Fenomena money dysmorphia semakin mengemuka seiring meningkatnya kecemasan finansial di kalangan Generasi Z. Misalnya seorang lulusan baru S1 bekerja di perusahaan besar tapi tetap merasa “tidak cukup uang”, walaupun gaji sudah lebih baik dibanding penghasilan rata-rata. Ia memilih menahan diri dari kegiatan sosial karena takut dibandingkan orang lain yang “lebih mapan”. Cerita lain menunjukkan pekerja lepas yang berpenghasilan fluktuatif terus memaksakan gaya hidup tertentu demi terlihat sukses di media sosial, kemudian berakhir dengan stres dan utang konsumtif.
Meski istilah money
dysmorphia belum secara formal digunakan dalam literatur akademik dan
riset kebijakan di Indonesia, berbagai survei nasional menunjukkan adanya
tekanan finansial yang nyata dan sistemik di kalangan generasi muda. Survei
Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang disusun Otoritas Jasa Keuangan
bersama Badan Pusat Statistik pada 2024 memperlihatkan bahwa indeks literasi
keuangan kelompok usia muda masih berada di bawah 40 persen, jauh dari target
literasi nasional yang dipatok di atas 50 persen.
Angka ini
mengindikasikan bahwa sebagian besar Gen Z telah akrab dengan produk keuangan
mulai dari dompet digital, paylater, hingga investasi daring namun belum
sepenuhnya memahami prinsip perencanaan keuangan jangka panjang, manajemen
risiko, serta keseimbangan antara konsumsi dan tabungan. Riset yang dilakukan
oleh Intuit Credit Karma melalui survei terhadap generasi muda di Amerika Serikat
pada 2023 menunjukkan bahwa sekitar 43 persen Gen Z mengaku mengalami money
dysmorphia. Menariknya, sebagian responden yang merasakan kondisi tersebut
justru memiliki tabungan lebih dari 10.000 dolar AS, bahkan sebagian di atas
30.000 dolar AS.
Temuan ini
mengindikasikan bahwa money dysmorphia bukan sekadar persoalan kekurangan
pendapatan, melainkan persoalan persepsi dan ekspektasi yang tidak seimbang
dengan realitas. Kredit Karma menegaskan bahwa kecemasan finansial pada Gen Z
banyak dipicu oleh perbandingan sosial dan ekspektasi pencapaian yang tidak
realistis. Fenomena ini semakin relevan karena Gen Z adalah generasi yang
tumbuh dalam periode ketidakpastian ekonomi global. Mereka memasuki usia
produktif di tengah lonjakan inflasi pascapandemi, ketidakstabilan pasar tenaga
kerja, serta perubahan pola kerja yang semakin fleksibel tetapi minim
kepastian.
Keseluruhan gambaran tersebut menunjukkan bahwa money dysmorphia di Indonesia bukan fenomena individual semata, melainkan refleksi dari interaksi antara literasi keuangan yang belum matang, tekanan konsumsi berbasis gaya hidup, serta struktur ekonomi yang kurang ramah bagi generasi muda. Dalam konteks ini, kecemasan finansial Gen Z bukan hanya persoalan psikologis, tetapi sinyal peringatan atas perlunya pembenahan sistemik dalam pendidikan keuangan, pasar kerja, dan tata kelola ekonomi yang lebih inklusif bagi generasi penerus.
Tekanan Struktural
Money dysmorphia
tidak dapat dilepaskan dari tekanan struktural yang nyata. Survei global
tentang kesehatan finansial yang dilakukan oleh EY pada 2023 mencatat bahwa
hanya sekitar 31 persen Gen Z yang merasa aman secara finansial. Lebih dari
separuh responden menyatakan sangat khawatir tidak memiliki cukup uang untuk
masa depan. Tekanan ini tercermin pula dalam riset The Motley Fool yang
menemukan bahwa lebih dari 60 persen Gen Z mengalami stres finansial beberapa
kali dalam sepekan, dan sekitar 20 persen mengalaminya setiap hari. Angka ini
jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Tekanan ekonomi tersebut
juga memengaruhi pola kerja. Laporan Forbes dan berbagai survei pasar tenaga
kerja menunjukkan bahwa lebih dari separuh Gen Z mengandalkan pekerjaan
tambahan atau side hustle di luar pekerjaan utama. Fenomena ini tidak selalu
mencerminkan semangat kewirausahaan, melainkan strategi bertahan hidup di
tengah pendapatan yang dirasakan belum mencukupi. Alih-alih menciptakan rasa
aman, kondisi ini justru memperkuat persepsi bahwa satu sumber pendapatan tidak
pernah cukup dan masa depan finansial selalu rapuh.
Di Indonesia,
tekanan serupa tercermin dari rendahnya tingkat kepemilikan aset di kalangan
usia muda. Data BPS menunjukkan bahwa kepemilikan rumah masih didominasi oleh
kelompok usia di atas 40 tahun, sementara generasi muda menghadapi harga
properti yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan. Ketika indikator
keberhasilan finansial tradisional semakin sulit dicapai, perasaan tertinggal
menjadi pengalaman kolektif Gen Z.
Distorsi Persepsi
Namun yang
membedakan money dysmorphia dari kecemasan finansial biasa adalah distorsi
persepsi yang diperkuat oleh budaya digital. Media sosial memainkan peran
sentral dalam membentuk standar kesuksesan finansial yang semu. Pencapaian
ekonomi sering ditampilkan dalam bentuk potongan gaya hidup tanpa konteks utuh,
seperti latar belakang keluarga, utang, atau risiko finansial yang diambil.
Riset Credit Karma menunjukkan bahwa hampir 48 persen Gen Z merasa tertinggal
secara finansial jika membandingkan diri mereka dengan apa yang dilihat di
media sosial.
Fenomena ini tidak
hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Inggris, survei yang dilakukan oleh Money
and Pensions Service pada 2024 menunjukkan bahwa Gen Z merupakan kelompok usia
dengan tingkat kecemasan finansial tertinggi, meskipun sebagian dari mereka
memiliki tingkat tabungan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya di
usia yang sama. Di Korea Selatan, Bank of Korea mencatat meningkatnya kecemasan
finansial di kalangan pekerja muda meskipun tingkat pendidikan dan partisipasi
kerja relatif tinggi. Tekanan biaya perumahan dan ekspektasi sosial tentang
kesuksesan menjadi faktor utama yang memicu distorsi persepsi tersebut.
Jepang memberikan
contoh yang sedikit berbeda. Meski Gen Z Jepang juga menghadapi stagnasi upah,
budaya finansial yang lebih konservatif dan rendahnya eksposur pamer gaya hidup
di media sosial relatif menahan tingkat money dysmorphia. Namun, survei
pemerintah Jepang tetap menunjukkan meningkatnya kecemasan finansial generasi
muda, terutama terkait masa depan pensiun dan stabilitas pekerjaan. Ini
menegaskan bahwa money dysmorphia memiliki variasi konteks, tetapi akar
masalahnya tetap sama: ketidakselarasan antara realitas ekonomi dan ekspektasi
sosial.
Makna
Keseimbangan
Fenomena money
dysmorphia menunjukkan bahwa literasi keuangan saja tidak cukup. Banyak Gen Z
memahami cara menabung, berinvestasi, dan menggunakan teknologi finansial,
tetapi tidak dibekali kemampuan memaknai uang secara sehat. Survei Nasional
Literasi dan Inklusi Keuangan di Indonesia menunjukkan bahwa meskipun generasi
muda memiliki akses tinggi terhadap layanan keuangan digital, pemahaman
konseptual tentang perencanaan jangka panjang, inflasi, dan risiko masih
terbatas.
Pelajaran dari
negara lain menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih seimbang. Kondisi di
Jerman, pendidikan keuangan sejak sekolah menengah dipadukan dengan
perlindungan sosial yang kuat, sehingga kecemasan finansial generasi muda
relatif lebih rendah. Sedangkan di Australia, regulator keuangan secara aktif
mengawasi promosi gaya hidup finansial di media sosial dan mendorong
transparansi produk keuangan, untuk mengurangi ekspektasi yang menyesatkan.
Bagi Indonesia,
money dysmorphia seharusnya dibaca sebagai sinyal sosial, bukan sekadar tren
psikologis. Ia mencerminkan tekanan struktural ekonomi, distorsi budaya
digital, dan celah dalam pendidikan finansial. Memaknainya secara utuh membuka
ruang kebijakan yang lebih manusiawi, di mana kesejahteraan finansial tidak
diukur semata dari saldo rekening, tetapi dari rasa aman, kendali, dan
keberlanjutan hidup.
Jika tidak direspons
secara serius, money dysmorphia berpotensi melahirkan generasi yang secara
ekonomi bertahan tetapi secara psikologis rapuh. Sebaliknya, jika dibaca
sebagai peringatan dini, fenomena ini dapat menjadi pijakan untuk membangun
relasi yang lebih sehat antara generasi muda, uang, dan masa depan mereka.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar