Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 28, 2025

Perayaan Hal-Hal Kecil

Terima kasih untuk segelas  teh  yang menenangkan pagi, untuk sapaan kawan yang datang saat aku hampir mati suri. Aku bersyukur untuk pintu yang tertutup rapat, karena ia melindungiku dari jalan yang salah dan sesat.   Syukurku bukan hanya untuk kemenangan yang benderang, tapi juga untuk luka yang kini mulai tenang dan jarang. Terima kasih, diriku, sudah mau terus mencoba, meski dunia berkali-kali memintamu untuk menyerah saja. Jakarta, 30 Desember 2025

Akar yang Tak Terlihat

  Tahun ini bukan tentang seberapa tinggi aku mendaki, tapi tentang seberapa kuat aku berdiri saat bumi berguncang sepi. Ada hari-hari di mana napas terasa seperti beban, dan malam-malam panjang yang penuh dengan keraguan.   Namun lihatlah, aku masih di sini. Menjahit kembali harapan yang sempat robek berkali-kali. Ternyata aku lebih tangguh dari yang kukira, lebih berani dari rasa takut yang sempat bertahta. Aku adalah pemenang atas badai yang kupukul mundur sendiri. Jakarta, 31 Desember 2025

Syukur Dalam Gelap

  Terima kasih untuk hari yang telah usai, Yang membuat hidup penuh dengan warna. Untuk setiap tawa dan air mata,   Kini saatnya merebahkan kepala, Menyerahkan sisa hari pada Sang Pencipta, Dalam doa yang tulus tanpa ada dusta.   Malam ini aku tidur dengan tenang, Yakin bahwa esok adalah berkah baru, Yang menungguku di balik tirai biru. Jakarta, 30 Desember 2025

Akhir Sebuah Malam

Langit hitam mulai berubah kelabu, Bintang   bintang satu per satu menghilang, Tanda bahwa cahaya akan segera datang.   Embun pagi mulai membasahi daun, Membawa kesegaran yang baru lahir, Saat masa kekuasaan malam berakhir.   Selamat tinggal pada sunyi yang damai, Sampai kita bertemu di senja nanti, Saat dunia kembali ingin menepi.  Jakarta, 30 Desember 2025

Karet Gelang Sang Adik – Bagian Ketiga

Beberapa hari berlalu sejak kejadian di rumah sakit itu. Kaki Kara sudah tidak lagi bengkak, meski ia masih harus berjalan agak pincang. Bu Arini tidak hanya membayar biaya rumah sakit, tapi ia juga mengantarkan mereka kembali ke tempat tinggal mereka yang sempit di dekat pabrik. Melihat kondisi tempat tinggal Kari dan Kara yang hanya beralaskan kardus dan beratapkan seng berkarat, hati Bu Arini tergerak. Ia teringat akan janjinya pada diri sendiri untuk selalu berbuat baik sebagai rasa syukur atas hidupnya. "Kari," panggil Bu Arini suatu sore saat ia berkunjung membawa beberapa potong pakaian layak pakai dan buku-buku pelajaran bekas. "Ibu punya sebuah kedai kecil di dekat taman kota. Ibu butuh seseorang untuk membantu merapikan meja dan mencuci piring di sore hari. Apa kamu mau?" Mata Kari berbinar. Ini adalah jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan di sela isak tangisnya saat menjaga Kara yang sakit. "Tentu, Bu! Saya mau. Tapi... bagaimana dengan Kara? Saya t...

Jejak Yang Tertinggal

Lihatlah ke belakang, ke jalan panjang yang telah kita lalui, Ada banyak jejak kaki yang membuktikan betapa kuat kita mendaki. Melewati kerikil tajam hingga padang bunga yang harum mewangi.   Setiap jejak adalah kenangan tentang perjuangan dan tawa, Tentang bagaimana kita saling menguatkan saat salah satu kecewa. Membangun benteng asmara dari bata-bata sabar dan doa.   Jangan takut melangkah ke depan meski jalanan masih misteri, Sebab jejak-jejak masa lalu telah mengajari kita cara berdiri. Berdua kita akan terus berjalan menyongsong mentari pagi. Jakarta, 29 Desember 2025

Keabadian Kecil

Cinta ini mungkin tak akan pernah masuk dalam buku sejarah, Namun di dalam duniaku, ia adalah sesuatu yang paling megah. Sesuatu yang membuat hidupku tak lagi terasa sia-sia dan lelah.   Kita hanyalah dua manusia biasa yang sedang mencoba, Menyatukan dua kepala di antara badai suka dan duka. Menuliskan bab demi bab cerita di atas lembaran waktu yang ada.   Biarlah ini menjadi keabadian kecil milik kita berdua, Tanpa perlu pengakuan dunia, tanpa perlu banyak kasta. Cukup aku, kamu, dan rasa yang akan tetap ada selamanya. Jakarta, 29 Desember 2025 

Karet Gelang Sang Adik - Bagian Kedua

Kisah Kara dan Kari sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut : Karet Gelang Sang Adik Wajah Kara yang biasanya ceria kini pucat pasi. Panas tubuhnya meningkat drastis, dan kakinya yang mungil membengkak kemerahan di sekitar luka bekas besi berkarat itu. Kari, yang hanya seorang anak remaja, merasa dunianya seolah runtuh. Ia mencoba mengompres dahi adiknya dengan kain lusuh yang dibasahi air tawar, namun rintihan Kara tak kunjung reda. "Sakit, Kak... dingin..." bisik Kara lirih, tangannya mencengkeram erat karet gelang pemberian ibu muda tempo hari. Karet itu kini melingkar di pergelangan tangannya yang kurus. Kari tahu ia tidak bisa berdiam diri. Di saku celananya, hanya ada beberapa keping koin hasil mereka mengumpulkan botol plastik kemarin. Jumlahnya takkan cukup untuk membawa Kara ke klinik, apalagi rumah sakit besar. Namun, bayangan wajah orang tuanya yang hilang ditelan abu Merapi seolah memberinya kekuatan. Ia tidak boleh kehilangan satu-satunya keluarga yang ia mil...