Puisi
Ntah apa yang bisa kau janjikan untuk kami
Ketenangan hati?
Manifestasi nurani?
Oh, ayolah
Tak ada yang salah dari dunia modern ini
Sedari dulu, bukankah kita sudah mengharapkan kedatangannya
Segala upaya telah kita lakukan untuk mempersiapkan landasan dunia modern ini, lalu setelah dia sampai dengan barang bawaannya, kita sambut dia, kita tempatkan dia pada segala aspek yang melekat di diri kita. Input, proses, output diri kita harus MODERN!
Puisi
Kau datang kembali,
Kau babak belur
Barang bawaanmu dicuri
Kau tak indah lagi
Kau tak berarti apa-apa dibandingkan modernitas ini
Puisi
Apa lagi yang hendak kau sentuh di hidup kami
Kau tak memiliki tempat di sini
Enyahlah!
Sedang modernitas ini begitu menggiurkan, kami ingin melesat dan menemui kehancuran yang disembunyikannya!
Puisi
Menyingkirlah!
Semprong modernitas!
Kami tak ingin terlambat!
Kami ingin lumat dan tamat tanpa terlambat!
Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender. Trus apa lagi ya pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...
Komentar
Posting Komentar