Langsung ke konten utama

Membaca Peta

Siang ini teman sebelah saya sedang berdiskusi dengan seorang teman lainnya. Di hadapan mereka terbentang peta yang dibuka dari google map. Lalu mereka berdiskusi mengenai jalan-jalan yang sebaiknya dilalui bila akan menuju suatu tempat. Jelas sekali teman saya tersebut mempertimbangkan setiap masukan yang diberikan oleh temannya, apakah lewat jalan ini merupakan alternatif tercepat, apakah lewat situ macet atau tidak, apa ancer-ancer bila sudah dekat dengan tujuan, apa ada kendaraan alternatif lain bila tidak menggunakan jalan tersebut, misal dengan kereta api dll.

Sebenarnya, kurang lebih seperti itulah gambaran hidup kita ini. Hendak kemana kita, bagaimana kita akan menjalaninya, berdasarkan pengalaman dari orang yang kita percaya, kita bertanya tentang hambatan, rintangan ataupun gangguan yang mungkin kita temui bila kita memilih suatu jalan. Atau bisa juga kita membaca dari buku panduan untuk melengkapi informasi-informasi yang telah kita miliki. Lalu kita mempertimbangkan berbagai informasi tersebut dan kita menentukan sendiri kemana arah tujuan yang hendak kita pilih. Selama perjalanan tentu kita memerlukan cahaya, apakah itu cahaya yang kita miliki ataupun cahaya yang berasal dari orang lain/ benda lain. Tanpa cahaya maka akan sulit menempuh suatu perjalanan dan kemungkinan untuk tersesat akan lebih besar bila menempuh perjalanan dalam kegelapan.

Kegelapan bukan hanya berarti kegelapan malam tanpa lampu, lilin ataupun cahaya bintang dan bulan, namun bisa juga berarti kegelapan batin dari seseorang yang tidak memiliki cahaya yang cukup atau bahkan cahaya di dalam dirinya tersebut sudah padam.


Jakarta, 21 November 2017  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...