Sebelum mimpi usai, tikam lah dia tepat di jantungnya

Pada tidur siang ku,
Aku bermimpi

Tentang sekelompok  kaum beruntung
Yang nasibnya terlihat buntung
Karena otaknya yang mewah
Terbungkus mental sampah

Hidupnya  yang sejatinya indah,
Ternampak semata  kisah susah,
mulutnya nyinyir tersumbat nanah
Lantunkan kidung sumpah serapah

banyak habis waktunya mengais ilmu,
matanya cekung jelajahi buku.
sekolah terbaik di banyak penjuru
jadi tujuan tempat berguru

Tapi kepalanya sesak  pikiran dungu,
Ijazah dan gelar pikirnya darah biru
Sebuah hak untuk menjadi pendahulu
Segala kemudahan di tujuh penjuru

Berdekat pejabat menjadi lagu
Menjilat bersih tiada jemu
Meminta jabatan tanpa malu
Menginjak pesaing  tiada ragu

Sekali waktu orang lain maju dahulu
Remuk redam dadanya bagai di palu,
Berbisik bisik dia di balik pintu,
Menyebarkan gibah dan isu
"pemimpin-pemimpin telah diintervensi
Mengambil jalan keliru,
Memilih orang yang tak cakap untuk mengampu"

Mungkin wajar
Ijazah dan gelar dari tempat tenar,
membuat kepala sedikit  besar
Maka sehari hari dia belajar
Bagaimana berlaku selayaknya tuan besar,
Kerja nya hanya koar koar,
Tak peduli dan mencoba tahu
Banyak pernik kecil harus di takar
Banyak  kelok jalan harus di sasar,

Pikirnya hal- hal remeh dan tak besar
Adalah tugas klerikal para buruh kasar
lulusan sekolah dan perguruan kelas pasar,
kepala nya hanya untuk  memikirkan hal strategis dan lebih mendasar

Dalam bergaul dia pilih teman,
Harus sepadan atau punya jabatan
Yang lain akan dibaikan
Dagunya terangkat saat berjalan,
Jaga martabat yang dia pikirkan,

Seolah olah lantang berkata
"Jangan sapa aku kaum sudra,
Karena aku  kesatria,
pulang dari candradimuka
Aku hanya mau bicara dengan orang setara ,
atau pejabat level di atas nya
Gelar kusandang luar biasa,
Tak sembarang orang bisa meraihnya
Senyum dan sapa ku bagi terbatas,
Agar citra wibawa tetaplah bernas"

Mungkin suatu ketika nanti,
Kau juga akan bertemu dengannya
pada sebuah mimpi,
Di tidur siang mu


Sebelum mimpi usai,
Tikamlah dia tepat dijantungnya
Agar tak menjelma
Menjadi salah satu teman kerja
Yang duduk di samping meja


(Ujung Harapan, 2 Januari 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar