Upaya Dana Desa Membangun Persada

 

Representasi Keadilan fiskal

Sejak digulirkan menjadi salah satu kebijakan keuangan negara pada tahun 2015, Dana Desa telah menjadi simbol komitmen negara dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di Indonesia. Melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, pemerintah menghadirkan skema pembiayaan langsung dari APBN ke lebih dari 75.000 desa di seluruh Indonesia. Tujuannya bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga untuk membangun kemandirian desa sebagai pilar utama Indonesia yang sejahtera dan inklusif.

Dana Desa bukan sekadar alokasi anggaran, tetapi juga representasi keadilan fiskal. Desa yang selama ini termarginalkan kini memiliki akses terhadap dana pembangunan, yang penggunaannya ditentukan sendiri melalui musyawarah desa. Inilah bentuk desentralisasi fiskal yang paling nyata dan menyentuh akar rumput.

Pada tahun anggaran 2025, pemerintah mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp71 triliun. Hingga 14 Juli 2025, Menteri Keuangan Sri Mulyani melaporkan bahwa Dana Desa yang telah dikucurkan mencapai Rp40,34 triliun atau 58,46% dari total pagu. Sebagian besar dana ini dimanfaatkan untuk program prioritas seperti pembangunan infrastruktur desa, pemberdayaan ekonomi lokal, dan bantuan sosial melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa.

Untuk BLT Desa sendiri telah dialokasikan sebesar Rp1,62 triliun dari total penggunaan dan manfaatnya telah menjangkau hampir 8.000 desa. Sehingga hal ini menunjukkan bagaimana Dana Desa juga memainkan peran sebagai bantalan sosial, terutama saat desa menghadapi tekanan akibat inflasi atau ketidakpastian ekonomi global.

Ketahanan Sosial Ekonomi

Salah satu pilar utama pemanfaatan Dana Desa adalah pembangunan infrastruktur dasar: jalan desa, jembatan, saluran irigasi, dan air bersih. Inilah fondasi bagi mobilitas warga, konektivitas ekonomi, dan pemerataan layanan dasar. Selain itu, Dana Desa juga menyasar program ketahanan sosial: mulai dari layanan kesehatan, penguatan gizi anak, pendidikan anak usia dini, hingga pelatihan keterampilan masyarakat. Tak sedikit desa yang telah berhasil menekan angka stunting dan meningkatkan angka partisipasi sekolah dasar berkat pemanfaatan Dana Desa yang tepat.

Transformasi penting yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah meningkatnya pemanfaatan Dana Desa untuk membentuk dan memperkuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dengan mengangkat potensi local seperti pertanian, peternakan, kerajinan, hingga desa wisata—BUMDes mampu menyerap tenaga kerja, menciptakan nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan asli desa (PADes).

Desa Pujon Kidul di Kabupaten Malang, Jawa Timur, merupakan salah satu contoh sukses pemanfaatan Dana Desa untuk pembangunan ekonomi produktif. Dengan menggandeng masyarakat secara aktif, desa ini membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mengelola potensi wisata lokal berupa agrowisata dan kafe sawah. Berkat dukungan Dana Desa, mereka berhasil menyulap kawasan pertanian biasa menjadi destinasi wisata yang menarik ribuan pengunjung setiap pekan. Pendapatan asli desa (PADes) yang semula hanya puluhan juta rupiah per tahun, melonjak menjadi lebih dari Rp1,5 miliar pada 2019. Pujon Kidul kini menjadi ikon desa wisata dan kerap dijadikan lokasi studi tiru oleh desa lain di Indonesia.

Selain Pujon Kidul, Desa Ponggok di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, juga menunjukkan keberhasilan serupa. Melalui BUMDes Tirta Mandiri, desa ini mengelola Umbul Ponggok yaitu sebuah mata air yang disulap menjadi tempat wisata bawah air yang unik. Dengan dukungan Dana Desa dan partisipasi warga, pendapatan BUMDes mencapai miliaran rupiah per tahun, dan lebih dari 80% warga desa merasakan dampak ekonominya. Bahkan, BUMDes ini memiliki anak usaha di berbagai sektor, mulai dari pertanian, ritel, hingga properti.

Kisah sukses lainnya datang dari Desa Kutuh, Bali, yang dikenal dengan pengelolaan wisata Pantai Pandawa. Dana Desa digunakan untuk membangun akses jalan dan fasilitas publik, sehingga desa tersebut kini menghasilkan PADes hingga Rp10 miliar per tahun. Kutuh juga menunjukkan bahwa sinergi antara Dana Desa, kearifan lokal, dan manajemen profesional mampu mengangkat desa menjadi motor ekonomi regional.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa Dana Desa bukan hanya untuk "belanja" operasional atau pembangunan fisik, melainkan juga dapat dioptimalkan sebagai instrumen investasi sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Tantangan Transparansi dan Kapasitas

Di balik capaian yang menggembirakan, tak sedikit tantangan yang masih menghadang. Salah satunya adalah praktik penyelewengan dan lemahnya kapasitas tata kelola. Data menunjukkan bahwa sejak 2015 hingga awal 2025, terdapat ratusan kasus korupsi Dana Desa yang melibatkan aparat desa. Ini menandakan masih lemahnya sistem pengawasan, transparansi, dan partisipasi publik. Tantangan lain adalah rendahnya kapasitas teknis aparatur desa dalam merancang, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan penggunaan dana. Banyak desa yang masih belum siap dari sisi SDM maupun infrastruktur pendukung.

Salah satu kasus korupsi Dana Desa yang mencuat adalah di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Pada tahun 2017, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap lima orang dalam operasi tangkap tangan (OTT), termasuk kepala desa dan pejabat inspektorat. Modusnya adalah pengaturan audit laporan keuangan desa yang bermasalah, dengan imbalan suap agar temuan penyimpangan tidak diproses hukum. Kasus ini membuktikan bahwa bukan hanya kepala desa, tetapi juga aparat pengawas lokal bisa terlibat dalam jaringan penyelewengan Dana Desa. Menurut data Indonesia Corruption Watch (ICW), sepanjang 2015–2022 tercatat lebih dari 900 kasus korupsi terkait Dana Desa, dengan nilai kerugian negara mencapai ratusan miliar rupiah. Hal ini mencerminkan lemahnya sistem akuntabilitas dan minimnya partisipasi warga dalam mengawasi penggunaan anggaran.

Selain itu masalah kapasitas pelaksana Dana Desa juga menjadi tantangan tersendiri. Misalnya di Kabupaten Buru Selatan, Maluku, sebuah studi oleh Kemendesa PDTT (2022) menemukan bahwa banyak kepala desa dan perangkat desa kesulitan memahami perencanaan program berbasis kebutuhan masyarakat. Hal ini menyebabkan program pembangunan yang dilaksanakan tidak tepat sasaran, seperti pembangunan balai desa mewah di desa dengan akses air bersih yang masih sangat terbatas. Imbas dari perencanaan yang tidak tepat sasaran adalah pelaporan keuangan desa pun seringkali bermasalah. Masih banyak desa yang menyusun laporan secara manual atau tidak sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan desa. Ketiadaan pendamping teknis yang memadai serta minimnya pelatihan membuat desa tidak mampu memanfaatkan Dana Desa secara efektif dan akuntabel.

Ke depan, digitalisasi dapat menjadi kunci memperkuat tata kelola Dana Desa. Penggunaan aplikasi pelaporan keuangan desa, sistem monitoring berbasis GPS, serta keterbukaan data publik melalui papan informasi digital, dapat menekan praktik korupsi sekaligus mempercepat penyaluran dan evaluasi. Selain itu, Dana Desa juga diarahkan untuk memperkuat desa digital. Internet masuk desa, pelatihan literasi digital, dan pengembangan layanan publik berbasis teknologi menjadi agenda penting membangun desa yang inklusif dan kompetitif di era digital.

Selanjutnya agar Dana Desa semakin berdampak, beberapa langkah strategis perlu diambil yaitu: yang pertama, memperkuat pendampingan dan pelatihan bagi aparat desa agar memiliki kapasitas yang mumpuni dalam perencanaan dan pelaporan. Selanjutnya kedua, membuka ruang partisipasi masyarakat desa dalam seluruh tahapan penggunaan Dana Desa. Transparansi berbasis digital harus dijadikan standar. Berikutnya ketiga, mendorong penggunaan Dana Desa untuk kegiatan produktif dan berkelanjutan. Program padat karya, pengembangan BUMDes, dan desa wisata harus menjadi prioritas jangka panjang. Serta yang keempat, adalah dengan  memperluas skema Alokasi Kinerja agar desa yang transparan dan inovatif mendapat insentif lebih besar ssehingga mencerminkan asas keadilan dalam apresiasi yang diberikan.

Membangun Persada Bukan Sekedar Angka

Dana Desa telah menjadi instrumen strategis dalam membangun persada di setiap desa di Indonesia yaitu dalam hal ini memperkuat pelayanan dasar, menumbuhkan ekonomi lokal, dan mempersempit kesenjangan pembangunan. Dengan realisasi lebih dari Rp 40 triliun per 14 Juli 2025, sebesar 58,46% dari pagu Rp 69 s.d 71 triliun, program ini menunjukkan kemajuan nyata dalam penyebaran manfaat dan jangkauan luasnya

Lebih dari sekadar angka, dampak pembangunan dari Dana Desa terlihat dari semakin banyaknya akses jalan dan irigasi, BUMDes yang produktif, layanan pendidikan dan kesehatan yang modern, hingga bentuk dukungan langsung kepada keluarga miskin melalui BLT Desa. Namun, tantangan seperti korupsi, kapasitas rendah, dan keterbatasan transparansi harus tetap menjadi perhatian serius dan dicarikan solusinya.

Dengan penguatan tata kelola, transparansi, moral masyarakat, dan digitalisasi, Dana Desa dapat dikelola lebih efektif dan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, masyarakat, akademisi, dan lembaga pemantau independen menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang digulirkan benar-benar berjalan sesuai harapan untuk membangun persada yang merupakan tanah leluhur, untuk menjadikannya desa mandiri dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif dan merata.

 

Geliat Ekonomi 80 Tahun Kemerdekaan Menuju Indonesia Emas 2045

 

Kemerdekaan Membuka Jalan Pertumbuhan Ekonomi

Delapan dekade sudah Indonesia merdeka. Dari sebuah bangsa yang lahir di tengah keterbatasan infrastruktur, teknologi, dan sumber daya manusia terdidik, Indonesia kini bertransformasi menuju salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia. Perjalanan panjang ini bukan hanya kisah pembangunan fisik, tetapi juga transformasi struktur ekonomi, kebijakan strategis, dan daya juang masyarakat yang membentuk fondasi menuju cita-cita besar: Indonesia Emas 2045.

Perjalanan ekonomi Indonesia sejak tahun 1945 dapat dibagi dalam tiga babak besar. Babak pertama (1945–1965) adalah fase bertahan hidup, di mana tantangan terbesar adalah memulihkan stabilitas politik dan ekonomi pasca perang. Inflasi pernah mencapai lebih dari 600% di awal tahun 1960-an, namun masa ini juga menjadi tonggak pembentukan berbagai lembaga negara dan infrastruktur dasar.

Babak kedua (1966–1998) ditandai dengan pembangunan ekonomi yang terarah melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7% di era tahun 1970-1980, dimana hal tersebut ditopang oleh ekspor minyak serta industrialisasi awal. Namun demikian pada krisis moneter tahun 1997–1998 menjadi pukulan keras bagi perkeonomian Indonesia, yang ditandai nilai tukar rupiah terjun bebas dari Rp2.500 menjadi lebih dari Rp15.000 per dolar AS, dan angka kemiskinan melonjak menjadi 24%.

Babak ketiga (1999–2025) adalah masa reformasi dan integrasi global. Sistem demokrasi yang lebih terbuka dan desentralisasi fiskal mendorong pemerataan pembangunan daerah. Pertumbuhan PDB Indonesia sejak tahun 2000 konsisten berada di kisaran 5%–6% per tahun (kecuali saat pandemi COVID-19), sehingga hal itu menjadikan Indonesia anggota G20 dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

 

Kemajuan yang Nyata dan Berkelanjutan

Transformasi ekonomi Indonesia tercermin jelas dalam angka-angka. PDB per kapita yang hanya sekitar US$ 56 pada 1967 kini telah mencapai US$ 5.242 pada tahun tahun 2024 (Laporan BPS, 2024). Tingkat kemiskinan turun dari 40% pada 1976 menjadi 9,36% pada tahun 2023, dimana kondisi tersebut adalah terendah sepanjang sejarah. Sehingga tingkat inflasi yang dulu pernah triple digit kini terkendali di kisaran 2,8%–3,2% dalam beberapa tahun terakhir.

