Hukum Kekal
Service Overdue
Dulu, di saat kamu kecelakaan
Kamu menerima luka yang sangat besar yang menjadikan itu pengalaman.
Dan itu semua terjadi dikarenakan kelalaian,
Tidak becus dalam merawat kendaraan,
Tidak memberikan kendaraan kamu perhatian,
Disaat dia membutuhkan perawatan,
Disaat dia membutuhkan perhatian,
Disaat dia menangis selama perjalanan,
Di saat dia sudah memberikan peringatan,
Tp kamu lebih memilih cuek, bahkan ignoran.
Padahal dia yang selama ini selalu menemani kamu setiap hari selama perjalanan.
Di awal, disaat kamu cinta sekali dengan kendaraan ini.
Disaat kamu belum memiliki,
Kamu akan berjuang setengah mati
Setelah kamu memiliki,
Kamu akan merawatnya sepenuh hati
Ya, tp itu hanya diawal saja,
Selebihnya selama tidak terjadi apa2,
Kamu akan menganggap itu hal biasa.
Dan untuk luka yang telah diberikan,
Kamu jadikan itu pengalaman
Yang memberikan pelajaran
Membuat kamu menjadi lebih baik kedepan
Tetapi.. luka yang diberikan
Terlalu besar dan melekat dibadan,
Membuat kamu tidak akan pernah lupa disaat kejadian.
Rasa sakitnya masih teringat jelas diingatan,
Walaupun sudah berbulan bulan.
Dan untuk kendaraannya,
Aku masih mencintainya,
Sama seperti disaat kita bertemu pertama,
Aku mulai merawatnya,
Memberikan perhatian lebih kepadanya,
Mengganti olinya,
Memberikan service rutin kepadanya,
Bahkan disaat dia blm meminta,
Pengalaman yang diberikan
Tidak hanya memberikan luka,
Tapi juga menyadarkan semuanya,
Bahwa aku sangat mencintainya,
Dan aku berharap dia akan selalu menemaniku sampai tua.
Oleh Varekh
Puisi untuk Sang Pagi
Di balik awan Februari yang tebal,
Membasuh dingin yang membelenggu,
Menjadi cahaya yang kekal.
Embun berkilau di atas daun,
Seperti permata yang jatuh dari langit,
Alam semesta mulai berpantun,
Membangunkan jiwa yang sedikit sulit.
Bangunlah wahai para pemimpi,
Dunia menunggu karyamu hari ini,
Jangan biarkan semangatmu mati,
Di bulan yang penuh harmoni.
Februari adalah kesempatan kedua,
Untuk memperbaiki yang telah retak,
Menjadi pribadi yang lebih dewasa,
Dan melangkah dengan lebih bijak
Jejak di Pasir Pantai
Februari membawa angin laut,
Debur ombak yang terus mengalir,
Menghapus jejak yang tertaut.
Kita berjalan beriringan,
Menatap cakrawala yang luas,
Meninggalkan semua beban,
Merasa bebas dan bernapas.
Garam terasa di ujung bibir,
Mentari membakar kulit kita,
Biarkan kebahagiaan ini membanjir,
Di bulan yang penuh dengan cinta.
Simpan kenangan ini di dalam hati,
Sebagai bekal di hari esok,
Sebab Februari takkan berhenti,
Memberi kejutan yang elok
Glass and Wind
But It's okay now, Thanks to my friend too.)
Somewhere out there, I sense a soft smirk, a careless posture
The kind that finds pain entertaining, as long as
I receive the signal. They thought cracks meant collapse.
I believe every hard path my body walks now recently
And I am not sorry that I am not breaking.
I'll probably just let the wind laugh,
right before it turns sand into glass.
I remember when I was nineteen.
kept shouting my sister’s name through school hallways
for one unforgivable crime: being visible, being pretty, being admired.
Then the awful came not long after, a severe car crash.
Bones fractured, weeks in intensive care
This time claiming the accident was God's divine punishment.
I could not bear it, their act and words might think were not harmless,
So I staged up to what people called an Open Challenge
Public. Deliberate. Unignorable.
I humiliated them where silence and power
I even was summoned to the headmaster’s office. HAHA
They sought backup from seniors in my batch too
But none came. I was relentless.
And I was a brilliant student, too. Thanks my brain.
a combination they couldn’t dismantle.
A public apology, a formal retraction of slander to my sister's name.
And then I never heard from them again. poof bye
If you believe in the butterfly effect,
That day was my diploma celebration.
My Sister was proud and radiant, but couldn’t attend.
So at dawn, she went to a florist. We took a brief cute sister photoshoot.
Perhaps her subconscious rushed the road. Perhaps joy blurred caution.
And the crash followed. It wasn't God's Divine Punishment
It was a lesson, to be careful, to be disciplined,
for the world she was entering.
It lost its innocence.
It even became the reason sand turned into glass.
The wind is not punished, but not celebrated either.
It becomes irrelevant.
beautiful, sharp, permanent,
consuming oxygen with its presence.
And the wind?
Just air that keeps moving,
carrying pollution,
forgotten.
Secangkir Kopi dan Rindu
Menemani pagi yang sedikit dingin,
Februari membawa sejuta suara,
Tentang kenangan yang aku ingin.
Pahit dan manis bercampur satu,
Seperti perjalanan hidup kita,
Terkadang terjebak dalam waktu,
Terkadang terbang tinggi ke angkasa.
Di luar sana hujan mulai turun,
Membasahi kaca jendela,
Aku duduk diam berayun-ayun,
Mengingat senyummu yang bermakna.
Februari adalah saksi bisu,
Tentang rasa yang tak pernah pudar,
Meski musim berganti melulu,
Cintaku padamu tetaplah segar.
Senja Februari
Menandai sore yang tenang,
Februari membawa pesan tersirat,
Tentang pulang dan kasih sayang.
Meninggalkan jejak di angkasa,
Hatiku kini merasa lapang,
Menikmati damai yang terasa.
Bayang-bayang mulai memanjang,
Menyentuh bumi yang mulai lelap,
Rindu ini tak lagi meradang,
Sebab kau hadir dalam dekap.
Selamat malam bulan yang pendek,
Esok pagi kita jumpa lagi,
Membawa mimpi yang takkan retak,
Di bawah cahaya mentari pagi
Bunga Mekar di Februari
Menyambut mentari Februari,
Warna-warni mulai terlihat cerah,
Menghiasi taman sanubari.
Harum semerbak terbawa angin,
Menyentuh pipi dengan lembut,
Mengusir rasa dingin yang makin,
Mencairkan beku yang menyelimut.
Keindahan ini adalah anugerah,
Bagi mereka yang sabar menanti,
Meski jalan terkadang lelah,
Pasti ada bunga yang menanti.
Jangan biarkan layu sebelum waktunya,
Sirami dengan kasih dan sayang,
Sebab Februari dan pesonanya,
Adalah awal dari hidup yang terang.