Asytaqu Ilaika

By: Ash Beige Baby

Pada langit aku berbisik,
tentang gema yang menetap
yang datang seperti bayang senja
yang menolak tenggelam.

Pada langit aku berbisik,
kutitip satu rahasia
yang tak pernah berani kuucap
kepada apa atau siapa,
hanya jejak yang tak bertuan.

Suara itu
seperti nyala redup
yang lupa jalan pulang,
yang masih mencoba hidup
di sela-sela gelap malam.

Aku tidak meminta kembali,
aku hanya menitip ini
pada angin penjelajah
yang tak mengenal nama atau arah.

Jika sampai, biarlah sampai.
Jika tidak, biarlah hilang.

Mungkin,
ia bisa tiba,
ke tempat yang tak mungkin kujangkau,
atau malah memilih lenyap?
di balik cakrawala
seperti cerita yang sengaja terlantar
tidak selesai. 

Nanti bila suatu hari langit menua,
dan angin tidak pernah membawa apa-apa,
aku menyimpan ini sendiri saja

Sebagai rahasia purba
yang hanya dimengerti oleh malam,
bukan manusia.

Dan baru kali ini
aku mengerti apa yang
Khalil Gibran coba sampaikan

وَفِي اللَّيْلِ أَسْمَعُ صَوْتَكِ فِي صَمْتِ الْقَلْبِ،
وَأَرَى وَجْهَكِ فِي ظَلَامِ الْعَيْنَيْنِ

Dan di malam hari, 
aku mendengar suaramu
dalam kesunyian,
dan aku melihat wajahmu
dalam kegelapan.

Tapi satu yang keliru,
Namanya tak boleh kupanggil
Wajahnya tak boleh kusebut
Rindu terlarang
Itu hukumanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar