I love You, Emak!


Pemandangan apa yang membuatku terpana selain indahnya senja sore ini?
Adalah buaian seorang bunda kepada putera tercinta yang dipangkunya sambil mengerjap-ngerjap mata disalah satu sudut kereta

Pikiranku melompat sempurna ke sekian tahun sebelumnya
Menaiki kereta penuh sesak manusia yang beraneka aroma
Masih tercium olehku bau keringat bercampur dengan asap hasil gesekan roda kereta dengan rel baja tua
Belum lagi aroma tak sedap dari toilet usang yang ditinggalkan penumpang selepas membuang kotorannya.

Pagi itu, dari stasiun kebayoran, kereta yang kami tumpangi melesat menuju stasiun merak, berhenti dekat dengan pelabuhan
Pelabuhan Merak, namanya
Sepanjang perjalanan, tak jarang aku merengek  sekedar untuk mendapat buaian
Atau sekedar meminta jajanan dari para pedagang asongan yang lalulalang

Aku tahu emak tidak keberatan
Mendudukanku dalam pangkuan, meski ia sendiri harus menahan beban
Berat badanku yang saat itu menginjak usia delapan atau sembilan

Ah...andai diri ini dapat membalas kebaikan emak
Tentu tidak akan sebanding dengan seluruh pengorbanannya
Emak yang mengasuhku dengan penuh kasih sayang
Hingga kini sedikitpun tak berkurang

Emak, maafkan anakmu yang teramat jarang singgah dan kurang memberi perhatian
Sekedar untuk menanyakan kabar
Atau membawakan makanan kesukaan
Doaku untukmu l, Mak!
I love you, Emak!


GNWN / 05082019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar