Asytaqu Ilaika
Menjadi Orang Baik
Setiap
hari Rabu, Anna selalu memeriksakan kesehatannya. Ia memiliki masalah pada
lambung yang mengharuskannya menjalani kontrol rutin setiap minggu serta
mengonsumsi tiga jenis obat lambung untuk meredakan nyeri. Anna adalah anak
yang mudah bingung dan sering linglung saat berada di luar rumah karena
sehari-hari ia terbiasa berada di rumah sendirian. Ia juga kerap berprasangka
buruk terhadap orang lain yang berbuat baik kepadanya. Anna tidak percaya bahwa
ada orang yang tulus selain keluarganya, yaitu orang-orang yang ia kasihi.
Menurutnya, jika seseorang bersikap baik, pasti ada imbalan yang diharapkan
dari kebaikan tersebut.
Pagi itu, seperti biasa, Anna bersiap
untuk melakukan kontrol rutin ke dokter. Ia sangat menyukai dokter yang
menanganinya. Anna merasa dokter tersebut tulus membantunya, meskipun dalam
pikirannya ia tetap menyadari bahwa pelayanan itu diberikan karena dibayar.
Setelah mempersiapkan diri, Anna
berangkat ke rumah sakit dan tidak lupa sarapan terlebih dahulu. Sebelum
berangkat, ia sempat menyelesaikan beberapa pekerjaan kantornya. Biasanya, Anna
diantar oleh suaminya untuk berobat, namun hari itu berbeda karena ia harus
berangkat sendiri.
Anna pergi menggunakan becak. Tukang
becak yang ia temui sangat ramah dan hanya meminta bayaran sebesar Rp15.000,00.
Setelah Anna turun, tukang becak tersebut mengucapkan sepatah kata, “Hati-hati
ya, Neng.” Hal itu jarang ia temui. Anna kemudian segera masuk ke dalam rumah
sakit dan, seperti biasa, mengantre untuk menuju poli tujuan. Sesampainya di
poli tersebut, ia terlebih dahulu memeriksa tensi dan berat badannya.
Ia pun menunggu dengan tertib
sesuai nomor antrean yang akan dipanggil. Di ruangan tersebut terdapat banyak
pasien dengan berbagai keluhan; ada yang kejang-kejang, ada yang muntah, dan
ada pula yang mengeluh kesakitan. Anna merasa sangat ketakutan, namun ia tetap
bertahan menunggu gilirannya untuk dipanggil oleh dokter.
Saat
menunggu antrean, Anna tertidur. Ia kemudian dibangunkan oleh beberapa pasien
lain yang juga sedang berobat di poli tersebut.
“Mbak, sebentar lagi giliran Mbak,” ujar salah seorang dari mereka.
Anna
pun terbangun dan segera bersiap menunggu namanya dipanggil. Ia menyadari bahwa
ternyata masih ada orang baik yang mau membangunkannya dari tidur. Tak lama
kemudian, namanya pun dipanggil.
Anna
segera masuk ke ruang dokter dan bertemu dengan dokter yang menanganinya.
Dokter tersebut tampak sangat sibuk, namun tetap melayani Anna dengan ramah dan
penuh perhatian. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter meresepkan obat untuk
dikonsumsi Anna selama satu minggu ke depan.
Setelah
keluar dari ruang dokter, Anna menuju apotek untuk mengambil obat. Ia
mendapatkan nomor antrean 65, sementara saat itu antrean masih berada pada
nomor 41. Anna pun kembali menunggu.
Tidak
lama kemudian, seorang perawat menyapanya, “Mbak, nomor antreannya berapa?”
“Nomor antrean 65, Bu,” jawab Anna.
Perawat
tersebut kemudian memeriksa surat rujukan milik Anna, mengambil nomor
antreannya, lalu masuk ke ruang apotek. Beberapa saat kemudian, perawat itu
kembali dan menyerahkan obat yang diresepkan dokter kepada Anna.
Anna
terkejut dan segera mengucapkan terima kasih kepada perawat tersebut, bahkan
mencium tangannya. Ia tidak tahu hal apa yang membuatnya bisa mendapatkan
bantuan dari orang baik seperti perawat itu. Banyak hal yang terjadi saat itu
dan anna bersyukur karena masih ada orang baik yang mau membantunya dan
menyapanya. Sesampainya di tempat kerja, Anna juga disambut dengan hangat oleh
rekan-rekan kerjanya yang menanyakan kondisi kesehatannya. Saat itu, Anna
menyadari bahwa selama ini ia keliru karena selalu berprasangka buruk terhadap
semua orang dan takut untuk bersosialisasi, padahal belum tentu semua orang
memiliki niat yang jahat.
Jadilah orang baik, karena
percayalah bahwa jika kita menanamkan kebaikan, maka kita akan memperoleh
kebaikan pula. Prinsip ini berlaku dalam kehidupan bersosial. Seperti seorang
petani yang menanam benih, jika ia menanam biji yang baik dan merawatnya dengan
sungguh-sungguh, maka ia akan memperoleh hasil panen yang melimpah. Begitu pula
dengan kebaikan; jika kita menanam kebaikan, cepat atau lambat kita akan menuai
hasilnya, baik di dunia maupun di akhirat. Anna juga mengoreksi dirinya untuk
tidak berpikiran buruk kepada orang lain melainkan harus selalu berbuat baik
karena berbuat baik tidak akan sia-sia. ebaikan yang kita tanam akan kembali
kepada kita, meskipun terkadang tidak langsung terlihat hasilnya. Orang yang
sering menolong sesama akan mendapatkan pertolongan ketika ia membutuhkannya.
