Kisah Kara dan Kari sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut :
Karet Gelang Sang Adik
Wajah Kara yang biasanya ceria kini
pucat pasi. Panas tubuhnya meningkat drastis, dan kakinya yang mungil
membengkak kemerahan di sekitar luka bekas besi berkarat itu. Kari, yang hanya
seorang anak remaja, merasa dunianya seolah runtuh. Ia mencoba mengompres dahi
adiknya dengan kain lusuh yang dibasahi air tawar, namun rintihan Kara tak
kunjung reda.
"Sakit, Kak... dingin..."
bisik Kara lirih, tangannya mencengkeram erat karet gelang pemberian ibu muda
tempo hari. Karet itu kini melingkar di pergelangan tangannya yang kurus.
Kari tahu ia tidak bisa berdiam diri. Di
saku celananya, hanya ada beberapa keping koin hasil mereka mengumpulkan botol
plastik kemarin. Jumlahnya takkan cukup untuk membawa Kara ke klinik, apalagi
rumah sakit besar. Namun, bayangan wajah orang tuanya yang hilang ditelan abu
Merapi seolah memberinya kekuatan. Ia tidak boleh kehilangan satu-satunya
keluarga yang ia miliki.
Dengan sisa tenaga yang ada, Kari
menggendong Kara di punggungnya. Ia berlari kecil menuju jalan raya di kawasan
Pantai Indah Kapuk, berharap menemukan keajaiban di antara gemerlap lampu
restoran yang dulu pernah mereka pandangi dengan penuh harap.
Napas Kari tersengal-sengal. Keringat
bercampur air mata membasahi pipinya. Di depan sebuah restoran seafood yang
mewah, ia jatuh terduduk karena kelelahan. Orang-orang berpakaian rapi yang
baru saja keluar dari restoran menatap mereka dengan tatapan iba, namun
kebanyakan hanya berlalu begitu saja.
"Tolong... tolong adik
saya..." isak Kari, suaranya parau.
Tiba-tiba, sebuah mobil putih berhenti
tepat di depan mereka. Pintu terbuka, dan keluarlah sosok wanita yang tidak
asing. Ia adalah ibu muda yang memberikan karet gelang kepada Kara tempo hari.
Wajahnya tampak terkejut melihat kondisi kedua anak itu.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi?"
tanyanya panik sambil berlutut di samping Kari.
"Kaki Kara, Bu... terkena besi
karatan. Dia demam tinggi," jawab Kari terbata-bata.
Tanpa banyak bicara, ibu muda itu
membantu Kari menaikkan Kara ke kursi belakang mobilnya yang bersih dan harum.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Kari terus memegang tangan adiknya,
membisikkan doa-doa yang dulu diajarkan ibunya.
Beberapa jam kemudian, di ruang IGD yang
dingin, dokter memberikan penanganan cepat untuk mencegah infeksi menyebar
lebih jauh. Kari terduduk lesu di koridor rumah sakit. Ibu muda itu, yang
kemudian memperkenalkan diri sebagai Bu Arini, datang membawakannya segelas air
dan sebungkus nasi hangat.
"Istirahatlah, Kari. Adikmu sudah
ditangani. Dokter bilang dia akan baik-baik saja setelah diberi suntikan
tetanus dan antibiotik," kata Bu Arini lembut.
Kari menatap Bu Arini dengan mata
berkaca-kaca. "Kenapa Ibu menolong kami? Kami bukan siapa-siapa."
Bu Arini tersenyum tipis, matanya
menatap karet gelang yang masih melingkar di tangan Kara yang kini tertidur
pulas. "Ibu juga punya seorang adik, tapi kami terpisah sejak kecil.
Melihat kalian berdua saling menjaga, Ibu merasa diingatkan bahwa kekayaan yang
sesungguhnya bukan apa yang ada di piring restoran mewah itu, tapi kasih sayang
yang kalian miliki."
Malam itu, di bawah atap rumah sakit
yang kokoh, untuk pertama kalinya Kari tidak perlu memikirkan bagaimana cara
mencari sisa makanan untuk esok hari. Ia menyadari satu hal: meski hidup mereka
penuh dengan luka dan kehilangan, Tuhan selalu menyisipkan tangan-tangan baik
di tengah kerasnya kota Jakarta.
Kara
perlahan membuka matanya dan tersenyum lemah melihat kakaknya ada di
sampingnya. Petualangan mereka memang masih panjang dan penuh tantangan, namun
malam itu, mereka tahu bahwa mereka tidak lagi benar-benar sendirian.
Bersambung ...