Jam Kentang


Jam Kentang


#kisah ini adalah lanjutan dari artikel di bukannotadinas.com berjudul

Wir gehen zusammen ein Kaufen dan
Sebuah Sesi

---------


Meyr membuka tasnya dan segera menemukan kartu nama

Meryam Taqiyya, CFC
Financial Consultant
+62 812 111 2355

Diberikannya kartu itu kepada Ray sambil tersenyum.
"Ray, please keep it for yourself." Meyr berguyon tapi Ray tidak paham.
Ray diam diam jadi merasa tersanjung. Meyr sudah pasti menarik hatinya, walaupun ia sudah punya Ara. Dipandangnya gadis semi bule itu hampir tanpa kedip.

Meyr tidak peduli. ia pun berlalu agak cepat. Meyr ingin segera menemui ayah dan membalas ledekannya.


Di lift ia bertemu Ibu Direktur. Ia sudah cukup akrab dengan Ibu Direktur karena kantornya sudah beberapa kali menjadi konsultan pasar keuangan di sana.

Ibu terlihat menawan dengan batik  kuningnya. Rambutnya di-blow seperti biasa, tidak lupa hairspray agar tak terlihat berantakan.
"Hay, Meyr.."
"Oh. Halo Ibu..good afternoon. Apa kabar?"
"Baik..habis ngajar?"
"Iya, tapi bukan sesi di kelas. Saya mengajar untuk Ray.
Sesi kelas saya sudah selesai, pekan lalu Ibu"
"Oh..iya ya. saya baru pulang dari luar kota jadi lupa update soal ini. So you jadi trainer privat buat Ray..?"
"Ya.. tapi ya..karena ia agak memaksa.."
"Ha-ha-ha.."
"Dan ia merasa butuh asistensi lebih."
"Oh.. yaa..
Baiklah.."
"Bu, maaf saya duluan ya. Have a good day Ibu."
Meyr keluar lift saat sudah sampai lantai dasar.
"Ok Meyr. You too"

Meyr baru saja ingin membuka pintu mobil saat teleponnya berdering.

"Dad.."
"Meyr...ini ayah..Ayah harus balik ke Berlin ya Meyr. So sorry for this, you can manage yourself well right?"
"Dad..i am gonna miss you. "
" Me too Meyr. Love you so much"
" Ok dad..."

Ia membuka pintu mobil, tapi dengan semangat yang berbeda.

Meyr menyetir dengan bayang bayang Berlin di pikirannya. Berlin yang elegan, dingin, kadang terasa angkuh baginya. Berlin memberinya kenangan pahit atas kehilangan ibu. Ibu yang selalu disisinya, memeluknya erat dan penuh kasih sayang. "Dimana ibu, dimana ibu...", ia ingat bagaimana ia meraung raung di kamar karena ibu tak ditemukannya di manapun. Ayah bilang, ibu telah pergi lebih dulu.

Airmatanya jatuh tanpa diminta. Sejak hari itu dunia terasa berbeda. Ia begitu kehilangan ibu, dan selalu rindu ayah. Hanya ayah pelampiasan cintanya, sebab Berlin tak menyisakan keluarga lain. Berlin terlalu mencekam bagi meyr kecil. Meyr yang terlihat baik saja namun penuh luka di dalam hatinya.


Sementara itu di ruang tunggu bandara di waktu yang sama, ayah Meyr sedang pusing. Barang impornya hilang sudah dua kali ini. Barang hilang itu sudah berganti kentang. Ya. Jam tangan ratusan buah raib dan hanya ada kentang.

"Siapa yang melakukannya?"
Pikirannya mencoba menganalisis tapi ia merasa buntu. Keinginan melihat Brett akhir akhir ini sering menghampirinya. Ia sebetulnya rindu anak itu, tapi saat ini tidak ada yg bisa dilakukan selain pasrah pada keadaan.


....





Aura Naura

Kejadian ini berawal dari adanya info mengenai pentas dari seorang artis cilik bernama Naura di sebuah pusat perbelanjaan pertama dan terpadat di sebuah kota di ujung planet bumi, Bekasi. Saya sebagai seorang ayah dan orang tua dibuat terkejut ketika si dd ini sudah meminta agar di-reminding pada tanggal 16 April 2017 pada pukul 16.00 WIB. Spontan kami sekeluarga mempersiapkan agar jadwal pentas itu tidak terlewatkan. Ini terjadi seminggu sebelum tanggal pentas Naura, dd sudah mengingatkan ke kami.

“Umi, nanti dd mau nonton ya, karena jarang-jarang Naura pentas di Bekasi. Tapi siapa nanti yang temani dd?” tanyanya kepada umi. Umi menjawab dengan santai, “Tenang dd, kan ada abi, nanti kita bisa berangkat sebelum jam 15.00 jadi bisa hadir 1 jam sebelum pentas”. “Ok umi, tapi jangan lupa ya, nanti saling mengingatkan.” Kemudian saya menjawab,  “Ok dd, nanti kita berangkat sama-sama ya, kk mau ikut jalan juga?” “Ih apaan sih abi, kan kk sudah SMP, gak suka nonton pentasnya Naura.” Setelah percakapan itu, maka kami semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Siapa sih Naura? Apa yang telah dilakukan seorang anak berumur 11 tahun itu hingga terkenal? Kenapa si dd mengidolakan Naura ini? Viewer Naura di channel www.youtube.com  sudah cukup banyak. Sebagai orang tua, saya berusaha mencari informasi yang lengkap siapa dan apa saja yang sudah dilakukan oleh Naura. Mari kita simak informasi berikut.

Naura merupakan anak pertama dari pasangan Baldy dan Riafinola Ifani Sari (Nola – Be3, jebolan penyanyi Asia Bagus, masih jamannya TVRI). Naura ini memiliki nama lengkap Adyla Rafa Naura Ayu. Apa yang menarik atas Naura ini ? Pengamatan saya sejauh ini, orang tua Naura sangat cermat dalam melihat peluang pasar dimana penyanyi anak-anak saat ini mengalami kekosongan idola. Sebagai penyanyi, Nola melihat pangsa pasar ini untuk dijadikan peluang. Maka dilatih dan diolah vokal sang anak secara kontinyu oleh ibunya. Bahkan Naura ini sudah memilki label perusahaan rekaman yaitu Trinity Optima Production. Jadilah sekarang seorang Naura merupakan bintang cilik yang menjadi idola  bagi anak - anak Indonesia. Selain itu, sebagai orang tua, Nola pun selalu membantu dalam mempromosikannya melalui video blog (vlog)-nya. Cukup banyak vlog-nya Naura di channel youtube. Rata-rata vlog-nya telah dilihat lebih dari puluhan ribu. Bayangkan !!!

Itulah sekilas info mengenai siapa dan apa Naura, tidak heran banyak anak-anak seusia belasan tahun mengidolakan Naura. Nah, cerita berlanjut kepada perjuangan si dd yang ingin melihat pentasnya di sebuah mal di Bekasi. Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Minggu, tanggal 16 April 2017, pagi hari yang tenang, wajah dd terlihat sangat riang dan gembira dengan agendanya di sore nanti. Bahkan sudah merencanakan untuk membawa handphone  untuk bisa mengambil gambar sang idola. Siang berlanjut hingga makan siang. Umi meminta agar dd bisa tidur, tapi karena sudah terbayang pentas sang idola, dd tidak tidur siang agar tidak tertinggal jika bangun terlalu sore. Pentas terjadwal pukul 16.00 WIB. Kita sebagai orang tua, berusaha tidur siang karena khawatir jika pentasnya akan berlangsung lama. Ketika bangun dari tidur siang sekitar jam 14.30 WIB, umi membuka instagram-nya Naura, dan tertulis, “Hi teman-teman, jangan lupa tonton saya di Bekasi pada pukul 15.00 WIB ya. Mana suara dari Bekasi?”  Umi terkejut, saat itu dd sedang mandi sambil menyanyikan beberapa bait lagu dari Naura, yang sudah mengeluarkan 2 album yaitu Dongeng - 2014 dan Langit yang Sama – 2016. Kita berdua lihat-lihatan, “Bagaimana umi? Gak tega untuk memberitahu si dd, kok jadwal di instagram berbeda waktu pentasnya dengan info sebelumnya.“  Akhirnya kami sepakat memberitahu, “Dd mandinya cepetan, karena Naura tampilnya jam 3 sore”. Dengan wajah memelas, dd bertanya ke umi “Iya umi?” “Memang dd gak sempat cek instagram-nya Naura?” Anaknya menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda tidak tahu dengan muka yang ditekuk dan dilipet seperti kertas yang lusuh. Akhirnya kami putuskan untuk naik ojek online, karena jalurnya macet saat itu dan transportasi yang paling murah dan reliable, ya ojek online.

Berangkatlah umi dan dd ke mal tujuan dengan harap-harap cemas apakah dapat melihat pentasnya atau tidak. Byaaar…pet…dung…dung…praakk…pentas telah bubar dan penari latar yang hanya bisa dilihat oleh umi dan dd. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya dd. Umi kabari saya melalui whatapps bahwa pentas Naura sudah selesai. Pikiran saya melayang ke mana-mana memikirkan bagaimana membujuk si bungsu ini yang sudah membayangkan bisa ber-selfie atau berfoto dengan Naura. Akhirnya ku jemput mereka dengan vespa yang fenomenal di mal itu. Kabar baiknya, dd sudah dibelikan sebuah es krim sebagi pengganti kekecewaan tidak melihat pentas Naura itu. Setelah perjalanan yang cukup adventuring naik vespa bertiga menuju rumah, kami juga masih berniat untuk membujuk dd agar tidak ditekuk dan dilipet wajahnya. Akhirnya selama perjalanan, kami menikmati pemandangan sekitar perumahan agar tidak sampai rumah lebih cepat, dan ternyata itu berhasil. Si bungsu bisa menerima ketidakhadiran dirinya saat Naura pentas, namun dd masih terus mencari info tentang pentasnya Naura. Akhirnya ketemu info itu, Cinere. Hah…jauh sekali dari planet Bekasi dan tidak mungkin naik vespa yang fenomenal itu. Tapi begitulah anak-anak, sesuatu itu akan selalu dikejar hingga rasa penasaran itu tercapai. Sihir dan aura Naura terus menghantui rasa penasaran dd terhadap sang idola untuk bisa melihat secara langsung pentasnya. Dd juga berharap kapan sang idola akan pentas lagi di planet Bekasi. Semoga dd bisa melihat aura Naura sang idola.

Salam


R. Ardyansyah


cerita ini juga dapat dilihat di : https://rulyardiansyah.blogspot.co.id

Sebuah fiksi : Merajut Mimpi

Buah salak yang telah siap dipanen, terlihat ranum pada setiap batang pohon di desa Sibetan, Bali. Daerah ini memang terkenal sebagai daerah penghasil salak berkualitas terbaik di Indonesia. Udaranya sejuk dan sebagian besar daerahnya berada di dataran tinggi. Sangat pas bagi pohon salak untuk dapat tumbuh maksimal. Buah salak yang dihasilkan sangat manis dengan daging buah yang tebal dan biji yang kecil. Perkebunan salak penduduk terhampar di sepanjang jalan desa ini, membawa keberkahan tersendiri bagi warga sekitarnya.

Sore itu, Gek sedang tekun memilih buah salak yang matang, dan memetik dari tangkainya.

"Siki, kalih, tiga, papat, lima, nenem......"

Mulutnya sibuk menghitung buah salak yang telah dipetik, lalu menyusunnya dengan rapi dalam satu keranjang anyam.

"Gek....sudah panenkah salak.....wah...asiiik....."

suara Genta mengagetkannya, belum hilang keterkejutannya, Genta mengambil salak dari keranjang di samping Gek.

"Dadi minta satu ya, kayanya enaak..." serunya

Sambil berlagak berkacak pinggang, Gek berteriak "Jangan Genta....itu buat ke penten!" 

Tanpa peduli, Genta berlari sambil tertawa-tawa, dengan salak di tangannya....

Gemas, Gek mengejar, mereka berlarian diantara pohon-pohon salak.

Gek terduduk di rumput, tersenyum Genta mendekatinya.

"Bisa kau bukakan salak ini Gek? Sepertinya rasanya manis...lebih manis lagi kalau kita makan berdua...tak apalah, paman tak akan marah, bukankah paman juga sering bilang kalo menjual itu dengan sesuatu yang baik.....supaya kita tahu itu baik, bukankah kita harus mencobanya dulu, Gek?"

Gek tersenyum, diambilnya salak dari tangan Genta, dan mengupasnya. Genta duduk disisinya.

Mereka makan sambil tertawa...

Gek dan Genta adalah sepasang kakak beradik. Orang tua mereka telah meninggal dunia akibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Sejak itu mereka tinggal bersama pamannya, membantu sang paman mengurus perkebunan salak miliknya.

"Beneh Genta, paman tak akan marah, bahkan seandainya kita makan separuh dari salak-salak inipun beliau tak akan marah. Paman sangat baik Genta....paman menyadari benar bahwa mengurus dua anak yatim piatu seperti kita adalah hal yang luar biasa besarnya. Tidak semua orang sanggup melakukannya. Bukan hanya sekedar kewajiban sebagai pamanlah yang mendorong beliau melakukan itu, tapi karena beliau memang punya hati. Hati penuh belas kasih, yang siap dibagikannya kepada siapa saja."

Genta menatap kakaknya, tersenyum sambil berkata,

"Mbok, kalau sudah besar, kelak aku ingin seperti paman."

"Tentu saja kamu bisa, Genta"

Sahut Gek, terharu...

Tak sadar, Gek mengusap kepala Genta yang sedang makan salak dengan satu tangannya, sementara satu tangan Genta yang lainnya, terpaksa harus diamputasi karena kecelakaan maut itu.

Karena itu....Genta tak bisa mengupas salaknya sendiri...


 (Cinta - Gek dan Genta)

Keterangan:

mbok   : kakak perempuan             dadi     : boleh
beneh  : benar                              penten : pasar

Kisah Iteung, Episode Eau de Toilette


Sore ini Iteung maksain aerobic di rumah diiringi lagu dangdut Terajana. Kebayangkan aerobic model apa yang dilakoni Iteung. Cuma nggak perlu dibayangin takutnya mual nanti.

Asyiknya memang nggak tanggung-tanggung nih aerobic diiringi lagu dangdut. Serasa rumah lagi digoyang gempa dengan kekuatan 10 derajat Celsius. Ow ow salah ya. Maklum waktu sekolah Iteung selalu bolos pas pelajaran Geografi, jadinya buta hitung-hitungan gempa bumi.

“Terajana..terajana lagunya lagu India .”  Lagunya bikin Iteung tambah lincah bergoyang sampai abis meja dan lemari ketendang-tendang kaki Iteung. Lagu yang luar biasa buat mengiringi aerobic sore ini. Sayangnya kurang pohon nangka aja buat dipeluk-peluk.

“Ayo kang, ikutan!” Iteung teriak ngajak si Akang bergoyang.
Si akang nggak nyahut dari kamarnya. Udah seharian ini dia asyik di kamar nonton film si Arnold Selau Segar yang judulnya Terminal apa gitu, Mungkin Terminal Pulogadung. Iteung nengok sebentar ke kamar, eh kenapa itu si Akang kok nangis di pojokan kamar kayak anak kecil nggak kebagian uang jajan. Dengan berat hati, lagu Terajana  Iteung pause dulu.

 “Kenapa kang? Filmnya bikin sedih? Masak film aksi-aksi bikin sedih sih?” Iteung pura-pura perhatian. Si Akang geleng-geleng kepala.
“Terus kenapa kang? Jangan bikin Iteung kesel deh. Udah tua juga masih aja nangis kayak anak kecil.” Mulut Iteung nggak tahan buat ngomelin.  Si akang nangis tambah kenceng. Mungkin kalau nggak malu, guling-guling di lantai kali. Cuma kucing-kucing di rumah lagi ngeliatin si Akang. Mungkin penasaran adegan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Itu…itu.” Tangan si Akang nunjuk ke kamar mandi sambil terisak-isak.
“Ada apa di kamar mandi?” Tanya Iteung penasaran. Ah si Akang lagi nyoba-nyoba main drama detektif nih bikin teka-teki. Langsung Iteung nyanyi lagu Teka-Teki nya Raisa.
“Sst…jangan nyanyi dulu deh. Siapa yang bersihin wc?” Mata si Akang melotot ke Iteung.
“Diriku Akang. Yayangmu yang paling setia dan romantis sekampung Kunyit Mekar ini.” Jawab Iteung berharap pujian dari si Akang.
“Lha ini kenapa botol kosong.” Tanya Akang lagi sambil memegang botol  dengan ukuran 100 ml kalau Iteung nggak salah lihat.
Ah masak sih, botol kosong aja bikin nangis. Emang di botol itu ada jinnya. Ada-ada aja si Akang ini.
“Oh itu, Air di botol itu Iteung pake buat nyuci wc biar wangi. Akang sih tiap hari makan jengkol , nggak bosen-bosen. Kemarin semur jengkol, hari ini balado jengkol. Jangan-jangan besok mintanya sop jengkol….” Cerocos Iteung.
“Stop!!” Si Akang ngebentak Iteung.
Ih Akang tega, Iteung kok dibentak.  Harusnya Iteung kan diperlakukan seperti Princess Negeri Dongeng. Sungguh Akang teganya..teganya..teganya..teganya..teganya…

“ Ini minyak wangi Akang. Belinya jauh di Seattle, oleh-oleh temen Akang yang sekolah disana.”  Teriak Akang yang suaranya ngalahin toa masjid.
Iteung garuk-garuk kepala soalnya sahabat-sahabat kecil Iteung berlarian di kepala dengar teriakan si Akang. Iteung juga udah seminggu nggak keramas lho.

“Akangku sayang, bukan salah Iteung juga kok kalau Iteung ngebersihin wc pake air di botol itu. Lha itu tulisan di botol kan eau de toilette, berarti bisa buat ngebersihin toilet. Akang aja yang aneh pembersih toilet dipake buat pewangi badan” Iteung coba membela diri, sambil nyembunyiin sikat wc. Takutnya si Akang khilaf, wajah Iteung yang mulus digosok pake sikat wc. Mahal kan perawatan wajah. Apalagi salon neng Euis mah cuma nyiapin kosmetik impor dari Timor Leste.
“Iteunggggg…!!” Tiba-tiba aja si Akang udah ngacung-ngacungin sapu lidi.

Yuuuk kabur…………………..

Sekolah Tanpa Sekolah

tampilan iBooks (foto pribadi)


Sewaktu memutuskan untuk membeli iPad pertama tahun 2011 lalu, pikiranku sederhana. Aku hanya ingin bisa melakukan banyak hal seperti yang diiklankan: menulis, menggambar, menyelesaikan pekerjaan kantor, mengirim pesan, mendengarkan musik, melihat film, dan terutama … belajar tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Ketika sistem operasi iOS masih merupakan sesuatu yang ‘eksotis’ bila dibandingkan dengan Windows, maka beberapa fitur yang diperkenalkan Apple hanya bisa dimengerti dengan menggunakannya sendiri. Itulah satu-satunya alasanku membuka aplikasi kartu kredit, dan menutupnya kembali sewaktu cicilan iPad-ku lunas. Beberapa istilah yang membuatku penasaran itu antara lain: podcast, iTunes, iBooks, dan … iTunes U.

Ironisnya, istilah podcast pertama kali kutemukan karena menggunakan ponsel Nokia, bukan iPhone. Sampai sekarang pun, aku adalah penggemar setia Nokia … bahkan meski ia sudah bangkrut. Aku benar-benar percaya dengan kata-kata perpisahan yang diucapkan CEO Nokia sebelum menutup perusahaan ini dengan berlinang air mata, “We did not do anything wrong, but somehow, we lost.” I really believe what he said, because I really experience how good Nokia is. But sometimes, and more often than not, business is where dog eats dog. Plagiarisme, atau bentuk pelanggaran hak cipta lainnya … kadang bedanya sangat tipis dengan inovasi. Nokia tergilas pesaing-pesaing yang lebih cepat belajar darinya. 

Sebelum kita mengenal istilah Google Earth atau Siri, Nokia telah memberikan pengalaman untukku ‘menjelajah’ dunia dengan ponsel yang hanya berkapasitas 2G. Aku masih ingat nama aplikasi yang kugunakan saat itu: Here. Dengannya aku berjalan-jalan ke Finlandia (atau negara lainnya), dan menemukan nama beberapa restoran atau tempat wisata yang berjarak beberapa ratus meter satu sama lain, seolah-olah kita benar-benar berada di sana. Unfortunately, “Here” is not here anymore.

Dengan Here dan podcast itulah, aku mulai belajar secara mandiri dengan bantuan teknologi informasi. Aku mulai mengerti, bahwa banyak orang ‘di luar sana’ yang rajin membuat semacam ‘siaran radio gratis’ dengan topik-topik yang spesifik. Ada yang mengajarkan cara memasak, mengulas resensi film, mengajarkan bahasa asing, dan banyak lagi. Di podcast itulah aku pertama kali belajar Bahasa Prancis secara aktif, sebelum akhirnya mendaftarkan diri secara serius ke CCF (Centre Culturel Francais) di Salemba (yang kini hanya tinggal bangunan kosong; katanya sih pindah ke Thamrin). Lumayan, aku lulus level A2 … meski sertifikatnya tidak sempat kuambil karena sudah terlanjur berangkat ke Swedia.

Tergila-gila dengan podcast bahasa, dan merasa capek juga bolak-balik mengunduh MP3-nya dari ponsel 2G ku yang lemot ke ke laptop mini-ku yang tidak kalah lemot … aku memutuskan untuk mencari tahu asal mula dari demam podcasting ini. Sebab aku percaya, semua yang terbaik biasanya ditemukan dari sumber asli atau yang pertama. Dalam hal podcast, pionirnya adalah iTunes. Aku memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak mengenai dia dan teman-temannya. Pertama, tentunya dengan berkenalan dengan perangkat Apple.

Apabila podcast bekerja seperti channel televisi atau siaran radio dengan bantuan internet, maka iTunes bekerja seperti toko kaset atau video virtual. Demi menghemat kuota internet, fitur iTunes jarang kugunakan selain untuk mengunduh film secara legal demi kelangsungan hidup pekerja seni.  Tapi aku mulai jatuh cinta kepada 2 teman lainnya, yaitu iBooks dan iTunes U. Mereka membuka wawasanku mengenai sesuatu yang dikenal dengan nama ‘pendidikan gratis.’

Layanan standar iBooks memberikan akses gratis ke berbagai literatur klasik, seperti novel “The Great Gatsby” karya F. Scott Fitzgerald atau kumpulan dongeng anak-anak karya Hans Christian Andersen. Teori filsafat klasik karya Plato, Socrates, dan kawan-kawan juga termasuk ke dalam rangkaian buku gratis yang disediakan iBooks dengan bantuan Project Gutenberg. Selama lebih dari 2 tahun, aku tidak tahu bahwa iBooks yang berbayar tidak tersedia di Indonesia. Hatiku senang sekaligus sedih ketika pertama kali mengetahui banyak buku berkualitas dan best seller bisa diunduh di ITunes dari luar perbatasan negara ini. Apakah ini karena kita terkenal dengan ‘pembajakan’? Mungkin ini saat yang tepat untuk introspeksi.

Adapun iTunes U (singkatan dari iTunes University) memperlihatkan ambisi yang jauh lebih besar lagi. Pada intinya, ia adalah semacam portal yang membuka akses ke beberapa materi kuliah yang disediakan secara gratis oleh universitas-universitas ternama. Sebut saja Yale, Harvard, Cambridge, Oxford, MIT, dan tentu saja Open University. Semakin banyak kampus yang memberikan akses bahan kuliahnya secara gratis (dan legal) ke masyarakat umum. Format iTunes U lebih kompleks dan lebih menarik daripada iBooks, sebab ia menggabungkan antara literatur, audio, dan kuliah ‘tatap muka’ (dengan bantuan arsip video). Satu-satunya hal yang tidak tersedia di sini adalah ijazah. Jadi, inilah kesempatan bagi mereka yang ingin mencari ilmu dan bukan ijazah.

tampilan iUniversity (foto pribadi)


Beberapa institusi resmi yang mengelola data kuantitatif juga mulai mengembangkan aplikasi seluler untuk bisa digunakan oleh masyarakat umum, contoh: NASA dengan aplikasi SkyView yang memonitor pergerakan seluruh satelit (militer maupun komersil) beserta benda-benda langit lainnya; WorldBank dengan aplikasi Spatial Agent yang memberikan data mengenai polusi, kependudukan, dan ekonomi; atau Red Cross (US) dengan aplikasi Earthquake untuk deteksi dini mengenai gempa bumi dan tsunami.

Sebelum pembaca mulai berpikir tulisan ini lebih mirip iklan daripada artikel, marilah kita beranjak ke platform pendidikan gratis lainnya. Di sini kita bisa berkenalan dengan Khan Academy, Coursera, dan Memrise. Semua situs yang bertebaran di dunia maya ini mengelola kontennya secara mandiri dan terbuka. Analoginya mungkin bisa diserupakan dengan sistem open source. Semua bisa belajar dan semua bisa berkontribusi. Demi menjaga mutunya, mereka juga mempunyai pekerja tetap atau tim khusus yang berfungsi sebagai kurator dan teknisi.

Dengan segala fenomena ini, mungkin kita tengah beralih dari era kompetisi ketat (Red Ocean) menuju era kolaborasi dan kerja sama (Blue Ocean). Meski kalimat terakhir tadi lebih sering diterapkan dalam dunia bisnis daripada dunia pendidikan, perlu diakui juga bahwa mahalnya biaya sekolah saat ini membuka mata kita untuk mempertimbangkan alternatif pendidikan lainnya yang lebih bersahabat dan termutakhir.

Jadi, tunggu apa lagi? Temukan minatmu dan mari kita mulai belajar … tentang apa saja. Di mana saja.

Tautan:

Sebuah Sesi

A Session


---------------
Cerita ini adalah sambungan dari kisah Meyr sebelumnya di blog bukannotadinas.com berjudul "Wir gehen zusammen ein Kaufen"

----------------


"Tentukan dulu berapa yield yang kamu mau, lalu cut off all bids over that limit. So you manage your own estimate. Thats why we call it owners estimate.

After that, check your spread. Spread is the difference between highest yield and the average yield. You could say, its the gap between the outlier with the common yield. We usually cut off any bids point that offers too much spread."

"How much is too much?"

"Its about two digits."

But dont forget that you also have another limit. One is regulation. For example, you want a tranche hanya dimenangkan 3 trillion. So even though you have a great quality bid offer, still you have to take only on that amount.

"Ya.. "

Meyr nampak anggun sekali dalam keseriusannya. Ia masih seperti meyr yang dulu, cantik dan cerdas. Dua padanan yang memikat.

"After that..."

"Wait miss..im sorry.. i am having a call.."

"Oh yeah..thats all fine..take your time"

Meyr melihat sekeliling. Kubikal yang mirip dengan kantor lama tempatnya bekerja. Separuh dindingnya adalah kaca, dengan bagian depan ada dinding yang sengaja tidak dipenuhi karena digunakan untuk orang keluar masuk.

Ia membuka handphonenya. Mencari cari  nama ayah di whatssapnya


"Der Hahn ist tot,
der Hahn ist tot,
Der Hahn ist tot,
der Hahn ist tot,
Er kann nicht mehr kräh'n, kokodi, kokoda,
Er kann nicht mehr kräh'n, kokodi, kokoda.
Kokokokokokokokodi, kokoda"


Ayah meledeknya di pesan terakhir.
Lagu itu lagu soal ayam mati.
"oh may goodness".
Ayah biasa menyanyikannya dulu sekali ketika ia bahkan belum sekolah. Hatinya tiba tiba menghangat, penuh rasa cinta. Rasa yang tidak ingin ia lepas..sampai suara Ray mengagetkannya.


"Miss...saya disuruh wakilin rapat..mendadak..."

"Ouch.."

"Gimana ya miss?"

"Ok..no problem Ray. Saya akan dtg lusa sesuai jadwal. Tapi hari ini berarti jatah belajarmu hangus sekitar 40 menit", ujar meyr sambil melihat Rado ditangannya.

"Eh..iya miss..maaf ya soalnya tiba tiba.."

"Keine Probleme, Ray..ok then..see ya"
Meyr membereskan tasnya dan beranjak pergi.

"Miss, sy boleh minta nomer hape?"

"Uhm, should you?"


...




Anandy Wati: Pegawai Bukan Barang Dagangan

Duta Transformasi Kementerian Keuangan

Bagi Direktur Anggaran Bidang Perekonomian dan Kemaritiman, Direktorat Jenderal Anggaran, Anandy Wati, semasa menjabat sebagai Kepala Bagian SDM di Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan. Sempat diragukan saat mulai menjabat, Anandy menjawab keraguan tersebut dengan berbagai transformasi pengelolaan SDM.

“Hal pertama yang saya benahi adalah merapikan data administrasi pegawai, dibuat sedetil mungkin mulai dari kondisi keluarga, kondisi kesehatan, pendidikan, pengalaman mengajar dan ikut seminar, serta penyesuaian angka kredit,” tuturnya kepada Duta Transformasi Kementerian Keuangan di ruang kerja beliau (5/4). Data administrasi tersebut kelak menjadi tahap awal assessment promosi pegawai.

Pada tahun 2005, DJPB menjadi institusi pemerintah pertama yang melakukan assessment reformasi birokrasi terhadap para pejabatnya. Assessment tersebut diikuti dengan penyusunan standar kompetensi jabatan dan peluncuran KPPN Percontohan.

Duta Transformasi Kementerian Keuangan

Anandy juga melakukan perampingan jumlah pegawai, dari tiga belas ribu menjadi sebelas ribu, dengan sistem minus growth recruitment untuk mencapai jumlah pegawai yang fit in dengan kebutuhan. “Dengan begitu, career path-nya jelas,” jelasnya.

Ada juga isu lain yang menjadi concern-nya ialah persoalan mutasi pegawai. “Semasa menjadi Kabag SDM, saya sampaikan kepada Kanwil bahwa saya bukan pengelola pegawai, yang mengelola pegawai dan yang punya pegawai ya para pejabat Kanwil tersebut. Saya hanya konsultan Anda,” tegasnya.

Ini terkait permintaan kanwil terhadap pegawai yang dianggap jelek, “Bu Anandi tolong pindahin, minta pegawai yang bagus”.

“Enak aja, emang pegawai itu dagangan,” jawab Bu Anandi, “Bagus tidaknya pegawai Anda yang harus membina.”

Anandy menekankan bahwa peningkatan kapasitas dan mengedukasi staf merupakan bagian tanggung jawab dari para atasan. “Tidak bisa hanya menuntut yang bagus saja, emangnya ready stock pegawai begitu,” terangnya.

Duta Transformasi Kementerian Keuangan

Saat disinggung soal pengalamannya sebagai pemimpin, Anandy menyatakan bahwa dirinya termasuk pemimpin yang sangat demanding agar stafnya harus lebih pintar. “Karena meringankan tugas saya kok. Gimana, kan kalau lebih pintar, kita men-deliver message gampang, sehingga anak-anak langsung nangkap. Ya anak-anak sekarang udah pinter-pinter. Saya tuh dengan senang hati saat minta tolong dengan disposisi kecil aja sudah jadi kok. Makanya saya ndak bosan-bosan sharing pengalaman apa yang sudah dilakukan sehingga menjadi referensi anak-anak,” tambahnya.

“Nah kalau kita takut dikalah pinter, itu sangat naif, berarti memang leadership-nya belum cukup. Artinya soul-nya belum cukup matang. Kalau matang, kita harus lebih pinter, tapi kita harus lebih mampu me-manage. Karena semakin tinggi itu lebih kepada managerial, ga bersaing dalam teknis.” Anandy juga menambahkan bahwa aktivitas seperti Focus Group Discussion, gugus kendali mutu, dilaksanakan agar pegawai dapat saling asah, saling asuh, kebersamaan, dan saling sharing. Sebab, karakteristik pekerjaan kita adalah workgroup, bukan pekerjaan individu.

Kisah Iteung, Episode Candle Light Dinner

Persiapan

Si Akang ngajakin Iteung dinner nih. Ih, serasa melayang perasaan Iteung seperti layang-layang menari di angkasa.
"Sekali-kali kita adain candle light dinner, biar romantis." kata si Akang sambil senyam senyum penuh makna.

Sepertinya si Akang kesamber gledek deh. Nggak ada hujan atau angin ribut tiba-tiba ngajakin Iteung candle light dinner. Atau lagi dapat undian berhadiah panci. Apapun alasannya nggak penting. Yang penting Iteung bisa makan enak. Jarang-jarang Iteung dapat jackpot.

Kebayang steak wagyu saus barbeque dan minuman segar. Pokoknya Iteung mau pesan makanan paling mahal. Jarang-jarang si Akang mau ngemodal, apalagi ngajakin candle light dinner.

Karena istimewa, sebelum pergi dinner, Iteung dandan dulu biar bisa nyaingin Jenifer Aniston, idola si Akang. Iteung harus nunjukin juga kelas Iteung sebagai sosialita papan gilesan.

Iteung aduk-aduk isi lemari nyari baju paling pas buat candle light dinner. Akhirnya Iteung nemu baju yang pas. Baju yang penuh dengan manik-manik biar kelihatannya bercahaya. Pokoknya dandanan Iteung harus cemerlang bak langit penuh bintang. Sekalian juga mempraktekan kursus kecantikan di salon Ceu Euis.

Lihat kaca, Iteung pangling sama muka sendiri. Kok kayak dandanan pengantin. Terang benderang kayak lampu jalanan ibukota. Iteung berlenggak lenggok sambil maju mundur kejedot.

Iteung memilih sepatu high heels yang senada dengan tas herman Iteung. Tinggi sepatu Iteung selebar penggaris anak sekolahan. Tak lupa plester sebagai pertolongan pertama pada kelecetan atau P3K. Hmmm perfecto deliciouso....
"Akang, ayo kita let's go."
Cuma kenapa si Akang cuma pake kaos oblong. Gambar slankers pula. Perasaan Iteung nggak enak. Kenapa si Akang nggak pake tuxedo ya biar kayak mafioso Itali.
"Akang tuh mau makan bukan mau dilantik jadi pejabat." ujar Akang sambil menahan tawa.

Perjalanan
"Emang mau dinner dimana sih?" Iteung masih penasaran.
"Surprise lah."
Oke deh kang, Iteung nggak akan nanya lagi. Iteung bakalan ngikutin Akang.

Keluar rumah si Akang nyodorin helm. Iteung agak mikir kok dinner pake helm.
"Ayo." si Akang duduk di motor.
Iteung duduk sambil bengong. Mulai curiga nih.

Di tengah jalan, motor agak oleng. Ternyata ban depan kempes. Ya ampun....saat itu yang kebayang adalah keinginan untuk mencekik si Akang.

Iteung ngikutin si Akang dorong motor nyari tukang tambal ban. Sekilo, dua kilo belum tercium juga baunya bengkel tambal ban. Iteung mulai lelah jiwa raga, lahir batin. Iteung jinjing sepatu soalnya kaki Iteung keseleo.  Harus manggil mpok Ipah nih, tukang urut langganan.

Sampai tukang tambal ban, kaki Iteung bengkak segede bola basket. Si Akang mencoba menghibur Iteung.
"Sabar ya." katanya sambil mengusap pipi Iteung. Ceritanya sih pengen menimbulkan efek romantis.
"Akaaang, itu jarinya item banget."
Tega banget sih ngerusak make up Iteung.

Akang cuma cengengesan lihat muka Iteung belepotan oli.
"Ayo!" ujar Akang setelah petugas bengkel selesai menambal ban.
Mulut Iteung maju 20 cm.

Ketika motor baru jalan, byuuur langit numpahin air ke bumi. Rasanya Iteung pengen guling-guling di kasur empuk. Pengen juga nanya sama pak hakim atau pak jaksa berapa lama hukuman buat orang yang jedotin orang ke tembok terus ditimpuk pake batu.

Akhir Kisah
"Kang, terus terang aja deh. Mau ngajakin Iteung makan dimana sih? Kok rasanya Iteung seperti lagi berjuang merebut kemerdekaan." tanya Iteung sambil mengusap pipi yang dipenuhi maskara luntur dicampur oli.
"Tuh." tunjuk si Akang ke arah gerobak sego kucing Bejo.
Ya ampuuun....Iteung dandan seharian cuma buat makan disini.
"Penipu..pu..pu." teriak Iteung bergema.
"Lha ini kan memang candle light dinner.  Kita makan malam di temaram cahaya lilin." Si Akang menampilkan muka innocent.
Iteung cuma bisa cemberut sambil mengusap kaki yang bengkak.
Sosialita terluka........kakinya...
...................................................................





Untuk Perempuan yang Tinggal di Ingatan

Sore di Pante (dokumen pribadi)
cukukuplah Siti Nurbaya,
gadis sempurna tempo Belanda yang mengalaminya
menjadi tumbal engku datuk bermuka baja
kepada engkau wahai Marah Rusli,
bilakah aku sang Samsul Bahri?

di antara malam-malam yang kalut, ia berdiri
menundukkan warna-warni pelangi
dalam dekapan hatinya sendiri
itulah sebab aku mengantri

pingitan menjadi tempatnya berkutat
balutan tapih tetap berkelebat
hingga waktu datang sekarat
kini, wanita menjadi perempuan telah sepakat
lelaki dan perempuan adalah sepangkat

kodratnya bertanak nasi
tapi ia mampu bertaji
kalaupun ia lelaki
malulah aku, pasti

bayang hitamnya pun cantik
ketika para muda berisik,
berusaha mengejar tanpa titik,
hanya agar menjadi milik
aku turut panik

dia, Siti Nurbaya millenium
menjaga diri tetap ranum,
berbaris bersama sebagai makmum,
membalas dengki dengan semanis senyum

dia, Sri Kandi sepanjang masa
meski cantik serupa Cleopatra
tak disangka dia juga perkasa

"Aku yakin dia lebih anggun dari Anna Althafunnisa"*

-M-

Abah

"Bah, mogok lagi?" Tanyaku agak kesal
Abah hanya mengangguk sambil meniupi busi seperti sedang meniup balon untuk ulang tahun.
"Bah, nanti telat nih." Aku cemberut sambil merajuk.
"Sabar ya." Abah mencoba menyalakan motor vespa tuanya sambil berpeluh keringat. Motor Vespa Abah itu bagaikan anjing dalmatian karena seluruh bodinya dipenuhi dempul putih. Kondisi itu dibiarkan bertahun-tahun tanpa pernah bisa dicat karena nggak ada biaya.
"Namanya juga motor antik." kata Abah suatu saat ketika kami anak-anaknya menanyakan kenapa motornya belum dicat juga.

Akhirnya motor bisa nyala. Aku dan tiga adikku langsung menempati posisi masing-masing. Dua anak paling kecil berdiri di belakang. Adikku langsung duduk di   tengah dan aku duduk paling belakang. Bayangkan kalau polisi menemukan kami berlima menaiki motor. Pasti kami akan menghabiskan waktu di kantor polisi.

Begitulah setiap hari Abah mengantarkan kami ke sekolah dengan motor Vespa Dalmatiannya. Biasanya tiga adik kecilku turun terlebih dahulu. Biasanya sih aku turun dari motor sambil celingak celinguk jangan sampai teman sekolahku melihatku datang ke sekolah bersama Abah.

Abah mengajar mata pelajaran Ilmu Pasti (Matematika, Fisika, Kimia) juga mengajar keterampilan elektro di sekolahku masa SMP. Saat itu perasaan malu selalu membebaniku ketika aku masuk sekolah maupun pulang sekolah. (Maaf ya bah).

Abah orang yang sangat peduli dengan minat baca anak-anaknya. Namun saat itu sepertinya tidak memungkinkan membeli buku buat kami. Gaji guru saat itu sangat minim dan tidak mengenal sertifikasi seperti saat ini. Dalam keterbatasan Abah selalu membeli koran buat anak-anaknya hanya agar anak-anaknya mau membaca.

Abah adalah orang yang sangat sederhana dan sepenuhnya mengabdi untuk dunia pendidikan. Sepanjang aku hidup bersama Abah, tak pernah sekalipun Abah mengeluh tentang kondisinya. Tak pernah pula aku mendengar Abah membicarakan kejelekan orang lain.

Aku merasakan bahwa Abah selalu bersyukur walaupun aku tahu bagaimana sulitnya saat itu membiayai kami empat orang anaknya. Kami sering bandel dan mungkin mengecewakan Abah. Ketika aku menonton film Laskar Pelangi, aku merasa penggambaran sosok abahnya Ikal yang dibintangi oleh Mathias Muchus  tepat menggambarkan Abah.

Abah selalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sebenarnya dahulu Abah selalu menyediakan waktu untuk mengajariku Matematika dan Fisika. Namun aku selalu menolak dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya ketika masuk SMA, kulihat Abah agak kecewa karena aku memilih jurusan Sosial dibanding IPA.

Ketika masuk ke bangku perguruan tinggi, aku baru sadar kalau seharusnya aku bangga punya Abah yang sangat perhatian kepada anak-anaknya. Mulai saatt itu aku selalu bergembira ketika Abah yang masih setia dengan Vespa Dalmatian mengantarkanku pergi ke kampus.

Satu hal yang juga menyebalkanku saat itu adalah ketika Abah selalu menyelinap tiap malam ke kamar anak-anaknya. Abah hanya ingin memastikan kalau tidak ada seekor nyamukpun yang menggigit anak-anaknya. Caranya menepuk nyamuk dengan kedua tangannya.
"Abaaah!!! Berisik." Aku selalu berteriak tapi Abah selalu mengulanginya lagi dan lagi setiap malam.
Sekali  lagi maaf ya bah.

Abah juga senang sekali melihat anak-anaknya makan enak. Kalau punya uang lebih, biasanya Abah memasak makanan istimewa buat kami atau membuatkan es kacang hijau, es tapi atau es yoghurt.. Makanan yang biasanya dimasak sendiri adalah pisang goreng dan sop kaki sapi. Masih terbayang kelezatan masakan Abah di lidah.

Buatku Abah mirip McGyver, tokoh hero di serial televisi yang tayang pada akhir tahun 80 an dan awal tahun 90 an. McGyver adalah hero yang bisa memperbaiki segala sesuatu untuk memudahkan orang lain. Di mataku  abahpun demikian. Mulai dari memperbaiki barang elektronik sampai sekedar menambal pakaian yang robek.

Jaman dahulu, kami hanya punya televisi hitam putih. Suatu ketika waktu kami sedang menonton televisi, gambarnya goyang-goyang padahal tidak ada gempa bumi. Kami tunggu, siapa tahu karena hembusan angin kencang. Ternyata tetap saja si gambar bergoyang-goyang. Saat itu kami menyimpulkan bahwa televisi ini rusak.

Dengan penuh percaya diri Abah membongkar televisi. Dengan gaya meyakinkan Abah bertindak sebagai tukang service. Seharian Abah menghabiskan waktu mengutak atik televisi. Kata Abah televisinya harus ditepuk-tepuk atasnya biar gambarnya bagus. Cuman, tepuk sih tepuk sampai kapalan tapi kan capek setiap sepuluh menit harus menepuk-nepuk televisi. Harusnya sih memang dilem biru bah...(dilempar beli baru)....

Banyak barang elektronik yang diperbaiki Abah. Cerita suksesnya hanya lima puluh persen. Sisanya nestapa hahaha.

(Diusahakan Bersambung)





Chiang Kai Sek Tanggal Delapan


"Kita menikah tanggal delapan saja bagaimana?"
Yang ditanya menjawab dengan semi melotot. Bagaimana tidak, tanggal delapan kan tiga hari lagi.
"Buru buru sekali, a’? gajadi minggu depan?

“lebih cepat kan lebih baik, neng..”
“Aa nanti gimana kuliahnya?”
“gak apa apa aa mah...neng siap siap ya..”

Dedeh, TKW asal bumi pasundan itu bengong. Ia baru kenal A’ Rudi sebulan lalu. A Rudi bilang, ia sedang kuliah di sini.
Teringat lagi percakapan dengan abah semalam.
“Neng, si Aa teh single?”
“iya bah...istrinya kasian bah, udah meninggal”
“Bener neng?”
“iya Bah...”
“Neng kenal dimana?”
“di deket rumah majikan neng, Bah...”
“Kenapa ga cari perjaka aja atuh, neng?”

Yang diajak bicara diam saja.
A Rudi ga begitu ganteng, ga kaya juga. Tapi nyaman banget kalo ngobrol sama a' Rudi...
“Neng jadi bingung bah..”
“A rudi nanti beliin neng tiket bah buat naek pesawat ke indonesia, buat nikah di rumah..”
“Ngga ada resepsi neng?”
“Kata a' Rudi sih, nanti saja menyusul..”

Siang itu pemandangan di Chiang Kai Sek begitu indah.Banyak orang berlalu lalang. Nampaknya hanya Neng yang galau di sana..
“Baru juga semalam menelepon abah mau nikah minggu depan.. masa nelepon lagi bilang mau nikah tanggal delapan?”
“Neng, neng tau ga kenapa aa ajak neng kesini?
“engga tau, a'... neng mah selama kerja setahun di sini blm pernah jalan jalan.. males a'..”
“ya.. sekali kali mah jalan neng biar pikiran lebih enteng habis kerja kan penat ..”
“Iya a...”
“Ini monumen dibangun taun 1976 neng...udah tua kan.. buat memperingati presiden CKS ..keren bentuk dan sejarahnya neng..luasnya tuh gede banget loh neng, sekitar 240.000 meter persegi ni areanya”
“CKS teh naon?”
“Chiang Kai Sek..
"udah gitu, ini perlambang Taiwan menuju era demokrasi modern gitu lho neng.."
"ooh..iya a'.."





"Liat neng, atapnya..tuh..”
Atapnya bentuk oktagonal,alias segidelapan.. neng tau ga kenapa?”
“Aduh a'.. neng mah gatau apa apa...”
“karena itu simbol kepercayaan neng... angka keberuntungan!”
“Ih...pantesan aa milih tanggal delapan yak?”

“hehe... engga juga sih, neng.. aa ga percaya gituan... aa percayanya sama neng..”
“Gombaal iih....” neng manja mencubit punggung tangan a' Rudi.
Hati neng seneng banget. 
Emang enak sih, ngobrol sama a' Rudi... 


----------------------------------------------------------------------------------

Trit trit...trit trit...
Neng mengucek matanya
Tengah malam siapa yang kirim pesan ya..pikirnya

“lusa ke CKS lagi ya.. jam sepuluh pagi”
“Hah? A rudi ngapain ngajak kesana lagi sih...”


Kan kemaren udah atuh a'..
Dipencetnya tombol kirim
Trit trit...
“Ada hal penting yang harus dibicarakan..”
“Iya a'...”
Neng masih ngantuk jadi ia segera menutup matanya kembali. A Rudi ada ada aja ah... pikirnya



---------------------------------------------------------

Tanggal Delapan @CKS Memorial Hall

“Neng udah di sini A.. neng udh packing juga jadi nanti dari sini kita langsung ke bandara kan?"whatssapnya kepada A Rudi

trit trit...

"Sebentar lagi sampai..."
Neng bosan menunggu. Ia memainkan kukunya yang dikutek merah. Khusus hari itu karena nanti sore di indonesia neng akan menikah.  
“Anehhh.. a rudi mah... udah mau nikah masih aja ketemuan dulu...”
Neng merasa ada yang mencolek bahunya

“PLAAKKKK”

“Aduh.....sakiitt....” dielusnya pipinya sendiri

Neng mau melotot aja rasanya. Siapa sih orang ini? Pikir Neng.

Belum sempat ia memaki, ia sudah lebih dulu disemprot.

“Mau nikah diem diem sama suami saya ya?”

Mulut neng menganga.

Neng rasanya seperti kejepret karet gelang aja, a'.
Pedih.

Pepes

Pepes ? Ini soal makanan ? Jika kita browse di paman gugel, pepes itu adalah suatu cara khas dari Jawa Barat untuk mengolah makanan (biasanya dengan ikan) dengan bantuan daun pisang untuk membungkus ikan beserta bumbunya. Artinya ikan dan berbagai jenis bumbu dan rempah yang dihaluskan dan ditambah daun kemangi, tomat, dan cabai dibalur/dibalut bersama ikan yang sudah dibersihkan. Semua gabungan itu dibakar (dipepes) diatas api atau bara api dari arang hingga mongering.

Itulah perasaan yang saya alami, seorang commuter  yang sering naik KRL jurusan stasiun Bekasi – Jakarta Kota setelah tanggal 1 April 2017. Agak lebay ? gak juga sih. Karena sebelum jadwal itu ditetapkan, biar masih berdesakan, saya tidak berkeringat saat berangkat kerja. Berdesakan di gerbong kereta itu telah membuat saya banyak mengambil hal-hal positif. Misalnya kita bisa sambil berolah raga dengan alat, berpegangan dengan besi (pull up), bersauna ria jika AC dalam gerbong tidak berfungsi, meski harus bawa kostum cadangan, bisa berkenalan dengan perempuan (jika punya nyali tapi jangan gender yang sama ya), bisa sekalian olah vokal jika kita tidak tahan terhadap goncangan kereta saat berhenti dan berjalan dari stasiun ke stasiun “Woii, tahan dong, jangan cuma bisa main hape tapi gak pegangan!!” atau sambil baca buku atau Al Qur’an kecil hingga kereta sampai di tujuan. Terkadang juga bisa timbul perasaan kasihan terhadap seorang ibu membawa anak, orang tua jompo, penyandang disabilitas dan ibu hamil yang tidak memperoleh tempat duduk. Setelah tanggal 1 April 2017, semuanya bercampur menjadi satu, dan untungnya berangkat naik kereta itu saat masih dibawah jam 09.00 pagi ke tempat tujuan. Makanya sejak tanggal itu, perasaan seperti panganan yang dipepes kerap muncul, meski bukan dibakar di atas kompor atau bara yang panas.

Hal ini terjadi berawal di April 2017, pihak  Kereta Commuter Jakarta (PT.KCJ) jadwal baru KRL jurusan stasiun Jatinegara lewat Pasar Senen, Duri hingga Depok atau Bogor. Pihak PT.KCJ juga menyatakan bahwa ada jadwal penambahan jalur baru pada rute tersebut. Tapi faktanya bukan menambah tetapi malah berkurang. Jadwal semula jurusan stasiun Jatinegara lewat Pasar Senen hingga Depok atau Bogor terjadwal setiap 15 menit sekali ada kereta yang jalan menuju stasiun Pasar Senen, Duri hingga Depok atau Bogor, berubah menjadi setiap 1 jam sekali. Jumlah penumpang yang turun sebelum jadwal baru cukup membuat isi gerbong agak lenggang. Meski ada penumpang juga yang turun di stasiun Jatinegara, tapi bukan transit, melainkan memang bekerja di sekitar stasiun Jatinegara. Animo masyarakat urban untuk naik kereta cukup tinggi karena naik kereta merupakan akses termurah (karena masih di subsidi oleh pemerintah sebesar Rp3.000 dari harga Rp6.000) dan cukup cepat (sepanjang tidak ada antrian masuk stasiun - khusus Jatinegara, Manggarai dan Gambir dan gangguan persinyalan – banyak negara sudah investasi di persinyalan ini). Memang kondisi KRL sekarang sudah lebih baik dan bagus. Beberapa stasin sedang mengalami renovasi menjadi stasiun modern seperti stasiun Palmerah yang sudah terlebih dahulu di renovasi. Saya ingat pepatah Pak Jonan saat memberikan ceramah di kantor kami, “Bayar murah kok mau nyaman, tapi kami utamakan keselamatan penumpang”. Saat itu saya berpikir, bener juga ya, bayar murah kok menuntut nyaman. Salut untuk Pak Jonan yang telah merubah mindset naik kereta yang semula tidak tertib menjadi lebih baik.

Berikut ada tips dan trik saat naik kereta jurusan Bekasi – Jakarta Kota agar tidak seperti pepes dalam kulit pisang (meski tetap seperti pepes karena cukup berdesakan juga), yaitu :
1.    Berdirilah di dekat pintu yang deket tiang tempat duduk (bukan diantara dua pintu otomatis ya, bisa terjepit), hal ini sudah saya lakukan dan cukup efektif dan efisien dalam mengendalikan suasana seperti pepes tadi;
2.    Berdirilah agak di tengah tempat duduk yang panjang, hal ini juga saya lakukan dan berhasil;
3.    Jangan naik kereta dari stasiun Bekasi, naiklah kereta dari stasiun sebelum stasiun Bekasi yaitu stasiun Kranji, jika ingin duduk. Tapi jika ingin tidak berdesakan, naiklah kereta jurusan Bekasi – Jakarta Kota diatas jam 22.00 WIB, saya jamin, anda bisa main karambol dan gaplek di setiap gerbong, jika tidak dilarang.
4.    Last but not least, jangan naik kereta, naiklah kendaraan pribadi atau taksi yang lebih nyaman. Ini juga saya jamin, anda akan lebih nyaman daripada naik kereta.  

Itulah sekilas cerita naik KRL yang saya alami dan rasakan, karena memang seperti itulah kondisinya dan perasaannya. Saya akan sering bercerita seputar KRL karena itulah yang saya alami dalam 2 kali sehari selama seminggu sebulan dan setahun. Semoga kisah ini dapat membuat yang baca sedikit tersenyum dan mengambil hikmah yang positif.

Salam
R. Ardyansyah

Opini ini juga di tuliskan pada https://rulyardiansyah.blogspot.co.id

Negeri Atas Uang

Wahai kawan…pernahkah kau dengar negeri atas uang ?
Negeri nun jauh di sana yang didirikan di atas uang
Yang pemimpinnya bisa dibeli dengan uang meski tak suka uang
Politisi, jaksa, hakim, pendidik, tokoh agama, dan masyarakat pun bisa dibeli dengan uang
Bahkan para pesakitan bisa jadi pahlawan kalau disukai para pemilik uang
Sebaliknya para pahlawan bisa jadi penjahat kalau tidak disukai pemilik uang
Mayatpun bisa hidup kembali kalau diminta para  pemilik  uang
Uang menjadi panutan di negeri itu meski tak terdaftar sebagai agama di kementerian manapun
Karena itu jangan macam-macam dengan para pemilik uang..

Enyah kau tikus tikus kotor....kau masih bisa hidup di sini bukan karena kau layak hidup di sini
Kau masih bisa tidur nyenyak di sini karena kami pemilik uang masih senang bermain denganmu
Kami masih senang melihatmu menari kegirangan ketika sekeping uang kami lemparkan padamu
Kami masih senang melihatmu menderita karena tak punya uang
Kami masih senang melihatmu mengemis ngemis dan berebut atas nama uang

Negeri ini memang negeri atas uang
Kami bangun hanya untuk kami para pemilik uang
Kali-kali kami bersihkan, gedung megah kami bangun... semua untuk kesenangan kami
Bukan untuk kalian para tikus kotor.. jadi kalian jangan senang dulu
Tapi tak apalah kalau kalian ikut senang
Supaya kalian tak lari dan masih bisa kami suruh- suruh
Masih bisa kami maki-maki.. masih bisa kami jadikan kambing hitam
Kalau tak ada kalian siapa lagi yang harus kam persalahkan

Negeri ini negeri atas uang.. yang didirikan atas nama uang
Untung aku tak tinggal di negeri itu..karena aku hanyalah tikus kotor yang tak punya uang


Edisi menunggu jemputan yang tak kunjung tiba

Dibuang Sayang...(Jilid II)


Coret-coretan yang dibuat sewaktu Workshop Menulis Inspiratif tanggal 13 April 2017...


EDISI : PAK CILIK



Pagi ini Pak Cilik sedang mematutkan diri di depan cermin. Bajunya rapih, setrikaannya licin sampai-sampai kalau ada lalat yang menclok pasti kepleset dan langsung meluncur jatuh bagaikan naik perosotan di water boom. Sepatunya juga gak kalah keren..kinclong laksana cermin. Saking kinclongnya sering jadi rebutan dipinjam para jomblo di kantornya buat ngaca. Meskipun begitu  dresscode kerja Pak Cilik tidaklah mahal dan disesuaikan dengan budgetnya yang tidak seberapa sebagai PNS cilik.


Setelah menyeruput kopi buatan istri tercinta yang menurutnya lebih lezat dari kopi luwak di berita-berita, Pak Cilik langsung menaiki sepeda motor tuanya yang masih kelihatan kinclong dan terawat. Prinsip Pak Cilik memang "Biar miskin asal keren, slamet..slamat..slumut.."


Jam menunjukkan pukul 07.00 waktu Pak Cilik sampai di kantor..absen lalu langsung tancap gas siap-siap bekerja. Mejanya rapi luar biasa, tidak ada tumpukan dokumen yang menumpuk di mejanya karena memang tugas Pak Cilik di kantor bukan menumpuk berkas tapi menerima surat, dicatat, langsung diantar ke unit tujuan. 


“Pageeee Pak Cilik, rajin amat pagi-pagi udah kerja, santai dulu dong. Jangan terlalu serius gitu” ujar Ricky pegawai muda yang belum lama pulang tugas belajar dari Amerika. 


“Pagi juga Ricky, kalo kerja pagi pagi gini lebih enak, masih segerr..:”


“Seger apaan Pak, kalau mau seger ke kantin dulu sambil liat yang seger-seger” ujar Ricky sambil ngeloyor ke kantin.


“Hahaha..kamu ini ada ada aja” kata Pak Cilk sambil mulai mencatat surat yang masuk.





Jam menunjukkan pk 09.13 waktu Ricky muncul dengan bersiul-siul dan berjalan menuju kursinya.


“Bruukk....” dan ruangan serasa bergetar 4.5 skala richter waktu Ricky menjatuhkan badannya yang gemuk tinggi ke kursi.  


“Gak ada kerjaan Ky..kok kayaknya santai banget” kata Pak Cilik sambil melirik Ricky yang asyik main game di komputernya.


“Tuh numpuk gitu” ujar Ricky sambil memonyongkan mulutnya ke arah tumpukan dokumen di samping komputer sementara matanya masih melotot ke monitor.


“Ntar aja deh dikerjain sambil lembur” 


“Loh bukannya enakan dikerjain sekarang, jadi nanti gak usah lembur. Jam lima tet bisa langsung pulang”.


“Iyeee.. Saya tau.. prinsip Pak Cilik kan setelah jam kerja waktu Bapak buat anak istri tercinta. Lah Bapak enak udah punya istri. Kalo saya.. status masih jomblo keren. Makanya dong cariin jodo Pak, minimal yang kayak Isyana Saraswati atau Raisa getoo..”


“Kamu tuh udah sekolah sampe Amrik, cari bini satu aja gak dapet-dapet”


Ricky hanya nyengir kuda mendengar sentilan Pak Cilik.


Tiba –tiba... telolet..telolet.. suara HP Pak Cilik berbunyi  


“Halow..ya istriku tercinta ada apaa...kangen yaa.. haa...apaaaa.... truss.. laluu...kemudiaan...” nada suara Pak Cilik semakin lemah dan bergetar waktu menjawab telepon dari istrinya. 


“Kenapa Pak, ada yang sakit ? Tapi Bapak sehat kan ?” berondong Ricky sok perhatian.


“Anak saya yang sedang hamil kepeleset dan harus operasi caecar, besok pagi harus ada uang buat bayar operasinya. Mau pinjam koperasi saya masih punya pinjaman”


“Coba aja top up pinjamannya Pak, kan ini darurat.”


“Saya coba deh” Pak Cilik langsung berjalan keluar  menuju koperasi.




Satu jam berselang...


“Alhamdulillah, baik juga tuh pengurus koperasi. Saya masih boleh pinjam lagi.” Ujar Pak Cilik sambil masuk ruangan. Dikeluarkannya amplop tebal dari sakunya dan dimasukkannya ke dalam tasnya.


“ Bulan depan habis deh tunjangan saya terpotong-potong angsuran utang”


"Gak apa Paak...yang penting anak selamat.”


“Iya bener juga ya.. makasih ya Ky sarannya. Meski cari bini gak dapet-dapet kadang ide kamu bagus juga”


“Waduh, soal jomblo keren jangan disinggung-singgung dong Pak. Bikin hati merana”





Jam menunjukkan pukul lima sore waktu Pak Cilik siap-siap berkemas pulang. Tiba-tiba..


“Haaah..kamu mau kemana Ky, katanya mau lembur?”


“Olahraga dulu dong Pak biar sehat, langsing, dan tambah keren. Gimana gak enak Pak kerja di sini, udah dapet sehatnya, dibayar pula lemburnya. Lumayan Pak dikumpul-kumpulin buat tabungan nikah. Bapak juga sekali-kali lembur dong, lumayan kan Pak kalau dikumpulin bisa buat tabungan kalau ada apa-apa kayak tadi”  


“Gimana ceritanya..gak ada kerjaan kok disuruh lembur.. Lembur kan untuk pekerjaan yang mendesak yang tidak dapat diselesaikan jam kerja. Kerjaan saya juga gak begitu banyak, sebelum jam lima udah beres semua. Kamu sendiri juga tuh.. Dari tadi seharian main game, sekarang olahraga..trus tuh tumpukan berkas kapan dikerjain ?”


“Santai aja Paak.. kerjaan gitu setengah jam juga kelar. Olahraga dulu baru kerjaa..”


“Kamu ituu... Saya pulang duluan deh, mau nyetorin duit dulu”.


“Okaayyy ati-ati Pak”.



Setelah absen Pak Cilik berjalan menuju ke parkiran motor sambil merenung..”Memang Allah Maha Adil, aku sudah berusaha jujur dan waktu terkena musibah Allah langsung kasih jalan keluarnya. Pokoknya jujur..jujur..jujur.. Mungkin kalau aku seperti Ricky yang jam kerja buat main game, lembur buat olahraga..pas ada masalah gini Allah gak akan bantu”


Pak Cilik memang orang cilik tapi hati nuraninya tidak cilik, dia selalu berusaha untuk jujur.   


“Telolet..telolet..telolet..”


“Ya Tong ada apaa..”


Lamat-lamat terdengar suara anaknya dari seberang telepon.. “Bapaak.. aku harus bayar UKT sama biaya buat penelitian, totalnya sepuluh juta, paling lambat minggu depan harus udah lunas”


“Haaaah...”


Entah kapan Pak Cilik  dapat terus bertahan menjadi orang cilik yang tidak bernurani cilik...