Postingan

KRL Mania (1)

Sebagai orang yang hidup pada jaman milenial atau jaman “now”, saya sangat akrab dengan berbagai jenis transportasi publik. Mulai dari angkot, angkutan online baik roda dua maupun roda empat, segala jenis bis baik dalam maupun luar kota, dan kereta Jabodetabek maupun kereta luar kota. Kali ini saya akan menuliskan kisah mengenai pengalaman saya bersama kereta Jabodetabek atau lebih terkenal dengan nama KRL. KRL adalah kepanjangan dari kereta rel listrik. Bukan soal teknis kelistrikannya yang ingin saya ceritakan disini, tapi pengalaman batin saya bertahun-tahun intim dengan KRL. Saya akan ajak pembaca berkelana dari mulai lobby stasiunnya. Kebetulan saya biasa naik dari stasiun Depok Baru. Stasiun Depok Baru berada diantara stasiun Depok Lama dan stasiun Pondok Cina. Dari arah Jakarta stasiun Depok Baru berada setelah stasiun Pondok Cina. Sedangkan dari arah Jakarta, berada setelah stasiun Depok. Biasanya saya sudah berada di stasiun Depok adalah pukul 05.25 pagi (perjuangan ...

Penjual Sapu Lidi

“Salim....,” suara cempreng Emak berteriak memekakkan telingaku. Kutarik kembali selimut menutupi seluruh tubuhku. Kebiasaan Emak yang kubenci adalah teriakan khas yang selalu menggema setiap pagi.                 “Salim, bangun. Jangan tidur melulu. Cari kerja sana!” cerocos Emak sambil menarik selimutku. Emak membuka gorden jendela kamarku. Cahaya matahari menerobos dan menyilaukan pandanganku.                 “Emak, aku masih ngantuk,” Aku menutupi lagi tubuhku dengan selimut.                 “Anak nggak tau malu. Anak-anak seumur kamu sudah pada kerja semua, bahkan ada yang sudah punya anak. Ini kamu masih terus begini. Pengang......”.                 “Stop, Mak!” tukasku. Aku s...

Beasiswa

Gambar
Benarkah mencari beasiswa itu sulit? Sebelum mendapat beasiswa, saya akan menjawab: Sulit. Setelah mendapat beasiswa, saya akan menjawab: Tergantung. Mendapatkan beasiswa, sama seperti mencari hal lainnya di dalam hidup ini adalah kombinasi dari beberapa faktor, seperti: preferensi pribadi, kenyataan di lapangan, dan faktor X.  Ibarat ingin mencapai suatu tujuan dari lokasi tertentu pada waktu tertentu, maka pertimbangannya pun relatif dengan keadaan kita pada masa itu.  Sebagai contoh, apabila kita merencanakan perjalanan ke kantor di suatu pagi, pertimbangannya bisa bermacam-macam. Apakah hari itu hujan, apakah saat itu kondisi tubuh sedang kurang fit, apakah pagi itu jalan tol macet, apakah di waktu tersebut ada gangguan sinyal kereta api, apakah hari itu tanggal tua atau tanggal muda, apakah hari itu ada ST, apakah jatah flexy time sudah habis atau masih banyak, dan seterusnya dan seterusnya. Begitu pula halnya dengan mencari beasiswa, tidak bisa disamak...

22 Years, still counting

Bulan Oktober 2017 ini ternyata tepat 22 tahun saya mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Suatu perjalanan waktu yang cukup panjang. Di dunia swasta, waktu 22 tahun seharusnya sudah bisa menempatkan seseorang ke pucuk pimpinan tertinggi perusahaan atau mungkin malah menjadi pemilik perusahaan. 22 tahun itu sendiri sudah melebihi separuh umur saya, yang artinya separuh hidup saya sudah saya abdikan di Kemenkeu. Hebat ya? saya aja baru noticed ketika ada notifikasi di akun Linkedin.  Pertanyaan yang coba saya renungkan adalah apakah pengalaman saya di Kemenkeu benar-benar 'bernilai' 22 tahun? jangan-jangan hanya 1 tahun tapi saya ulang-ulang selama 22 kali, LoL. Disinilah mungkin perbedaan nilai pengalaman kerja di dunia swasta dan di dunia birokrasi. Di birokrasi, start awal masuk kerja sangat menentukan. 22 tahun masa kerja berarti saya mendapat "jatah" minimal 5 kali naik pangkat, karena kenaikan pangkat reguler adalah seti...

