Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus 6, 2017

Tulisan dengan Kekuatan Emosi Memang Bedampak ke Hati

Baru-baru ini saya meminjam dua buku dari perpustakaan DJA. Ke-dua buku ini memiliki judul yang memikat saya. Jadilah buku tersebut menjadi sasaran baca kegiatan harian. Pertama, buku Cahyo Satria Wijaya, terbitan tahun 2017, berjudul Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini. Buku kedua pasti sudah banyak yang membacanya: Chicken Soup for The Soul: Kekuatan Berpikir Positif, 101 Kisah Inspiratif tentang Mengubah Hidup dengan Berpikir Posisitif , terbitan Gramedia Pustaka Utama, cetakan sembilan tahun 2016.     Kedua buku tersebut mempunyai dampak ke hati yang berbeda. Buku serial Chicken Soup for The Soul , terasa lebih memikat dan kena di hati saya. Ada beberapa tulisan yang menyentuh emosi terharu dan membuka cakrawala berpikir yang berbeda. Terpikir dalam hati, “Orang ternyata bisa mengubah kehidupannya karena hal remeh-temeh begitu ....” Sementara, bukunya Cahyo Satria hanya terasa sebagai suatu informasi semata. Di sana, tidak terlibat emosi benci, emosi senang, atau emosi...

Untuk Mas Pehix Snang Iteba (Mas Teba) ku

Gambar
Ketika aku membantu mengangkat tubuhmu setelah dimandikan, aku termangu Ketika helai demi helai kapas menutup tubuhmu, aku mulai tergugu Ketika lembar demi lembar kain kafan membelit tubuhmu, aku tak kuasa menahan isak tangis Ketika para  tercinta mencium wajahmu untuk terakhir kali, semakin deras air mataku Hanya dzikir...dan dzikir yang terus terucap Memohon keampunan dan kasih sayangNYA untukmu, Mas Teba-ku Menjadi rekan kerjamu selama lebih dari 10 tahun, terlalu banyak kebersamaan yang akan selalu dikenang Bahwa kamu adalah rekan kerja yang sangat baik, itu benar! Bahwa kamu adalah Mas-ku yang selalu "ngemong" ketika aku menghadapi kesulitan dalam pekerjaan, itu benar! Bahwa sewaktu aku kebingungan harus naik angkutan apa ketika pulang tugas tengah malam dari luar kota, lalu kamu menawarkan diri untuk mengantarku sampai rumah bersama Mba, itu benar! Bahwa ketika kita masing-masing terpisah karena tugas, namun silaturahmi tetap terjalin, itu benar! ...

Pria Tenang itu Kini Istirahat dengan Tenang

Bisa dibilang saya tidak terlalu kenal dekat dengan beliau. Meskipun rekan sekantor, pertemuan kami terjadi tidak disangka-sangka. Perkenalan formal juga tak pernah diadakan sebelumnya. Saat itu kami pergi naik gunung dalam satu rombongan yang sama. Rombongan itu terdiri dari percampuran antara kawan DJA dan teman saya. Meski kawan DJA, tidak semua dari mereka saya benar-benar mengenalnya.  Ketika melihat sosok Mas Teba, saya merasa sama sekali belum pernah berjumpa (meski sekilas) sebelumnya. Perawakannya tinggi besar tetapi jauh dari kesan sangar. Senyumnya selalu tersungging saat berbicara. Raut muka dan volume suara juga menunjukkan bahwa beliau kalem dan bersahaja. Masih lekat dalam ingatan, penampilan beliau santai dengan kostum merah Liverpool, saingan MU - tim favorit saya. Semenjak itu, saya jadi tahu bahwa kami berseberangan dalam jagoan lapangan hijau. Karena belum kenal, saya cuma menyapa dengan "mas" dan melemparkan senyum saat berada di depanny...

Cita-cita Yang Tercapai

Malam beranjak menyepi ketika ditemani hujan yang terlihat sabar dengan rintik-rintiknya. Suara syahdu tetesan airnya membuaiku untuk tetap bermalas-malasan merebahkan punggung di tempat yang biasa aku menghabiskan malam istirahatku. Ini memang waktu yang ideal untuk segera melepaskan segala kepenatan dari hiruk pikuknya beban di sepanjang hari tadi. Belum juga sempat mengawali petualangan ' hibernasi '-ku malam ini, kudengar rintihan kesakitan dari istriku. Rupanya sakit gigi yang dikeluhkan sejak pagi tadi, mencapai puncak sakitnya di saat orang-orang berangkat ke tempat peraduannya. Baru kali ini aku tahu betapa sebegitunya orang mengeluh karena sakit gigi. Aku menjadi tidak heran beberapa tahun yang lalu ada seorang teman yang protes keras gara-gara mendengar lagu yang liriknya kurang lebih bermakna " lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ". Kata temanku itu, " penyanyinya tidak pernah sakit gigi sih, kalau aku ya mending sakit hati daripada sakit gigi...

Perang Kembang

Perang terberat adalah perang melawan hawa nafsu. Pernyataan ini tentu sudah sangat sering kita dengar. Bahkan ini merupakan salah satu hadits shahih yang diriwayatkan oleh   Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu bahwa “Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya”. Dalam falsafah Jawa, perang terberat ini digambarkan dalam “perang kembang”. Falsafah ini disampaikan oleh dalang pada pagelaran wayang. Pagelaran wayang memang sebuah hiburan, namun sarat dengan pesan-pesan yang sejatinya merupakan pelajaran untuk diterapkan oleh pemirsanya. Dalam pagelaran pewayangan, p erang kembang adalah suatu episode dimana seorang ksatria dipersiapkan oleh seorang guru sebelum ditugaskan untuk mengemban tugas yang berat . Disinilah, seorang dalang menyampaikan sebuah falsafah kepada pemirsa mengenai pengendalian diri melalui sebuah hiburan. Cerita diawali dengan ditugaskannya seorang ksatria untuk menumpas kejahatan, makar...

Berebut “Benar”

Tidak ada satu individu pun yang dapat terlepas dari sebuah relasi di masyarakat. Sependiam apapun individu tersebut, sekutu buku apapun dia, pasti akan memiliki sebuah relasi. Ntah itu dalam sebuah komunitas kecil maupun besar. Bentuk relasi ini pun semakin berkembang seiring kemajuan teknologi informasi yang menghadirkan relasi dunia maya. Bahkan relasi dunia maya lebih mendominasi, karena tidak perlu saling bertatap muka atau mengenal, relasi ini terlihat seperti tanpa beban. Orang lebih berani dan responsif dalam bereaksi.     Secara alamiah, sebuah relasi selalu berhadapan dengan interaksi yang akan memunculkan sebuah pilihan harus berpihak pada siapa atau justru bertahan pada keberpihakan terhadap diri sendiri. Dan, ukuran memilih posisi sebelah mana sangat bergantung pada “anggapan’ kebenaran yang dimiliki masing-masing individu. Pada tahap inilah biasanya, konflik akan mulai muncul. Dari yang paling sederhana, yaitu perbedaan pandangan akan sebuah kebenaran, hingga ...