Orang yang senantiasa berbagi kebahagiaan akan merasakan ketenangan dalam
hatinya. Hal ini bukan sekadar filosofi hidup, tetapi sudah terbukti dalam
berbagai aspek kehidupan. Alangkah baiknya jika dunia penuh dengan kebaikan,
setiap manusia akan merasa aman dan bahagia.
Refleksi Diri
Tak apa jika hari ini tidak sesuai ekspektasi
Karena tak semuanya butuh divalidasi
Cobalah semua proses dinikmati
Pasti menyenangkan hati
Jika harimu terasa kacau
Terima saja kekacauan itu
Bukan berarti hidupmu kacau
Jadi tenang saja
Semua akan terlewati dengan baik
Tak apa jika hari ini terasa berat
Mungkin hari esok kau akan memetik hasilnya
Berjalanlah perlahan saja
Tak perlu terlalu mengejar
Hidup ini bukan perlombaan
Tapi proses perjalanan yang panjang
Memaafkan
Kerelaan
untuk melepas
Kerelaan untuk tidak lagi mengingat
Bukan demi kebahagiaanmu
Melainkan demi ketenanganku
Upaya
bangkit perlahan
Penerimaan atas keadaan
Itulah jawaban yang kutemukan
Nostalgia di Teras Tua
Iramanya sendu menyayat kalbu.
Kita pernah duduk bersama,
Di teras ini saat waktu berdebu.
Kini kursi di sampingku kosong,
Hanya ada cangkir teh yang dingin.
Malam terasa begitu bohong,
Membawa rindu yang tak kuingin.
Kenangan lama berputar kembali,
Seperti film di layar yang hitam.
Waktu tak mungkin bisa dibeli,
Hanya tersisa rasa yang kelam.
Bersama redupnya lilin di meja.
Malam ini duka mengalir,
Menghapus semua tawa yang bersahaja.
Menanti Cahaya Pagi
Bintang-bintang mulai bersembunyi.
Udara pagi mulai mengalir,
Mengganti sunyi menjadi bunyi.
Terima kasih wahai kegelapan,
Telah memberi waktu untuk rehat.
Kini datanglah sebuah harapan,
Untuk hidup yang lebih sehat.
Matahari akan segera muncul,
Membawa sinar yang paling terang.
Semua rencana kini berkumpul,
Siap untuk kita bawa berperang.
Malam pergi membawa cerita,
Pagi datang membawa tenaga.
Mari hapus semua air mata,
Demi masa depan yang berharga.
Opini : FOMO Padel vs Tenis Lapangan
Berikut adalah opini dan uraian mengenai perbandingan perkembangan keduanya:
Padel sedang mengalami booming luar biasa di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali.
· Aksesibilitas Tinggi: Berbeda dengan tenis yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa melakukan rally yang konsisten, pemula bisa langsung menikmati permainan Padel dalam waktu 30 menit.
2. Tenis Lapangan: "The Prestigious Classic" (Pertumbuhan Stabil)
Tenis tidak kehilangan panggungnya, ia justru mengalami regenerasi.
Fitur | Padel | Tenis Lapangan |
Kurva Belajar | Sangat cepat (cocok untuk pemula) | Lambat (butuh teknik tinggi) |
Kebutuhan Fisik | Kelincahan dan reaksi | Stamina dan kekuatan ledak |
Aspek Bisnis | ROI lebih cepat (lahan kecil, 4 pemain) | ROI lebih lambat (lahan luas) |
Durasi Main | 60–90 menit (ritme cepat) | 90–150 menit (ritme panjang) |
Pendapat
Padel tidak akan "membunuh" tenis, melainkan memperluas pasar olahraga raket. Padel menarik orang-orang yang sebelumnya tidak berolahraga atau merasa tenis terlalu sulit, sementara tenis tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari kedalaman teknik dan atletisitas murni.
Secara investasi, Padel saat ini jauh lebih menguntungkan bagi pemilik lahan karena efisiensi ruang. Namun, secara kultur olahraga, keduanya akan berdampingan: Padel sebagai gaya hidup perkotaan yang cepat, dan Tenis sebagai standar emas olahraga raket global.
Jika Anda mencari olahraga untuk networking dan seru-seruan di akhir pekan, Padel adalah jawabannya. Namun, jika Anda ingin tantangan disiplin teknis jangka panjang, Tenis tetap tak terkalahkan. Bagaimana menurut anda ?
Where I Keep Meeting Ghost
by: Ash Beige Baby
Backseat Conversation
Cigarettes
Hot Americano
Body Scar
Unmasked Feelings
Afternoon Escape
Precious Rendesvouz
Coldplay
Cap & Jacket
Creamy-Bitter Coffee
City Bus
Car Stereo
Ghost Stories
Deep Talk
Chicken & Catfish
Night Phone
Vans
Abandoned Road
Secret Alley
Stolen Moment
Spicy Food
Light Bite
Redemption
Watches
Explosive Emotion
Broken Promises
Secret Rendesvouz
It’s painful how the world keeps throwing pieces of some people at you.
even after they are no longer here to catch them.
Curiga
Waktu itu siang hari terasa sangat terik. Cuaca panas
dan gerah menyelimuti Kota Bebatu. Kota tersebut terkenal sunyi karena letaknya
di pinggir provinsi, dikelilingi gunung dan lembah, namun tetap terasa panas
karena berdekatan dengan pantai. Daerah tempat aku tinggal pun sangat sepi.
Hanya ada aku dan beberapa tetangga di kompleks itu, yang keseluruhannya hanya
dihuni oleh delapan keluarga.
Seperti biasa, aku dan suami sedang menyantap makan
siang. Tiba-tiba kami mendengar suara tetangga kami, Kak Elly, berteriak,
“Woyyy… ngapain kau di situ?” Mendengar teriakan itu, kami spontan beranjak
dari meja makan dan berlari keluar rumah. Aku pun meminta izin untuk masuk ke
rumah Kak Elly.