Silaturahmi Offline

Tadi siang bertemu seorang penggiat BnD, tanyanya“gak nulis lagi?”. “Lagi gak tau mau nulis apa, gw masih berpegangan dengan judul Bukan Nota Dinas jadi pengennya nulis yg gak ada hubungannya dengan kantor tapi dari kemaren-kemaren apalagi abis diklat di Bekasi yang kepikiran malah tetek-bengek di kantor” jawabku. “Tulis yang ringan-ringan ajalah”, imbuhnya. “Blom tau mau nulis apa, yang ringan-ringan juga ujung-ujungnya kantor”, bantahku dengan suara pelan. Hening di antara kami, lalu entah pikiran dari mana aku berujar “pengen silaturahmi deh tapi bukan sama orang kantor, siapa tau membuka peluang baru”. Tanpa pikir panjang aku posting di WAG SMP ku “dah lama nih kayaknya kita gak silaturahmi” tadinya aku ingin menambahkan ajakan tapi ku pikir aku ingin melihat dulu respon dari teman-temanku. Kebetulan groupnya kecil hanya terdiri dari 51 orang, entah kenapa ini group gak nambah-nambah isinya padahal angkatan kami sepertinya sampai 200an orang. Yang menyahut hanya satu orang, yang r...

Alkisah, sebuah tempat bernama Tangerang Raya

Perjalanan dengan roda empat ternyata membawa pengalaman yang membekas buat saya. Karena cuma duduk manis, kali ya. Saya jadi sering membatin dan memikirkan pemandangan yang saya lihat sepanjang perjalanan, terutama dari sisi perkembangan pembangunan infrastruktur, kegiatan perdagangan, atau sekedar produk yang jadi komoditas khas. Kadang takjub, kadang miris. Seperti perjalanan kali itu, ketika memenuhi undangan pernikahan di tiga tempat: Legok di Kabupaten Tangerang, Ciledug di kota Tangerang, dan di lingkungan rumah sendiri, Pondok Aren – Tangerang Selatan. Karena cuaca terlihat tidak menentu, kadang terang tapi tiba-tiba gelap, kami memutuskan mengendarai Fazan, kendaraan roda empat sejuta umat di zamannya, 2012. Waww … kami melewati rute saya latihan stir mobil di bilangan perumahan elit Bintaro Jaya. Bak jalan protokol     pusat Jakarta tempo dulu, jalannya terbilang lebaaar untuk satu arah. Di kanan kiri jalan mulai bertumbuhan gedung-gedung bertingkat, semacam ...

GEMESS (Garing mak Kress): Salah Kaprah

Ada yang beda dengan Dimas akhir-akhir ini. Sebenarnya penampilannya masih sama, tapi kini dia selalu didampingi pria berpeci dan bersafari. Badannya tak gempal namun cukup besar. Posturnya lumayan tinggi dan sesekali berkacamata legam. Hampir di setiap langkah Dimas selalu ada jejak pria itu di belakangnya.  "Wah, jangan-jangan sekarang Dimas dijaga bodyguard", sekilas terbersit pertanyaan dalam hati.  Bersamaan dengan itu terbersit pula keraguan yang tak kalah gaduh, mengingat sesekali pria misterius itu terpergok berbekal tas jinjing semi koper yang dikempit, kadang di sebelah kanan, kadang di sebelah kiri.  "Ooh, mungkin dia semacam pengawal atau asisten pribadi si Dimas" coba menyimpulkan sendiri.  ***** Beberapa bulan yang lalu Dimas berhasil memenangkan pemilihan lurah di daerah kami. Dia menjadi lurah termuda sepanjang sejarah berdirinya kelurahan kami. Sebagai teman dari SD hingga SMA aku ikut merasa bangga. Sejak SMP, Dimas memang san...