Postingan

Sebuah kisah di hari jemuah

Ini bukan gibah di hari jemuah, Hanya mencoba mencatatkan kisah, Mungkin bisa jadi sejarah, Yang kelak di kenang dengan indah Atau sekedar menjadi sampah Syahdan suatu ketika, Manakala maharaja telah bertitah, terpaksa atapun suka cita Hamba dan kawula tak kan bisa menyanggah, Dan bergegas  jalani lampah Pun sabdanya tentang bagaimana jabatan harus dibedah, dari gemuk struktur, Menjadi fungsional pada banyak cacah Semua mahapatihpun berlomba lomba menjadi penterjemah, Mungkin berbeda ujaran tapi sama arah, Bagaimana sabda terimplementasi sampai ke bawah, Kadang sesekali mungkin mencari celah, agar sabda tak disanggah, Tapi tak membuat susah, Birokrat di level bawah Konon telah banyak musyawarah, Bagaimana Hitung hitungan ditelaah, Bagaimana kompensasi untuk jabatan yang musnah Bagaimana prosedur murah dan mudah Bagaimana payung hukum digubah, agar dikemudian hari tak sisakan masalah Di sudut rumah, Obrolan pejabat fungsional pun menjadi meriah, seba...

Fort de Kock 1938

Gambar
Apabila kami bertemu, tidak pernah sebentar. Bermula dari ide 1 aktivitas, diakhiri dengan banyak aktivitas sepanjang hari. Aku dan sepupuku. Kami terhubung bukan hanya karena kerabat, namun juga karena 'nyambung' ketika membicarakan topik-topik anti mainstream.  "Kamu seperti nenek. Sudah pernah ada yang bilang?" Tanyanya sambil memeluk kantong belanja IKEA yang penuh dengan piring, bantal, dan pernik-pernik kantor. "Benarkah?" Tanyaku balik. Hampir tak percaya. Sepanjang hidup, aku sudah kenyang dicela atau sekali-sekali dipuji. Tapi tidak untuk yang satu ini. Diumpamakan seperti nenek adalah idealisme yang tak terbayangkan. Meski aku hanya sempat bertemu dengannya 1 tahun di awal hidupku. Saat itu, dari sepotong foto lusuh terlihat nenek menyalakan sebatang lilin mungil di atas semangkuk puding buatannya dan aku tanpa gigi tertawa tergelak-gelak kesenangan melihat hadiah ulang tahun dari nenek tersayang. Ia adalah seseorang ...

Kopi (badarawuhi (3))

Dia, Yang Padamu Mengikat Setia, Menyecap Pahit dan Manismu Untuk Selalu Terjaga, Melintas Masa Sementara, Aku rela sela di antaranya, Yang terbiasa Oleh Pahitmu Semata menikmati setiap Reguk yang Memantik Bahagia Mungkin, Kau ahlinya, Untuk Membuat Tak ada Yang akan  terluka Karena kau dengan gula pemanis kau dengan pahit semata Terseduh Pada Cangkir dan waktu Berbeda (Ujung harapan,  Oktober 2019)

Kuburanku

Ini adalah kuburanku Yang ku gali sejak bertahun-tahun lalu Dengan riuh tawa dan derai air mata palsu Dalam episode kehidupan semu Kuburanku tampak kusam Tergilas pedihnya kemarau panjang Tertampar panasnya mentari dan hembusan bayu yang menghempas dedaunan kering Dari sebuah pohon sekarat di sisi kuburanku Tak ada yang sudi melihat kuburanku Selain aku Karena ia terus memanggilku Dengan suara paraunya yang sumbang di dengar Entah kapan hujan bertamu ke kuburanku Membasahi tanah merah di sekelilingnya Mengusir debu yang menyelimuti Yang dengannya kelak rerumputan dan pepohonan menghijau Akankah senyum kan mengembang Dari para peziarah yang datang Menatap kuburanku Yang didalamnya bersemayam jasadku Seraya berdoa; semoga RahmatNYA tercurah kepadamu

Pesona Separo Agama (2)

Kelam shubuh perlahan berganti terang, pertanda pagi kan menjelang. Jauh di ufuk timur, mentari tampak mendaki cakrawala, menebar kehangatan. Cahaya kuning keemasan perlahan menembus jendela kaca. Kerlap-kerlip terhalang dedaunan Mangga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar deru motor dan mobil silih berganti. Sesekali diselingi suara penjual gorengan, berlalu lalang, menjajakan pisang memutari komplek Pandega Marta.  Bagi sebagian orang, melanjutkan tidur di pagi akhir pekan adalah kenikmatan yang tiada duanya. Apalagi kalau hujan, bersembunyi di balik selimut tebal sungguhlah nikmat Tuhan paling hakiki. Namun tidak bagi Izzam, Fattah, dan Ardi. Dua tahun mereka ditempa. Tak hanya diajari aqidah, fiqih, dan tafsir, melainkan juga shiroh . Saban hari ditausiahi bagaimana Nabi dan para sahabat memulai pagi, keutamaan berlama-lama di masjid sembari menunggu waktu syuruq , dan sebagainya. Tak heran ketika mata begitu berat, selalu saja terngiang di benak mereka QS. Al Jumu’ah...

Demi Masa (3), Pegawai Baru

Pukul 22.00 Tina membaca ulang pekerjaannya. Matanya terasa berat karena dari sore ia fokus mengerjakan tugas yang dititipkan oleh Ponco kepadanya. Dibawanya kertas kerja yang telah diselesaikannya ke cubicle  Adnan. Setelah dipersilakan, Tina duduk menghadapi Adnan. Kertas yang dipegangnya beralih ke tangan Adnan. “Pak, boleh saya bicara dulu?” tanya Tina. “Boleh-boleh aja sih, cuma kan ini udah larut, kamu nggak pengen pulang?” “Ah, Bapak. Biasanya juga nggak peduli kok saya pulang malam  atau bahkan pagi,” sindir Tina “Hehehe, ya nggak gitu juga kali,” Adnan tertawa kecil. “Oke…oke, apa yang mau dibicarakan?” sambung Adnan. “Masalah sensitif sih pak. Bapak jangan marah ya…..,” Tina agak ragu melanjutkan bicara. “Kamu hamil?” mata Adnan melotot ke arah Tina. “Makanya jangan bergaul bebas gitu, Tin. Nanti jadi aib semuanya. Kan saya juga…..,” belum sempat Adnan melanjutkan omongannya Tina memotong perkataan Adnan. “Ya Allah, Pak. Tega ya Bapak nuduh sembarangan. ...

Tiba Tiba Saja Rabu Pagi Tiba

Tiba tiba saja rabu pagi tiba, Baru sejenak rasanya selasa, Siang nanti pun bisa jadi tak lama Tiba tiba saja senja Tiba tiba saja malam Tiba tiba saja  hari, minggu, tahun terlewat tanpa tanda, tanpa baca Tiba tiba saja, Kita berduka, Tentang bermusim waktu tersia Sutikno Slamet, 14 Agustus 2019