Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 7, 2018

Surat Diman untuk Mileak 2018 (1)

Mileak 2018,  Senin ini harusnya lebih menyenangkan ketimbang senin senin sebelumnya, walikelas dan pak guru dari pagi tidak ada di sekolah. Aku tak tahu apakah beliau lagi rapat guru atau lagi main, tidak ada informasi dari ruang tata usaha.  Biasanya, Kalau begini situasinya, kami akan bergegas secepatnya menyelesaikan tugas di meja kami, lalu segera bergabung dengan kelas olahraga atau kelas kesenian di ruang sebelah dan menikmati keceriaan bersama, kegembiraan bersama.  Tapi tidak dengan senin hari ini, Mileak  Aku demikian gelisah, tanpamu di sekolah,semua terasa aneh buatku. Meski aku tahu kamu hari ini gak masuk,beberapa kali aku mengintip ruang kelasmu, hanya untuk sekedar membayangkan kamu tengah duduk di meja itu dengan senyum yang manisnya gak ketulungan.  Di kelas kesenian dan olahraga, kegembiraan, keceriaan yang biasanya ku dapatkan, tak jua muncul meski sejenak. Bahkan siangnya, saat rapat OSIS, bayangan mu yang tengah duduk di seberan...

Peluh

Peluh Mengaliri tubuh Langkah mengayuh Menyibak riuh Peluh Pada wajah lusuh Dan senyum separuh Detak jantung bergemuruh Peluh Kelak menjadi saksi Atas perjuangan seorang Hamba Dalam menjemput rezeki Yang telah disediakan olehNYA Jakarta, 11 Oktober 2018

Bayang Wajahmu

Gambar
Dalam temaram cahaya, bayang wajahmu menari-nari bersama riak air yang memainkan kidung senja, di pantai itu. #puisidanfotografi

Serpihan Rindu

Gambar
Phinisi itu membawa serpihan rindu yang aromanya menguap dalam belaian sang bayu, di senja itu. #puisidanfotografi

Rinduku

Gambar
Rinduku mengapung di Pantai Losari. Dipayungi lembayung senja, dan riak air yang menyenandungkan nada indah. #puisidanfotografi

Mengambang

Fajar membayang, Gerus pelahan gelap remang, Lelaki masih lagi berjuang, Menegakkan tatih gamang Mendekat arah seruan- Nya lantang Sajadah dibentang, Mata dan tubuh memajang Tapi benak lelaki, Berliar larian jalang Menjauh, menjauh dari rupa-Nya yang harusnya ditemu di khusuk sembahyang... Ah.... Lelaki, bumi Nya yang bergoncang, Deru air Nya yang bergelombang, Apakah semata genang kenang dan kisah  lengang, Tak benamkan iman dan yakinnya pada pancang kencang

Bidadari dengan senyum tersungging

Ada bidadari, senyumnya tersungging, Menyambutku di beranda Tak peduli pulangku Bawa cinta Atau luka! #tetehnumaketiung

Menyeduh Kopi, Menyuluh Api

Gambar
Di meja Ada kopi, pena dan buku Di dada, Ada api, cinta dan kamu Kopi terseduh, Api tersuluh, Menderu menderu Pena pada buku, cinta pada kamu #tetehnumaketiung

Kata-Kata

Kata-kata kadang meluncur begitu saja Saat eforia melanda Lupa, bisa jadi ada yang terluka Kadang akibatnya tak terduga Kata-kata bertebaran di mana-mana Tak perlu kau ambil semua Mana yang diingat mana yang dilupa Pilihlah dengan bijaksana Kata-kata bisa jadi penyemangat jiwa Saat diri lemah tak berdaya Perlahan hangat mengalir di jiwa Memberi amunisi bagi diri tuk berkarya Tangis adalah kata-kata tak terucap Berjuta makna dapat diungkap Bagi yang mampu memahaminya Cukuplah sudah penjelasannya Katamu begini, kataku begitu Berupaya mencari titik temu Berbeda pendapat kadang perlu Tapi tak perlu terus beradu Jakarta, 28 Sep 2018

Selamat Menempuh Hidup Baru

Selamat menempuh hidup baru kawan Hari ini kau ucap janji suci dihadapan penghulu Disamping wanita pilihanmu Semoga dapat menjalin hidup lebih bermakna Suka dan duka akan datang menghampiri Bersama mengarungi bahtera Menjalani hidup sampai akhir nanti Membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah Jadikan dia teman seperjalanan Menapaki jalan lurus yang kau pinta Carilah penerang jalan dan rambu-rambu Agar selamat sampai di tempat yang dituju Banyak godaan, cobaan dan ujian Semua harus dihadapi dengan ilmu Tanpa ilmu, gamang menyergap sepanjang masa Tak tau arah mana hendak dituju Menjalani hidup apa adanya Menuntun kepada kebenaran Menjalani hidup penuh kepura-puraan Dapat menuju jurang kehancuran Tak ada manusia yang sempurna Terimalah dia apa adanya Bersama memperbaiki diri Saling mengisi dan bersinergi Jakarta, 10 Oktober 2018

Prapatan: Prapto dan Prapti dalam Tulisan (Cerita Fiktif Belaka)

SALAH SASARAN Prapto dan Prapti memutuskan membangun biduk rumah tangga pada empat bulan silam. Terhitung masih pengantin baru, kedua insan ini senantiasa diselimuti perasaan rindu yang menggelora. Keduanya masih terbuai dalam pusaran kasmaran yang memang membuat ketagihan. Sayangnya tuntutan pekerjaan dan kerasnya ibu kota membuat intensitas pertemuan mereka menjadi tak total. Waktu mereka lebih banyak berkutat di jalan, kantor dan peraduan. Untung di zaman sekarang berbagai media sosial bisa memudahkan segala urusan, pun mengungkapkan perasaan. Prapto dan Prapti menjaga kualitas komunikasi dengan rutin berbalas pesan whatsapp tiga detik sekali. Hal yang serupa terjadi di akun media sosial mereka yang lain. Berbagai tulisan nyata menunjukkan yang dirasa. Mulai dari rindu, cinta, hingga sindir-sindiran berbau romansa. Semuanya demi menjaga manisnya berumah tangga. Siang ini Prapti sungguh merasa lelah. Berkas-berkas pekerjaan masih menumpuk di mejanya. Meskipun dari pagi hari ...