Book Review: “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” karya Idrus (1948)
Bang Toyib
Bang Toyib...
Usah gundah, wahai sahabat karib,
Sudah lumrah dan memang galib,
Dalam hidup ada saja si paling ajaib,
Yang lupa kalau roda nasib,
Kadang berputar dan membawa semua raib
Satu persatu tersingkaplah aib,
Terbuka jelas, tak lagi gaib
(celetukan menjelang Maghrib, 211125)
Prasangka
Prasangka ,
Kadang makin tanak
Ketika kita membuat jarak
Kadang pelahan hilang
Seusai sedikit bincang
Kadang kian mereda
Setelah bicara terbuka
Maka,
Seandai tak bisa
Tak berprasangka
Lekaslah berbincang atau bicara
Sebelum semua membuncah jadi prahara
Satu Hari di Bulan Oktober
dalam ringkuk kepada Tuhan maaf aku lancang menyebut nama lengkapmu
doaku bersajak semata merayu-Nya agar kali ini saja takdir berpihak kepadaku
bukan aku memaksa, hanya saja seumur hidup aku mau lihat lesung pipimu.
entah nanti kau seatap dengan siapa
ah, kuharap itu denganku.
entah nanti kau sebut namaku dengan lantang dalam jabat tangan ayahku
atau malah kau revisi sumpahmu malam itu kepadaku
ah, mungkin hanya Tuhan yang tahu.
aku terbiasa jalani duniaku dalam hitam-putih dunia
tak banyak warna sampai kamu ada
aku diam sebentar sadar kamulah mahakarya-Nya.
sepucuk doa menjawab kegelisahanmu dari pembicaraan yang selalu kuhindarkan
menepis ketakutanku akan sebuah ikatan
sehingga kita tak harus lagi berjalan di tempat
yakin hati sudah kutempatkan pada orang yang tepat.
jika tulisan ini sampai di ponselmu suatu hari…
kau mungkin sadar bercandaku kali ini menjauh, semata-mata agar seriusku kau ketahui
karena tak kan ada langkah mundur untukmu
apa yang membuat kita bisa bersama, maka segera itu dalam persiapanku.
-y-
Kinerja Ekonomi Indonesia per September 2025
27 Oktober 2025
Kinerja Ekonomi Indonesia
Hingga 30 September 2025, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia menunjukkan kondisi fiskal yang sehat dan terkendali. Pendapatan negara mencapai Rp1.863,3 Triliun, sebagian besar didukung oleh Penerimaan Pajak dan PNBP. Di sisi belanja, total realisasi mencapai Rp2.234,8 Triliun, dengan alokasi terbesar untuk Belanja Pemerintah Pusat dan Transfer ke Daerah. Keseimbangan antara pendapatan dan belanja menghasilkan Defisit APBN yang rendah, yaitu Rp371,5 Triliun ($1,56\%$ dari PDB), dan Keseimbangan Primer yang surplus sebesar Rp18,0 Triliun. Ini mencerminkan pengelolaan keuangan negara yang hati-hati dan menjadi fondasi kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Kekuatan
ekonomi domestik tercermin dari aktivitas masyarakat dan dunia usaha yang tetap
ekspansif. Tren penjualan ritel dan
Indeks Aktivitas Manufaktur Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif,
ditopang oleh tingginya proporsi belanja Konsumsi
Masyarakat ($75,1\%$). Pertumbuhan ini juga didukung oleh sektor bisnis dan
industri, yang tercermin dari kenaikan positif pada konsumsi listrik mereka.
Sementara di tingkat global, Neraca Perdagangan Indonesia tetap tangguh, mencatatkan
surplus kumulatif USD46,1 Miliar
berkat kontribusi besar dari sektor Non Migas, membuktikan daya saing produk
ekspor nasional di pasar internasional. Pemerintah juga turut mendukung
likuiditas ekonomi dengan menyalurkan dana sebesar Rp112,4 Triliun melalui
perbankan untuk realisasi kredit.
Sebagai inspirasi bagi kegiatan
ekonomi sehari-hari, data ini menyajikan sinyal
optimisme yang kuat: fondasi negara solid dan permintaan domestik bergairah.
Masyarakat diimbau untuk melanjutkan
konsumsi yang bijak dan berorientasi pada produk lokal untuk menjaga
momentum pertumbuhan. Bagi individu, momen ini ideal untuk meningkatkan disiplin keuangan, yakni menyeimbangkan antara
aktivitas konsumsi dengan penguatan Tabungan ($13,7\%$) dan investasi.
Sementara bagi pelaku usaha, sinyal ekspansi ini adalah peluang untuk memanfaatkan dukungan kredit perbankan
untuk ekspansi dan inovasi, memastikan partisipasi aktif dalam roda
perekonomian nasional yang tengah bergerak positif. 🇮🇩
Saya Menulis, Karena Saya Belum Selesai Bodohnya
Saya menulis,
bukan karena tahu semua jawaban,
tetapi karena pertanyaan masih menempel
di dinding kepala,
bergaung seperti gema yang enggan padam.
Saya menulis,
sebab kebodohan saya bukan akhir,
ia hanya jalan lengang
yang menuntut langkah,
sebuah kesalahan yang menuntut koreksi,
sebuah ketidaktahuan yang memohon cahaya.
Saya menulis,
karena di setiap kata ada kemungkinan,
di setiap kalimat ada celah belajar,
dan di setiap salah eja,
ada pintu menuju pengertian baru.
Saya menulis,
karena saya masih bodoh,
dan mungkin akan selalu bodoh,
tapi di antara huruf-huruf ini,
saya belajar mencintai kebodohan saya,
sebagai alasan untuk terus mencari,
sebagai alasan untuk tidak berhenti
Jadi, jangan kira saya menulis karena sudah sampai.
Saya menulis karena saya masih berjalan.
Saya menulis karena saya masih bodoh,
dan barangkali akan terus begitu.
Tapi biarlah,
selama tinta ini mengalir,
kebodohan saya tidak diam,
ia terus belajar,
ia terus mencari,
ia terus menulis.
Dr. M. Lucky Akbar, KPDDP Jambi
Gebrakan Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih dalam Menggedor Pertumbuhan Ekonomi
Mencari Arah Baru Pertumbuhan Ekonomi
Dalam beberapa dekade terakhir, pembangunan ekonomi nasional
Indonesia banyak bertumpu pada sektor-sektor perkotaan dan industri berskala
besar. Namun, realitas menunjukkan bahwa lebih dari 40% penduduk Indonesia
tinggal di perdesaan, dengan sektor pertanian, perikanan, dan UMKM menjadi
tulang punggung ekonomi lokal. Ketimpangan pembangunan antara kota dan desa
menjadi perhatian besar, dan upaya untuk meratakan akses terhadap sumber daya
ekonomi mulai menunjukkan gejala positif. Salah satu terobosan menarik yang
muncul dalam konteks ini adalah hadirnya dua inisiatif strategis: Danantara dan
Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Keduanya tidak sekadar proyek pemberdayaan, melainkan
ekosistem terintegrasi yang memadukan
teknologi digital, kelembagaan gotong‑royong, dan investasi berbasis komunitas.
Makalah ini mengeksplorasi desain, capaian, serta tantangan keduanya, seraya
menakar prospek mereka sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi inklusif di era
transformasi digital.
Danantara: Menjembatani Digitalisasi dan Kedaulatan Ekonomi Desa
Danantara, yang merupakan singkatan dari "Dana
Nusantara Raya", adalah inisiatif keuangan digital inklusif yang berbasis
pada teknologi blockchain dan terhubung langsung dengan ekosistem digital desa.
Dirancang sebagai platform teknologi untuk mempercepat literasi keuangan dan
pembangunan infrastruktur digital desa, Danantara menawarkan solusi inovatif
terhadap keterbatasan akses modal, perbankan, dan investasi produktif di
wilayah-wilayah tertinggal.
Model bisnis Danantara didasarkan pada prinsip “desa sebagai
pusat inovasi ekonomi”. Melalui sistem e-wallet lokal, token digital berbasis
aset produktif, serta integrasi dengan produk-produk UMKM, Danantara mampu
mendorong perputaran ekonomi lokal tanpa harus menunggu intervensi dari pusat.
Salah satu pilot project-nya di Kabupaten Gunungkidul berhasil meningkatkan
volume transaksi ekonomi lokal sebesar 35% dalam waktu satu tahun, sekaligus
memperluas pasar produk lokal ke luar pulau.
Lebih jauh, Danantara juga menghubungkan para pelaku ekonomi
desa dengan investor diaspora dan filantropi melalui platform crowdfunding
berbasis proyek desa. Proyek-proyek seperti pembangunan irigasi mikro,
pengembangan rumah produksi, dan sekolah vokasi desa kini bisa dibiayai secara
mandiri dan transparan. Ini bukan hanya memperkuat akuntabilitas dana
pembangunan desa, tetapi juga membentuk budaya baru: desa yang mandiri, berdaya,
dan terhubung secara digital.
Koperasi Desa Merah Putih: Katalis Ekonomi Gotong Royong
Jika Danantara bergerak di sisi teknologi dan pembiayaan,
maka Kopdes Merah Putih hadir sebagai bentuk kelembagaan rakyat berbasis
nilai gotong royong yang terorganisir. Kopdes Merah Putih adalah koperasi
multi-pihak yang menyatukan petani, nelayan, pelaku UMKM, pemuda desa, dan
perangkat desa dalam satu wadah produksi, distribusi, dan pemasaran bersama.
Berikutnya Kopdes Merah Putih juga berfungsi sebagai agregator
produk desa baik dari sisi hulu (bahan baku) maupun hilir (produk olahan dan
jasa). Dengan pendekatan koperasi modern, Kopdes Merah Putih menyelenggarakan
pelatihan manajemen keuangan, pendampingan produksi, hingga sertifikasi halal
dan izin edar BPOM. Lebih dari itu, Kopdes Merah Putih secara strategis bekerja
sama dengan platform e-commerce dan logistik nasional untuk membuka jalur
distribusi produk ke pasar nasional dan bahkan ekspor.
Salah satu kisah sukses Kopdes Merah Putih misalnya pada di
Provinsi Nusa Tenggara Timur, di mana Kopdes Merah Putih menggandeng petani
kelor dan pengrajin tenun untuk membentuk entitas bisnis berbasis koperasi
dengan sistem bagi hasil adil. Dalam kurun dua tahun, nilai ekspor kelor olahan
dari koperasi ini meningkat 300%, dan lebih dari 120 rumah tangga petani
berhasil keluar dari kemiskinan ekstrem.
Melalui skema kepemilikan bersama, setiap anggota koperasi
tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai pemilik dari usaha
itu sendiri. Model ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan
anggota, menumbuhkan loyalitas produksi, dan memperkuat daya tawar desa
terhadap pasar.
Kolaborasi Strategis Danantara dan Kopdes Merah Putih
Keberhasilan kedua inisiatif ini tidak terlepas dari sinergi
yang terbangun antara teknologi dan kelembagaan rakyat. Integrasi Danantara dan
Kopdes Merah Putih menciptakan ekosistem ekonomi desa yang saling mendukung:
Dana digital dari Danantara dapat digunakan oleh anggota koperasi untuk membantu
permodalan usaha mikro, sedangkan Kopdes Merah Putih menyediakan produk riil
dan jaringan komunitas bagi transaksi di ekosistem Danantara.
Salah satu contoh kolaborasi konkret adalah pengembangan “Desa
Pintar”, di mana sistem pembukuan koperasi diintegrasikan dengan blockchain
Danantara untuk memastikan transparansi transaksi dan efisiensi manajemen
keuangan. Desa-desa yang tergabung dalam program ini menunjukkan peningkatan
PDRB desa rata-rata sebesar 20% dalam dua tahun terakhir.
Bahkan, kolaborasi ini telah dilirik oleh pemerintah pusat
sebagai model percontohan pembangunan ekonomi berbasis desa dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Beberapa pemerintah
daerah juga mulai mengadopsi pendekatan serupa, termasuk integrasi aplikasi
Danantara ke dalam sistem informasi desa (SID) dan penguatan koperasi sebagai
bagian dari strategi pengentasan kemiskinan struktural.
Dampak ekonomi dari gebrakan Danantara dan Kopdes Merah
Putih setidaknya dapat dilihat dari tiga aspek: (1) peningkatan nilai tambah
produk lokal, (2) peningkatan daya serap tenaga kerja desa, dan (3)
diversifikasi sumber pendapatan masyarakat. Dalam laporan evaluasi independen
tahun 2024 yang dilakukan oleh LPEM UI, disebutkan bahwa rata-rata pendapatan
rumah tangga peserta program meningkat hingga 37% dalam kurun dua tahun.
Selain itu, aspek inklusi keuangan juga mengalami lonjakan.
Lebih dari 40 ribu kepala keluarga yang sebelumnya unbankable kini memiliki
akun keuangan digital Danantara yang dapat digunakan untuk menabung, menerima
dana program, hingga melakukan investasi mikro. Di sisi lain, koperasi desa
yang tergabung dalam jaringan Kopdes Merah Putih menunjukkan pertumbuhan aset
rata-rata 18% per tahun dan mulai merambah bisnis lintas desa seperti
pengolahan pangan, agroeduwisata, dan transportasi lokal.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Isu literasi digital,
keterbatasan infrastruktur, dan regulasi yang belum sepenuhnya adaptif menjadi
pekerjaan rumah besar yang harus segera dituntaskan. Untuk itu, diperlukan
dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat dan daerah, serta kemitraan aktif
dengan sektor swasta dan akademisi untuk memperkuat kapasitas kelembagaan desa.
Desa Bukan Lagi Objek, Melainkan Subjek Pertumbuhan
Gebrakan Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih adalah
bukti bahwa transformasi ekonomi nasional bisa dimulai dari desa. Dengan
pendekatan berbasis teknologi dan kelembagaan rakyat, desa-desa di Indonesia
kini mulai menapaki peran baru: bukan sekadar penerima program, tetapi sebagai
penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Momentum ini harus dijaga dan diperluas. Karena ketika desa
maju, Indonesia pun akan tumbuh dari akarnya. Danantara dan Kopdes Merah Putih telah
membuktikan bahwa kemandirian ekonomi tidaklah utopia, melainkan hasil dari
kerja bersama, strategi tepat, dan semangat gotong royong yang menjadi jati
diri bangsa.
Dr. Lucky Akbar, KPDDP Jambi
Rekonsiliasi Nasional Demi Menjaga Kerukunan dan Stabilitas
Gelombang protes dan demonstrasi yang belakangan terjadi di berbagai wilayah tanah air merupakan tanda bahwa bangsa ini sedang diuji. Rasa ketidakpuasan sebagian rakyat terhadap sikap sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang dianggap arogan dalam merespons aspirasi publik telah memunculkan ketegangan. Apalagi, dalam peristiwa kerusuhan beberapa waktu lalu, terlihat adanya lapisan masyarakat seperti para pengemudi ojek online (ojol) yang justru menjadi korban terpinggirkan. Mereka terjebak di antara dinamika politik, aspirasi rakyat, dan tindakan aparat di lapangan.
Namun,
di tengah situasi ini, ada satu hal yang harus kita jaga bersama: persatuan dan
kerukunan masyarakat Indonesia. Bangsa ini berdiri kokoh bukan hanya karena
kesamaan bahasa, tanah air, dan sejarah perjuangan, tetapi juga karena semangat
persaudaraan yang menembus sekat perbedaan. Bila persatuan runtuh, maka peluang
keluar dari krisis akan semakin tipis.
Tulisan
ini bukan untuk menyalahkan satu pihak dan membenarkan pihak lain. Justru
sebaliknya, tulisan ini hendak mengajak kita semua—baik rakyat, wakil rakyat,
pemerintah, komunitas ojol, maupun kelompok masyarakat lain—untuk menurunkan
tensi emosi, saling memahami, dan kembali kepada cita-cita besar: menjaga
keutuhan bangsa.
Luka
Kolektif yang Perlu Diobati
Setiap
kerusuhan meninggalkan luka. Luka bagi masyarakat yang merasa suaranya
diabaikan. Luka bagi aparat yang dituduh represif, meski sebagian dari mereka
hanya menjalankan tugas. Luka bagi anggota dewan yang merasa citranya
digeneralisasi buruk, meski ada juga yang tulus memperjuangkan rakyat. Dan
tentu, luka bagi para pekerja lapangan seperti pengemudi ojol, pedagang kecil,
atau buruh harian yang harus menanggung kerugian tanpa tahu bagaimana awal mula
masalahnya.
Luka-luka
ini bila dibiarkan akan berubah menjadi dendam. Dendam itu berbahaya, karena
bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia bisa menyuburkan
siklus kebencian yang tiada akhir. Sejarah bangsa kita, maupun bangsa lain,
menunjukkan bahwa dendam sosial adalah api yang membakar peradaban. Maka,
sebelum luka itu menjadi busuk, kita harus bersama-sama mengobatinya dengan
pendekatan persaudaraan dan musyawarah.
Indonesia
adalah negara demokrasi. Demokrasi mengandaikan bahwa suara rakyat didengar,
diakomodasi, dan dihormati. Namun demokrasi juga menuntut kesabaran, karena
tidak semua aspirasi dapat diwujudkan sekaligus. Persoalannya, ketika ada jarak
yang terlalu lebar antara harapan rakyat dengan sikap para wakilnya, muncul
rasa ditinggalkan.
Kasus
arogansi sebagian anggota dewan yang enggan mendengar masukan masyarakat adalah
alarm keras. Aspirasi rakyat bukan sekadar formalitas; ia adalah inti dari
mandat konstitusional. Para wakil rakyat perlu kembali merenungkan mengapa
mereka ada di kursi legislatif: bukan untuk mempertebal gengsi, melainkan untuk
memperjuangkan kepentingan bersama.
Namun
rakyat pun harus mengingat bahwa menyampaikan aspirasi mesti dilakukan dengan
damai. Demo adalah hak, tapi demo juga harus menjaga martabat. Kerusuhan hanya
akan melukai sesama anak bangsa. Dalam kerusuhan, yang jatuh bukan hanya gedung
atau kendaraan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap proses demokrasi itu
sendiri. Selanjutnya semua pihak harus menyadari, para pekerja informal seperti
ojol adalah penopang ekonomi perkotaan. Mereka bukan hanya pengantar makanan
atau penjemput penumpang; mereka adalah bagian vital dari ekosistem keseharian
kita. Jika mereka terluka, sesungguhnya yang terluka adalah denyut kehidupan
kota itu sendiri.
Oleh
karena itu, dalam setiap peristiwa politik atau sosial, kelompok masyarakat
yang lemah posisinya justru harus menjadi perhatian utama. Jangan sampai mereka
menjadi pihak
Persatuan sebagai Pondasi Kerukunan
Bangsa
ini pernah melewati masa sulit yang lebih besar. Krisis ekonomi 1998 misalnya,
mengguncang sendi kehidupan rakyat. Namun Indonesia bisa bangkit karena rakyat
tidak kehilangan pegangan utama: semangat persatuan. Gotong royong antarwarga,
solidaritas komunitas, dan rasa kebersamaan menolong bangsa ini melewati badai.
Kini,
di tengah gejolak demo dan kerusuhan, kita perlu kembali menyalakan energi
persatuan itu. Persatuan bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan,
melainkan menegakkan kebenaran tanpa menimbulkan perpecahan. Persatuan artinya
kita mampu mengkritik dengan santun, menegur dengan kasih, dan memperbaiki
dengan cara damai.
