Langsung ke konten utama

Lelaki Ini dan Perempuan Itu dan Pengikut ke-111

Lelaki Ini percaya, sebuah hubungan tidak seharusnya menggunakan konsep perkalian nol. Dalam konsep perkalian nol, seberapa besar bilangan di satu sisi akan tetap menghasilkan angka nol jika sisi sebelahnya nol. Dalam konteks sebuah hubungan, usaha yang hanya dilakukan sepihak tidak akan menghasilkan apa-apa jika pihak lain tidak melakukan apa-apa. Nol. 

Sebagai mantan juara olimpiade matematika, Perempuan Itu sangat memahami konsep perkalian ini. Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Namun, ketika Lelaki Ini membawa konsep perkalian nol ke hubungan mereka, Perempuan Itu merasa dihakimi. Dia tidak sudi menjadi bilangan nol. "Apa kamu tidak pernah merasakan upaya ku?" desak Perempuan Itu. Lelaki Ini tersenyum. Narasi yang sudah sangat akrab di telinganya. Perempuan Itu, seperti biasa, tidak pernah peduli hal-hal kecil. Gak penting. Sementara, Lelaki Ini memahami cinta sebagai pengorbanan waktu dan perhatian. Apakah bisa kita mencintai seseorang tapi tidak mau berkorban waktu dan memberi perhatian untuk orang itu?.

Perempuan Itu kesal. Seperti biasa. Meradang. Lelaki Ini putus asa. Dia bukan penyabar. Menjelaskan hal yang sama berulang-ulang sungguh melelahkan. Dia bosan dengan janji manis. Kata iya tanpa aksi nyata. Lelaki Ini bertanya, "Seberapa penting aku dalam hidupmu?". Ketika aku adalah hal yang sangat penting dalam hidupmu, apakah layak aku minta waktu dan perhatianmu?. Iya hanya pemanis kata. Tak lama hilang tanpa rasa bersalah.

"Aku akan pergi", tegas Lelaki Ini. Seolah tanpa rasa, meski hatinya luka. Dalam. Hancur tanpa rupa. Dia harus memilih. Tidak ada alasan untuk bertahan ketika kepercayaannya disia-siakan. Pengikut ke-111 telah membuktikannya. Lelaki Ini tidak sepenting itu. Tidak lebih berharga dari yang datang kemudian. Perempuan Itu hanya tersenyum. Tanpa rasa bersalah, pun penyesalan.

Lelaki Ini pergi. Bukan karena ingin, tapi karena kehadirannya sudah tidak diinginkan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....