Langsung ke konten utama

Halaman Belakang Buku Agenda yang Tidak Pernah Terkirim

by: Ash Beige Baby, 


Saat itu aku berjalan terlalu dekat dengan sebuah badai.
Meskipun sejak awal aku tahu arah anginnya salah,
Tapi entah mengapa kakiku tetap melangkah ke sana.
Bukan karena nekat
hanya saja berhenti selalu terasa seperti memotong sebagian dari diriku sendiri;
pisau bermata dua yang tidak pernah benar-benar sengaja kupilih.

Aku sering mencoba menjauh,
tapi tak pernah bisa benar-benar pergi.
Lalu alam, dengan cara yang paling kejam,
menjatuhkan petir di tanah yang bahkan bukan milikku.
Tanah itu retak,
padahal aku hanya berdiri di pinggirnya
tak menyentuh,
tak mendorong apa pun,
namun getarnya tetap menembus sakit sampai ke tulang.

Rasanya seperti,
“Aku sudah mau berhenti kok… tapi semesta yang lebih dulu merampasnya.”

Perjalanan ini mungkin sudah saatnya sekian,
Sayangnya bukan karena aku tiba-tiba menjadi bijak
melainkan dunia yang merenggut kebahagiaannya
di depan mataku.

Sebuah kehilangan yang bahkan bukan punyaku,
tapi tamparannya sangat keras
cukup voltase untuk membuatku sadar dan memaksaku berani menyelesaikan sesuatu
yang selama ini tak pernah mampu untuk kusudahi sendiri

Aku tahu aku bukan penyebabnya.
Namun jejakku terlalu dekat,
dan isi kepala ini terlalu berisik dan menyiksa,

“Kalau aku tidak ada…
kalau aku tidak pernah sedekat itu…
kalau aku tidak berjalan di tepian…
apa tanah itu tetap utuh untuk menopangnya?”

Aku tahu aku bukan satu-satunya penjahat dalam cerita ini,
tapi aku tetap terseret ke dalam sesuatu yang terlalu besar,
terlalu kacau,
terlalu menyakitkan untuk bisa kujelaskan lewat tulisan.

Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menerima,
bahwa dunia memaksaku menyaksikan kehancuran
atas sesuatu
yang tidak pernah kusentuh,
yang tidak pernah kusengaja untuk merusak,
malah yang ingin aku jaga selamanya.
Namun tetap musnah di hadapanku.
Dan aku bahkan tak punya apa-apa
untuk membantu menutup kerugian sang pemilik.

Kehilangan itu memang bukan milikku,
tapi aku tetap terisolasi di sisinya
remuk dalam cara yang tak terlihat,
dalam keheningan, dalam pena, dan di halaman buku catatanku sendiri.

Sejak saat itu, penyesalan menggerogoti fajar dan tengah malamku.
Menerimanya bukan berarti aku lari,
bukan berarti aku kabur,
tapi karena ini waktunya mundur.
Satu-satunya cara yang bisa kupersembahkan
untuk menghentikan luka dan pendarahan
yang seharusnya tidak aku berikan kepadanya sejak awal.

Orang bilang, kalau kamu menyukai bunga, kamu memetiknya.
Tapi kalau kamu menyayangi bunga, kamu menanamnya.
Masalahnya, tanah itu sudah retak.
Dan tanahku berbeda, unsurnya tak sama,
tak bisa menghidupi bunga itu.

Pilihan yang tersisa hanya satu:
memberi ruang.
Membiarkan bunga itu pulih,
tumbuh kembali dengan kelopak yang lebih utuh.
Lahannya memang hilang,
tapi aku yakin Tuhan akan menggantinya dengan taman yang lebih baik

Untuk kamu

Jalani hidupmu yang berharga itu, ya?
Kamu pantas mendapatkan dunia
dan seluruh kebaikannya.
Lanjutkan apa yang sudah kamu bangun,
meski kali ini tanpa aku di dalamnya.

Jangan pernah berpikir
bahwa aku berhenti berjuang.
Justru ini perjuanganku yang paling nyata
pertarungan dengan ego besar ku yang ingin tetap memilikimu seutuhnya
perdebatan panjang dalam diriku sendiri
sampai akhirnya aku memilih
apa yang paling benar dan terbaik untukmu.

Satu hal yang perlu kamu tahu
aku menyayangimu sedalam itu.
Maka aku ikhlas melepaskanmu.

Dan rasa sakit ini
adalah harga yang harus kubayar.
Mungkin tidak akan pernah bisa sepadan 
Tapi mohon untuk dapat kamu terima.
Doa tulus, tanpa keluhan, tanpa suara,
hanya hati yang sedang belajar rela.

Once again,
I love you that much
So I'm letting you go

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...