Selanjutnya dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia pada tahun 2024 mencapai US$ 258,8 miliar, didorong oleh komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, nikel, dan produk manufaktur seperti otomotif serta elektronik. Sektor jasa, terutama pariwisata, juga mencatat rebound kuat pasca pandemi dengan 11,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara tahun lalu.

Berikutnya dalam hal investasi asing langsung (FDI) pertumbuhannya berlangsung dengan cepat, ysitu mencapai US$ 47,7 miliar pada tssun 2024, dengan fokus pada industri hilirisasi mineral, energi terbarukan, dan ekonomi digital. Nilai kapitalisasi pasar saham Indonesia kini menembus Rp10.500 triliun, dan hal itu menggambarkan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

 

Tantangan dan Strategi Menuju Indonesia Emas 2045

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan, melainkan target konkret untuk menjadi negara berpendapatan tinggi dengan PDB di atas US$ 9 triliun dan PDB per kapita sekitar US$ 25.000. Untuk itu, ada dua jalur besar yang harus ditempuh: penguatan ekonomi makro dan optimalisasi ekonomi mikro.

Dari sisi makro, stabilitas fiskal dan moneter menjadi harga mati. Defisit APBN harus dijaga di bawah 3% PDB dengan fokus pada pembiayaan produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan riset teknologi. Transformasi energi menuju sumber terbarukan perlu dipercepat untuk mengurangi ketergantungan pada fosil dan menjaga daya saing jangka panjang.

Sementara dari sisi mikro, penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi harus diprioritaskan. Data Kemenkop UKM menunjukkan UMKM menyumbang lebih dari 60,5% PDB dan menyerap 97% tenaga kerja. Sehingga melalui berbagai upaya digitalisasi usaha, akses pembiayaan murah, serta peningkatan kualitas SDM, semua itu akan menjadi katalis agar UMKM Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas ke pasar global.

 

Membangun Indonesia melalui Manusia dan Inovasi

Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tak lepas dari pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia telah meningkat dari 66,53 pada tahun 2010 menjadi 74,39 pada tahun 2023, namun demikian kondisi tersebut masih tertinggal dibanding negara-negara OECD. Jepang, misalnya, mencatat IPM sebesar 90,1 pada tahun 2023, sementara Korea Selatan berada di angka 92,2 dan Australia di 93,0. Lebih jauh lagi, laju kenaikan IPM di negara-negara tersebut tetap konsisten meskipun mereka sudah berada di kategori sangat tinggi, yang menunjukkan adanya fokus berkelanjutan pada peningkatan kualitas manusia, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi, dan untuk itu investasi pada pendidikan vokasi, riset teknologi, dan literasi digital harus ditingkatkan.

Selanjutnya pembangunan ekonomi berbasis inovasi juga menjadi kunci. Potensi ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 360 miliar pada 2030 (Google-Temasek-Bain, 2023). Hilirisasi sumber daya alam harus beriringan dengan penciptaan ekosistem startup teknologi, bioteknologi, dan industri kreatif yang mampu mengekspor produk bernilai tambah tinggi. Perjalanan ekonomi Indonesia selama 80 tahun adalah kisah tentang daya tahan, adaptasi, dan tekad untuk terus maju. Dari negara agraris pasca kemerdekaan hingga ekonomi digital yang terkoneksi global, kemajuan ini bukanlah akhir, melainkan batu loncatan.

Pada sektor ekonomi digital, Indonesia kini menjadi rumah bagi lebih dari 2.500 startup teknologi (Startup Ranking, 2024), menjadikannya salah satu ekosistem startup terbesar di Asia Tenggara. Nama-nama seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Xendit telah menembus pasar internasional, menjadi bukti bahwa inovasi anak bangsa mampu bersaing di tingkat global. Pemerintah mendukung ini dengan membentuk Indonesia Digital Economy Roadmap 2021–2030, yang menargetkan transformasi sektor-sektor strategis melalui adopsi artificial intellegence, big data, dan blockchain.

Sedangkan pada sektor bioteknologi, rintisan seperti PT Etana Biotechnologies Indonesia telah memproduksi vaksin mRNA dalam negeri yang setara kualitasnya dengan produk luar negeri. Lembaga Eijkman dan BRIN juga aktif mengembangkan riset genomic untuk kesehatan dan pertanian, membuka jalan bagi peningkatan produktivitas pangan dan kemandirian farmasi nasional.

