Penutup Februari

 

Hari terakhir mulai menjelang,
Februari bersiap untuk pamit,
Membawa kenangan yang terbentang,
Di antara langit dan juga bukit.
 
Terima kasih atas segala rasa,
Atas hujan dan juga mentari,
Engkau telah memberi jeda,
Bagi kami untuk mengerti diri.
 
Esok Maret akan datang bertamu,
Membawa cerita yang berbeda lagi,
Namun jejakmu takkan menjamu,
Sebab tersimpan rapi di hati.
 
Selamat jalan bulan yang penuh kasih,
Sampai jumpa di tahun depan,
Hati ini kini telah bersih,
Siap menyambut masa depan.


Bekasi, 15 Maret 2026

Buku Catatan

 

Kubuka lembaran buku catatan,
Di pertengahan bulan Februari,
Banyak rencana yang tertuliskan,
Yang harus diwujudkan hari demi hari.
 
Ada target yang harus dicapai,
Ada janji yang harus ditepati,
Jangan biarkan waktu terbuai,
Oleh malas yang menghantui hati.
 
Tuliskan setiap perkembangan Kecil,
Sebab itu adalah sebuah kemenangan,
Jangan biarkan dirimu kerdil,
Di hadapan sebuah tantangan.
 
Februari adalah bulan pengingat,
Bahwa tahun masihlah muda,
Tetaplah kobarkan api semangat,
Hingga semua impian pun ada.


Bekasi, 15 Maret 2026


Pesan Singkat


Sebuah notifikasi di layar ponsel,
Muncul di tengah malam Februari,
Membuat rindu kembali membelenggu,
Dari seseorang yang sangat berarti.
 
Hanya kata "Apa kabar?" saja,
Namun maknanya merasuk kalbu,
Menghapus semua rasa hampa,
Dan mengusir sepi yang membelu.
 
Teknologi mendekatkan yang jauh,
Menghubungkan hati yang terpisah,
Meski raga terkadang jenuh,
Cinta takkan pernah menyerah.
 
Februari membawa kabar baik,
Lewat pesan yang tak terduga,
Membuat senyum kembali naik,
Dan hati kembali bertenaga.


Bekasi, 15 Maret 2026 

Langkah di Aspal Basah

 

 
Sepatu tua menyentuh aspal,
Yang masih basah sisa semalam,
Februari membawa bau yang kekal,
Aroma tanah yang mulai mendalam.

Lampu jalan mulai meredup,
Digantikan fajar yang kian nyata,
Semangat kembali untuk hidup,
Mengejar mimpi dan cita-cita.
 
Jangan berhenti di tengah jalan,
Meski kaki terasa sedikit berat,
Setiap usaha punya balasan,
Bagi jiwa yang selalu giat.
 
Bulan ini mungkin akan berakhir,
Namun langkah kita harus berlanjut,
Biarkan doa terus mengalir,
Hingga tujuan mulai menjemput.


Jakarta, 06 Maret 2026 

Sketsa Kehidupan

 

Garis-garis ditarik perlahan,
Di atas kanvas bulan Februari,
Membentuk gambar sebuah harapan,
Yang dicat dengan warna-warni.
 
Ada coretan tentang kesedihan,
Namun lebih banyak tentang tawa,
Sebuah proses pendewasaan,
Yang melibatkan raga dan jiwa.
 
Pelukisnya adalah waktu sendiri,
Dan kita adalah modelnya,
Februari memberi kita energi,
Untuk tampil apa adanya.
 
Jadilah karya seni yang indah,
Yang dikagumi karena ketulusan,
Meski dunia terkadang lelah,
Tetaplah jadi sumber kebaikan.


Jakarta, 6 Maret 2026 

Pohon Tanpa Daun

 

 
Pohon berdiri tanpa daun,
Menunggu musim berganti rupa,
Februari datang dengan santun,
Membisikkan janji yang tak lupa.
 
Meski terlihat kering dan mati,
Akar di bawah tetaplah kuat,
Menunggu saat untuk bersemi,
Membawa tunas yang penuh berkat.
 
Hidup terkadang terasa hampa,
Seperti dahan yang mulai rapuh,
Namun jangan pernah kau lupa,
Bahwa badai pasti akan teduh.
 
Februari adalah masa transisi,
Menuju musim yang lebih hijau,
Tetaplah berdiri dengan visi,
Hingga hatimu tak lagi risau


Jakarta, 06 Maret 2026 

Cahaya Rembulan

 

Rembulan bulat di atas sana,
Menerangi malam Februari,
Cahayanya lembut dan mempesona,
Menemani aku yang sendiri.

Bintang-bintang seakan berbisik,
Menceritakan dongeng masa lalu,
Tentang hati yang pernah teriris,
Namun kini sembuh membiru.
 
Malam ini terasa begitu tenang,
Hanya ada suara jangkrik bernyanyi,
Membawa pikiranku melayang,
Ke tempat yang paling sunyi.
 
Februari memberiku ruang,
Untuk berdamai dengan diri sendiri,
Sebelum waktu kembali luang,
Dan pagi kembali menari.


Bekasi, 01 Maret 2026

Cokelat dan Bunga

 

Sebuah kotak berpita merah,
Berisi manisnya rasa cokelat,
Februari membuat wajah cerah,
Menerima hadiah dengan lekat.
 
Bukan tentang harga bendanya,
Tapi tentang niat di dalamnya,
Bagaimana kasih menunjukkan rupa,
Melalui perhatian yang sederhana.
 
Setangkai mawar di atas meja,
Menemani makan malam yang syahdu,
Dunia seakan milik kita saja,
Tanpa ada rasa yang ragu.
 
Selamat merayakan hari kasih,
Di bulan yang penuh dengan warna,
Semoga hati tetaplah bersih,
Dan cinta selalu bertahta.


Bekasi, 01 Maret 2026

Di Balik Kabut

 

Kabut tebal menyelimuti desa,
Di pagi buta bulan Februari,
Dunia seakan kehilangan rasa,
Hanya dingin yang menusuk diri.
 
Namun di balik putihnya kabut,
Ada cahaya yang mulai tampak,
Harapan yang takkan pernah surut,
Meski jalanan terasa sesak.
 
Jangan takut untuk melangkah,
Meski pandangan sedikit terhalang,
Tuhan selalu memberi arah,
Bagi mereka yang mau berjuang.
 
 Februari akan segera terang,
Menghilangkan kabut yang menutupi,
Hingga kebahagiaan datang menjelang,
Dan mimpi pun menjadi pasti


Bekasi, 01 Maret 2026

Melodi Februari

 

Dawai gitar mulai dipetik,
Mengalun indah di udara,
Februari terasa begitu puitis,
Menciptakan lagu tanpa suara.

Nada-nadanya rendah dan lembut,
Menenangkan jiwa yang gelisah,
Menghilangkan rasa yang kalut,
Dan menghapus segala keluh kesah.
 
Dengarkanlah irama alam,
Suara angin dan rintik hujan,
Menemani tidurmu yang dalam,
Hingga fajar tiba di depan.
 
Bulan ini adalah sebuah lagu,
Yang dinyanyikan oleh semesta,
Mengajak kita untuk bersatu,
Dalam kasih dan juga cinta


Bekasi, 01 Maret 2026

Jendela Kamar

 

Dari balik jendela kamar ini,
Aku melihat dunia berputar,
Februari datang dan pergi,
Meninggalkan jejak yang berpijar.
 
Lampu kota mulai menyala,
Seperti bintang yang jatuh ke bumi,
Ada rasa syukur yang meraja,
Di dalam relung hati yang sunyi.
 
Kesunyian ini bukanlah duka,
Melainkan ruang untuk berpikir,
Tentang apa yang telah dibuka,
Dan apa yang harus segera berakhir.
 
Februari mengajarkan kesabaran,
Dalam waktu yang begitu singkat,
Bahwa setiap ada pertemuan,
Pasti ada perpisahan yang lekat


Jakarta, 23 Februari 2026

Kotak Surat Tua

 

Ada surat di dalam kotak,
Bertuliskan tanggal bulan ini,
Februari membuat jantung berdetak,
Membaca kata-kata yang murni.
 
Tinta hitam di atas kertas,
Menceritakan rindu yang dalam,
Perasaan yang tak lagi terbatas,
Menembus dinginnya malam.
 
Aku menulisnya dengan hati,
Berharap kau membacanya segera,
Bahwa janji yang aku beri,
Bukanlah sekadar sandiwara.
 
Biarkan surat ini menjadi saksi,
Tentang kesetiaan yang teruji,
Di bawah langit Februari,
Cinta kita kembali bersemi.


Jakarta, 23 Februari 2026

Hukum Kekal

by Ash Beige Baby

Tanpa dentuman sesuatu di dalam diriku berubah wujud
Seperti kapur barus yang dibiarkan terlalu lama
Dikira bisa bertahan lama di suhu yang tidak sama
Memang, sih awalnya tidak terasa seperti perubahan
masih saling sapa dan berbagi cerita sederhana, masih berjalan di rutinitas yang pernah terbentuk bersama

Tapi rasa
Kadang masih mencoba memahami maksud abstrak
masih suka memberi ruang pada ribu alasan yang kupaksa yakini masuk akal
Tidak sengaja katanya, bukan begitu maksudnya
Terlalu sering memaklumi hal yang sebenarnya menyakitkan itu bukannya terbiasa malah justru mati rasa
Dan ketika tiba saatnya, bukan mati dengan rintihan malah hilang diam-diam
Dibawa pergi kawanan harapan yang bilang suatu hari aku akan benar-benar dimengerti dan dihargai

Tapi aneh, yang berulang salah pahamnya beda waktu dan tempatnya
Bungkus yang robek tergeletak di ruang tamu sepuluh hari
di kamar tidur tiga hari
di lemari lima hari
di garasi dua hari
Dipikir seperti baru kemarin dibeli, tapi kok habis
Disalahkan kapurnya, padahal pelindungnya yang dibuka paksa

Dalam fisika, tidak ada zat yang benar-benar hilang
Yang ada hanya berubah bentuk; Membeku Menguap Menyublim
Tetap ada, tapi tidak lagi bisa digenggam dengan cara yang sama
Sepertinya, begitu juga aku
tidak marah dan tidak pergi, hanya saja tidak lagi berada dalam bentuk yang dulu
Kamu masih berbicara, aku masih menjawab
Tapi terasa ada jarak seperti ruang antara air dan uap yang dekat secara unsur, jauh secara sentuh
Bukan karena benci, mungkin hanya karena terlalu lama berada di suhu yang mengikis

Kamu tidak hilang dari hidupku, hanya tidak lagi berada di titik yang sama di hatiku
Seperti bakaran tembakau disamping kopi hitam panas pagi mu yang pernah memenuhi gelas
Atau aroma es krim vanilla dan karamel almond dari tubuh ku yang pernah menemani pulang
Kini menjadi uap dan asap
Mengudara seolah masih dalam siklus yang sama
Tapi bukan sesuatu yang bisa kamu nikmati lagi

Dan hukum kekekalan itu sederhana
yang terlalu lama dipanaskan tidak selalu terbakar
kadang hanya menghilang pelan ke semesta
Pergi dari ruang dengan suhu yang tidak lagi berusaha menahannya

Karena Batas yang sudah terlalu sering dilampaui tidak selalu mendatangkan amarah
Justru ketenangan untuk tidak lagi ingin bersama



Service Overdue

Dulu, di saat kamu kecelakaan

Kamu menerima luka yang sangat besar yang menjadikan itu pengalaman.

Dan itu semua terjadi dikarenakan kelalaian,

Tidak becus dalam merawat kendaraan,

Tidak memberikan kendaraan kamu perhatian,

Disaat dia membutuhkan perawatan,

Disaat dia membutuhkan perhatian,

Disaat dia menangis selama perjalanan,

Di saat dia sudah memberikan peringatan,

Tp kamu lebih memilih cuek, bahkan ignoran.

Padahal dia yang selama ini selalu menemani kamu setiap hari selama perjalanan.


Di awal, disaat kamu cinta sekali dengan kendaraan ini.

Disaat kamu belum memiliki,

Kamu akan berjuang setengah mati

Setelah kamu memiliki,

Kamu akan merawatnya sepenuh hati

Ya, tp itu hanya diawal saja,

Selebihnya selama tidak terjadi apa2,

Kamu akan menganggap itu hal biasa.


Dan untuk luka yang telah diberikan,

Kamu jadikan itu pengalaman

Yang memberikan pelajaran

Membuat kamu menjadi lebih baik kedepan

Tetapi.. luka yang diberikan

Terlalu besar dan melekat dibadan,

Membuat kamu tidak akan pernah lupa disaat kejadian.

Rasa sakitnya masih teringat jelas diingatan,

Walaupun sudah berbulan bulan.


Dan untuk kendaraannya,

Aku masih mencintainya,

Sama seperti disaat kita bertemu pertama,

Aku mulai merawatnya,

Memberikan perhatian lebih kepadanya,

Mengganti olinya,

Memberikan service rutin kepadanya,

Bahkan disaat dia blm meminta,


Pengalaman yang diberikan

Tidak hanya memberikan luka,

Tapi juga menyadarkan semuanya,

Bahwa aku sangat mencintainya,

Dan aku berharap dia akan selalu menemaniku sampai tua.


Oleh Varekh

ditemani kopi family mart

Puisi untuk Sang Pagi

 

Mentari muncul dengan malu-malu,
Di balik awan Februari yang tebal,
Membasuh dingin yang membelenggu,
Menjadi cahaya yang kekal.

Embun berkilau di atas daun,
Seperti permata yang jatuh dari langit,
Alam semesta mulai berpantun,
Membangunkan jiwa yang sedikit sulit.
 
Bangunlah wahai para pemimpi,
Dunia menunggu karyamu hari ini,
Jangan biarkan semangatmu mati,
Di bulan yang penuh harmoni.
 
Februari adalah kesempatan kedua,
Untuk memperbaiki yang telah retak,
Menjadi pribadi yang lebih dewasa,
Dan melangkah dengan lebih bijak


Jakarta, 18 Februari 2026

Jejak di Pasir Pantai

 

Langkah kaki di atas pasir,
Februari membawa angin laut,
Debur ombak yang terus mengalir,
Menghapus jejak yang tertaut.
 
Kita berjalan beriringan,
Menatap cakrawala yang luas,
Meninggalkan semua beban,
Merasa bebas dan bernapas.
 
Garam terasa di ujung bibir,
Mentari membakar kulit kita,
Biarkan kebahagiaan ini membanjir,
Di bulan yang penuh dengan cinta.
 
Simpan kenangan ini di dalam hati,
Sebagai bekal di hari esok,
Sebab Februari takkan berhenti,
Memberi kejutan yang elok


Jakarta, 18 Februari 2026

Glass and Wind

by Ash Beige Baby

(This thought has been haunting me these days
But It's okay now, Thanks to my friend too.)

Somewhere out there, I sense a soft smirk, a careless posture
The kind that finds pain entertaining, as long as
it belongs to someone else.
I receive the signal. They thought cracks meant collapse.
Never have they ever asked what pressure does to stone?
Nature never shapes gently. Even mountains are not born, they are forced.
I believe every hard path my body walks now recently
is not punishment. It is calibration.
And I am not sorry that I am not breaking.
I'll probably just let the wind laugh,
right before it turns sand into glass.

I remember when I was nineteen.
Back then, a cowardly crowd, loud, small, trash senior envious
kept shouting my sister’s name through school hallways
for one unforgivable crime: being visible, being pretty, being admired.
Then the awful came not long after, a severe car crash.
Bones fractured, weeks in intensive care
A body of little 15 years old girl forced to relearn stillness.

When she returned to school, still dealing with her ownself
they shouted again.
This time claiming the accident was God's divine punishment.
I could not bear it, their act and words might think were not harmless,
only worse eroded her safety and dragged her mental ground.
So I staged up to what people called an Open Challenge
Public. Deliberate. Unignorable.
I humiliated them where silence and power
over their coward shitty mouth had protected them for too long.
I even was summoned to the headmaster’s office. HAHA
They sought backup from seniors in my batch too
But none came. I was relentless.
And I was a brilliant student, too. Thanks my brain.
a combination they couldn’t dismantle.
The result?
A public apology, a formal retraction of slander to my sister's name.
And then I never heard from them again. poof bye 

If you believe in the butterfly effect,
That day was my diploma celebration.
My Sister was proud and radiant, but couldn’t attend.
So at dawn, she went to a florist. We took a brief cute sister photoshoot.
Wrapped in happiness, careless with time.
Perhaps her subconscious rushed the road. Perhaps joy blurred caution.
And the crash followed. It wasn't God's Divine Punishment
It was a lesson, to be careful, to be disciplined,
to build a mind strong enough body and soul
for the world she was entering.
Now look at her. A successful young woman.
Great alma mater in her hands. Materially secure. Highly skilled.
A fierce project manager in a major influencer agency.
Even running her own high-rated makeup business.
She is ready.

Then what happened to the wind?
It lost its innocence.
It even  became the reason sand turned into glass.
The wind is not punished, but not celebrated either.
It becomes irrelevant.

The glass remains
beautiful, sharp, permanent,
consuming oxygen with its presence.

And the wind?
Just air that keeps moving,
carrying pollution,
forgotten.

Secangkir Kopi dan Rindu

 

Uap kopi mengepul di udara,
Menemani pagi yang sedikit dingin,
Februari membawa sejuta suara,
Tentang kenangan yang aku ingin.
 
Pahit dan manis bercampur satu,
Seperti perjalanan hidup kita,
Terkadang terjebak dalam waktu,
Terkadang terbang tinggi ke angkasa.
 
Di luar sana hujan mulai turun,
Membasahi kaca jendela,
Aku duduk diam berayun-ayun,
Mengingat senyummu yang bermakna.
 
Februari adalah saksi bisu,
Tentang rasa yang tak pernah pudar,
Meski musim berganti melulu,
Cintaku padamu tetaplah segar.


Jakarta, 12 Februari 2026 

Senja Februari

 

Langit jingga di ufuk barat,
Menandai sore yang tenang,
Februari membawa pesan tersirat,
Tentang pulang dan kasih sayang.

Burung-burung kembali ke sarang,
Meninggalkan jejak di angkasa,
Hatiku kini merasa lapang,
Menikmati damai yang terasa.
 
Bayang-bayang mulai memanjang,
Menyentuh bumi yang mulai lelap,
Rindu ini tak lagi meradang,
Sebab kau hadir dalam dekap.
 
Selamat malam bulan yang pendek,
Esok pagi kita jumpa lagi,
Membawa mimpi yang takkan retak,
Di bawah cahaya mentari pagi

Jakarta, 12 Februari 2026 

Bunga Mekar di Februari

 

Kuncup bunga mulai merekah,
Menyambut mentari Februari,
Warna-warni mulai terlihat cerah,
Menghiasi taman sanubari.
 
Harum semerbak terbawa angin,
Menyentuh pipi dengan lembut,
Mengusir rasa dingin yang makin,
Mencairkan beku yang menyelimut.
 
Keindahan ini adalah anugerah,
Bagi mereka yang sabar menanti,
Meski jalan terkadang lelah,
Pasti ada bunga yang menanti.
 
Jangan biarkan layu sebelum waktunya,
Sirami dengan kasih dan sayang,
Sebab Februari dan pesonanya,
Adalah awal dari hidup yang terang.


Jakarta, 09 Februari 2026