Bingkai Cakrawala


Di balik kaca yang bening membeku,

Ada dunia yang luas menunggu,

Menyuguhkan jingga di penghujung waktu,

Menghapus sepi yang kian membelenggu.

 

Tatkala rintik mulai menyapa,

Jendela menjadi saksi yang setia,

Merekam jejak hujan di paras kota,

Dalam bisu ia bicara tanpa kata.

 

Ia adalah mata bagi sebuah rumah,

Tempat cahaya masuk dengan ramah,

Mengusir gelap yang sempat menjamah,

Memberi harapan di hati yang lelah.

 

Meski terkunci rapat oleh kayu,

Ia tawarkan mimpi yang takkan layu,

Memandang jauh melampaui rindu,

Menyentuh langit yang biru syahdu.

 

Jakarta, 5 Januari 2026

Kereta Malam

Rel besi bergetar di bawah roda,

Membawa penumpang melintasi gelap,

Menuju stasiun yang masih terlelap.

 

Di balik jendela, bayangan berlalu,

Hutan, sawah, dan rumah-rumah desa,

Semua nampak serupa dalam satu masa.


Malam adalah perjalanan panjang,

Menuju tempat yang disebut rumah,

Di mana rindu akan bermuara dengan indah.


Jakarta, 5 Desember 2026

Penulis Malam

Pena menari di atas kertas putih,

Menggoreskan tinta tentang rasa,

Yang tak sanggup diucap oleh suara.

 

Malam adalah sumber inspirasi,

Saat logika mulai sedikit melonggar,

Dan imajinasi mulai mekar melebar.

 

Setiap kata adalah detak jantung,

Yang tertuang dalam bait-bait sepi,

Menjadi abadi dalam lembar mimpi.


Jakarta, 05 Januari 2026 

Karet Gelang Sang Adik – Bagian Keempat (Terakhir)

Sepuluh Tahun Kemudian...

Di salah satu sudut premium Jakarta, sebuah restoran keluarga yang hangat dan modern sedang merayakan hari jadinya yang kelima. Restoran itu bernama "Garis Merapi". Nama itu diambil untuk menghormati asal-usul dan sejarah hidup pemiliknya.

Di dalam kantornya yang nyaman, seorang pria muda berpakaian rapi sedang memeriksa laporan keuangan. Ia adalah Kari. Berkat bimbingan Bu Arini dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Kari berhasil menyelesaikan pendidikannya di bidang manajemen perhotelan sambil bekerja paruh waktu. Bu Arini, yang kini ia anggap sebagai ibu angkat, memberikan modal awal baginya untuk membangun usaha ini.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang gadis muda dengan wajah berseri-seri masuk membawa sebuah map desain.

"Kak, lihat! Rancangan untuk cabang kedua kita di Yogyakarta sudah selesai," seru Kara dengan penuh semangat.

Kara kini telah tumbuh menjadi seorang arsitek muda yang berbakat. Ia yang dulu hanya mencoret-coret di pojok kedai Bu Arini, kini benar-benar mewujudkan impiannya membangun ruang-ruang indah. Meski ia berjalan dengan sedikit bekas luka di kakinya—sebuah pengingat dari masa lalu—langkahnya kini sangat mantap.

"Bagus sekali, Kara. Ibu Arini pasti bangga melihat ini," jawab Kari sambil tersenyum bangga.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Di pergelangan tangan Kara, tersembunyi di balik jam tangan mewahnya, masih melingkar sebuah karet gelang yang sudah mulai mengeras dan memudar warnanya. Karet itu tidak pernah ia lepaskan.

"Kak, ingat hari itu? Saat aku menangis karena ingin makan enak tanpa takut basi?" tanya Kara sambil menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.

Kari berdiri dan menghampiri adiknya. "Bagaimana mungkin aku lupa? Itu adalah hari yang membuat kita belajar bahwa tidak ada doa yang tidak didengar."

Malam itu, restoran "Garis Merapi" tidak hanya melayani pelanggan kaya yang turun dari mobil-mobil mewah. Di bagian belakang restoran, Kari dan Kara memiliki program khusus bernama "Meja Berbagi". Setiap hari, mereka menyediakan puluhan porsi makanan bergizi secara gratis untuk anak-anak jalanan dan pemulung di sekitar sana.

Kari melihat seorang anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan bersama kakaknya, mirip sekali dengan kondisi mereka sepuluh tahun lalu. Kari menghampiri mereka, memberikan dua kotak nasi hangat, dan membisikkan sesuatu yang dulu selalu ia katakan pada Kara:

"Jangan menyerah ya. Hari ini mungkin sulit, tapi hari esok adalah milik mereka yang berani melangkah."

Kari dan Kara telah berhasil mengubah air mata menjadi kekuatan. Mereka membuktikan bahwa kemiskinan mungkin bisa merenggut banyak hal, tapi tidak bisa merenggut kasih sayang dan harapan. Mereka bukan lagi anak-anak yang menatap restoran dari kejauhan; mereka adalah cahaya yang kini menerangi jalan bagi orang lain


Perayaan Hal-Hal Kecil

Terima kasih untuk segelas teh yang menenangkan pagi,

untuk sapaan kawan yang datang saat aku hampir mati suri.

Aku bersyukur untuk pintu yang tertutup rapat,

karena ia melindungiku dari jalan yang salah dan sesat.

 

Syukurku bukan hanya untuk kemenangan yang benderang,

tapi juga untuk luka yang kini mulai tenang dan jarang.

Terima kasih, diriku, sudah mau terus mencoba,

meski dunia berkali-kali memintamu untuk menyerah saja.


Jakarta, 30 Desember 2025

Akar yang Tak Terlihat

 

Tahun ini bukan tentang seberapa tinggi aku mendaki,

tapi tentang seberapa kuat aku berdiri saat bumi berguncang sepi.

Ada hari-hari di mana napas terasa seperti beban,

dan malam-malam panjang yang penuh dengan keraguan.

 

Namun lihatlah, aku masih di sini.

Menjahit kembali harapan yang sempat robek berkali-kali.

Ternyata aku lebih tangguh dari yang kukira,

lebih berani dari rasa takut yang sempat bertahta.

Aku adalah pemenang atas badai yang kupukul mundur sendiri.


Jakarta, 31 Desember 2025

Syukur Dalam Gelap

 


Terima kasih untuk hari yang telah usai,
Yang membuat hidup penuh dengan warna.
Untuk setiap tawa dan air mata,
 
Kini saatnya merebahkan kepala,
Menyerahkan sisa hari pada Sang Pencipta,
Dalam doa yang tulus tanpa ada dusta.
 
Malam ini aku tidur dengan tenang,
Yakin bahwa esok adalah berkah baru,
Yang menungguku di balik tirai biru.


Jakarta, 30 Desember 2025

Akhir Sebuah Malam


Langit hitam mulai berubah kelabu,
Bintang bintang satu per satu menghilang,
Tanda bahwa cahaya akan segera datang.
 
Embun pagi mulai membasahi daun,
Membawa kesegaran yang baru lahir,
Saat masa kekuasaan malam berakhir.
 
Selamat tinggal pada sunyi yang damai,
Sampai kita bertemu di senja nanti,
Saat dunia kembali ingin menepi. 


Jakarta, 30 Desember 2025