Ada pertanyaan yang sering muncul di pikiran saya saat berkendara dengan motor atau mobil, kenapa budaya antri masih terjadi di beberapa tempat saja. Misal pintu tol, beli karcis, isi BBM, pesan makanan dan minuman (baik take away ataupun dine in),
Budaya antri yang kuat bukan sekadar tentang barisan yang rapi, melainkan memiliki dampak mendalam bagi tatanan sosial dan mentalitas sebuah bangsa. Berikut adalah beberapa dampak utama dari budaya antri dapat memberikan dampak psikologis[1] yang baik bagi seseorang yaitu :
§ Menciptakan Keadilan Sosial (Social Justice). Dampak paling mendasar adalah adanya rasa adil. Antri memastikan bahwa orang yang datang lebih dulu dilayani lebih dulu (first come, first served). Tanpa budaya antri, pelayanan akan didasarkan pada kekuatan fisik, status sosial, atau "siapa yang paling vokal", yang tentu saja merugikan kelompok yang lebih lemah seperti lansia atau anak-anak.
Kesimpulannya:
Dampak budaya antri jauh melampaui urusan baris-berbaris; ia adalah fondasi karakter bangsa. Jika sebuah masyarakat gagal dalam hal kecil seperti antri, mereka akan cenderung kesulitan dalam mematuhi hukum yang lebih besar. Sebaliknya, ketertiban dalam antri adalah langkah awal menuju masyarakat yang madani dan disiplin.
Pertanyaannya adalah kenapa budaya antri hanya ada di tempat tempat tertentu, tidak berlaku di jalan raya ?
Budaya antri di Indonesia merupakan topik yang menarik karena mencerminkan transisi sosiologis yang sedang berlangsung. Antri bukan sekadar masalah barisan fisik, melainkan cerminan dari kedewasaan sosial, penghargaan terhadap hak orang lain, dan tingkat kepercayaan terhadap sistem.
Berikut adalah opini saya mengenai dinamika budaya antri di tanah air:
1. Kemajuan yang Signifikan di Sektor Publik. Kita harus mengakui, budaya antri kita telah mengalami kemajuan pesat dalam satu dekade terakhir. Transformasi ini sangat terlihat di tempat-tempat dengan sistem yang ketat, seperti:
- Transportasi Umum: Penumpang KRL dan MRT kini jauh lebih tertib dalam mengantri di belakang garis aman.
- Layanan Perbankan & Administrasi: Penggunaan nomor antrian digital telah memaksa masyarakat untuk patuh pada urutan kronologis.
- Event Besar: Konser atau pameran besar kini jarang diwarnai kericuhan karena manajemen alur yang lebih profesional.
2. Tertib karena Sistem, Bukan Kesadaran. Salah satu tantangan terbesar adalah fakta bahwa banyak orang Indonesia tertib hanya jika ada sistem yang mengaturnya secara paksa (seperti pagar pembatas atau nomor urut). Masalah muncul ketika sistem tersebut absen—misalnya di jalan raya saat macet atau saat pembagian bantuan sosial. Di sini, mentalitas "siapa cepat dia dapat" sering kali mengalahkan etika mengantri.
- Menyerobot halus: Meminta teman untuk "menjaga tempat" atau menyelip masuk dengan alasan "cuma tanya sebentar".
- Ewuh Pakewuh: Rasa sungkan untuk menegur penyerobot karena takut dianggap tidak sopan atau memicu keributan. Hal ini justru menyuburkan perilaku tidak tertib karena tidak adanya sanksi sosial yang tegas.
4. Pendidikan Karakter sejak Dini. Budaya antri sebenarnya adalah latihan dasar dalam pengendalian diri dan empati. Di negara maju, antri diajarkan di taman kanak-kanak bukan sebagai aturan, melainkan sebagai cara menghargai waktu orang lain. Di Indonesia, tantangannya adalah menggeser mindset dari "saya harus lebih dulu" menjadi "semua akan dapat giliran pada waktunya."
Kesimpulan
Budaya antri di Indonesia saat ini berada pada fase adaptasi teknologi. Kita sudah bisa tertib jika dibantu oleh aplikasi dan mesin antrian, namun kita masih punya pekerjaan rumah besar dalam membangun kesadaran internal. Kesadaran bahwa dengan mengantri, kita sebenarnya sedang membangun peradaban yang lebih efisien dan adil bagi semua orang.
Bagaimana menurut Anda, apakah Anda punya pengalaman unik terkait budaya antri ?
Jakarta, 7 Januari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar