Drupadi (3)

Drupadi
siapa itu  yang mengirimu pesan tadi
kau terlihat begitu sumringah dan senyum sendiri, bak gadis usia belasan yang jatuh hati
aku tak ingin bertanya jauh, ku tahu kau akan punya seribu versi, karena nama belakangmu "alibi"

kau tentu masih ingat seminggu tadi, betapa kelihaianmu begitu teruji 
pasangan salah satu lelaki yang kau dekati,menemu bukti kau tengah bermain api
Dan kau seperti juru kampanye yang sedang berjanji, omong sana omong sini ,menyulap fakta terlihat semacam fiksi , kilahmu itu hanya rekaan orang yang dengki

lihatlah, bagaimana orang begitu banyak memberimu simpati
Ah  Drupadi,....
hidup kadang menghadirkan tragedi, perempuan  yang kau tikam dadanya dengan belati,
Disalahkan karena ceceran darahnya mengotori gaunmu yang putih suci.

Apa lagi yang sebenarnya engkau cari? 
Apakah ini semata pelarian dari hidupmu yang sepi
Hari ini,  kau bisa bersuka hati, dengan jerat  bujuk rayu dan manipulasi
Lelaki kau dekati seumpama koleksi, Di bawah ketiakmu lelaki  hebatpun kehilangan akal budi ,terlarut pada permainan dan  kompetisi, kau suguhkan dirimu seumpama trophi
yang diperebutkan dan dipergilirkan kesana kemari

Coba lihat lagi yang terjadi 
mudah sekali, kepalamu bergelayut mesra dipundak satu lelaki suatu hari, berjalin tangan dengan lelaki berbeda di lain hari , berbincang mesra dengan lelaki penyanyi di pagi hari, makan malam romantisnya  dengan lelaki penari, menangis sedih dengan lelaki yang pergi, lalu bergegas  bercengkerama dengan lelaki pemuja sepi. Bertukar pesan menggoda dengan lajangnya lelaki,  berkirim selfi dengan yang beristri.

Ah untuk urusan ini, kau liar sekali 

Drupadi
Apakah kau pikir Lima tahun atau enam lagi, kau masih akan seperti ini,  pesonamu masih  akan menawan hati para lelaki ?

Saat itu, duhai Ibu Peri,
engkau tak muda lagi, kulit wajahmu akan tak elastis lagi, minuman dan krim pelawan usia yang kau beli, tak akan berkhasiat menunda atau membuat berhenti menebalnya garis senyum di ujung pipi, menegasnya kerutan sepanjang dahi

Rambutmu yang dahulu berurai wangi,akan memutih sewarna kabut pagi, semir rambut hitammu hanya menguji konsistensi , hanya akan bertahan dalam hitungan hari.
Langkahmu, yang dulu ringan dan percaya diri, akan mulai tertatih mengisyaratkan  nyeri, gemeretak pelumas lututmu yang kurang isi

Aku kasih tahu rahasia kecil ini, drupadi
Banyak kaum lelaki brengsek sekali 
penyanyi atau penari, pebasket atau pelari, lajang atau beristri , siapapun yang saat ini kau dekati, mungkin berbeda dalam puja puji, tapi mereka semua visual sekali
Kala tubuhmu tak menarik lagi, mereka akan bergegas pergi, kisah yang berawal dari hasrat hewani, tak akan pernah abadi 

ah .....yaa sudahlah Drupadi 
Malam telah melangkah jauh menjelang pagi, 
Lekaslah pergi
lelakimu pasti sudah pulang kembali, 

(Pada hari minggu,  sebelum bertugas mencuci baju, 30 Nov 25)

Book Review: “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” karya Idrus (1948)





"Jalan Lain ke Roma" merupakan satu dari beberapa cerpen yang dituangkan oleh Idrus dalam buku ini yang terbit pada tahun 1948. Namun, alih-alih menampilkan kisah perang yang heroik, Idrus justru menyajikan potret kehidupan masyarakat biasa yang jenaka sekaligus satir di tengah masa revolusi kemerdekaan.

Pertama, kita akan berkenalan dengan tokoh utamanya, yang bernama "Open". Kisahnya berfokus pada perjuangan seorang individu biasa yang berada dalam kebingungan mencari cara untuk bertahan hidup ketika situasi serba tidak pasti. Ia sampai harus berganti-ganti profesi. Awalnya ia bekerja sebagai guru, kemudian beralih menjadi guru agama, mencoba menjadi pengarang, dan akhirnya memilih menjadi tukang jahit. Ini merupakan potret realistis mengenai pencarian jati diri. 

Poin kedua adalah hal yang membedakan Idrus. Ketika sastrawan lain umumnya menulis kisah pahlawan yang gagah berani, Idrus justru berani mengkritik pencitraan tokoh ataupun jagoan. 

Ia menggunakan sindiran yang lucu, tetapi mengandung keprihatinan. Para pejuang dadakan digambarkan layaknya tokoh-tokoh tanpa perencanaan yang serius.

Gaya ini menjadikan ceritanya lebih jujur dan seringkali mengandung unsur komedi.

Terakhir, mengapa cerita dari tahun 40-an ini masih relevan hingga saat ini? 

Hal ini disebabkan oleh kisah Open yang kerap berganti pekerjaan, sebuah pengalaman yang sangat relevan dengan kondisi modern. Mirip dengan keadaan kita sekarang, di mana kita sering harus mencoba banyak jalur berbeda untuk menemukan identitas diri di dunia yang berubah dengan sangat cepat.

Oleh karena itu, Jalan Lain ke Roma pada dasarnya adalah potret jenaka yang abadi mengenai pencarian jati diri di tengah dunia yang terus ber-evolusi (berubah).

Catatan: 
Review ini dibuat menjadi video reel & disertakan dalam Lomba Kemenkeulib Literacy Competition 2025. 




Bang Toyib

Bang Toyib...

Usah gundah, wahai sahabat karib,


Sudah lumrah dan memang galib,

Dalam hidup ada saja si paling ajaib,

Yang lupa kalau roda nasib,

Kadang berputar dan membawa semua raib

Satu persatu tersingkaplah aib,

Terbuka jelas, tak lagi gaib


(celetukan menjelang Maghrib, 211125)

Prasangka

Prasangka ,

Kadang makin tanak

Ketika kita membuat jarak

Kadang pelahan hilang

Seusai sedikit bincang

Kadang kian mereda 

Setelah bicara terbuka


Maka,

Seandai tak bisa

Tak berprasangka

Lekaslah berbincang atau bicara

Sebelum semua membuncah jadi prahara

Satu Hari di Bulan Oktober

dalam ringkuk kepada Tuhan maaf aku lancang menyebut nama lengkapmu

doaku bersajak semata merayu-Nya agar kali ini saja takdir berpihak kepadaku

bukan aku memaksa, hanya saja seumur hidup aku mau lihat lesung pipimu.


entah nanti kau seatap dengan siapa

ah, kuharap itu denganku.


entah nanti kau sebut namaku dengan lantang dalam jabat tangan ayahku

atau malah kau revisi sumpahmu malam itu kepadaku

ah, mungkin hanya Tuhan yang tahu.


aku terbiasa jalani duniaku dalam hitam-putih dunia

tak banyak warna sampai kamu ada

aku diam sebentar sadar kamulah mahakarya-Nya.


sepucuk doa menjawab kegelisahanmu dari pembicaraan yang selalu kuhindarkan

menepis ketakutanku akan sebuah ikatan 

sehingga kita tak harus lagi berjalan di tempat

yakin hati sudah kutempatkan pada orang yang tepat.



jika tulisan ini sampai di ponselmu suatu hari…

kau mungkin sadar bercandaku kali ini menjauh, semata-mata agar seriusku kau ketahui

karena tak kan ada langkah mundur untukmu

apa yang membuat kita bisa bersama, maka segera itu dalam persiapanku.


-y-

Kinerja Ekonomi Indonesia per September 2025

27 Oktober 2025

 



Kinerja Ekonomi Indonesia

Hingga 30 September 2025, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia menunjukkan kondisi fiskal yang sehat dan terkendali. Pendapatan negara mencapai Rp1.863,3 Triliun, sebagian besar didukung oleh Penerimaan Pajak dan PNBP. Di sisi belanja, total realisasi mencapai Rp2.234,8 Triliun, dengan alokasi terbesar untuk Belanja Pemerintah Pusat dan Transfer ke Daerah. Keseimbangan antara pendapatan dan belanja menghasilkan Defisit APBN yang rendah, yaitu Rp371,5 Triliun ($1,56\%$ dari PDB), dan Keseimbangan Primer yang surplus sebesar Rp18,0 Triliun. Ini mencerminkan pengelolaan keuangan negara yang hati-hati dan menjadi fondasi kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Kekuatan ekonomi domestik tercermin dari aktivitas masyarakat dan dunia usaha yang tetap ekspansif. Tren penjualan ritel dan Indeks Aktivitas Manufaktur Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif, ditopang oleh tingginya proporsi belanja Konsumsi Masyarakat ($75,1\%$). Pertumbuhan ini juga didukung oleh sektor bisnis dan industri, yang tercermin dari kenaikan positif pada konsumsi listrik mereka. Sementara di tingkat global, Neraca Perdagangan Indonesia tetap tangguh, mencatatkan surplus kumulatif USD46,1 Miliar berkat kontribusi besar dari sektor Non Migas, membuktikan daya saing produk ekspor nasional di pasar internasional. Pemerintah juga turut mendukung likuiditas ekonomi dengan menyalurkan dana sebesar Rp112,4 Triliun melalui perbankan untuk realisasi kredit.

Sebagai inspirasi bagi kegiatan ekonomi sehari-hari, data ini menyajikan sinyal optimisme yang kuat: fondasi negara solid dan permintaan domestik bergairah. Masyarakat diimbau untuk melanjutkan konsumsi yang bijak dan berorientasi pada produk lokal untuk menjaga momentum pertumbuhan. Bagi individu, momen ini ideal untuk meningkatkan disiplin keuangan, yakni menyeimbangkan antara aktivitas konsumsi dengan penguatan Tabungan ($13,7\%$) dan investasi. Sementara bagi pelaku usaha, sinyal ekspansi ini adalah peluang untuk memanfaatkan dukungan kredit perbankan untuk ekspansi dan inovasi, memastikan partisipasi aktif dalam roda perekonomian nasional yang tengah bergerak positif. 🇮🇩

 

Saya Menulis, Karena Saya Belum Selesai Bodohnya

Saya menulis,

bukan karena tahu semua jawaban,

tetapi karena pertanyaan masih menempel

di dinding kepala,

bergaung seperti gema yang enggan padam.


Saya menulis,

sebab kebodohan saya bukan akhir,

ia hanya jalan lengang

yang menuntut langkah,

sebuah kesalahan yang menuntut koreksi,

sebuah ketidaktahuan yang memohon cahaya.


Saya menulis,

karena di setiap kata ada kemungkinan,

di setiap kalimat ada celah belajar,

dan di setiap salah eja,

ada pintu menuju pengertian baru.


Saya menulis,

karena saya masih bodoh,

dan mungkin akan selalu bodoh,

tapi di antara huruf-huruf ini,

saya belajar mencintai kebodohan saya,

sebagai alasan untuk terus mencari,

sebagai alasan untuk tidak berhenti


Jadi, jangan kira saya menulis karena sudah sampai.

Saya menulis karena saya masih berjalan.

Saya menulis karena saya masih bodoh,

dan barangkali akan terus begitu.

Tapi biarlah,

selama tinta ini mengalir,

kebodohan saya tidak diam,

ia terus belajar,

ia terus mencari,

ia terus menulis.


Dr. M. Lucky Akbar, KPDDP Jambi

Gebrakan Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih dalam Menggedor Pertumbuhan Ekonomi

Mencari Arah Baru Pertumbuhan Ekonomi

Dalam beberapa dekade terakhir, pembangunan ekonomi nasional Indonesia banyak bertumpu pada sektor-sektor perkotaan dan industri berskala besar. Namun, realitas menunjukkan bahwa lebih dari 40% penduduk Indonesia tinggal di perdesaan, dengan sektor pertanian, perikanan, dan UMKM menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Ketimpangan pembangunan antara kota dan desa menjadi perhatian besar, dan upaya untuk meratakan akses terhadap sumber daya ekonomi mulai menunjukkan gejala positif. Salah satu terobosan menarik yang muncul dalam konteks ini adalah hadirnya dua inisiatif strategis: Danantara dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

Keduanya tidak sekadar proyek pemberdayaan, melainkan ekosistem terintegrasi yang memadukan teknologi digital, kelembagaan gotong‑royong, dan investasi berbasis komunitas. Makalah ini mengeksplorasi desain, capaian, serta tantangan keduanya, seraya menakar prospek mereka sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi inklusif di era transformasi digital.

Danantara: Menjembatani Digitalisasi dan Kedaulatan Ekonomi Desa

Danantara, yang merupakan singkatan dari "Dana Nusantara Raya", adalah inisiatif keuangan digital inklusif yang berbasis pada teknologi blockchain dan terhubung langsung dengan ekosistem digital desa. Dirancang sebagai platform teknologi untuk mempercepat literasi keuangan dan pembangunan infrastruktur digital desa, Danantara menawarkan solusi inovatif terhadap keterbatasan akses modal, perbankan, dan investasi produktif di wilayah-wilayah tertinggal.

Model bisnis Danantara didasarkan pada prinsip “desa sebagai pusat inovasi ekonomi”. Melalui sistem e-wallet lokal, token digital berbasis aset produktif, serta integrasi dengan produk-produk UMKM, Danantara mampu mendorong perputaran ekonomi lokal tanpa harus menunggu intervensi dari pusat. Salah satu pilot project-nya di Kabupaten Gunungkidul berhasil meningkatkan volume transaksi ekonomi lokal sebesar 35% dalam waktu satu tahun, sekaligus memperluas pasar produk lokal ke luar pulau.

Lebih jauh, Danantara juga menghubungkan para pelaku ekonomi desa dengan investor diaspora dan filantropi melalui platform crowdfunding berbasis proyek desa. Proyek-proyek seperti pembangunan irigasi mikro, pengembangan rumah produksi, dan sekolah vokasi desa kini bisa dibiayai secara mandiri dan transparan. Ini bukan hanya memperkuat akuntabilitas dana pembangunan desa, tetapi juga membentuk budaya baru: desa yang mandiri, berdaya, dan terhubung secara digital.

Koperasi Desa Merah Putih: Katalis Ekonomi Gotong Royong

Jika Danantara bergerak di sisi teknologi dan pembiayaan, maka Kopdes Merah Putih hadir sebagai bentuk kelembagaan rakyat berbasis nilai gotong royong yang terorganisir. Kopdes Merah Putih adalah koperasi multi-pihak yang menyatukan petani, nelayan, pelaku UMKM, pemuda desa, dan perangkat desa dalam satu wadah produksi, distribusi, dan pemasaran bersama.

Berikutnya Kopdes Merah Putih juga berfungsi sebagai agregator produk desa baik dari sisi hulu (bahan baku) maupun hilir (produk olahan dan jasa). Dengan pendekatan koperasi modern, Kopdes Merah Putih menyelenggarakan pelatihan manajemen keuangan, pendampingan produksi, hingga sertifikasi halal dan izin edar BPOM. Lebih dari itu, Kopdes Merah Putih secara strategis bekerja sama dengan platform e-commerce dan logistik nasional untuk membuka jalur distribusi produk ke pasar nasional dan bahkan ekspor.

Salah satu kisah sukses Kopdes Merah Putih misalnya pada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, di mana Kopdes Merah Putih menggandeng petani kelor dan pengrajin tenun untuk membentuk entitas bisnis berbasis koperasi dengan sistem bagi hasil adil. Dalam kurun dua tahun, nilai ekspor kelor olahan dari koperasi ini meningkat 300%, dan lebih dari 120 rumah tangga petani berhasil keluar dari kemiskinan ekstrem.

