Resolusi di Atas Kertas

 
Sederet kata tertulis rapi,
Tentang rencana dan mimpi-mimpi.
Januari menjadi saksi bisu janji,
Untuk menjadi lebih baik lagi.
 
Bukan sekadar hiasan kata,
Namun tekad di dalam jiwa.
Menghapus malas yang jadi kasta,
Membangun disiplin sebagai senjata.
 
Waktu berputar begitu cepat,
Jangan biarkan terbuang percuma.
Pegang erat setiap kesempatan,
Agar hidup lebih bermakna.
 
Terima kasih Januari yang hangat,
Memberi ruang untuk berubah.
Mari berjuang dengan semangat,
Hingga lelah menjadi lillah.


Jakarta, 7 Januari 2026 

Budaya Antri

 

Ada pertanyaan yang sering muncul di pikiran saya saat berkendara dengan motor atau mobil, kenapa budaya antri masih terjadi di beberapa tempat saja. Misal pintu tol, beli karcis, isi BBM, pesan makanan dan minuman (baik take away ataupun dine in),  

 
Budaya antri yang kuat bukan sekadar tentang barisan yang rapi, melainkan memiliki dampak mendalam bagi tatanan sosial dan mentalitas sebuah bangsa. Berikut adalah beberapa dampak utama dari budaya antri dapat memberikan dampak psikologis[1] yang baik bagi seseorang yaitu :
§  Memberikan kepuasan ketika tiba sudah gilirannyaSelain menguji tingkat kesabaran diri, budaya antri akan memberikan kepuasan ketika tiba gilirannya dipanggil. Hal ini bisa menumbuhkan semangat positivisme
§  Menciptakan Keadilan Sosial (Social Justice)Dampak paling mendasar adalah adanya rasa adil. Antri memastikan bahwa orang yang datang lebih dulu dilayani lebih dulu (first come, first served). Tanpa budaya antri, pelayanan akan didasarkan pada kekuatan fisik, status sosial, atau "siapa yang paling vokal", yang tentu saja merugikan kelompok yang lebih lemah seperti lansia atau anak-anak.
§  Melatih Pengendalian Diri dan KesabaranSecara psikologis, antri adalah latihan untuk mengelola ego. Seseorang dipaksa untuk menunda kepuasan (delayed gratification) dan mengendalikan ketidaksabarannya. Masyarakat yang terbiasa antri cenderung memiliki emosi yang lebih stabil dan tidak mudah terprovokasi di ruang publik.
§  Meningkatkan Efisiensi dan KetertibanMeskipun terlihat lambat, antri sebenarnya jauh lebih efisien daripada berebut. Ketika semua orang berebut, terjadi kemacetan alur (bottleneck) yang justru menghambat petugas pelayanan. Dengan antri yang teratur, proses pelayanan menjadi lebih sistematis, terukur, dan cepat selesai.
§  Membangun Kepercayaan terhadap SistemKetika budaya antri berjalan baik, masyarakat akan memiliki kepercayaan (trust) bahwa mereka pasti akan mendapatkan haknya tanpa perlu menyogok atau mencari "jalan pintas". Rasa percaya ini sangat penting untuk stabilitas sosial dan efektivitas birokrasi.
§  Menumbuhkan Rasa Empati dan Menghargai Orang LainBudaya antri mengajarkan kita bahwa waktu orang lain sama berharganya dengan waktu kita sendiri. Menyerobot antrian bukan hanya soal posisi, tapi soal "mencuri" waktu orang lain. Dengan mengantri, kita belajar menghormati ruang pribadi dan hak orang lain.
§  Membentuk Citra Bangsa yang BeradabDi mata dunia internasional, budaya antri sering menjadi indikator kemajuan peradaban suatu negara. Bangsa yang disiplin mengantri akan dipandang sebagai masyarakat yang terdidik, menghargai aturan, dan memiliki etika yang tinggi. Hal ini dapat meningkatkan daya tarik investasi dan pariwisata.
§  Mengurangi Stres di Ruang PublikKekacauan saat berebut layanan seringkali memicu konflik fisik, adu mulut, dan stres bagi semua orang yang terlibat. Sebaliknya, barisan yang teratur menciptakan suasana yang tenang dan aman, sehingga interaksi sosial di ruang publik menjadi lebih menyenangkan.
 
Kesimpulannya:
Dampak budaya antri jauh melampaui urusan baris-berbaris; ia adalah fondasi karakter bangsa. Jika sebuah masyarakat gagal dalam hal kecil seperti antri, mereka akan cenderung kesulitan dalam mematuhi hukum yang lebih besar. Sebaliknya, ketertiban dalam antri adalah langkah awal menuju masyarakat yang madani dan disiplin.
 
Pertanyaannya adalah kenapa budaya antri hanya ada di tempat tempat tertentu, tidak berlaku di jalan raya ?
 
