Sepuluh Tahun Kemudian...
Di salah satu sudut premium Jakarta, sebuah restoran
keluarga yang hangat dan modern sedang merayakan hari jadinya yang kelima.
Restoran itu bernama "Garis Merapi". Nama itu diambil untuk
menghormati asal-usul dan sejarah hidup pemiliknya.
Di dalam kantornya yang nyaman, seorang pria muda
berpakaian rapi sedang memeriksa laporan keuangan. Ia adalah Kari. Berkat
bimbingan Bu Arini dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Kari berhasil
menyelesaikan pendidikannya di bidang manajemen perhotelan sambil bekerja paruh
waktu. Bu Arini, yang kini ia anggap sebagai ibu angkat, memberikan modal awal
baginya untuk membangun usaha ini.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang gadis muda dengan
wajah berseri-seri masuk membawa sebuah map desain.
"Kak, lihat! Rancangan untuk cabang kedua kita di
Yogyakarta sudah selesai," seru Kara dengan penuh semangat.
Kara kini telah tumbuh menjadi seorang arsitek muda
yang berbakat. Ia yang dulu hanya mencoret-coret di pojok kedai Bu Arini, kini
benar-benar mewujudkan impiannya membangun ruang-ruang indah. Meski ia berjalan
dengan sedikit bekas luka di kakinya—sebuah pengingat dari masa lalu—langkahnya
kini sangat mantap.
"Bagus sekali, Kara. Ibu Arini pasti bangga
melihat ini," jawab Kari sambil tersenyum bangga.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Di
pergelangan tangan Kara, tersembunyi di balik jam tangan mewahnya, masih
melingkar sebuah karet gelang yang sudah mulai mengeras dan memudar warnanya.
Karet itu tidak pernah ia lepaskan.
"Kak, ingat hari itu? Saat aku menangis karena
ingin makan enak tanpa takut basi?" tanya Kara sambil menatap ke luar
jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.
Kari berdiri dan menghampiri adiknya. "Bagaimana
mungkin aku lupa? Itu adalah hari yang membuat kita belajar bahwa tidak ada doa
yang tidak didengar."
Malam itu, restoran "Garis Merapi" tidak
hanya melayani pelanggan kaya yang turun dari mobil-mobil mewah. Di bagian
belakang restoran, Kari dan Kara memiliki program khusus bernama "Meja
Berbagi". Setiap hari, mereka menyediakan puluhan porsi makanan bergizi
secara gratis untuk anak-anak jalanan dan pemulung di sekitar sana.
Kari melihat seorang anak kecil yang sedang duduk di
pinggir jalan bersama kakaknya, mirip sekali dengan kondisi mereka sepuluh
tahun lalu. Kari menghampiri mereka, memberikan dua kotak nasi hangat, dan
membisikkan sesuatu yang dulu selalu ia katakan pada Kara:
"Jangan menyerah ya. Hari ini mungkin sulit, tapi
hari esok adalah milik mereka yang berani melangkah."
Kari dan Kara telah berhasil mengubah air mata menjadi kekuatan. Mereka membuktikan bahwa kemiskinan mungkin bisa merenggut banyak hal, tapi tidak bisa merenggut kasih sayang dan harapan. Mereka bukan lagi anak-anak yang menatap restoran dari kejauhan; mereka adalah cahaya yang kini menerangi jalan bagi orang lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar