Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pendek Jessica. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pendek Jessica. Tampilkan semua postingan

Menjadi Orang Baik

 

Setiap hari Rabu, Anna selalu memeriksakan kesehatannya. Ia memiliki masalah pada lambung yang mengharuskannya menjalani kontrol rutin setiap minggu serta mengonsumsi tiga jenis obat lambung untuk meredakan nyeri. Anna adalah anak yang mudah bingung dan sering linglung saat berada di luar rumah karena sehari-hari ia terbiasa berada di rumah sendirian. Ia juga kerap berprasangka buruk terhadap orang lain yang berbuat baik kepadanya. Anna tidak percaya bahwa ada orang yang tulus selain keluarganya, yaitu orang-orang yang ia kasihi. Menurutnya, jika seseorang bersikap baik, pasti ada imbalan yang diharapkan dari kebaikan tersebut.

Pagi itu, seperti biasa, Anna bersiap untuk melakukan kontrol rutin ke dokter. Ia sangat menyukai dokter yang menanganinya. Anna merasa dokter tersebut tulus membantunya, meskipun dalam pikirannya ia tetap menyadari bahwa pelayanan itu diberikan karena dibayar.

Setelah mempersiapkan diri, Anna berangkat ke rumah sakit dan tidak lupa sarapan terlebih dahulu. Sebelum berangkat, ia sempat menyelesaikan beberapa pekerjaan kantornya. Biasanya, Anna diantar oleh suaminya untuk berobat, namun hari itu berbeda karena ia harus berangkat sendiri.

Anna pergi menggunakan becak. Tukang becak yang ia temui sangat ramah dan hanya meminta bayaran sebesar Rp15.000,00. Setelah Anna turun, tukang becak tersebut mengucapkan sepatah kata, “Hati-hati ya, Neng.” Hal itu jarang ia temui. Anna kemudian segera masuk ke dalam rumah sakit dan, seperti biasa, mengantre untuk menuju poli tujuan. Sesampainya di poli tersebut, ia terlebih dahulu memeriksa tensi dan berat badannya.

Ia pun menunggu dengan tertib sesuai nomor antrean yang akan dipanggil. Di ruangan tersebut terdapat banyak pasien dengan berbagai keluhan; ada yang kejang-kejang, ada yang muntah, dan ada pula yang mengeluh kesakitan. Anna merasa sangat ketakutan, namun ia tetap bertahan menunggu gilirannya untuk dipanggil oleh dokter.

Saat menunggu antrean, Anna tertidur. Ia kemudian dibangunkan oleh beberapa pasien lain yang juga sedang berobat di poli tersebut.
“Mbak, sebentar lagi giliran Mbak,” ujar salah seorang dari mereka.

Anna pun terbangun dan segera bersiap menunggu namanya dipanggil. Ia menyadari bahwa ternyata masih ada orang baik yang mau membangunkannya dari tidur. Tak lama kemudian, namanya pun dipanggil.

Anna segera masuk ke ruang dokter dan bertemu dengan dokter yang menanganinya. Dokter tersebut tampak sangat sibuk, namun tetap melayani Anna dengan ramah dan penuh perhatian. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter meresepkan obat untuk dikonsumsi Anna selama satu minggu ke depan.

Setelah keluar dari ruang dokter, Anna menuju apotek untuk mengambil obat. Ia mendapatkan nomor antrean 65, sementara saat itu antrean masih berada pada nomor 41. Anna pun kembali menunggu.

Tidak lama kemudian, seorang perawat menyapanya, “Mbak, nomor antreannya berapa?”
“Nomor antrean 65, Bu,” jawab Anna.

Perawat tersebut kemudian memeriksa surat rujukan milik Anna, mengambil nomor antreannya, lalu masuk ke ruang apotek. Beberapa saat kemudian, perawat itu kembali dan menyerahkan obat yang diresepkan dokter kepada Anna.

Anna terkejut dan segera mengucapkan terima kasih kepada perawat tersebut, bahkan mencium tangannya. Ia tidak tahu hal apa yang membuatnya bisa mendapatkan bantuan dari orang baik seperti perawat itu. Banyak hal yang terjadi saat itu dan anna bersyukur karena masih ada orang baik yang mau membantunya dan menyapanya. Sesampainya di tempat kerja, Anna juga disambut dengan hangat oleh rekan-rekan kerjanya yang menanyakan kondisi kesehatannya. Saat itu, Anna menyadari bahwa selama ini ia keliru karena selalu berprasangka buruk terhadap semua orang dan takut untuk bersosialisasi, padahal belum tentu semua orang memiliki niat yang jahat.

Jadilah orang baik, karena percayalah bahwa jika kita menanamkan kebaikan, maka kita akan memperoleh kebaikan pula. Prinsip ini berlaku dalam kehidupan bersosial. Seperti seorang petani yang menanam benih, jika ia menanam biji yang baik dan merawatnya dengan sungguh-sungguh, maka ia akan memperoleh hasil panen yang melimpah. Begitu pula dengan kebaikan; jika kita menanam kebaikan, cepat atau lambat kita akan menuai hasilnya, baik di dunia maupun di akhirat. Anna juga mengoreksi dirinya untuk tidak berpikiran buruk kepada orang lain melainkan harus selalu berbuat baik karena berbuat baik tidak akan sia-sia. ebaikan yang kita tanam akan kembali kepada kita, meskipun terkadang tidak langsung terlihat hasilnya. Orang yang sering menolong sesama akan mendapatkan pertolongan ketika ia membutuhkannya. Orang yang senantiasa berbagi kebahagiaan akan merasakan ketenangan dalam hatinya. Hal ini bukan sekadar filosofi hidup, tetapi sudah terbukti dalam berbagai aspek kehidupan. Alangkah baiknya jika dunia penuh dengan kebaikan, setiap manusia akan merasa aman dan bahagia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Curiga

 

Waktu itu siang hari terasa sangat terik. Cuaca panas dan gerah menyelimuti Kota Bebatu. Kota tersebut terkenal sunyi karena letaknya di pinggir provinsi, dikelilingi gunung dan lembah, namun tetap terasa panas karena berdekatan dengan pantai. Daerah tempat aku tinggal pun sangat sepi. Hanya ada aku dan beberapa tetangga di kompleks itu, yang keseluruhannya hanya dihuni oleh delapan keluarga.

Seperti biasa, aku dan suami sedang menyantap makan siang. Tiba-tiba kami mendengar suara tetangga kami, Kak Elly, berteriak, “Woyyy… ngapain kau di situ?” Mendengar teriakan itu, kami spontan beranjak dari meja makan dan berlari keluar rumah. Aku pun meminta izin untuk masuk ke rumah Kak Elly.

“Ada apa, Kak?” tanyaku kepada tetanggaku yang tampak sangat ketakutan itu.

“Ada yang mengendap-endap, Lis, di lingkungan kompleks kita. Ada yang berusaha masuk ke rumah ini, Lis…,” jawabnya dengan suara gemetar.

“Tenang, Kak. Biar kami cek dulu ya, Kak,” jawabku.

Aku dan suami segera memeriksa area sekitar, namun tidak menemukan satu pun orang yang menyelinap di kompleks kecil kami. Kami pun kembali dan berkata, “Tidak ada, Kak. Tidak ada orang di sini.” Meski begitu, kami tetap waspada karena khawatir orang yang mengendap-endap tersebut adalah pencuri.

Tak lama kemudian, suami Kak Elly datang dan menanyakan keadaannya. Kak Elly yang masih syok pun menceritakan semuanya kepada Bang Andi, suaminya. Bang Andi juga terkejut dan berusaha mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang, salah satunya dengan memasang CCTV di berbagai sudut rumah.

Aku dan suami pun ikut mawas diri karena kami juga merasa syok. Bisa jadi orang yang mengendap atau menyelinap masuk itu adalah pencuri yang berniat mengambil barang-barang di rumah kami.

 

Keesokan harinya, aku dan suami pergi ke toko elektronik untuk membeli beberapa CCTV yang akan kami pasang di rumah. Kami curiga terhadap orang yang berusaha mengendap-endap masuk ke rumah Kak Elly dan khawatir ia juga akan mencoba mencuri barang di rumah kami. Setelah sampai di rumah, kami memasang CCTV di beberapa sudut yang kemungkinan tidak diketahui orang lain.

 

Sore harinya, aku mengajak anakku yang masih bayi berusia tujuh bulan berjalan-jalan di sekitar kompleks. Tak lama kemudian, terdengar suara berisik lagi di sekitar rumah Kak Elly. Aku berusaha mengecek dan melihat ada tiga pemuda yang datang secara diam-diam membuka gerbang rumah Kak Elly dan memeriksa bagian samping rumahnya. Ternyata di sana terdapat barang elektronik berupa genset yang tentu saja dapat dijual jika mereka berhasil mencurinya.

 

Aku pun berteriak, “Tolong… tolong… ada pencuri!” Ketiga pemuda itu langsung lari ketakutan dan berhasil kabur. Namun sangat disayangkan, tidak satu orang pun menanggapi teriakanku meminta tolong. Kak Elly dan Bang Andi yang saat itu tidak berada di rumah segera kuhubungi dan kuceritakan semua kejadian yang terjadi di sekitar rumah mereka. Mereka pun terkejut mendengarnya.

Akhirnya, kami sepakat untuk saling menjaga rumah satu sama lain sebagai tetangga. Jika aku berada di rumah, aku ikut menjaga rumah Kak Elly, dan jika Kak Elly berada di rumah, ia ikut menjaga rumah kami. Kak elly memindahkan lokasi genset ke tempat yang lebih aman, dan aku berusaha menutup gerbang komplek jika malam sudah, Begitulah cara kami saling menjaga satu sama lain di kota perantauan ini, dengan kewaspadaan, kepedulian, dan rasa kebersamaan sebagai tetangga yang sama-sama ingin merasa aman dan terlindungi.