Budaya antri di Indonesia merupakan topik yang menarik karena mencerminkan transisi sosiologis yang sedang berlangsung. Antri bukan sekadar masalah barisan fisik, melainkan cerminan dari kedewasaan sosial, penghargaan terhadap hak orang lain, dan tingkat kepercayaan terhadap sistem.
 
Berikut adalah opini saya mengenai dinamika budaya antri di tanah air:
1.       Kemajuan yang Signifikan di Sektor PublikKita harus mengakui, budaya antri kita telah mengalami kemajuan pesat dalam satu dekade terakhir. Transformasi ini sangat terlihat di tempat-tempat dengan sistem yang ketat, seperti:

  • Transportasi Umum: Penumpang KRL dan MRT kini jauh lebih tertib dalam mengantri di belakang garis aman.
  • Layanan Perbankan & Administrasi: Penggunaan nomor antrian digital telah memaksa masyarakat untuk patuh pada urutan kronologis.
  • Event Besar: Konser atau pameran besar kini jarang diwarnai kericuhan karena manajemen alur yang lebih profesional.

2.      Tertib karena Sistem, Bukan KesadaranSalah satu tantangan terbesar adalah fakta bahwa banyak orang Indonesia tertib hanya jika ada sistem yang mengaturnya secara paksa (seperti pagar pembatas atau nomor urut). Masalah muncul ketika sistem tersebut absen—misalnya di jalan raya saat macet atau saat pembagian bantuan sosial. Di sini, mentalitas "siapa cepat dia dapat" sering kali mengalahkan etika mengantri.
3.      Fenomena "Titip Sandal" dan Budaya Ewuh PakewuhAda keunikan sosiologis di Indonesia di mana antri sering kali dipandang secara fleksibel. Contohnya:

  • Menyerobot halus: Meminta teman untuk "menjaga tempat" atau menyelip masuk dengan alasan "cuma tanya sebentar".
  • Ewuh Pakewuh: Rasa sungkan untuk menegur penyerobot karena takut dianggap tidak sopan atau memicu keributan. Hal ini justru menyuburkan perilaku tidak tertib karena tidak adanya sanksi sosial yang tegas.

4.      Pendidikan Karakter sejak DiniBudaya antri sebenarnya adalah latihan dasar dalam pengendalian diri dan empati. Di negara maju, antri diajarkan di taman kanak-kanak bukan sebagai aturan, melainkan sebagai cara menghargai waktu orang lain. Di Indonesia, tantangannya adalah menggeser mindset dari "saya harus lebih dulu" menjadi "semua akan dapat giliran pada waktunya."
 
Kesimpulan
Budaya antri di Indonesia saat ini berada pada fase adaptasi teknologi. Kita sudah bisa tertib jika dibantu oleh aplikasi dan mesin antrian, namun kita masih punya pekerjaan rumah besar dalam membangun kesadaran internal. Kesadaran bahwa dengan mengantri, kita sebenarnya sedang membangun peradaban yang lebih efisien dan adil bagi semua orang.

Bagaimana menurut Anda, apakah Anda punya pengalaman unik terkait budaya antri ?
 
Jakarta, 7 Januari 2026

Rintik Awal Tahun

Hujan turun di awal bulan,
Membasahi debu di jalanan.
Januari datang dalam ketenangan,
Membasuh luka dalam kenangan.
 
Dingin angin memeluk raga,
Menemani kopi di atas meja.
Ada syukur yang tak terhingga,
Masih diberi waktu untuk bekerja.
 
Jangan biarkan semangat luntur,
Meski langit sering mendung.
Hidup ini harus terus diatur,
Agar bahagia senantiasa bersenandung.
 
Rintik ini adalah berkah,
Menyirami jiwa yang sempat gersang.
Melangkah maju jangan menyerah,
Hari esok akan lebih terang.


Jakarta, 6 Januari 2026 

Bingkai Waktu


Lembar baru kini telah terbuka,
Putih bersih tanpa noda tinta.
Januari datang membawa sapa,
Membangunkan mimpi yang sempat jeda.
 
Langkah kaki mulai tertata,
Meninggalkan jejak tahun yang lama.
Ada semangat di dalam dada,
Mengejar asa yang kian nyata.
 
Langit pagi tampak berbeda,
Biru cerah penuh pesona.
Segala duka biarlah reda,
Ganti dengan tawa yang baka.
 
Januari adalah sebuah pintu,
Tempat berjanji pada diri sendiri.
Takkan menyerah pada waktu,
Hingga puncak sukses kan menghampiri.


Jakarta, 6 Januari 2026

Bingkai Cakrawala


Di balik kaca yang bening membeku,

Ada dunia yang luas menunggu,

Menyuguhkan jingga di penghujung waktu,

Menghapus sepi yang kian membelenggu.

 

Tatkala rintik mulai menyapa,

Jendela menjadi saksi yang setia,

Merekam jejak hujan di paras kota,

Dalam bisu ia bicara tanpa kata.

 

Ia adalah mata bagi sebuah rumah,

Tempat cahaya masuk dengan ramah,

Mengusir gelap yang sempat menjamah,

Memberi harapan di hati yang lelah.

 

Meski terkunci rapat oleh kayu,

Ia tawarkan mimpi yang takkan layu,

Memandang jauh melampaui rindu,

Menyentuh langit yang biru syahdu.

 

Jakarta, 5 Januari 2026

Kereta Malam

Rel besi bergetar di bawah roda,

Membawa penumpang melintasi gelap,

Menuju stasiun yang masih terlelap.

 

Di balik jendela, bayangan berlalu,

Hutan, sawah, dan rumah-rumah desa,

Semua nampak serupa dalam satu masa.


Malam adalah perjalanan panjang,

Menuju tempat yang disebut rumah,

Di mana rindu akan bermuara dengan indah.


Jakarta, 5 Desember 2026

Penulis Malam

Pena menari di atas kertas putih,

Menggoreskan tinta tentang rasa,

Yang tak sanggup diucap oleh suara.

 

Malam adalah sumber inspirasi,

Saat logika mulai sedikit melonggar,

Dan imajinasi mulai mekar melebar.

 

Setiap kata adalah detak jantung,

Yang tertuang dalam bait-bait sepi,

Menjadi abadi dalam lembar mimpi.


Jakarta, 05 Januari 2026 

Karet Gelang Sang Adik – Bagian Keempat (Terakhir)

Sepuluh Tahun Kemudian...

Di salah satu sudut premium Jakarta, sebuah restoran keluarga yang hangat dan modern sedang merayakan hari jadinya yang kelima. Restoran itu bernama "Garis Merapi". Nama itu diambil untuk menghormati asal-usul dan sejarah hidup pemiliknya.

Di dalam kantornya yang nyaman, seorang pria muda berpakaian rapi sedang memeriksa laporan keuangan. Ia adalah Kari. Berkat bimbingan Bu Arini dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Kari berhasil menyelesaikan pendidikannya di bidang manajemen perhotelan sambil bekerja paruh waktu. Bu Arini, yang kini ia anggap sebagai ibu angkat, memberikan modal awal baginya untuk membangun usaha ini.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang gadis muda dengan wajah berseri-seri masuk membawa sebuah map desain.

"Kak, lihat! Rancangan untuk cabang kedua kita di Yogyakarta sudah selesai," seru Kara dengan penuh semangat.

Kara kini telah tumbuh menjadi seorang arsitek muda yang berbakat. Ia yang dulu hanya mencoret-coret di pojok kedai Bu Arini, kini benar-benar mewujudkan impiannya membangun ruang-ruang indah. Meski ia berjalan dengan sedikit bekas luka di kakinya—sebuah pengingat dari masa lalu—langkahnya kini sangat mantap.

"Bagus sekali, Kara. Ibu Arini pasti bangga melihat ini," jawab Kari sambil tersenyum bangga.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Di pergelangan tangan Kara, tersembunyi di balik jam tangan mewahnya, masih melingkar sebuah karet gelang yang sudah mulai mengeras dan memudar warnanya. Karet itu tidak pernah ia lepaskan.

"Kak, ingat hari itu? Saat aku menangis karena ingin makan enak tanpa takut basi?" tanya Kara sambil menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.

Kari berdiri dan menghampiri adiknya. "Bagaimana mungkin aku lupa? Itu adalah hari yang membuat kita belajar bahwa tidak ada doa yang tidak didengar."

Malam itu, restoran "Garis Merapi" tidak hanya melayani pelanggan kaya yang turun dari mobil-mobil mewah. Di bagian belakang restoran, Kari dan Kara memiliki program khusus bernama "Meja Berbagi". Setiap hari, mereka menyediakan puluhan porsi makanan bergizi secara gratis untuk anak-anak jalanan dan pemulung di sekitar sana.

Kari melihat seorang anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan bersama kakaknya, mirip sekali dengan kondisi mereka sepuluh tahun lalu. Kari menghampiri mereka, memberikan dua kotak nasi hangat, dan membisikkan sesuatu yang dulu selalu ia katakan pada Kara:

"Jangan menyerah ya. Hari ini mungkin sulit, tapi hari esok adalah milik mereka yang berani melangkah."

Kari dan Kara telah berhasil mengubah air mata menjadi kekuatan. Mereka membuktikan bahwa kemiskinan mungkin bisa merenggut banyak hal, tapi tidak bisa merenggut kasih sayang dan harapan. Mereka bukan lagi anak-anak yang menatap restoran dari kejauhan; mereka adalah cahaya yang kini menerangi jalan bagi orang lain