Curiga

 

Waktu itu siang hari terasa sangat terik. Cuaca panas dan gerah menyelimuti Kota Bebatu. Kota tersebut terkenal sunyi karena letaknya di pinggir provinsi, dikelilingi gunung dan lembah, namun tetap terasa panas karena berdekatan dengan pantai. Daerah tempat aku tinggal pun sangat sepi. Hanya ada aku dan beberapa tetangga di kompleks itu, yang keseluruhannya hanya dihuni oleh delapan keluarga.

Seperti biasa, aku dan suami sedang menyantap makan siang. Tiba-tiba kami mendengar suara tetangga kami, Kak Elly, berteriak, “Woyyy… ngapain kau di situ?” Mendengar teriakan itu, kami spontan beranjak dari meja makan dan berlari keluar rumah. Aku pun meminta izin untuk masuk ke rumah Kak Elly.

“Ada apa, Kak?” tanyaku kepada tetanggaku yang tampak sangat ketakutan itu.

“Ada yang mengendap-endap, Lis, di lingkungan kompleks kita. Ada yang berusaha masuk ke rumah ini, Lis…,” jawabnya dengan suara gemetar.

“Tenang, Kak. Biar kami cek dulu ya, Kak,” jawabku.

Aku dan suami segera memeriksa area sekitar, namun tidak menemukan satu pun orang yang menyelinap di kompleks kecil kami. Kami pun kembali dan berkata, “Tidak ada, Kak. Tidak ada orang di sini.” Meski begitu, kami tetap waspada karena khawatir orang yang mengendap-endap tersebut adalah pencuri.

Tak lama kemudian, suami Kak Elly datang dan menanyakan keadaannya. Kak Elly yang masih syok pun menceritakan semuanya kepada Bang Andi, suaminya. Bang Andi juga terkejut dan berusaha mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang, salah satunya dengan memasang CCTV di berbagai sudut rumah.

Aku dan suami pun ikut mawas diri karena kami juga merasa syok. Bisa jadi orang yang mengendap atau menyelinap masuk itu adalah pencuri yang berniat mengambil barang-barang di rumah kami.

 

Keesokan harinya, aku dan suami pergi ke toko elektronik untuk membeli beberapa CCTV yang akan kami pasang di rumah. Kami curiga terhadap orang yang berusaha mengendap-endap masuk ke rumah Kak Elly dan khawatir ia juga akan mencoba mencuri barang di rumah kami. Setelah sampai di rumah, kami memasang CCTV di beberapa sudut yang kemungkinan tidak diketahui orang lain.

 

Sore harinya, aku mengajak anakku yang masih bayi berusia tujuh bulan berjalan-jalan di sekitar kompleks. Tak lama kemudian, terdengar suara berisik lagi di sekitar rumah Kak Elly. Aku berusaha mengecek dan melihat ada tiga pemuda yang datang secara diam-diam membuka gerbang rumah Kak Elly dan memeriksa bagian samping rumahnya. Ternyata di sana terdapat barang elektronik berupa genset yang tentu saja dapat dijual jika mereka berhasil mencurinya.

 

Aku pun berteriak, “Tolong… tolong… ada pencuri!” Ketiga pemuda itu langsung lari ketakutan dan berhasil kabur. Namun sangat disayangkan, tidak satu orang pun menanggapi teriakanku meminta tolong. Kak Elly dan Bang Andi yang saat itu tidak berada di rumah segera kuhubungi dan kuceritakan semua kejadian yang terjadi di sekitar rumah mereka. Mereka pun terkejut mendengarnya.

Akhirnya, kami sepakat untuk saling menjaga rumah satu sama lain sebagai tetangga. Jika aku berada di rumah, aku ikut menjaga rumah Kak Elly, dan jika Kak Elly berada di rumah, ia ikut menjaga rumah kami. Kak elly memindahkan lokasi genset ke tempat yang lebih aman, dan aku berusaha menutup gerbang komplek jika malam sudah, Begitulah cara kami saling menjaga satu sama lain di kota perantauan ini, dengan kewaspadaan, kepedulian, dan rasa kebersamaan sebagai tetangga yang sama-sama ingin merasa aman dan terlindungi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar