Drupadi (3)

Drupadi
siapakah yang mengirimkanmu pesan saat kita tengah berbincang sedekat ini? 
pesan yang membuatmu sumringah tersenyum sendiri,
bagai senyum  gadis usia belasan yang jatuh hati,
aku tak ingin bertanya jauh, ku tahu kau akan punya jawaban seribu versi, 
karena nama belakangmu "alibi"


Drupadi,
ada kisah yang konon tervalidasi,
kelihaianmu  beralibi begitu teruji,
suatu ketika ada perempuan yang lelakinya kau dekati, 
menemukan setumpuk bukti, 
kalau kau lah  yang memulai bermain api,
alih alih segera berhenti, 
seperti juru kampanye engkau memilih pergi kesana kemari, 
menyulap fakta terlihat fiksi, 
mengubah  kisah nyata seolah rekaan orang yang dengki

Kau tahu hasilnya, Drupadi 
begitu banyak orang yang memberimu simpati

Drupadi...drupadi, 
hidup kadang memang menghadirkan tragedi,
perempuan  yang kau tikam dadanya dengan belati, 
disalahkan karena ceceran darahnya mengotori gaunmu yang putih suci.

Apa yang sebenarnya engkau cari?
Apakah semua ini adalah pelarian dari hidupmu yang sepi?
tahun tahun ini dengan segala bujuk rayu dan manipulasi,
engkau mendekati banyak lelaki, 
kau jadikan mereka semacam koleksi, 
di bawah kontrolmu lelaki hebatpun seperti kehilangan akal budi,
terhanyut pada sekenario permainan dan  kompetisi, 
kau relakan  dirimu seumpama trophi, 
yang diperebutkan dan dipergilirkan kesana kemari

mudah sekali, 
kepalamu bergelayut mesra di bahu satu lelaki,
berjalin tangan dengan lelaki berbeda di lain hari.
Berbincang mesra dengan lelaki penyanyi di pagi hari,
makan malam romantisnya  dengan lelaki penari.
Menangis sedih ditinggal lelaki pemikir yang pergi, 
lalu bergegas  bercengkerama dengan lelaki pemuja sepi. 
Bertukar pesan menggoda dengan lajangnya lelaki,
berkirim swafoto  dengan lelaki beristri.

Ah untuk urusan ini, kau liar sekali 


Drupadi
Apakah kau pikir ini kan abadi? 
apakah Lima tahun atau enam tahun lagi, 
pesonamu masih akan mampu menaklukkan banyak lelaki ?
Lima atau enam tahun setelah hari ini,
Kulit wajahmu mungkin takkan elastis lagi,
minuman dan krim pelawan usia yang kau beli, 
tak akan berkhasiat menunda atau membuat berhenti 
menebalnya garis senyum di ujung pipi,
menegasnya kerutan sepanjang dahi
Rambutmu yang dahulu berurai wangi,
akan memutih sewarna kabut pagi, 
semir rambut hitammu hanya menguji konsistensi, 
bertahan dalam hitungan hari.
Langkahmu, yang dulu ringan dan percaya diri, 
akan mulai tertatih mengisyaratkan  nyeri, 
gemeretak pelumas lututmu yang kurang isi
Aku kasih tahu rahasia kecil ini, Drupadi
kebanyakan mereka kaum lelaki brengsek sekali 
penyanyi atau penari, 
pebasket atau pelari, 
lajang atau beristri , 
siapapun yang saat ini kau dekati, 
mungkin berbeda dalam puja puji, 
tapi kebanyakan mereka visual sekali
Kelak, saat  tubuhmu tak menarik lagi, 
mereka akan bergegas pergi, 
dan kisahmu  yang berawal dari hasrat hewani,
tak akan pernah abadi 
ah .....yaa sudahlah Drupadi 
Malam telah melangkah jauh menjelang pagi, 
Lekaslah pergi
lelakimu pasti sudah pulang kembali.

 
(Pada hari minggu,  sebelum bertugas mencuci baju, 30 Nov 25)