“Ada apa, Kak?” tanyaku kepada tetanggaku yang tampak
sangat ketakutan itu.
“Ada yang mengendap-endap, Lis, di lingkungan kompleks
kita. Ada yang berusaha masuk ke rumah ini, Lis…,” jawabnya dengan suara
gemetar.
“Tenang, Kak. Biar kami cek dulu ya, Kak,” jawabku.
Aku dan suami segera memeriksa area sekitar, namun
tidak menemukan satu pun orang yang menyelinap di kompleks kecil kami. Kami pun
kembali dan berkata, “Tidak ada, Kak. Tidak ada orang di sini.” Meski begitu,
kami tetap waspada karena khawatir orang yang mengendap-endap tersebut adalah
pencuri.
Tak lama kemudian, suami Kak Elly datang dan
menanyakan keadaannya. Kak Elly yang masih syok pun menceritakan semuanya
kepada Bang Andi, suaminya. Bang Andi juga terkejut dan berusaha mencari solusi
agar kejadian serupa tidak terulang, salah satunya dengan memasang CCTV di berbagai
sudut rumah.
Aku dan suami pun ikut mawas diri karena kami juga
merasa syok. Bisa jadi orang yang mengendap atau menyelinap masuk itu adalah
pencuri yang berniat mengambil barang-barang di rumah kami.
Keesokan harinya, aku dan suami pergi ke toko elektronik
untuk membeli beberapa CCTV yang akan kami pasang di rumah. Kami curiga
terhadap orang yang berusaha mengendap-endap masuk ke rumah Kak Elly dan
khawatir ia juga akan mencoba mencuri barang di rumah kami. Setelah sampai di
rumah, kami memasang CCTV di beberapa sudut yang kemungkinan tidak diketahui
orang lain.
Sore harinya, aku mengajak anakku yang masih bayi
berusia tujuh bulan berjalan-jalan di sekitar kompleks. Tak lama kemudian,
terdengar suara berisik lagi di sekitar rumah Kak Elly. Aku berusaha mengecek
dan melihat ada tiga pemuda yang datang secara diam-diam membuka gerbang rumah
Kak Elly dan memeriksa bagian samping rumahnya. Ternyata di sana terdapat
barang elektronik berupa genset yang tentu saja dapat dijual jika mereka
berhasil mencurinya.
Aku pun berteriak, “Tolong… tolong… ada pencuri!”
Ketiga pemuda itu langsung lari ketakutan dan berhasil kabur. Namun sangat
disayangkan, tidak satu orang pun menanggapi teriakanku meminta tolong. Kak
Elly dan Bang Andi yang saat itu tidak berada di rumah segera kuhubungi dan
kuceritakan semua kejadian yang terjadi di sekitar rumah mereka. Mereka pun
terkejut mendengarnya.
Akhirnya, kami sepakat untuk saling menjaga rumah satu
sama lain sebagai tetangga. Jika aku berada di rumah, aku ikut menjaga rumah Kak
Elly, dan jika Kak Elly berada di rumah, ia ikut menjaga rumah kami. Kak elly
memindahkan lokasi genset ke tempat yang lebih aman, dan aku berusaha menutup
gerbang komplek jika malam sudah, Begitulah cara kami saling menjaga satu sama
lain di kota perantauan ini, dengan kewaspadaan, kepedulian, dan rasa
kebersamaan sebagai tetangga yang sama-sama ingin merasa aman dan terlindungi.
untitled
survival is heavier than tragedy
tragedy breaks you
while survival makes you carry the pieces
people think restraint is strength
they are wrong
restraint is just pain with manners
it is learning how to bleed internally
without staining the furniture
because some things
you just can't say out loud
it asks you to wake up
with the same bruise
and call it a routine
tragedy ruins a life once
survival ruins it
every morning
you stand tall
because collapsing would be rude
this is not courage
this is compliance
and it still expects gratitude.
Wawasan Kebangsaan Untuk Wujudkan Bhineka Tunggal Ika di Indonesia
Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman budaya, suku, agama, dan bahasa. Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu" menjadi landasan penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks globalisasi dan modernisasi, penting untuk terus memperkuat pesan kebangsaan yang mendukung Bhinneka Tunggal Ika.
Wawasan kebangsaan adalah cara pandang dan sikap bangsa terhadap dirinya sendiri, nilai-nilai kebangsaan, dan cita-cita nasional. Wawasan ini berperan sebagai pedoman untuk memperkuat persatuan dalam keberagaman. Di Indonesia, wawasan kebangsaan berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti "berbeda-beda tetapi tetap satu”.
Selanjutnya penting untuk kita ketahui bersama
bagaimana Wawasan Kebangsaan mampu menjadi mesin pembangunan moral bangsa untuk
memperkuat rasa nasionalisme dan kesatuan dalam keberagaman, menumbuhkan sikap
toleransi melalui penghormatan terhadap
perbedaan menjadi nilai utama dalam berinteraksi, dan pada akhirnya membangun kesadaran kolektif bagi setiap individu di negara ini untuk memahami bahwa persatuan adalah
modal utama pembangunan bangsa.
Dimensi Teoritis dan Pandangan Para Pakar
Secara konseptual keberagaman suatu suku bangsa
dapat difahami sebagai bagian dari peradaban Panjang umat manusia yang
dianalisis oleh berbagai faham teoritis dalam jalan pnajnag ilmu pengetahuan
yang telah dijalani umat manusia itu sendiri, dan beberapa teori tersebut
antara lain meliputi:
Teori Multikulturalisme
Multikulturalisme adalah teori yang menekankan pentingnya menghargai
dan merayakan keragaman budaya dalam masyarakat. Menurut Bhikhu Parekh,
multikulturalisme bukan hanya tentang toleransi, tetapi juga tentang pengakuan
dan penghargaan terhadap perbedaan. Di Indonesia, penerapan multikulturalisme
dapat memperkuat Bhinneka Tunggal Ika dengan mendorong masyarakat untuk
menghargai dan merayakan keragaman yang ada.
