Langsung ke konten utama

Tugas Jati Diri

Bagi yang berdinas di kantor ataupun bekerja di suatu perusahaan dan memiliki atasan, tentunya kita sudah terbiasa dengan alur kerja seperti ini  : Atasan memberi tugas, kita sebagai bawahan melaksanakan tugas tersebut. Ada Visi Misi besar yang diemban oleh kantor/perusahaan tersebut. Semua yang ada di dalamnya harus saling bersinergi untuk bisa mewujudkan Visi Misi tersebut  dengan baik.

Untuk bisa menyelesaikan tugas dengan baik, tentunya kita harus berkomunikasi dengan atasan kita, apa tugas kita, bagaimana kita akan melaksanakan tugas tersebut, ketika kita mendapat kesulitan di tengah jalan kita perlu berkonsultasi, mungkin ada kebijakan-kebijakan yang perlu ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut, ketika kita telah menyelesaikan tugas tersebut kita juga harus tahu apakah tugas tersebut sudah memenuhi harapan atasan, ataukah masih perlu perbaikan di sana sini. Semua berproses dan semua harus dilakukan dengan bersungguh -sungguh bila kita menginginkan hasil yang baik, karena bagaimanapun kita akan diminta pertanggungjawabannya atas apa yang kita laksanakan.

Demikian pula halnya, ketika kita dilahirkan ke dunia ini, ada tugas/amanah yang kita emban dari Sang Pemberi Amanah. Pernahkah kita tergelitik untuk berfikir apa tugas kita di dunia ini? Apakah yang kita kerjakan sudah sesuai dengan yang diamanahkan kepada kita? Jangan-jangan selama ini kita mengerjakan A sd J ternyata tugas kita K sd Z. Apakah tugas yang kita kerjakan sudah sesuai dengan kehendakNya? Apakah masih ada hal-hal yang perlu kita perbaiki? Sebelah mana? Bagaimana memperbaikinya? dst.

Yang mencari dengan gigih dan beramal shaleh, Insya Allah akan menemukannya. Yang berupaya dengan sekuat tenaga, Insya Allah, akan ada hasilnya, dengan selalu menyertakan doa di setiap langkahnya memohon petunjukNya.


Jakarta, 21 November 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...