Langsung ke konten utama

Mengapa Takut Kalah?

Kekalahan itu menyakitkan;
Kekalahan itu memalukan;
Kekalahan itu merugikan;
Kekalahan itu perih, pedih dan berdarah;

Ketika kalah, yang dibutuhkan bukan kata-kata penghibur, tepukan di pundak, pelukan hangat atau bentuk empati lain. Kekalahan hanya butuh satu hal: Kemenangan!.

Setiap orang pasti pernah merasakan kekalahan dalam hidupnya, atau bahkan ada yang merasa kalah seumur hidupnya?. Kekalahan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup, dan (seharusnya) tidak perlu ditakuti. Banyak kata bijak tentang kekalahan, tentang bagaimana menyikapi kekalahan. Betapa bijak ketika kita mampu berkata "kekalahan itu adalah kemenangan yang tertunda". Tapi betapa terasa tidak adilnya ketika penundaan itu terjadi pada diri kita. Kata-kata bijak pun tak terhitung tentang kemenangan, perjuangan mencapai kemenangan, menghargai kemenangan dan sebagainya. Tapi betapa tidak mudahnya mengusir jumawa ketika kemenangan itu ada dalam genggaman.

Mengapa takut pada keniscayaan?. Mengapa harus memburu kejumawaan?. Syahwat manusialah penyebabnya. Nafsu duniawi yang tak ada habisnya. Tidak ada manusia yang mau kalah, manusiawi. Kedewasaan tingkat 'dewa' lah yang membuat manusia mau dan mampu menerima kekalahan. Bertarung...kalah, bertarung lagi...kalah lagi...bangkit lagi, bertarung lagi...kalah lagi dan lagi. Pertarungan yang tak pernah usai, entah mencari kemenangan untuk kekalahan yang sama atau kemenangan lain sebagai pelipur lara atas kekalahan yang berbeda.

Kejumawaan akan membawamu lebih dekat ke neraka. Kemenangan demi kemenangan hanya menambah ketakutan akan kekalahan. Kekalahan yang pernah atau bahkan belum terbayang seperti apa. Kekalahan yang menguburkanmu dalam kejumawaan yang bahkan tak sempat kau sadari.

Selalu ada yang lebih baik dari diri kita. Di atas langit masih ada langit. Menyiapkan diri untuk menyambut kemenangan tidak semudah menyiapkan tampungan air mata kekalahan. Menundukkan kepala akan lebih mudah ketika kalah. 

Mengapa masih takut kalah? We never loose. Either We win or We learn.


Jakarta, 28052019
#magabut

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....