Kau berkelana di dalam kepalaku
Mencari-cari apa yang salah dari makna "bertanya"
Kau katakan aku tak patut dan tak turut
Menerka-menerka pikiran masa depanmu yang tertinggal di belakang
Kita hendak berencana membuat perubahan, katamu
Sebagai respons perubahan yang lebih dulu berubah, kataku
Kau ajak aku ke dalam ceritamu
Aku kesepian, ternyata sebagai pengarang, kau miskin fondasi dan substansi
Semua benda mati yang ada di sekitar kita menjadi bermakna karena pemaknaan yang kita berikan sendiri, diri yang mengalami, diri yang bercerita, diri yang mengarang dan membual narasi dengan semaunya, ya, itulah kita, dengan pemaknaan itu juga kita saling menyakiti. Selamat merasakan sakit. Besok kita teruskan, terus kita rayakan dengan pemaknaan (re: bualan) baru yang lebih rapi dan bermutu
Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender. Trus apa lagi ya pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...
Komentar
Posting Komentar