Kerukunan
masyarakat adalah modal sosial yang tak ternilai. Bila modal ini hancur, kita
tidak hanya kehilangan rasa aman, tapi juga melemahkan daya saing bangsa.
Investor ragu menanamkan modal, ekonomi tersendat, dan pembangunan terhambat.
Karena itu, menjaga kerukunan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan juga
strategi ekonomi dan politik jangka panjang.
Menumbuhkan Empati dan Dialog
Pertama,
empati. Para wakil rakyat perlu berempati pada masyarakat yang kecewa. Mereka
harus hadir secara nyata, tidak hanya saat kampanye. Empati juga perlu dari
rakyat kepada aparat yang bekerja di lapangan; mereka manusia biasa yang juga
punya keluarga dan risiko. Begitu juga, masyarakat luas harus berempati kepada
kelompok rentan seperti pengemudi ojol yang terdampak.
Kedua,
dialog. Dialog yang sejati bukan sekadar formalitas dalam ruang rapat, melainkan
mendengarkan dengan hati. Pemerintah dan DPR harus membuka ruang dialog yang
inklusif, menghadirkan semua elemen, termasuk kelompok yang paling sering
terpinggirkan. Dialog ini harus menjadi jembatan antara aspirasi rakyat dan
kebijakan publik.
Bangsa
ini terlalu besar untuk diselamatkan oleh satu pihak saja. Kita memerlukan
kerja kolektif seluruh elemen. Bagi rakyat, mari menyampaikan aspirasi dengan
damai, bijak dalam bereaksi, dan tetap menjaga martabat bangsa. Bagi DPR, saatnya kembali ke nurani,
meninggalkan arogansi, dan benar-benar mendengar suara rakyat. Bagi pemerintah
dan aparat, keadilan dan proporsionalitas harus menjadi pegangan dalam setiap
tindakan. Jangan biarkan masyarakat kecil semakin terhimpit. Bagi kelompok
pekerja seperti ojol, jangan merasa sendirian. Kehadiran komunitas, dukungan
masyarakat, dan perhatian kebijakan harus diperjuangkan untuk mereka. Bagi
media, berperanlah sebagai penyampai kebenaran, bukan pemantik provokasi. Media
bisa menjadi ruang edukasi damai bagi publik.Ketika semua lapisan saling
merangkul, kita bisa memutus rantai saling curiga yang selama ini memperlebar
jurang perpecahan.
Dari
Konflik Menuju Rekonsiliasi Sosial
Bangsa
yang besar bukan bangsa yang tidak pernah konflik, tetapi bangsa yang mampu
mengubah konflik menjadi rekonsiliasi. Kita harus berani melangkah lebih jauh
dari sekadar menahan amarah. Kita harus mengubah energi amarah itu menjadi
energi perubahan sosial yang positif.
Rekonsiliasi sosial bukan berarti melupakan peristiwa, melainkan mengingatnya dengan cara yang sehat. Ia adalah proses kolektif untuk berkata: "Ya, kita pernah berbeda, kita pernah marah, tetapi kita memilih untuk melanjutkan perjalanan bersama". Rekonsiliasi inilah yang akan memastikan bahwa anak cucu kita tidak mewarisi luka, melainkan warisan berupa kedewasaan berdemokrasi.
Indonesia tidak sendirian menghadapi ujian sosial-politik seperti demonstrasi dan kerusuhan. Sejumlah negara lain menjadi pelajaran penting tentang betapa mahalnya harga sebuah konflik sosial bila tidak dikelola dengan baik. Kita bisa melihat Suriah, misalnya. Demonstrasi yang awalnya hanya menyuarakan tuntutan keadilan berubah menjadi perang saudara berkepanjangan. Akibatnya, jutaan rakyat mengungsi, ribuan kota hancur, dan ekonomi nasional runtuh. Semua itu berawal dari ketidakmampuan elite dan masyarakat untuk membangun dialog dan menjaga kerukunan.
