ENGGAK SADAR

Di tengah-tengah membaca buku "Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring" hasil penulisan Andreas Kurniawan, aku terjebak pada pembahasan tentang "Mindfulness". Suatu cara menjaga kewarasan yang lamat-lamat pernah kudengar sebelumnya. Brilian sekali Andreas Kurniawan menggambarkan mindfulness dalam menangani rasa duka dengan analogi mencuci piring. Ringkasnya, cuci piring yang merupakan kegiatan rutin biasa sebenarnya ada SOP rinci dengan banyak hal yang harus dilalui dan dirasakan. Sayangnya, seringkali kebanyakan orang hanya berfokus membersihkan piring kotor dengan mengandalkan insting dan kebiasaan. Tahapan dilalui seperti otomatis saja, tidak dengan kesadaran penuh. Begitupun berduka. Padahal dengan kesadaran penuh, fase-fase melalui duka dapat terasa lebih bermakna.

Bukan-bukan, ini bukan mau menulis resensi buku. Hanya tentang pikiran yang langsung mereka-reka mindfulness pada kejadianku sendiri. Bukan tentang duka, bukan juga cuci piring. Sepertinya aku belum mencapai level mencuci piring dengan sadar. Seringnya sekadar menunaikan kewajiban membilas dengan air atau menggosok piring sambil terselip lamunan ke mana-mana. Belum bisa menemukan kekhidmatan membuang sisa makanan di piring. Tak pernah terpikir untuk menikmati tekstur piring sebelum dan setelah dikasih sabun. Mentok-mentok paling hanya menunggu bunyi cicit-cicit setelah piring bersih dan kesat, terpengaruh iklan di televisi. Jauh dari cerita di buku tadi.

Setelah mengorek-ngorek potongan-potongan kejadian dalam lemari pikiran, akhirnya ketemu. Baru sadar, ternyata aku adalah Seorang Pria yang Melalui Luka dengan Menyeduh Kopi. Pastinya bukan luka beneran, tapi luka akibat terbentur kerasnya kehidupan (ceilah..). Hampir tiap pagi aku menyeduh kopi untukku dan istriku. Aku sedang tergila-gila mencoba beragam kopi dengan seduhan metode V60. Dulu aku selalu berkomentar bahwa menyeduh kopi dengan V60 itu ribet. Segala nimbang dulu, giling dulu, dan semua ritualnya. Sedari kecil pengetahuan menyeduh kopi ya berarti kopi tubruk. Tanpa perlu banyak mikir, tinggal memanaskan air, menuangkan kopi bubuk, menambahkan gula, dan mengaduknya. Refleks saja. Meskipun sambil ngelamunin cicilan, secangkir kopi pasti tetap berhasil tersaji. 

Secara otodidak dari Youtube dan Instagram aku mengulik cara bikin kopi dengan V60. SOP-nya memang ribet ternyata. Ritual dimulai dengan menimbang biji kopi sesuai takaran, lalu menggilingnya sesuai kebutuhan. Tak lupa menyiapkan air panas dengan suhu yang diukur dan perbandingan dengan berat kopinya juga ada rasio tertentu. Langkah selanjutnya, bubuk kopinya direbahkan di atas dripper beralaskan kertas saringan. Baru air panas dituangkan perlahan. Gerakan menuangnya pun gak sembarangan, ada yang suka melingkar, ada yang zig-zag, terserah mau pakai sesuai selera. Setelah selesai prosesnya dan jadi minuman kopi, enggak bisa ditinggal gitu aja. Kadang perlu sedikit digoyang-goyang, lalu dicium aromanya. Sudah selesai? Belum. Biasanya kopi akan dituang sedikit ke gelas untuk diseruput. Bukan biar kelihatan gimana ya, ini untuk mencicipi rasa kopinya gimana. Kalau berhasil, biasanya akan tercium aroma dan rasa khas yang beragam sesuai lokasi biji kopi ditanam.

Ribet kan? Jujur menurutku, iya. Tapi aku tetap melakukannya hampir tiap pagi dan sangat menikmati. Aku seakan menampar mulut sendiri yang dulu suka bilang "ngapain bikin kopi ribet-ribet, beli aja beres". Satu hal penting yang baru kusadari, prosesi menyeduh kopi V60 tadi harus dikerjakan dengan sadar, enggak bisa pikiran teralihkan ke topik yang lain. Salah nimbang, salah gilingan, salah suhu air, salah ukuran air, salah cara tuang, atau salah satu saja salah, rasa kopinya tak akan keluar maksimal. Bahkan, saat menuang air panas, bukan hanya tangan yang bekerja, mata tetap harus memandang detik yang berjalan. Ya, waktu tuang dan meresap ke dalam kopi juga perlu diperhatikan. Sama sekali tak memberi kesempatan untuk memikirkan hal lain. Dari sini aku sadar (lagi), sepertinya ini yang jadi alasan mencintai keribetan ini. Tiap menyiapkan kopi dengan metode V60, aku secara tidak sengaja sedang menerapkan mindfulness. Seperti hasil googling, mindfulness dapat menenangkan pikiran dan meningkatkan kesehatan mental.

Dalam buku yang kusebutkan di awal, Andreas Kurniawan menuliskan "Mindfulness adalah kondisi kita sadar akan apa yang terjadi". Di paragraf berikutnya di halaman yang sama dengan kutipan tadi, penulis juga menambahkan "Dalam mindfulness, kita memberikan kesempatan bagi suatu pikiran atau perasaan untuk datang, tanpa menolak, tanpa menghakimi". Aku sudah mempelajari terlebih dahulu tahapan menyeduh kopi V60 dengan segala konsekuensi hasilnya. Dari situ, dengan sadar aku menimbang biji kopi, mencoba mencari tingkat gilingan yang pas, menyiapkan air dengan suhu yang tepat, dan menuangkan dengan cara yang kuyakini. Semuanya dikerjakan dengan sadar dan mengalir sesuai SOP. Terkadang sadar menuang airnya terlalu terburu-buru atau volumenya kebanyakan. Aku biarkan dan lanjutkan prosesinya meskipun sadar akan mempengaruhi rasanya. Setelah jadi minuman kopi dan berakhir dengan menyeruputnya, aku sadar apa yang membuat rasanya seperti saat itu. Penuh kesadaran dan penerimaan.

Plot twist-nya, setelah itu pemikiran melanglang buana. Aku jadi paham selama ini belum bisa benar-benar merasakan manisnya Salat. Salah satu inti nilai dari salat adalah khusyuk. Pada sebuah ceramah tentang cara salat khusyuk, Ustadz Ammi Nur Baits pernah menjelaskan bahwa, khusyuk dalam solat bukan berarti kita membayangkan salat di tempat yang tenang atau mencoba mendatangkan rasa seolah-olah kita sedang salat dengan situasi tertentu. Memaknai khusyuk dalam salat lebih pada melaksanakan rukun-rukun salat dan bacaan-bacaan di dalamnya dengan sadar. Saat sujud kita tahu bahwa Rasulullah mencontohkan seperti apa dan seharusnya dengan sadar kita bergerak sesuai SOP-nya. Begitupun gerakan lainnya. Bukan malah mengawang-ngawangkan pikiran ke mana-mana. Itulah mengapa bisa terjadi lupa rakaat saat salat. Seringnya, gerakan dan bacaan salat  berlalu begitu saja karena sudah hafal bukan karena sadar gerakan. Tak heran akhirnya lupa jumlah rakaat yang sudah dilalui.

Sejak beribu tahun lalu, ternyata Allah sudah memerintahkan Salat dengan khusyuk yang ternyata sejalan dengan konsep mindfulness. Al Baqarah ayat 45 sudah menyebutkan bahwa Salat merupakan cara memohon pertolongan Allah. Dengan pertolongan Allah tentu hidup akan terasa lebih tenang dan terhindar dari kekhawatiran berlebihan. Pantas saja aku masih sering stres meski sudah salat, salatnya sambil enggak sadar. Seenaknya sering merasa "hidup ini memang gila", ternyata yang gila manusianya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

SUDUT PANDANG

Aku, Si Kutu Buku, Dan Sunyi