Langsung ke konten utama

LELAKI YANG KESEPIAN

 

Adakah yang tahu rasanya bagaimana tidak makan sepuluh hari? Atau sakit tanpa ada seorang pun yang bisa dihubungi karena tak punya pulsa? Ataukah perih hati karena anak yang selama ini diusahakan tidak putus sekolah tapi tak peduli keberadaannya? Beri tahu aku bagaimana rasanya.
Di saat kita sering berkeluh kesah karena makanan yang tak sesuai dengan selera kita, di tengah kota Jakarta ada orang yang kelaparan. Di saat kita mengeluhkan sakit tak tertahan tapi asupan obat dan suplemen tak pernah putus, ada orang lemah tak berdaya dan terkurung di ruang sempit tanpa seorang pun yang peduli. Di saat kita masih bisa menghabiskan kuota internet untuk menonton YouTube atau puluhan episode drama korea, ada orang yang tak sanggup berkirim kabar kepada kerabat karena tak ada pulsa. Di saat kita masih bisa bercengkrama dengan anak-anak, ada orang yang tak pernah diperhatikan anaknya.
Sepuluh hari kehilangan jejak kerabat, sebut saja Usman, yang biasanya berkirim kabar dan sebulan sekali datang ke rumah untuk mengambil jatah bulanan atau sekadar ikut makan di rumah. Pesan tak terjawab dan kami pun tak pernah diberitahu dimana dia ngekos selama ini. Sayangnya juga kondisi kami sekeluarga sedang sakit sehingga tidak bisa melacak keberadaannya.
Akhirnya kami mendapat kabar dari orang lain karena si pemilik kos memberikan kabar kepada teman sekamarnya yang saat ini sedang berada di kampung. Mungkin pemilik kos takut Usman ini mati di kost-nya. Ketika dijemput, kondisinya mengenaskan, lemas tak berdaya dan sekarat. Katanya dia meriang dan sudah sepuluh hari tidak makan. Kami kehabisan kata-kata. Akhirnya kami meyewa ambulans untuk membawanya ke kampung agar bisa dirawat di sana, karena di sana banyak saudaranya sehingga bisa terawasi.
Satu hal yang tak terpikir oleh kami adalah memberinya pulsa karena kondisi kami juga sedang terbaring sakit. Kami juga tidak bisa mentransfer uang karena dia tak punya rekening bank. Dalam dunia yang serba digital, masih ada orang yang kesulitan dihubungi, ironis memang. Itu hal yang paling kusesali sampai saat ini.
Di kampung, tak ada satu pun rumah sakit yang sanggup menampungnya, semuanya penuh. Akhirnya hanya Puskesmas lah yang bisa memberikan perawatan. Minimal memulihkan maal nutrisinya dulu. Ironisnya, sampai keesokan harinya, tak ada satu pun dari anak-anaknya yang mengunjunginya. Padahal selama ini, dia selalu berusaha keras narik ojek hanya untuk menjaga agar kirimannya tak berkurang untuk mantan isteri dan anak-anaknya. Ah entahlah, bagaimana perasaannya.
(mungkin) Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...