Selanjutnya untuk bidang industri kreatif, ekspor produk fesyen, animasi, gim, dan kerajinan terus meningkat. Menurut data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai ekspor produk kreatif Indonesia menembus US$ 25 miliar pada 2023, dengan pasar utama di Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah. Sedangkan contoh kesuksesan ekonomi digital dari permainan yang dibuat anak bangsa adalah seperti “coffee talk” karya Toge Productions yang meraih penghargaan global menjadi simbol bahwa karya digital lokal mampu diterima luas masyarakat dunia.

Berikutnya dari hilirisasi sumber daya alam juga mulai menghasilkan output bernilai tambah. Hal ini diwujudkan antara lain melalui ekspor feronikel dan produk turunan nikel dari kawasan industri Morowali dan Weda Bay yang kini memasok bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik dunia. Pemerintah mengintegrasikan kebijakan ini dengan pembangunan Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk menggarap rantai pasok EV dari hulu ke hilir.

Berdasarkan hal-hal yang telah dicapai tersebut, Indonesia akan mampu menjaga stabilitas makro, memperkuat ekonomi mikro, serta memacu inovasi dan inklusi, sehingga cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan lagi mimpi, tetapi takdir yang sedang dibentuk. Seperti yang pernah diungkapkan Bung Karno mengenai jas merah yaitu jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Karena dari sejarah itulah kita belajar bahwa kemandirian ekonomi dan keadilan sosial bukan hanya tujuan, tetapi fondasi kemerdekaan yang sejati.

 

Anakmu Dari Masa Depan

"Aku Sore, Istri Kamu dari Masa Depan."

Kalimat ini berseliweran dan terngiang dalam kepala yang sebenarnya sudah penuh kecamuk.


Ya, beberapa pekan terakhir film SORE: Istri dari Masa Depan sedang menjadi tren pembicaraan. Lini masa media sosial hingga siniar-siniar di Youtube gencar membahas dan mempromosikan film karya Yandy Laurens ini. Bahkan beberapa akun media sosial instansi pemerintah ikut-ikutan membuat konten yang berbau SORE. Sungguh berhasil membuat saya penasaran untuk menontonnya. Tapi apa daya, bagi seorang Bapak beranak kecil tiga, menonton ke bioskop jadi hal langka yang mungkin hampir punah.


Saya belum membaca resensinya. Trailer-nya hanya sekelebat terllihat. Bahkan, baru tahu juga kalau film yang dibintangi Dion Wiyoko dan Sheila Dara ini berawal dari sebuah webseries. Ceritanya katanya ga benar-benar sama sih. Katanya ya. Tapi berbekal perbincangan dari beberapa siniar di Youtube, jadi sedikit tahu bahwa cerita filmnya tentang time traveler atau perjalanan waktu dari seorang Sore. Di tengah rasa penasaran tapi hanya bisa pasrah menunggu filmnya tayang di Netflix, hari Minggu yang lalu saya akhirnya memutuskan menonton webseries Sore sebagai obat penawar.


Hari Jum’at dan Sabtu sebelumnya, saya mengikuti pelatihan parenting di sekolah anak. Lah, apa hubunganya? Bridging-nya kasar banget kalau kata host-host, hehehe. Tapi ternyata ada keterkaitan antara keduanya. Saya juga ngeh baru saja, setelah menyelesaikan sembilan episode Sore webseries.


Pada pelatihan parenting itu, salindia yang pertama muncul mengatakan bahwa inti dari pembelajaran kali ini adalah menjadi bersyukur dan sabar paripurna, khususnya dalam mengasuh buah hati kita. Dua hal simpel yang rumit mewujudkannya. Salah satu langkah untuk merintis menuju ke sana adalah berdamai dengan masa lalu. Sering kali masa lalu membuat kita melupakan banyak anugerah yang telah diberikan oleh Sang Maha Kuasa. Belum lagi ikatan-ikatan kenangan lampau menjadi pemberat langkah kita saat ingin melaju ke depan. Dalam konteks parenting, narasumber menekankan bahwa memaafkan kesalahan pola asuh orang tua kepada kita di masa lalu merupakan elemen penting untuk memulai perbaikan pola asuh kita kepada anak kita.


