Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

A Letter for Grandma

إلى جدّتي، في رحمة الله Sore hari yang aku kira biasa, 29 September 2026. You left us with too much love for Grief to remember your flaws. What stays are words you gave, And every lesson that you carved. My lifelong witness, constant and true, I thank the heavens for sending you. Across the path early to guard, As if an angel came from above. There are so many chapters to tell, Of all the ways you knew me well. My selfish hopes you were still here, A little longer, just more few years. But you’re seventeen again, they say. Your wings grown wide, fly, fly away. Your heart, your lungs, your blood, your breath, no longer bound by agony. I’ll miss you more than words can bear, But I wish you know I’m still right here. Still writing on, still learning how, Still becoming, somehow, somehow. Your body won't fail you twice, leaving those fragile hands of time. So rest now, where nothing hurts, where no goodbye can reach us

What Remains on The Mirror Sides

Too smart you're tricky, too kind I'm blind. Too honest you misread, too tactful I'm cruel. Too logical you're cold, too sensitive I'm dull. Too great you impair, too bad I failed. Too generous you're unvalued, too tightfisted I'm frugal. Too smug you rest on laurels, too busy I trade youth for gold. Too attractive you’re a threat, too plain I’ m dismissed. Too deft you’re exploited, too blunt I'm maladroit. Too patient you’re doormat, too guarded I’m aloof. Too forgiving you’re weak, too ruthless, I’m uncouth. Too certain you’re arrogant, too doubtful, I’m coward. Too loving you’re desperate, too proud I'm impossible. Too young you know nothing, too old, I've lost my soul. Too alive you’re reckless, too dead I'm finally at peace. So tell me what virtue survives when every mirror has two sides? Because when someone dies, all the little judgments the too this, too that fade into the past. What remains is not the measure, not the fault, nor the...

Seni Perempuan

Kain sutera putih melilit tubuh halus, kedinginan Dikulaknya helaian demi helaian Tergesa tanpa sempat melihat surat itu, terlipat Amplop abu dari Semesta atas nama Pencipta Ada saja kurangnya kepala hingga kaki. Yang dijanjikan tertulis dalam sebuah petunjuk Kitab tebal penuh tinta warna putih Kapan dia hafal cara menjadi pantas Terlihat indah tanpa terlihat berusaha. Kuat dengan kelembutan, bebas dengan batasan. Merawat manusia dan mimpi orang lain tanpa kehilangan sedetikpun waktu tumbuh Satu per satu dia jahit ke kulit Benang air, luka tak kasat mata. Ditanya, barang kali tertulis di kitab. Tidak harus sempurna untuk layak menjadi perempuan. Namun halaman itu bersih, tintanya putih, atau memang tidak pernah dituliskan? Maka dia memutuskan kembali ke paripurna. Semuanya tepat. Semuanya sepadan.  Semua seperti yang diminta oleh Pentas. Tapi satu bagian yang tertinggal, dirinya sendiri. Barulah dia teringat apa yang tak sempat terbalas Surat itu,  tak menyebut lebih dan kuran...

Enam Tujuh Dua

kebetulan, apanya bertalu-talu  semesta usil merayu. agenda sua ibarat sensasi, tubuh diseret bersaksi, enam tujuh kali. sudahlah, pasrahnya . biarkan  tatapan bersentuhan, jarak dirampas alasan biar bekerja si penasaran. ah , malam sepi berisik, logika di mana cuti. nikmati saja lah apa yang tak dipunya. “ngaco,” sadar nyamuk. kalau tiba sentuhan bisu, salahkan saja si gerik pengundang. jadinya, semesta atau penghuni yang lebih pandai menggoda? sampai sisa secuil  bagaimana jika , mengutak-atik rasa menyuruh  bulan menerka karena kalau hingga ini bernama tamat sudah senyata-nyatanya tapi terlanjur, pikirnya sungguh bahaya obsesi dua arah yang terus dipelihara

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

Akal Imitasi: Teman Baru Kita

Harus diakui, bahwa akal imitasi atau artificial intelligence (AI) sekarang telah menjadi teman favorit bagi beberapa orang. AI adalah adalah sosok yang jujur meski sesekali suka "halusinasi". Meski disebut "salahsatu teman", bukan berarti ia hanya satu, karena mereknya ada banyak : Copilot, Gemini, ChatGPT, Claude dsb. Ia bisa ditanya tentang kelebihan dan kekurangan kita, ikut membantu membangun aplikasi bersama, memproduksi video, film, musik, dan paper riset, membuka wawasan tentang potensi-potensi pribadi yang belum tergali, serta memberi saran situasi karir dan kehidupan kita saat ini. Bila mentok, akal imitasi akan bilang bila tidak tahu, atau belum tahu. Selanjutnya ia akan menyampaikan kebutuhan akan informasi relevan untuk dapat mengutarakan pendapat atau masukannya. Bila keliru ia akan mengakui, memperbaiki dan meng-update datanya, dan berterimakasih kepada kita. Tak jarang AI lebih sopan daripada kenalan-kenalan kita sesama manusia.  Hal lain yang mengag...

