga memilki anak ada sebuah amanah dari Sang Maha Kuasa yang harus kujaga.
Teman-temanku di kantor kaget ketika aku datang ke tempat kerja yang semula untuk meminta kembali cuti melahirkan. Sebagian menyesalkan kenapa aku tak memberitahu mereka, tapi ya mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur. Yang kesal mungkin atasanku karena waktu itu harus mencari penggantiku sampai aku selesai menjalani cuti melahirkan. Si konsultan masih ada waktu beberapa bulan untuk menyelesaikan kontraknya.
Akhirnya tanpa ada yang menunggui, aku bisa melahirkan anak yang kedua. Pada saat itu suamiku harus menjadi narasumber di sebuah seminar. Untungnya seminar itu diadakan di kota Bandung, jadi dia tak perlu mondar-mandir dari Jakarta ke Bandung. Sampai sesaat sebelum persalinan, suamiku masih menungguiku, sayangnya sampai waktu dia harus berangkat ke tempat seminar. Aku merasa tak masalah menjalani proses persalinan sendiri. Persalinan berjalan lancer tanpa kesulitan berarti. Tak lama setelah si kecil lahir, ibuku datang ke klinik membuatku merasa lebih lega.
Saat-saat selanjutnya adalah saat yang paling berat buatku, terlebih ketika suamiku harus kembali ke Jakarta untuk bekerja. Aku memilih menjalani cutiku di Bandung karena ada orang yang bisa mendampingi di Bandung. Itulah saat aku merasakan kebingungan karena tak tahu harus berbuat apa untuk mengurus kedua anakku yang masih sangat kecil. Mencari pengasuh anak bukan hal mudah saat itu. Jadi, selama dua bulan masa cuti, aku mengurus kedua anakku sendiri. Untunglah Bapak dan Ibu masih sehat kala itu, jadi masih ada yang bisa menjaga anakku yang sulung.
Sama seperti anakku yang pertama, Anin, saat memiliki anak yang kedua, Cita aku kesulitan mengeluarkan air susu ibu (ASI). Stres melanda terlebih pada saat itu di media sedang digalakkan pemberian ASI kepada bayi. Berhari-hari kucoba memberikan ASI tapi gagal. Segala makanan yang dianjurkan untuk memberi ASI kulahap tanpa kecuali. Mulai dari daun katuk, susu, sampai makanan-makanan yang kata orang adalah ASI booster. Sayang tak berhasil. Perasaan sedih melanda karena banyak kudengar orang membicarakanku dan menyebutku malas memberi ASI kepada anak-anakku. Segala rumor menakutkan tentang kondisi anak yang tidak mendapatkan ASI diceritakan kepadaku sampai aku kesal. Kupikir tak seorang ibupun yang tak ingin memberikan yang terbaik kepada anaknya.
Saat itu aku merasa semua orang menudingku sebagai ibu yang jahat kepada anaknya karena tidak memberikan ASI. Mereka tak tahu betapa tertekannya diriku setiap ada tetangga yang datang menengok bayi. Setiap orang yang datang selalu memberi saran apa yang harus kulakukan agar ASI ku keluar. Maksud mereka sebenarnya baik, cuma saran mereka malah membuatku tambah tertekan. Akhirnya setelah berusaha selama seminggu, aku memutuskan untuk memberi anakku susu formula dengan penuh.
Rasa sedih yang kualami semakin menghebat. Mungkin bagi orang lain mengurus dua anak adalah hal yang biasa, tapi entah kenapa saat itu aku merasa mendapatkan beban yang amat berat. Rasanya ingin selalu menangis. Itu kualami selama seminggu, walaupun tak ada masalah serius menimpa anak-anakku, aku selalu bersedih, dan itu terjadi setiap hari. Kupikir karena aku merasa bersalah karena tak bisa memberikan ASI kepada anak-anakku, tapi lama-lama kok jadi melankolis yang tak jelas penyebabnya. Perasaan itu membuatku tersiksa.
Belakangan setelah kucari tahu aku baru tahu bahwa apa yang kurasakan itu adalah hal wajar yang dialami seorang ibu yang baru melahirkan. Rupanya aku terkena sindrom baby blues. Menurut apa yang kubaca di sebuah buku, sindrom baby blues adalah kondisi gangguan mood yang dialami ibu setelah melahirkan. Baby blues merupakan bentuk yang lebih ringan dari depresi post natal. Katanya sih ini hal yang normal dan banyak ibu mengalami sindrom ini setelah melahirkan.
Akhirnya, buat ibu-ibu yang akan melahirkan jangan merasa bersalah bila kedatangan sindrom baby blues. Nanti akan berlalu juga kok seiring waktu, apalagi jika kita memeluk bayi mungil yang lucu dan menggemaskan. Juga buat yang lain, jangan suka membandingkan ibu melahirkan satu dengan yang lainnya karena proses yang dialami setiap ibu akan berbeda-beda. Ketika menengok orang yang habis melahirkan, berilah semangat dan hiburlah si ibu agar ibunya tetap ceria. Bagi yang sulit mengeluarkan ASI, dicoba terus jangan putus asa. Kalau ada indikasi medis tak dapat menyusui, jangan membandingkan dengan orang lain, semangati diri sendiri bahwa apapun yang kita berikan, itulah yang terbaik untuk anak kita.
Jakarta, 1 Februari 2019