Di salah satu sesi, peserta pelatihan diminta memejamkan mata di tengah redup cahaya yang sepertinya sudah setting-an. Sambil menatap gelap, seluruh yang ada di ruangan diminta untuk kembali ke masa lalu. Bayangan perjalanan hidup dari mulai masa kecil hingga remaja dan dewasa dihadirkan. Bukan untuk mencoba merubahnya, hanya berusaha kembali melihat dengan tenang peristiwa-peristiwa indah yang mungkin waktu itu tidak disadari. Meskipun tak bisa dipungkiri, momen-momen mengesalkan juga akan turut datang kembali menghantui.


Mayoritas peserta dibesarkan dengan model pengasuhan VOC. Kenyataan pahit ini membuat banyak luka-luka masa lalu yang membekas. Bekas luka memang tidak bisa hilang, tapi kalau perihnya masih terasa padahal sudah berlangsung lama tentu akan jadi masalah. Bekas-bekas luka akan menuntun alam setengah sadar untuk meluapkan perihnya menjadi pedihnya pola pengasuhan ke anak kita. 


Pernah tidak merasa anak kita merepotkan lah, nakal lah, dan jelek-jelek apa lah saat mereka tidak patuh atau berbuat kesalahan? Kalau saya sering. Saat kondisi jiwa baik, ilmu-ilmu parenting yang telah banyak ditumpuk dalam lemari di pikiran akan mengajak melihat hal tersebut sebagai suatu yang positif dari tumbuh kembang anak. Respon yang akan keluar berupa ketenangan, kesabaran, dan pengertian.


Tapi lain cerita saat dalam kondisi capek, banyak urusan, banyak tuntutan, atau situasi mendesak lainnya. Secara setengah sadar, pola-pola pengasuhan orang tua kita dulu akan kembali hadir dari masa lalu. Bangunan-bangunan sabar yang sedikit demi sedikit disusun tiba-tiba hilang bak disapu badai kenangan kelam pengasuhan masa lalu. Hingga akhirnya tembok syukur runtuh tak bersisa. Seolah-olah anak-anak kita jadi manusia terburuk di dunia. Padahal beberapa detik sebelumnya mungkin beragam pujian tersemat padanya. Semuanya bak langsung rusak karena setitik nila. Setelah kesadaran pelan-pelan kembali, yang hadir tinggal berbagai penyesalan dan kata maaf.


Anak tentu serta merta akan memaafkan karena buatnya orang tua adalah orang paling berharga. Tapi tetap saja, luka sudah membekas pada ingatannya. Entah kelak sudah tidak berasa atau malah sering kembali terasa perihnya. Fenomena ini akan terus berlangsung turun temurun. Alam setengah sadar anak kita, di masa depan nanti akan sering melampiaskan perihnya luka pengasuhan kita menjadi pedihnya kemarahan pada anaknya. Tak lain dan tak bukan karena anak kita di masa depan adalah sikap kita di masa sekarang. Wah dari sini saya jadi termenung. “Time traveler nih,” gumam dalam hati.


Obat mujarab untuk luka masa lalu agar perihnya tak kembali datang di masa depan adalah memaafkan. Kita maafkan pola-pola pengasuhan VOC yang kita terima dulu. Betul, tak mudah dan lukanya tak akan bisa hilang. Tujuannya memang bukan melenyapkan bekas luka, tapi membuat perihnya tak kambuhan lagi. Dengan begitu kita akan bisa lebih kokoh dalam bersabar dan bersyukur saat membesarkan anak-anak. Tentu harapan semua orang tua melihat di masa depan anaknya menjadi orang yang jauh lebih baik dari dirinya pada berbagai sisi kehidupan. Impian itu tidak akan terwujud jika sekarang kita masih sering menjadi masa depan pola asuh salah orang tua kita. Jadi kita dulu jadi lebih baik, kelak anak kita akan menjadi jauh lebih baik. Ada satu kalimat penutup menyentuh yang disampaikan oleh pembawa acara sebagai simpulan pelatihan. Kurang lebih seperti ini, “Memaafkan masa lalu, untuk memperbaiki masa depan”.


Dari sini saya merasa tertampar. Mulai lagi menata pikiran untuk berusaha memaafkan masa lalu agar bisa mengasuh anak dengan lebih baik. Sambil bercermin saya bertanya pada sosok di baliknya, “Siapa kamu?”. Dia dengan bangga menjawab, ”Aku Sori, anak kamu dari masa depan".


Pantun Tentang Pantun


Pergi ke pasar membeli sukun,

Jangan lupa beli rambutan.

Mari kita berbalas pantun,

Asah pikiran, tambah wawasan.



Pantun Tentang Waktu

Dari Riau menuju seberang

Naik sampan mudik ke hilir

Masa berlalu datang dan hilang

Usia pergi bagai air mengalir


Jakarta, 15 Juli 2025

Pada simpang Ruang Kerja

 

(sebuah kado pelepasan)

Kita pernah duduk di meja yang sama,
Berbagi cerita di sela tumpukan kerja,
Tertawa di tengah tekanan,
Menemukan arti teman di balik peran.

Hari-hari berlalu dalam jejak langkah yang saling menguatkan,
Kopi pagi, candaan ringan, rapat yang kadang membingungkan,
Semuanya jadi lembar kenangan,
Yang tak akan mudah dilupakan.

Kini, waktunya tiba untuk melangkah,
Bukan berpisah karena luka,
Tapi karena SK memanggil ke arah berbeda,
Namun, kisah kita tetap terjaga.

Terima kasih untuk kebersamaan yang tulus,
Untuk bahu yang diam-diam menopang,
Untuk semangat yang tak pernah putus,
Dan tawa yang selalu datang tanpa ditentang.

Meski ruang kerja tak lagi sama,
Tapi hati kita tetap saling menyapa,
Doa kami menyertaimu di setiap langkah baru,
Sampai jumpa lagi, di persimpangan ruang kerja dan waktu

 

            -Sembilan Juli Dua Ribu Dua Puluh Lima,
            Gedung Sutikno Slamet, pojokan lantai tiga.-

 

Aku, Dia dan Hubungan Hemat Kuota Tanpa Rasa

 Senin, 

06.30 A.M

Dia     : "Pagi Mas.."

Aku    : "Pagi Sayangku, dah dimana?"

Dia     : "Sudah di tol"

Aku    : "Ok, sarapan?"

Dia     : "Aku puasa Mas"

07.16 A.M

Dia     : "@ofis"

Aku    : "same here, selamat beraktivitas 😘😘"

Dia     : "😘😘"

12.01 P.M

Dia    : "Mas udah makan?"

Aku   : "udah, nitip OB tadi"

16.47 P.M

Dia     : "Aku pulang ya Mas"

Aku    : "Ok"

18.24 P.M

Dia     : "@hom"

Aku    : "Ok"

21.53

Dia     : "nite Mas"

Aku    : "nite Sayang"

Selasa....Rabu...Kamis...

Jumat

06.24 A.M

Dia     : "Pagi Mas"

Aku    : "Pagi Sayang"

07.12 A.M

Dia     : "@ofis"

Aku    : "Ok, selamat beraktivitas

Dia     : "😘"

11.49 A.M

Dia     : "Aku maksi sama temen ya"

Aku    : "Ok

16.57 P.M

Dia     : "Aku pulang ya"

Aku    : "Ok"

Dia     : "Happy weekend Mas"

Aku    : "Thanks, U too"

19.21 P.M

Dia     : "@hom, miss U 😔"

Aku    : "miss U more 😔"

22.15 P.M

Dia     : "nite Mas"

Aku    : "nite..."

Sabtu..Minggu... 

Senin (back to the first paragraph)


Jakarta, 08072025

ADA SAJA

Angin mengusap bulu kuduk sampai berdiri,
bukan setan, tapi dingin sedari tadi bergentayangan, 
tiba-tiba takut merasuk perasaan, 
tidak ada yang menyeramkan, 
hanya sejenak menengok pada tanggalan dengan gurat-gurat keriput terpampang.

Dengus napas seketika memburu, 
sadar besok masih belum tanggal satu, termangu.
Hingga derit halus jalanan depan mengarak laju gerak roda motor listrik, 
di sela kepul cerek yang merintih kepanasan.

"Graaaabb," lantang terdengar menembus sela pintu ruang tamu.
Sekejap pisang goreng hangat tersaji, 
mengelus menenangkan gundahnya hati,
dibarengi denting sendok mengaduk kopi dari segelas merah hadiah.
Ah, bahagia selalu ada saja.

(/ekp)