Melalui skema kepemilikan bersama, setiap anggota koperasi tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai pemilik dari usaha itu sendiri. Model ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan anggota, menumbuhkan loyalitas produksi, dan memperkuat daya tawar desa terhadap pasar.

Kolaborasi Strategis Danantara dan Kopdes Merah Putih

Keberhasilan kedua inisiatif ini tidak terlepas dari sinergi yang terbangun antara teknologi dan kelembagaan rakyat. Integrasi Danantara dan Kopdes Merah Putih menciptakan ekosistem ekonomi desa yang saling mendukung: Dana digital dari Danantara dapat digunakan oleh anggota koperasi untuk membantu permodalan usaha mikro, sedangkan Kopdes Merah Putih menyediakan produk riil dan jaringan komunitas bagi transaksi di ekosistem Danantara.

Salah satu contoh kolaborasi konkret adalah pengembangan “Desa Pintar”, di mana sistem pembukuan koperasi diintegrasikan dengan blockchain Danantara untuk memastikan transparansi transaksi dan efisiensi manajemen keuangan. Desa-desa yang tergabung dalam program ini menunjukkan peningkatan PDRB desa rata-rata sebesar 20% dalam dua tahun terakhir.

Bahkan, kolaborasi ini telah dilirik oleh pemerintah pusat sebagai model percontohan pembangunan ekonomi berbasis desa dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Beberapa pemerintah daerah juga mulai mengadopsi pendekatan serupa, termasuk integrasi aplikasi Danantara ke dalam sistem informasi desa (SID) dan penguatan koperasi sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan struktural.

 Menakar Dampak Ekonomi dan Prospek Ke Depan

Dampak ekonomi dari gebrakan Danantara dan Kopdes Merah Putih setidaknya dapat dilihat dari tiga aspek: (1) peningkatan nilai tambah produk lokal, (2) peningkatan daya serap tenaga kerja desa, dan (3) diversifikasi sumber pendapatan masyarakat. Dalam laporan evaluasi independen tahun 2024 yang dilakukan oleh LPEM UI, disebutkan bahwa rata-rata pendapatan rumah tangga peserta program meningkat hingga 37% dalam kurun dua tahun.

Selain itu, aspek inklusi keuangan juga mengalami lonjakan. Lebih dari 40 ribu kepala keluarga yang sebelumnya unbankable kini memiliki akun keuangan digital Danantara yang dapat digunakan untuk menabung, menerima dana program, hingga melakukan investasi mikro. Di sisi lain, koperasi desa yang tergabung dalam jaringan Kopdes Merah Putih menunjukkan pertumbuhan aset rata-rata 18% per tahun dan mulai merambah bisnis lintas desa seperti pengolahan pangan, agroeduwisata, dan transportasi lokal.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Isu literasi digital, keterbatasan infrastruktur, dan regulasi yang belum sepenuhnya adaptif menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dituntaskan. Untuk itu, diperlukan dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat dan daerah, serta kemitraan aktif dengan sektor swasta dan akademisi untuk memperkuat kapasitas kelembagaan desa.

Desa Bukan Lagi Objek, Melainkan Subjek Pertumbuhan

Gebrakan Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih adalah bukti bahwa transformasi ekonomi nasional bisa dimulai dari desa. Dengan pendekatan berbasis teknologi dan kelembagaan rakyat, desa-desa di Indonesia kini mulai menapaki peran baru: bukan sekadar penerima program, tetapi sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Momentum ini harus dijaga dan diperluas. Karena ketika desa maju, Indonesia pun akan tumbuh dari akarnya. Danantara dan Kopdes Merah Putih telah membuktikan bahwa kemandirian ekonomi tidaklah utopia, melainkan hasil dari kerja bersama, strategi tepat, dan semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa.

Dr. Lucky Akbar, KPDDP Jambi