Contoh lainnya adalah Sri Lanka. Ketika krisis ekonomi menghantam, rakyat melakukan protes besar-besaran. Alih-alih merangkul dan mendengarkan, pemerintah saat itu merespons dengan cara represif. Akhirnya, protes berubah menjadi kerusuhan yang menjatuhkan rezim. Negara itu butuh bertahun-tahun untuk kembali pulih. Kita juga bisa belajar dari Venezuela, di mana ketidakpuasan terhadap pemerintah dan DPR yang dianggap tidak mewakili rakyat menimbulkan krisis legitimasi. Aksi protes yang awalnya damai berubah menjadi konflik sosial yang melumpuhkan ekonomi nasional. Negara yang kaya minyak itu justru mengalami kemiskinan masif akibat hilangnya kepercayaan sosial.
Dari
contoh-contoh tersebut, pelajaran paling penting adalah bahwa konflik sosial
yang tidak direspons dengan empati dan dialog bisa membawa negara pada
keterpurukan. Indonesia harus belajar agar tidak terjebak dalam jalan yang
sama. Kita memiliki kearifan lokal berupa musyawarah mufakat, gotong royong,
dan budaya kekeluargaan yang seharusnya menjadi benteng kuat mencegah
disintegrasi.
Kerukunan Bukan Sekedar Wacana Moral
Indonesia
memiliki sejumlah fakta empirik yang bisa menjadi bahan renungan bersama. Survei Indikator Politik Indonesia (2024) menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan
publik terhadap DPR hanya berkisar 49 persen. Angka ini termasuk rendah bila
dibandingkan dengan lembaga lain seperti TNI atau Presiden yang berada di atas
70 persen. Rendahnya kepercayaan publik ini menjadi indikator adanya jurang
antara aspirasi rakyat dengan perilaku sebagian elite politik.
Badan
Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 terdapat lebih
dari 2.600 peristiwa konflik sosial di berbagai daerah, baik dalam bentuk
demonstrasi, bentrokan antarwarga, maupun gesekan antara masyarakat dengan
aparat. Angka ini meningkat sekitar 12 persen dibanding tahun sebelumnya,
menandakan adanya ketegangan sosial yang perlu segera direspon dengan bijak.
Sementara
itu, data Polri menyebutkan bahwa demonstrasi yang berujung ricuh sebagian
besar dipicu oleh isu ketidakadilan ekonomi, kebijakan publik yang tidak
populer, dan lemahnya komunikasi antara wakil rakyat dengan masyarakat. Data
ini selaras dengan temuan akademik bahwa ketidakpuasan publik cenderung
melahirkan aksi jalanan ketika saluran formal aspirasi dianggap buntu.
Data-data
ini memperlihatkan dengan gamblang bahwa menjaga persatuan dan kerukunan bukan
sekadar wacana moral, melainkan kebutuhan nyata yang sangat mendesak. Bila
angka ketidakpercayaan dan konflik sosial ini tidak ditekan, Indonesia
berpotensi menghadapi krisis kepercayaan yang serius terhadap institusi
demokrasi. Di titik inilah pentingnya semua pihak menurunkan ego dan lebih
mengutamakan kepentingan bangsa.
Indonesia berada di persimpangan jalan. Kita bisa memilih jalan perpecahan yang hanya akan membawa keterpurukan, atau jalan persatuan yang akan membuka masa depan cerah. Demo dan kerusuhan hanyalah gejala; yang lebih penting adalah bagaimana kita menanggapi gejala itu. Mari kita kembali pada semangat gotong royong, saling menghormati, dan musyawarah mufakat. Mari kita rawat persatuan sebagai warisan para pendiri bangsa. Mari kita jaga kerukunan sebagai napas kehidupan berbangsa. Karena pada akhirnya, tidak ada kemenangan sejati bila yang kalah adalah bangsa sendiri. Yang kita butuhkan bukan sekadar kemenangan kelompok, melainkan kemenangan Indonesia.
Dr. Lucky Akbar, S.Sos, M.Si, KPDDP Jambi