ENGGAK SADAR

Di tengah-tengah membaca buku "Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring" hasil penulisan Andreas Kurniawan, aku terjebak pada pembahasan tentang "Mindfulness". Suatu cara menjaga kewarasan yang lamat-lamat pernah kudengar sebelumnya. Brilian sekali Andreas Kurniawan menggambarkan mindfulness dalam menangani rasa duka dengan analogi mencuci piring. Ringkasnya, cuci piring yang merupakan kegiatan rutin biasa sebenarnya ada SOP rinci dengan banyak hal yang harus dilalui dan dirasakan. Sayangnya, seringkali kebanyakan orang hanya berfokus membersihkan piring kotor dengan mengandalkan insting dan kebiasaan. Tahapan dilalui seperti otomatis saja, tidak dengan kesadaran penuh. Begitupun berduka. Padahal dengan kesadaran penuh, fase-fase melalui duka dapat terasa lebih bermakna. Bukan-bukan, ini bukan mau menulis resensi buku. Hanya tentang pikiran yang langsung mereka-reka mindfulness pada kejadianku sendiri. Bukan tentang duka, bukan juga cuci piring. Seperti...

Before Counting Eyes

No one fits the role of villain. Perhaps that is why this story has never found a title. and I have never doubted that I am loved. There is someone who would become a wall before the rain could ever reach me. Only sometimes, I forget what it feels like to walk when every step is feared for before I have even taken it. And I truly want to understand. Perhaps loving someone the world keeps noticing is its own kind of exhaustion. Perhaps fear, when it has nowhere else to go, learns to disguise itself as care. There are days when I'm in certain look not so the world will glare at me, just so I can still recognize the woman  that quietly growing behind the mirror. There are days when I tell a story, and what is noticed first is not what I have said, but who listened instead who lingered, who cared. I'm begging Look at me before you look at the shadows around me. Notice me before you begin counting the eyes that follow me. I have never longed to be desired. Something far rarer to be ...

Lelaki Ini dan Perempuan Itu dan Pengikut ke-111

Lelaki Ini percaya, sebuah hubungan tidak seharusnya menggunakan konsep perkalian nol. Dalam konsep perkalian nol, seberapa besar bilangan di satu sisi akan tetap menghasilkan angka nol jika sisi sebelahnya nol. Dalam konteks sebuah hubungan, usaha yang hanya dilakukan sepihak tidak akan menghasilkan apa-apa jika pihak lain tidak melakukan apa-apa. Nol.  Sebagai mantan juara olimpiade matematika, Perempuan Itu sangat memahami konsep perkalian ini. Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Namun, ketika Lelaki Ini membawa konsep perkalian nol ke hubungan mereka, Perempuan Itu merasa dihakimi. Dia tidak sudi menjadi bilangan nol. "Apa kamu tidak pernah merasakan upaya ku?" desak Perempuan Itu. Lelaki Ini tersenyum. Narasi yang sudah sangat akrab di telinganya. Perempuan Itu, seperti biasa, tidak pernah peduli hal-hal kecil. Gak penting. Sementara, Lelaki Ini memahami cinta sebagai pengorbanan waktu dan perhatian. Apakah bisa kita mencintai seseorang tapi tidak mau berkorban waktu dan...

Opini : Android versus iPhone (iOS)

  Perdebatan antara Android dan iPhone di tahun 2026 ini sebenarnya bukan lagi soal mana yang "lebih baik" secara mutlak, melainkan mana yang lebih cocok dengan gaya hidup dan prioritas Anda. Keduanya sudah sangat matang, namun tetap memiliki filosofi yang sangat kontras. Beberapa opini dan analisa mengenai keunggulan masing masing di tahun 2026 iPhone (iOS) : Keamanan & Ekosistem Tanpa Celah iPhone masih menjadi raja dalam hal pengalaman pengguna yang konsisten. Jika Anda tipe orang yang ingin "terima beres" dan ponselnya awet hingga 5-6 tahun, iPhone adalah pilihannya. Beberapa pertimbangannya sebagai berikut : Ekosistem "Taman Terkunci" : Integrasi antara iPhone, Mac, Apple Watch, dan iPad masih tak tertandingi. Fitur seperti AirDrop, Universal Clipboard, dan sinkronisasi iCloud terasa sangat mulus. Nilai Jual Kembali (Resale Value) : iPhone adalah investasi yang baik. Harga bekasnya cenderung stabil dibandingkan hampir semua merek Android. Update S...

Opini : Padel vs Tenis Lapangan

  Perkembangan antara Padel dan Tenis Lapangan saat ini menunjukkan dinamika yang sangat menarik. Jika Tenis adalah sosok "bangsawan" yang mapan dan penuh tradisi, maka Padel adalah "bintang muda" yang sangat ramah dan cepat meraih popularitas. Berikut adalah opini dan uraian mengenai perbandingan perkembangan keduanya: 1. Padel: "The Social Connector" (Pertumbuhan Eksponensial) Padel sedang mengalami booming luar biasa di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali. Aksesibilitas Tinggi: Berbeda dengan tenis yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa melakukan rally yang konsisten, pemula bisa langsung menikmati permainan Padel dalam waktu 30 menit. Faktor Sosial: Lapangannya yang lebih kecil (1/3 ukuran lapangan tenis) dan keharusan bermain ganda membuat interaksi sosial jauh lebih intens. Ini sangat cocok dengan budaya masyarakat Indonesia yang senang berolahraga sambil bersosialisasi. Daya Tarik "Gampang": Servis baw...