Kerelaan
untuk melepas
Kerelaan untuk tidak lagi mengingat
Bukan demi kebahagiaanmu
Melainkan demi ketenanganku
Upaya
bangkit perlahan
Penerimaan atas keadaan
Itulah jawaban yang kutemukan
Kerelaan
untuk melepas
Kerelaan untuk tidak lagi mengingat
Bukan demi kebahagiaanmu
Melainkan demi ketenanganku
Upaya
bangkit perlahan
Penerimaan atas keadaan
Itulah jawaban yang kutemukan
Fitur | Padel | Tenis Lapangan |
Kurva Belajar | Sangat cepat (cocok untuk pemula) | Lambat (butuh teknik tinggi) |
Kebutuhan Fisik | Kelincahan dan reaksi | Stamina dan kekuatan ledak |
Aspek Bisnis | ROI lebih cepat (lahan kecil, 4 pemain) | ROI lebih lambat (lahan luas) |
Durasi Main | 60–90 menit (ritme cepat) | 90–150 menit (ritme panjang) |
by: Ash Beige Baby
Waktu itu siang hari terasa sangat terik. Cuaca panas
dan gerah menyelimuti Kota Bebatu. Kota tersebut terkenal sunyi karena letaknya
di pinggir provinsi, dikelilingi gunung dan lembah, namun tetap terasa panas
karena berdekatan dengan pantai. Daerah tempat aku tinggal pun sangat sepi.
Hanya ada aku dan beberapa tetangga di kompleks itu, yang keseluruhannya hanya
dihuni oleh delapan keluarga.
Seperti biasa, aku dan suami sedang menyantap makan
siang. Tiba-tiba kami mendengar suara tetangga kami, Kak Elly, berteriak,
“Woyyy… ngapain kau di situ?” Mendengar teriakan itu, kami spontan beranjak
dari meja makan dan berlari keluar rumah. Aku pun meminta izin untuk masuk ke
rumah Kak Elly.
“Ada apa, Kak?” tanyaku kepada tetanggaku yang tampak
sangat ketakutan itu.
“Ada yang mengendap-endap, Lis, di lingkungan kompleks
kita. Ada yang berusaha masuk ke rumah ini, Lis…,” jawabnya dengan suara
gemetar.
“Tenang, Kak. Biar kami cek dulu ya, Kak,” jawabku.
Aku dan suami segera memeriksa area sekitar, namun
tidak menemukan satu pun orang yang menyelinap di kompleks kecil kami. Kami pun
kembali dan berkata, “Tidak ada, Kak. Tidak ada orang di sini.” Meski begitu,
kami tetap waspada karena khawatir orang yang mengendap-endap tersebut adalah
pencuri.
Tak lama kemudian, suami Kak Elly datang dan
menanyakan keadaannya. Kak Elly yang masih syok pun menceritakan semuanya
kepada Bang Andi, suaminya. Bang Andi juga terkejut dan berusaha mencari solusi
agar kejadian serupa tidak terulang, salah satunya dengan memasang CCTV di berbagai
sudut rumah.
Aku dan suami pun ikut mawas diri karena kami juga
merasa syok. Bisa jadi orang yang mengendap atau menyelinap masuk itu adalah
pencuri yang berniat mengambil barang-barang di rumah kami.
Keesokan harinya, aku dan suami pergi ke toko elektronik
untuk membeli beberapa CCTV yang akan kami pasang di rumah. Kami curiga
terhadap orang yang berusaha mengendap-endap masuk ke rumah Kak Elly dan
khawatir ia juga akan mencoba mencuri barang di rumah kami. Setelah sampai di
rumah, kami memasang CCTV di beberapa sudut yang kemungkinan tidak diketahui
orang lain.
Sore harinya, aku mengajak anakku yang masih bayi
berusia tujuh bulan berjalan-jalan di sekitar kompleks. Tak lama kemudian,
terdengar suara berisik lagi di sekitar rumah Kak Elly. Aku berusaha mengecek
dan melihat ada tiga pemuda yang datang secara diam-diam membuka gerbang rumah
Kak Elly dan memeriksa bagian samping rumahnya. Ternyata di sana terdapat
barang elektronik berupa genset yang tentu saja dapat dijual jika mereka
berhasil mencurinya.
Aku pun berteriak, “Tolong… tolong… ada pencuri!”
Ketiga pemuda itu langsung lari ketakutan dan berhasil kabur. Namun sangat
disayangkan, tidak satu orang pun menanggapi teriakanku meminta tolong. Kak
Elly dan Bang Andi yang saat itu tidak berada di rumah segera kuhubungi dan
kuceritakan semua kejadian yang terjadi di sekitar rumah mereka. Mereka pun
terkejut mendengarnya.
Akhirnya, kami sepakat untuk saling menjaga rumah satu
sama lain sebagai tetangga. Jika aku berada di rumah, aku ikut menjaga rumah Kak
Elly, dan jika Kak Elly berada di rumah, ia ikut menjaga rumah kami. Kak elly
memindahkan lokasi genset ke tempat yang lebih aman, dan aku berusaha menutup
gerbang komplek jika malam sudah, Begitulah cara kami saling menjaga satu sama
lain di kota perantauan ini, dengan kewaspadaan, kepedulian, dan rasa
kebersamaan sebagai tetangga yang sama-sama ingin merasa aman dan terlindungi.
survival is heavier than tragedy
tragedy breaks you
while survival makes you carry the pieces
people think restraint is strength
they are wrong
restraint is just pain with manners
it is learning how to bleed internally
without staining the furniture
because some things
you just can't say out loud
it asks you to wake up
with the same bruise
and call it a routine
tragedy ruins a life once
survival ruins it
every morning
you stand tall
because collapsing would be rude
this is not courage
this is compliance
and it still expects gratitude.
Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman budaya, suku, agama, dan bahasa. Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu" menjadi landasan penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks globalisasi dan modernisasi, penting untuk terus memperkuat pesan kebangsaan yang mendukung Bhinneka Tunggal Ika.
Wawasan kebangsaan adalah cara pandang dan sikap bangsa terhadap dirinya sendiri, nilai-nilai kebangsaan, dan cita-cita nasional. Wawasan ini berperan sebagai pedoman untuk memperkuat persatuan dalam keberagaman. Di Indonesia, wawasan kebangsaan berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti "berbeda-beda tetapi tetap satu”.
Selanjutnya penting untuk kita ketahui bersama
bagaimana Wawasan Kebangsaan mampu menjadi mesin pembangunan moral bangsa untuk
memperkuat rasa nasionalisme dan kesatuan dalam keberagaman, menumbuhkan sikap
toleransi melalui penghormatan terhadap
perbedaan menjadi nilai utama dalam berinteraksi, dan pada akhirnya membangun kesadaran kolektif bagi setiap individu di negara ini untuk memahami bahwa persatuan adalah
modal utama pembangunan bangsa.
Dimensi Teoritis dan Pandangan Para Pakar
Secara konseptual keberagaman suatu suku bangsa
dapat difahami sebagai bagian dari peradaban Panjang umat manusia yang
dianalisis oleh berbagai faham teoritis dalam jalan pnajnag ilmu pengetahuan
yang telah dijalani umat manusia itu sendiri, dan beberapa teori tersebut
antara lain meliputi:
Teori Multikulturalisme
Multikulturalisme adalah teori yang menekankan pentingnya menghargai
dan merayakan keragaman budaya dalam masyarakat. Menurut Bhikhu Parekh,
multikulturalisme bukan hanya tentang toleransi, tetapi juga tentang pengakuan
dan penghargaan terhadap perbedaan. Di Indonesia, penerapan multikulturalisme
dapat memperkuat Bhinneka Tunggal Ika dengan mendorong masyarakat untuk
menghargai dan merayakan keragaman yang ada.
Teori Integrasi Sosial
Emile Durkheim, seorang sosiolog terkenal, mengemukakan bahwa integrasi
sosial adalah proses di mana individu dalam masyarakat menjadi bagian dari
keseluruhan yang lebih besar melalui norma, nilai, dan keyakinan bersama. Dalam
konteks Indonesia, integrasi sosial dapat dicapai melalui pendidikan yang
menekankan pentingnya Bhinneka Tunggal Ika dan nilai-nilai Pancasila.
Sejalan dengan dimensi Teoritis di atas, beberapa Tokoh nasional
mengemukakan pandangan yang sejalan terkait hal tersebut. Misalnya sebagaimana
disampaikan oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra yang menekankan bahwa Bhinneka
Tunggal Ika adalah fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia.
Menurutnya, pendidikan multikultural harus diperkuat untuk menanamkan
nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap keragaman sejak dini.
Berikutnya Dr. Yudi Latif juga mengemukakan
bahwa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah dua pilar utama yang harus
dijaga dan diperkuat untuk menghadapi tantangan globalisasi dan radikalisme.
Benchmarking dari dari Negara Lain
Contoh bagaimana negara lain mampu mengoptimalkan keberagaman yang ada untuk
memajukan rakyat dan bangsanya dapat kita lihat dari contoh penerapan di negara
sebagai berikut:
Kanada, Kanada dikenal sebagai salah satu
negara yang berhasil menerapkan multikulturalisme. Pemerintah Kanada secara aktif
mempromosikan kebijakan yang mendukung keragaman budaya dan integrasi sosial.
Program-program seperti "Multiculturalism Act" dan "Canadian
Multiculturalism Day" adalah contoh konkret bagaimana Kanada merayakan dan
menghargai keragaman.
Swiss, Swiss adalah negara dengan empat
bahasa resmi dan berbagai kelompok etnis. Meskipun memiliki keragaman yang
tinggi, Swiss berhasil menjaga persatuan melalui sistem federal yang memberikan
otonomi kepada kanton-kanton untuk mengelola urusan lokal mereka. Pendekatan ini
memungkinkan setiap kelompok etnis untuk merasa dihargai dan diakui.
Singapura, Singapura adalah contoh negara
yang berhasil mengelola keragaman etnis dan agama melalui kebijakan yang ketat
namun inklusif. Pemerintah Singapura menerapkan kebijakan perumahan yang
memastikan distribusi etnis yang merata di seluruh negeri, serta program
pendidikan yang menekankan pentingnya harmoni rasial.
Langkah-Langkah Implementasi di Indonesia
Untuk mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia dapat mengambil
beberapa langkah strategis:
Pendidikan Multikultural, melalui Pendidikan
multikultural diharapkan dapat menjadi instrumen sekaligus menjadi bagian integral dari
kurikulum nasional. Sekolah-sekolah harus mengajarkan nilai-nilai toleransi,
penghargaan terhadap keragaman, dan pentingnya persatuan.
Kebijakan Inklusif, maksud kebijakan ini
adalah Pemerintah harus mau dan mampu menerapkan kebijakan yang mendukung
inklusivitas dan kesetaraan bagi semua kelompok etnis dan agama.
Program-program seperti beasiswa untuk siswa dari daerah terpencil dan
kebijakan afirmatif untuk kelompok minoritas dapat membantu mengurangi
kesenjangan sosial.
Dialog Antarbudaya, pendekatan ini mendorong komunikasi
di arah antar entitas budaya melalui forum-forum diskusi, festival budaya, dan
kegiatan komunitas dapat memperkuat pemahaman dan penghargaan terhadap
keragaman.
Media dan Teknologi, tak bisa dipungkiri media
massa dan teknologi informasi saat ini menjadi dunia lain yang kerap digunakan
untuk mempromosikan pesan-pesan kebangsaan yang mendukung Bhinneka Tunggal Ika.
Kampanye media sosial yang menekankan pentingnya persatuan dalam keragaman
dapat menjangkau generasi muda.
Komunikasi Sosial
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan yang sangat relevan dalam konteks
Indonesia yang multikultural. Dengan mengadopsi teori multikulturalisme dan
integrasi sosial, serta belajar dari contoh negara lain, Indonesia dapat
memperkuat pesan kebangsaan yang mendukung persatuan dalam keragaman.
Pendidikan, kebijakan inklusif, dialog antarbudaya, dan penggunaan media yang
efektif adalah langkah-langkah strategis yang dapat diambil untuk mewujudkan
Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia.
Untuk itu wawasan
kebangsaan sebagi fondasi penting untuk menjaga dan mewujudkan Bhineka Tunggal Ika harus diwujudkan dalam cara pandang dan bersikap pada kehidupan sehari-hari di masyarakat. Hal itu bertujuan agar terbangun
komunikasi sosial guna memahami, menginternalisasi, dan
mengamalkan nilai-nilai kebangsaan
sebagai kebutuhan tujuan hidup bermasyarakat Indonesia agar harmonis di tengah
keberagaman, mendukung pembangunan bangsa yang adil, makmur, serta berdaya saing. Intinya, persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan yang harus dijaga untuk mewujudkan
cita-cita bangsa.