Asytaqu Ilaika
Menjadi Orang Baik
Setiap
hari Rabu, Anna selalu memeriksakan kesehatannya. Ia memiliki masalah pada
lambung yang mengharuskannya menjalani kontrol rutin setiap minggu serta
mengonsumsi tiga jenis obat lambung untuk meredakan nyeri. Anna adalah anak
yang mudah bingung dan sering linglung saat berada di luar rumah karena
sehari-hari ia terbiasa berada di rumah sendirian. Ia juga kerap berprasangka
buruk terhadap orang lain yang berbuat baik kepadanya. Anna tidak percaya bahwa
ada orang yang tulus selain keluarganya, yaitu orang-orang yang ia kasihi.
Menurutnya, jika seseorang bersikap baik, pasti ada imbalan yang diharapkan
dari kebaikan tersebut.
Pagi itu, seperti biasa, Anna bersiap
untuk melakukan kontrol rutin ke dokter. Ia sangat menyukai dokter yang
menanganinya. Anna merasa dokter tersebut tulus membantunya, meskipun dalam
pikirannya ia tetap menyadari bahwa pelayanan itu diberikan karena dibayar.
Setelah mempersiapkan diri, Anna
berangkat ke rumah sakit dan tidak lupa sarapan terlebih dahulu. Sebelum
berangkat, ia sempat menyelesaikan beberapa pekerjaan kantornya. Biasanya, Anna
diantar oleh suaminya untuk berobat, namun hari itu berbeda karena ia harus
berangkat sendiri.
Anna pergi menggunakan becak. Tukang
becak yang ia temui sangat ramah dan hanya meminta bayaran sebesar Rp15.000,00.
Setelah Anna turun, tukang becak tersebut mengucapkan sepatah kata, “Hati-hati
ya, Neng.” Hal itu jarang ia temui. Anna kemudian segera masuk ke dalam rumah
sakit dan, seperti biasa, mengantre untuk menuju poli tujuan. Sesampainya di
poli tersebut, ia terlebih dahulu memeriksa tensi dan berat badannya.
Ia pun menunggu dengan tertib
sesuai nomor antrean yang akan dipanggil. Di ruangan tersebut terdapat banyak
pasien dengan berbagai keluhan; ada yang kejang-kejang, ada yang muntah, dan
ada pula yang mengeluh kesakitan. Anna merasa sangat ketakutan, namun ia tetap
bertahan menunggu gilirannya untuk dipanggil oleh dokter.
Saat
menunggu antrean, Anna tertidur. Ia kemudian dibangunkan oleh beberapa pasien
lain yang juga sedang berobat di poli tersebut.
“Mbak, sebentar lagi giliran Mbak,” ujar salah seorang dari mereka.
Anna
pun terbangun dan segera bersiap menunggu namanya dipanggil. Ia menyadari bahwa
ternyata masih ada orang baik yang mau membangunkannya dari tidur. Tak lama
kemudian, namanya pun dipanggil.
Anna
segera masuk ke ruang dokter dan bertemu dengan dokter yang menanganinya.
Dokter tersebut tampak sangat sibuk, namun tetap melayani Anna dengan ramah dan
penuh perhatian. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter meresepkan obat untuk
dikonsumsi Anna selama satu minggu ke depan.
Setelah
keluar dari ruang dokter, Anna menuju apotek untuk mengambil obat. Ia
mendapatkan nomor antrean 65, sementara saat itu antrean masih berada pada
nomor 41. Anna pun kembali menunggu.
Tidak
lama kemudian, seorang perawat menyapanya, “Mbak, nomor antreannya berapa?”
“Nomor antrean 65, Bu,” jawab Anna.
Perawat
tersebut kemudian memeriksa surat rujukan milik Anna, mengambil nomor
antreannya, lalu masuk ke ruang apotek. Beberapa saat kemudian, perawat itu
kembali dan menyerahkan obat yang diresepkan dokter kepada Anna.
Anna
terkejut dan segera mengucapkan terima kasih kepada perawat tersebut, bahkan
mencium tangannya. Ia tidak tahu hal apa yang membuatnya bisa mendapatkan
bantuan dari orang baik seperti perawat itu. Banyak hal yang terjadi saat itu
dan anna bersyukur karena masih ada orang baik yang mau membantunya dan
menyapanya. Sesampainya di tempat kerja, Anna juga disambut dengan hangat oleh
rekan-rekan kerjanya yang menanyakan kondisi kesehatannya. Saat itu, Anna
menyadari bahwa selama ini ia keliru karena selalu berprasangka buruk terhadap
semua orang dan takut untuk bersosialisasi, padahal belum tentu semua orang
memiliki niat yang jahat.
Jadilah orang baik, karena
percayalah bahwa jika kita menanamkan kebaikan, maka kita akan memperoleh
kebaikan pula. Prinsip ini berlaku dalam kehidupan bersosial. Seperti seorang
petani yang menanam benih, jika ia menanam biji yang baik dan merawatnya dengan
sungguh-sungguh, maka ia akan memperoleh hasil panen yang melimpah. Begitu pula
dengan kebaikan; jika kita menanam kebaikan, cepat atau lambat kita akan menuai
hasilnya, baik di dunia maupun di akhirat. Anna juga mengoreksi dirinya untuk
tidak berpikiran buruk kepada orang lain melainkan harus selalu berbuat baik
karena berbuat baik tidak akan sia-sia. ebaikan yang kita tanam akan kembali
kepada kita, meskipun terkadang tidak langsung terlihat hasilnya. Orang yang
sering menolong sesama akan mendapatkan pertolongan ketika ia membutuhkannya.
Orang yang senantiasa berbagi kebahagiaan akan merasakan ketenangan dalam
hatinya. Hal ini bukan sekadar filosofi hidup, tetapi sudah terbukti dalam
berbagai aspek kehidupan. Alangkah baiknya jika dunia penuh dengan kebaikan,
setiap manusia akan merasa aman dan bahagia.
Refleksi Diri
Tak apa jika hari ini tidak sesuai ekspektasi
Karena tak semuanya butuh divalidasi
Cobalah semua proses dinikmati
Pasti menyenangkan hati
Jika harimu terasa kacau
Terima saja kekacauan itu
Bukan berarti hidupmu kacau
Jadi tenang saja
Semua akan terlewati dengan baik
Tak apa jika hari ini terasa berat
Mungkin hari esok kau akan memetik hasilnya
Berjalanlah perlahan saja
Tak perlu terlalu mengejar
Hidup ini bukan perlombaan
Tapi proses perjalanan yang panjang
Memaafkan
Kerelaan
untuk melepas
Kerelaan untuk tidak lagi mengingat
Bukan demi kebahagiaanmu
Melainkan demi ketenanganku
Upaya
bangkit perlahan
Penerimaan atas keadaan
Itulah jawaban yang kutemukan
Nostalgia di Teras Tua
Iramanya sendu menyayat kalbu.
Kita pernah duduk bersama,
Di teras ini saat waktu berdebu.
Kini kursi di sampingku kosong,
Hanya ada cangkir teh yang dingin.
Malam terasa begitu bohong,
Membawa rindu yang tak kuingin.
Kenangan lama berputar kembali,
Seperti film di layar yang hitam.
Waktu tak mungkin bisa dibeli,
Hanya tersisa rasa yang kelam.
Bersama redupnya lilin di meja.
Malam ini duka mengalir,
Menghapus semua tawa yang bersahaja.
Menanti Cahaya Pagi
Bintang-bintang mulai bersembunyi.
Udara pagi mulai mengalir,
Mengganti sunyi menjadi bunyi.
Terima kasih wahai kegelapan,
Telah memberi waktu untuk rehat.
Kini datanglah sebuah harapan,
Untuk hidup yang lebih sehat.
Matahari akan segera muncul,
Membawa sinar yang paling terang.
Semua rencana kini berkumpul,
Siap untuk kita bawa berperang.
Malam pergi membawa cerita,
Pagi datang membawa tenaga.
Mari hapus semua air mata,
Demi masa depan yang berharga.
Opini : FOMO Padel vs Tenis Lapangan
Berikut adalah opini dan uraian mengenai perbandingan perkembangan keduanya:
Padel sedang mengalami booming luar biasa di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali.
· Aksesibilitas Tinggi: Berbeda dengan tenis yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa melakukan rally yang konsisten, pemula bisa langsung menikmati permainan Padel dalam waktu 30 menit.
2. Tenis Lapangan: "The Prestigious Classic" (Pertumbuhan Stabil)
Tenis tidak kehilangan panggungnya, ia justru mengalami regenerasi.
Fitur | Padel | Tenis Lapangan |
Kurva Belajar | Sangat cepat (cocok untuk pemula) | Lambat (butuh teknik tinggi) |
Kebutuhan Fisik | Kelincahan dan reaksi | Stamina dan kekuatan ledak |
Aspek Bisnis | ROI lebih cepat (lahan kecil, 4 pemain) | ROI lebih lambat (lahan luas) |
Durasi Main | 60–90 menit (ritme cepat) | 90–150 menit (ritme panjang) |
Pendapat
Padel tidak akan "membunuh" tenis, melainkan memperluas pasar olahraga raket. Padel menarik orang-orang yang sebelumnya tidak berolahraga atau merasa tenis terlalu sulit, sementara tenis tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari kedalaman teknik dan atletisitas murni.
Secara investasi, Padel saat ini jauh lebih menguntungkan bagi pemilik lahan karena efisiensi ruang. Namun, secara kultur olahraga, keduanya akan berdampingan: Padel sebagai gaya hidup perkotaan yang cepat, dan Tenis sebagai standar emas olahraga raket global.
Jika Anda mencari olahraga untuk networking dan seru-seruan di akhir pekan, Padel adalah jawabannya. Namun, jika Anda ingin tantangan disiplin teknis jangka panjang, Tenis tetap tak terkalahkan. Bagaimana menurut anda ?
Where I Keep Meeting Ghost
by: Ash Beige Baby
Backseat Conversation
Cigarettes
Hot Americano
Body Scar
Unmasked Feelings
Afternoon Escape
Precious Rendesvouz
Coldplay
Cap & Jacket
Creamy-Bitter Coffee
City Bus
Car Stereo
Ghost Stories
Deep Talk
Chicken & Catfish
Night Phone
Vans
Abandoned Road
Secret Alley
Stolen Moment
Spicy Food
Light Bite
Redemption
Watches
Explosive Emotion
Broken Promises
Secret Rendesvouz
It’s painful how the world keeps throwing pieces of some people at you.
even after they are no longer here to catch them.