Teori Integrasi Sosial
Emile Durkheim, seorang sosiolog terkenal, mengemukakan bahwa integrasi
sosial adalah proses di mana individu dalam masyarakat menjadi bagian dari
keseluruhan yang lebih besar melalui norma, nilai, dan keyakinan bersama. Dalam
konteks Indonesia, integrasi sosial dapat dicapai melalui pendidikan yang
menekankan pentingnya Bhinneka Tunggal Ika dan nilai-nilai Pancasila.
Sejalan dengan dimensi Teoritis di atas, beberapa Tokoh nasional
mengemukakan pandangan yang sejalan terkait hal tersebut. Misalnya sebagaimana
disampaikan oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra yang menekankan bahwa Bhinneka
Tunggal Ika adalah fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia.
Menurutnya, pendidikan multikultural harus diperkuat untuk menanamkan
nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap keragaman sejak dini.
Berikutnya Dr. Yudi Latif juga mengemukakan
bahwa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah dua pilar utama yang harus
dijaga dan diperkuat untuk menghadapi tantangan globalisasi dan radikalisme.
Benchmarking dari dari Negara Lain
Contoh bagaimana negara lain mampu mengoptimalkan keberagaman yang ada untuk
memajukan rakyat dan bangsanya dapat kita lihat dari contoh penerapan di negara
sebagai berikut:
Kanada, Kanada dikenal sebagai salah satu
negara yang berhasil menerapkan multikulturalisme. Pemerintah Kanada secara aktif
mempromosikan kebijakan yang mendukung keragaman budaya dan integrasi sosial.
Program-program seperti "Multiculturalism Act" dan "Canadian
Multiculturalism Day" adalah contoh konkret bagaimana Kanada merayakan dan
menghargai keragaman.
Swiss, Swiss adalah negara dengan empat
bahasa resmi dan berbagai kelompok etnis. Meskipun memiliki keragaman yang
tinggi, Swiss berhasil menjaga persatuan melalui sistem federal yang memberikan
otonomi kepada kanton-kanton untuk mengelola urusan lokal mereka. Pendekatan ini
memungkinkan setiap kelompok etnis untuk merasa dihargai dan diakui.
Singapura, Singapura adalah contoh negara
yang berhasil mengelola keragaman etnis dan agama melalui kebijakan yang ketat
namun inklusif. Pemerintah Singapura menerapkan kebijakan perumahan yang
memastikan distribusi etnis yang merata di seluruh negeri, serta program
pendidikan yang menekankan pentingnya harmoni rasial.
Langkah-Langkah Implementasi di Indonesia
Untuk mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia dapat mengambil
beberapa langkah strategis:
Pendidikan Multikultural, melalui Pendidikan
multikultural diharapkan dapat menjadi instrumen sekaligus menjadi bagian integral dari
kurikulum nasional. Sekolah-sekolah harus mengajarkan nilai-nilai toleransi,
penghargaan terhadap keragaman, dan pentingnya persatuan.
Kebijakan Inklusif, maksud kebijakan ini
adalah Pemerintah harus mau dan mampu menerapkan kebijakan yang mendukung
inklusivitas dan kesetaraan bagi semua kelompok etnis dan agama.
Program-program seperti beasiswa untuk siswa dari daerah terpencil dan
kebijakan afirmatif untuk kelompok minoritas dapat membantu mengurangi
kesenjangan sosial.
Dialog Antarbudaya, pendekatan ini mendorong komunikasi
di arah antar entitas budaya melalui forum-forum diskusi, festival budaya, dan
kegiatan komunitas dapat memperkuat pemahaman dan penghargaan terhadap
keragaman.
Media dan Teknologi, tak bisa dipungkiri media
massa dan teknologi informasi saat ini menjadi dunia lain yang kerap digunakan
untuk mempromosikan pesan-pesan kebangsaan yang mendukung Bhinneka Tunggal Ika.
Kampanye media sosial yang menekankan pentingnya persatuan dalam keragaman
dapat menjangkau generasi muda.
Komunikasi Sosial
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan yang sangat relevan dalam konteks
Indonesia yang multikultural. Dengan mengadopsi teori multikulturalisme dan
integrasi sosial, serta belajar dari contoh negara lain, Indonesia dapat
memperkuat pesan kebangsaan yang mendukung persatuan dalam keragaman.
Pendidikan, kebijakan inklusif, dialog antarbudaya, dan penggunaan media yang
efektif adalah langkah-langkah strategis yang dapat diambil untuk mewujudkan
Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia.
Untuk itu wawasan
kebangsaan sebagi fondasi penting untuk menjaga dan mewujudkan Bhineka Tunggal Ika harus diwujudkan dalam cara pandang dan bersikap pada kehidupan sehari-hari di masyarakat. Hal itu bertujuan agar terbangun
komunikasi sosial guna memahami, menginternalisasi, dan
mengamalkan nilai-nilai kebangsaan
sebagai kebutuhan tujuan hidup bermasyarakat Indonesia agar harmonis di tengah
keberagaman, mendukung pembangunan bangsa yang adil, makmur, serta berdaya saing. Intinya, persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan yang harus dijaga untuk mewujudkan
cita-cita bangsa.
Melawan Judi Online dengan Mengenali Faktor Pemicu, Dampak serta Tindakan Penanganannya
Perkembangan teknologi telah memengaruhi struktur dan budaya kehidupan, menyebabkan adaptasi manusia terhadap lingkungan yang terus berubah, termasuk meningkatnya perjudian online yang merajalela. Akses digitalisasi terhadap judi online saat ini paling mudah dilakukan melalui smartphone, dengan transaksi yang pernah dihitung mencapai Rp. 104,42 Triliun pada Oktober 2023. Meskipun pemerintah telah banyak menutup situs judi online, namun akan selalu muncul laman atau bandar judi online baru. Beberapa Influencer di tanah air juga ada yang tertangkap tangan mempromosikan judi online di media sosial mereka. Secara aspek hukum judi online melanggar hukum berdasarkan Pasal 27 Ayat (2) UU ITE 2024, dengan ancaman hukuman hingga 6 tahun penjara dan/atau denda hingga 1 miliar rupiah, meskipun penangkapan terhadap pelaku telah dilakukan, namun tren akses dari masyarakat masih tetap tinggi, sehingga menyebabkan dampak ekonomi dan psikologis yang serius, bahkan dari sisi kesehatanjuga banyak pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit. Hal ini misalnya informasi yang diperoleh dari Divisi Psikiatri Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebagaimana dikutip dari channel youtube Kompas TV, yang menjelaskan adiksi judi online semakin besar di awal 2024. Pasien kecanduan judi online di RSCM meningkat hingga dua kali lipat dan hampir 100 orang dilaporkan menjalani rawat inap akibat kecanduan judi online di Rumah Sakit tersebut.
Faktor Pendorong
Hasil riset yang dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo pada tahun 2024 mengemukakan faktor-faktor yang membuat seseorang terjebak dalam kondisi tersebut yang meliputi:
Faktor internal dari pelaku judi online:
Faktor Ekonomi. Faktor ekonomi menjadi pendorong utama dalam melakukan judi online, dengan banyaknya permasalahan ekonomi, mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaaan, naiknya harga pangan, inflasi, dan juga gaji dibawah rata-rata membuat masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan kemudahan juga pengorbanan yang terbilang kecil dan menghasilkan uang yang cukup besar, hal ini mendorong pelaku berjudi online.
Faktor Persepsi. Faktor ini didorong karena pemikiran terhadap kemungkinan memenangkan permainan ini dengan sangat yakin. Pada awalnya dalam bermain judi online bagi pemula akan diberikan kemenangan agar terus adiktif untuk bermain, sehingga yakin peluang kemenangan dan keberuntugan yang diperoleh setiap kali bermain. Dengan keyakinan dan keuntungan yang didapatkan akan mempengaruhi persepsi pemain bahwa jika tidak menang dalam permainan kali ini, dipermainan selanjutnya dia akan menang. Hal ini yang membuat pelaku kecanduan dan sulit keluar dari permainan ini.
Faktor Kesadaran Hukum. Masyarakat belum sadar hukum akan permainan judi online. Banyak masyarakat yang tidak mengetahui mengenai peraturan judi online dan menganggap bukan sesuatu yang melanggar hukum. Namun apabila sudah mengetahui peraturannya, mereka juga seakan tidak takut akan hukuman yang diberikan, karena sanksi terhadap pelaku yang hanya bermain judi online tidak berat dan sulit ditemukan buktinya.
Selain faktor-faktor internal di atas, terdapat juga pengaruh Faktor eksternal yang meliputi:
Perkembangan Teknologi. Perkembangan tekknologi memang memudahkan pelaku untuk mengakses situs judi online. Walaupun sudah banyak situs yang ditutup, tetapi bandar tidak kehabisan akal untuk membuka situs perjudian online dengan berbagai cara agar tidak terdeteksi oleh aparat. Selain itu, perkembangan fintech mulai dari e-wallet hingga mbanking memudahkan pemain judi online untuk bertransaksi secara online. Dengan adanya perlindungan data transaksi dalam fintech tersebut ternyata menyulitkan aparat untuk mendapatkan bukti transaksi perjudian online yang dilakukan.
Faktor Lingkungan. Lingkungan di sini memberikan pengaruh terkait keputusan dan berperilaku yang diambil oleh pelaku judi online. Pertemanan atau lingkungan yang terdampak perjudian online, membuat individu terdorong untuk mencoba melakukan perjudian. Maraknya promosi melalui media massa bahkan dipromosikan secara terang-terangan oleh influencer dengan menawarkan keuntungan yang menggiurkan menjadi salah satu permasalahan yang mendorong makin banyaknya transaksi perjudian.
Dampak Judi Online
Berdasarlkan penelitian yang dilakukan oleh Septu Haudli Bakhtiar dan Azizah Nur Adilah (2024) konsekuensi dari judi online memberikan dampak buruk baik baik bagi individu yang melakukan maupun pada masyarakat secara luas yang berupa:
Dampak Psikologis
Kecanduan (Adiktif) Permainan judi mendorong pelaku untuk terus bermain judi karena penasaran terhadap kemenangan untuk permainan selanjutnya. Rasa penasaran ini membuat pelaku kecanduan dan sulit untuk bermain. Mengganggu Kesehatan Mental Judi online dapat menyebabkan stress, kecemasan, bahkan depresi bagi pelaku. Hal ini disebabkan karena kecanduan akibat permainan judi yang membuat seseorang cemas akan hasil yang didapatkan, stress hingga depresi ketika mendapatkan kekalahan terus menerus. Menghalalkan segala cara dengan menggunakan uang lain untuk bisa terus bermain dan mengharapkan kemenangan tetapi hasilnya kekalahan sehingga terdapat beban pikiran untutk mempertanggungjawabkan perilakunya. Salah satu contoh kasus adalah kasus bunuh diri sopir truk di lampung pada bulan Maret 2024 lalu, akibat kalah bermain judi online dalam format slot.
Dampak Ekonomi
Kecanduan judi online membuat pelaku melakukan berbagai cara untuk mendapatkan modal untuk bermain, salah satunya berhutang. Pelaku tidak peduli jika dia mengalami kerugian akibat kalah dalam permainan dan terus berharap di permainan berikutnya akan menang. Padahal pelaku mengalami kerugian dalam waktu yang singkat. Hal ini membuat pelaku terlilit hutang dan membuat kondisi finansial keluarga tidak stabil.
Dampak sosial
Meningkatkan Tindakan Kriminalitas Bukan hanya merugikan individunya, judi online meningkatkan tindakan kriminalitas, sudah banyak kasus pencurian uang baik itu uang pribadi ataupun uang perusahaan akibat digunakan untuk menjadi modal judi online oleh pelaku. Kecanduan judi online juga membuat seseorang menghindari sosialisasi dari lingkungan luar. Selain itu, kecanduan judi online juga dapat merusak hubungan dengan orang lain dan keluarga sendiri.
Penanganan Judi Online
Perlu adanya penanggulangan agar tingkat aksesibilitas dari judi online dan transaksinya dengan melakukan upaya preventif seperti sosialisasi mengenai kesdaran hukum dari dampak judi online serta membentuk mindset bahwa sesuatu yang instan dan mudah tidak memberikan hasil yang baik. Target soasiliasasi adalah 2,1 juta orang dari 2,7 juta orang indonesia yang menurut PPATK terlibat judi online yang diantaranya ibu rumah tangga dan pelajar.
Selain itu, perlu adanya tindakan tegas bagi influencer yang mempromosikan judi online secara terang-terangan. Influencer memberikan pengaruh yang besar terhadap audiencenya sehingga jika tidak ada tindakan tegas terhadap influencer, judi online akan semakin menjamur.
Selanjutnya adalah mendorong Kementerian Informasi dan Digital untuk menutup akses situs dan aplikasi-aplikasi game yang terafiliasi judi online., serta meningkatkan kerjasama lintas institusi, misalnya antara jasa finansial teknologi dan Otoritas Jasa Keuangan untuk membantu memblokir akses transaksi terhadap situs situs judi online di Indonesia maupun luar negeri
Memaknai Fenomena Money Dysmorphia Gen Z
Fenomena money dysmorphia semakin mengemuka seiring meningkatnya kecemasan finansial di kalangan Generasi Z. Misalnya seorang lulusan baru S1 bekerja di perusahaan besar tapi tetap merasa “tidak cukup uang”, walaupun gaji sudah lebih baik dibanding penghasilan rata-rata. Ia memilih menahan diri dari kegiatan sosial karena takut dibandingkan orang lain yang “lebih mapan”. Cerita lain menunjukkan pekerja lepas yang berpenghasilan fluktuatif terus memaksakan gaya hidup tertentu demi terlihat sukses di media sosial, kemudian berakhir dengan stres dan utang konsumtif.
Meski istilah money
dysmorphia belum secara formal digunakan dalam literatur akademik dan
riset kebijakan di Indonesia, berbagai survei nasional menunjukkan adanya
tekanan finansial yang nyata dan sistemik di kalangan generasi muda. Survei
Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang disusun Otoritas Jasa Keuangan
bersama Badan Pusat Statistik pada 2024 memperlihatkan bahwa indeks literasi
keuangan kelompok usia muda masih berada di bawah 40 persen, jauh dari target
literasi nasional yang dipatok di atas 50 persen.
Angka ini
mengindikasikan bahwa sebagian besar Gen Z telah akrab dengan produk keuangan
mulai dari dompet digital, paylater, hingga investasi daring namun belum
sepenuhnya memahami prinsip perencanaan keuangan jangka panjang, manajemen
risiko, serta keseimbangan antara konsumsi dan tabungan. Riset yang dilakukan
oleh Intuit Credit Karma melalui survei terhadap generasi muda di Amerika Serikat
pada 2023 menunjukkan bahwa sekitar 43 persen Gen Z mengaku mengalami money
dysmorphia. Menariknya, sebagian responden yang merasakan kondisi tersebut
justru memiliki tabungan lebih dari 10.000 dolar AS, bahkan sebagian di atas
30.000 dolar AS.
Temuan ini
mengindikasikan bahwa money dysmorphia bukan sekadar persoalan kekurangan
pendapatan, melainkan persoalan persepsi dan ekspektasi yang tidak seimbang
dengan realitas. Kredit Karma menegaskan bahwa kecemasan finansial pada Gen Z
banyak dipicu oleh perbandingan sosial dan ekspektasi pencapaian yang tidak
realistis. Fenomena ini semakin relevan karena Gen Z adalah generasi yang
tumbuh dalam periode ketidakpastian ekonomi global. Mereka memasuki usia
produktif di tengah lonjakan inflasi pascapandemi, ketidakstabilan pasar tenaga
kerja, serta perubahan pola kerja yang semakin fleksibel tetapi minim
kepastian.
Keseluruhan gambaran tersebut menunjukkan bahwa money dysmorphia di Indonesia bukan fenomena individual semata, melainkan refleksi dari interaksi antara literasi keuangan yang belum matang, tekanan konsumsi berbasis gaya hidup, serta struktur ekonomi yang kurang ramah bagi generasi muda. Dalam konteks ini, kecemasan finansial Gen Z bukan hanya persoalan psikologis, tetapi sinyal peringatan atas perlunya pembenahan sistemik dalam pendidikan keuangan, pasar kerja, dan tata kelola ekonomi yang lebih inklusif bagi generasi penerus.
Tekanan Struktural
Money dysmorphia
tidak dapat dilepaskan dari tekanan struktural yang nyata. Survei global
tentang kesehatan finansial yang dilakukan oleh EY pada 2023 mencatat bahwa
hanya sekitar 31 persen Gen Z yang merasa aman secara finansial. Lebih dari
separuh responden menyatakan sangat khawatir tidak memiliki cukup uang untuk
masa depan. Tekanan ini tercermin pula dalam riset The Motley Fool yang
menemukan bahwa lebih dari 60 persen Gen Z mengalami stres finansial beberapa
kali dalam sepekan, dan sekitar 20 persen mengalaminya setiap hari. Angka ini
jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Tekanan ekonomi tersebut
juga memengaruhi pola kerja. Laporan Forbes dan berbagai survei pasar tenaga
kerja menunjukkan bahwa lebih dari separuh Gen Z mengandalkan pekerjaan
tambahan atau side hustle di luar pekerjaan utama. Fenomena ini tidak selalu
mencerminkan semangat kewirausahaan, melainkan strategi bertahan hidup di
tengah pendapatan yang dirasakan belum mencukupi. Alih-alih menciptakan rasa
aman, kondisi ini justru memperkuat persepsi bahwa satu sumber pendapatan tidak
pernah cukup dan masa depan finansial selalu rapuh.
Di Indonesia,
tekanan serupa tercermin dari rendahnya tingkat kepemilikan aset di kalangan
usia muda. Data BPS menunjukkan bahwa kepemilikan rumah masih didominasi oleh
kelompok usia di atas 40 tahun, sementara generasi muda menghadapi harga
properti yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan. Ketika indikator
keberhasilan finansial tradisional semakin sulit dicapai, perasaan tertinggal
menjadi pengalaman kolektif Gen Z.
Distorsi Persepsi
Namun yang
membedakan money dysmorphia dari kecemasan finansial biasa adalah distorsi
persepsi yang diperkuat oleh budaya digital. Media sosial memainkan peran
sentral dalam membentuk standar kesuksesan finansial yang semu. Pencapaian
ekonomi sering ditampilkan dalam bentuk potongan gaya hidup tanpa konteks utuh,
seperti latar belakang keluarga, utang, atau risiko finansial yang diambil.
Riset Credit Karma menunjukkan bahwa hampir 48 persen Gen Z merasa tertinggal
secara finansial jika membandingkan diri mereka dengan apa yang dilihat di
media sosial.
Fenomena ini tidak
hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Inggris, survei yang dilakukan oleh Money
and Pensions Service pada 2024 menunjukkan bahwa Gen Z merupakan kelompok usia
dengan tingkat kecemasan finansial tertinggi, meskipun sebagian dari mereka
memiliki tingkat tabungan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya di
usia yang sama. Di Korea Selatan, Bank of Korea mencatat meningkatnya kecemasan
finansial di kalangan pekerja muda meskipun tingkat pendidikan dan partisipasi
kerja relatif tinggi. Tekanan biaya perumahan dan ekspektasi sosial tentang
kesuksesan menjadi faktor utama yang memicu distorsi persepsi tersebut.
Jepang memberikan
contoh yang sedikit berbeda. Meski Gen Z Jepang juga menghadapi stagnasi upah,
budaya finansial yang lebih konservatif dan rendahnya eksposur pamer gaya hidup
di media sosial relatif menahan tingkat money dysmorphia. Namun, survei
pemerintah Jepang tetap menunjukkan meningkatnya kecemasan finansial generasi
muda, terutama terkait masa depan pensiun dan stabilitas pekerjaan. Ini
menegaskan bahwa money dysmorphia memiliki variasi konteks, tetapi akar
masalahnya tetap sama: ketidakselarasan antara realitas ekonomi dan ekspektasi
sosial.
Makna
Keseimbangan
Fenomena money
dysmorphia menunjukkan bahwa literasi keuangan saja tidak cukup. Banyak Gen Z
memahami cara menabung, berinvestasi, dan menggunakan teknologi finansial,
tetapi tidak dibekali kemampuan memaknai uang secara sehat. Survei Nasional
Literasi dan Inklusi Keuangan di Indonesia menunjukkan bahwa meskipun generasi
muda memiliki akses tinggi terhadap layanan keuangan digital, pemahaman
konseptual tentang perencanaan jangka panjang, inflasi, dan risiko masih
terbatas.
Pelajaran dari
negara lain menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih seimbang. Kondisi di
Jerman, pendidikan keuangan sejak sekolah menengah dipadukan dengan
perlindungan sosial yang kuat, sehingga kecemasan finansial generasi muda
relatif lebih rendah. Sedangkan di Australia, regulator keuangan secara aktif
mengawasi promosi gaya hidup finansial di media sosial dan mendorong
transparansi produk keuangan, untuk mengurangi ekspektasi yang menyesatkan.
Bagi Indonesia,
money dysmorphia seharusnya dibaca sebagai sinyal sosial, bukan sekadar tren
psikologis. Ia mencerminkan tekanan struktural ekonomi, distorsi budaya
digital, dan celah dalam pendidikan finansial. Memaknainya secara utuh membuka
ruang kebijakan yang lebih manusiawi, di mana kesejahteraan finansial tidak
diukur semata dari saldo rekening, tetapi dari rasa aman, kendali, dan
keberlanjutan hidup.
Jika tidak direspons
secara serius, money dysmorphia berpotensi melahirkan generasi yang secara
ekonomi bertahan tetapi secara psikologis rapuh. Sebaliknya, jika dibaca
sebagai peringatan dini, fenomena ini dapat menjadi pijakan untuk membangun
relasi yang lebih sehat antara generasi muda, uang, dan masa depan mereka.
.
Halaman Belakang Buku Agenda yang Tidak Pernah Terkirim
by: Ash Beige Baby,
Meskipun sejak awal aku tahu arah anginnya salah,
Tapi entah mengapa kakiku tetap melangkah ke sana.
Bukan karena nekat
hanya saja berhenti selalu terasa seperti memotong sebagian dari diriku sendiri;
pisau bermata dua yang tidak pernah benar-benar sengaja kupilih.
Aku sering mencoba menjauh,
tapi tak pernah bisa benar-benar pergi.
Lalu alam, dengan cara yang paling kejam,
menjatuhkan petir di tanah yang bahkan bukan milikku.
Tanah itu retak,
padahal aku hanya berdiri di pinggirnya
tak menyentuh,
tak mendorong apa pun,
namun getarnya tetap menembus sakit sampai ke tulang.
Rasanya seperti,
“Aku sudah mau berhenti kok… tapi semesta yang lebih dulu merampasnya.”
Perjalanan ini mungkin sudah saatnya sekian,
Sayangnya bukan karena aku tiba-tiba menjadi bijak
melainkan dunia yang merenggut kebahagiaannya
di depan mataku.
Sebuah kehilangan yang bahkan bukan punyaku,
tapi tamparannya sangat keras
cukup voltase untuk membuatku sadar dan memaksaku berani menyelesaikan sesuatu
yang selama ini tak pernah mampu untuk kusudahi sendiri
Aku tahu aku bukan penyebabnya.
Namun jejakku terlalu dekat,
dan isi kepala ini terlalu berisik dan menyiksa,
“Kalau aku tidak ada…
kalau aku tidak pernah sedekat itu…
kalau aku tidak berjalan di tepian…
apa tanah itu tetap utuh untuk menopangnya?”
Aku tahu aku bukan satu-satunya penjahat dalam cerita ini,
tapi aku tetap terseret ke dalam sesuatu yang terlalu besar,
terlalu kacau,
terlalu menyakitkan untuk bisa kujelaskan lewat tulisan.
Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menerima,
bahwa dunia memaksaku menyaksikan kehancuran
atas sesuatu
yang tidak pernah kusentuh,
yang tidak pernah kusengaja untuk merusak,
malah yang ingin aku jaga selamanya.
Namun tetap musnah di hadapanku.
Dan aku bahkan tak punya apa-apa
untuk membantu menutup kerugian sang pemilik.
Kehilangan itu memang bukan milikku,
tapi aku tetap terisolasi di sisinya
remuk dalam cara yang tak terlihat,
dalam keheningan, dalam pena, dan di halaman buku catatanku sendiri.
Sejak saat itu, penyesalan menggerogoti fajar dan tengah malamku.
Menerimanya bukan berarti aku lari,
bukan berarti aku kabur,
tapi karena ini waktunya mundur.
Satu-satunya cara yang bisa kupersembahkan
untuk menghentikan luka dan pendarahan
yang seharusnya tidak aku berikan kepadanya sejak awal.
Orang bilang, kalau kamu menyukai bunga, kamu memetiknya.
Tapi kalau kamu menyayangi bunga, kamu menanamnya.
Masalahnya, tanah itu sudah retak.
Dan tanahku berbeda, unsurnya tak sama,
tak bisa menghidupi bunga itu.
Pilihan yang tersisa hanya satu:
memberi ruang.
Membiarkan bunga itu pulih,
tumbuh kembali dengan kelopak yang lebih utuh.
Lahannya memang hilang,
tapi aku yakin Tuhan akan menggantinya dengan taman yang lebih baik
Untuk kamu
Jalani hidupmu yang berharga itu, ya?
Kamu pantas mendapatkan dunia
dan seluruh kebaikannya.
Lanjutkan apa yang sudah kamu bangun,
meski kali ini tanpa aku di dalamnya.
Jangan pernah berpikir
bahwa aku berhenti berjuang.
Justru ini perjuanganku yang paling nyata
pertarungan dengan ego besar ku yang ingin tetap memilikimu seutuhnya
perdebatan panjang dalam diriku sendiri
sampai akhirnya aku memilih
apa yang paling benar dan terbaik untukmu.
Satu hal yang perlu kamu tahu
aku menyayangimu sedalam itu.
Maka aku ikhlas melepaskanmu.
Dan rasa sakit ini
adalah harga yang harus kubayar.
Mungkin tidak akan pernah bisa sepadan
Tapi mohon untuk dapat kamu terima.
Doa tulus, tanpa keluhan, tanpa suara,
hanya hati yang sedang belajar rela.
Once again,
I love you that much
So I'm letting you go
Jatuh dalam gelap
Tak dapat
kupungkiri, aku terjatuh terlalu dalam
Mencoba menggapai, namun justru tenggelam
Mencoba berteriak, tetapi suaraku menghilang
Di
manakah duka?
Di manakah lara?
Ya… telah
kutelan, kulahap semuanya
Bukan karena kuat
Melainkan karena tak ada pilihan
Biarlah kursi kehidupan bekerja
Sementara aku belajar duduk tanpa berharap
Waktu
menetapkan pertemuan
Bukan untuk memiliki
Melainkan untuk memahami
Bahwa tak semua yang hadir
Ditakdirkan menetap
Dan pada
akhirnya
Aku berdamai dengan sunyi
Menyimpan kata
Tanpa perlu lagi lisan
Akulah sih perempuan
Ku coba
bertahan sambal memikul beban
Terasa berat
namu teguh dalam ajaran
Tak dapat
mengeluarkan ucapan
Berharap focus
sampai tujuan
Akulah sih
perempuan
Banyak hal
yang bikin heran
Meskipun lemah
kurasakan
Namun kucoba
untuk bertahan
Ku percaya
punya Tuhan punya rencana
Untuk aku
sebagai ciptaan-Nya
Kuusahakan walaupun
ntah bagaimana
Kuserahkan luka
ini kepada-Nya