Postingan

Rindu

Ruang ini sunyi walaupun banyak orang berlalu lalang Hati ini sepi menantimu yang tak kunjung datang Detik berganti menit mengisi hari Menyiksaku dalam penantian tak bertepi Sebuah pertanyaan mendera kalbu Apakah dirimu baik selalu? Betapa hanya cemas yang kurasakan Menyimpan penyesalan tiada akhir kenapa rindu ini tak kusampaikan Kunanti dirimu di ruang yang sama Diantara rasa pedih dan lara Demi satu asa yang menggelora di dalam diriku Kau akan kembali padaku

Pergilah Cinta

Pergilah Cinta (dibacakan dengan saling berbalasan) Tertegun kumerana Kenangan indah yang sirna Raga dan jiwamu Masih kurindu Lima tahun kita bersama Tak kusangka kita harus berpisah Segala cita-cita kita bersama Terbang jauh meninggalkan luka Begitu jauh kau pergi Melebihi jarak yang kuketahui Andai kubisa memutar waktu Mengubah perkataanku Masih teringat ucapanmu Begitu kejam menusuk kalbu Kutuju engkau sebagai pelabuhan terakhir Tak kusangka semua berakhir Bukan maksud mulut berucap Memutuskan cinta yang tak bisa satu atap Tiada kata untuk mengalah Memang, hubungan kita yang salah Andai kutidak mengenal cinta ini Takkan pernah ku sesakit ini Bahagia dan kenangan Yang takkan bisa kulupakan Cinta yang nyata namun terlarang Dimana semua orang menentang Semua halangan kulawan Tapi kukalah dalam peperangan semua yang patah tak lagi tumbuh kau yang hilang pun tak lagi berganti Sekarang kita berdua berjalan, Berdampi...

Suara Sunyi

Detak jam pada malam Detak jantung pada keheningan Suara-suara tak sembunyi Mereka hanya butuh sunyi Diam.. Diamlah.. Semakin banyak kau diam Semakin banyak yg kau dengar Sunyi.. Sunyilah.. Semakin dalam kesunyian Semakin suara tak dibutuhkan Mengerti tanpa bunyi, Kesunyian yang agung  J0818

Tentang Kita Dan Mereka

Ini bukan tentang Aku, Kamu ataupun Dia. Ini tentang Kita dan Mereka. Yang setiap hari berpindah tempat, lewat jalan yang sama atau berbeda. Dengan alat yang sama atau berbeda. Dengan orang yang sama atau berbeda. Ini tentang Kita dan Mereka, yang setiap hari nyaris di waktu yang sama, harus mematikan rasa. Membuang jauh-jauh akal sehat, melupakan semua ajaran dan pelajaran. Ini tentang Kita dan Mereka yang selalu berasumsi dengan diri sendiri. Ini tentang Kita dan Mereka, yang lupa atau bahkan tak pernah ingat bahwa kita akan kembali di hari-jam-menit yang tepat: tidak akan lebih cepat atau lebih lambat. Tidak akan tertunda. Ini tentang Kita dan Mereka, yang selalu merasa diri paling berhak cepat sampai di rumah. Yang merasa paling ditunggu kehadirannya. Ini tentang Kita dan Mereka, yang tak pernah abai nyawa. Berbalas pesan saat berkendara. Salip di kiri lambat di kanan. Ini tentang Kita dan Mereka, yang hanya menunggu waktu saja hembuskan nafas di jalan...

Novi and her love

Pendoa dan Surganya

Alunan sunyi terdengar sayup-sayup di dalam hati Menggiring lirih sepi yang menepi Aku tak seorang diri meskipun mungkin sendiri Karena mereka berpindah ke alam tanpa jejak kaki Rembulan terang tak menembus temaram pelita Membiarkan hitam menguasai warna Membuat berkedip tiada beda Seolah merana padahal ku bahagia Sepuasnya tersenyum tanpa dianggap gila Semua bukan sekadar bicara bumi dan rotasi Bukan pula coretan-coretan imajinasi Aku hanya menyusuri kelok pematang sanubari Sembari menghirup segarnya cinta meskipun tak lagi pagi Benar, ini masih tentang cinta Yang tak pernah bosan mengambil peran utama Menjadi jiwa dari berbagai riak butiran rasa Asmara tak selalu tentang cumbu dan kata-kata mesra Terkadang cukup menatap diam wajah pendoa dan surganya

Aku Memang Sudah Gila

Aku mungkin memang sudah hilang akal sehat, bodoh atau mungkin sedikit gila. Ya, sedikit saja. Supaya tetap ada kontrol diri. Seperti orang yang menanti mentari pagi, berjemur lalu mandi. Aku tidak. Aku memang menanti, tapi lalu tidur lagi. Memainkan ilusi, berbicara pada alam. Dengan keyakinan, kamu berteleportasi, mengikuti inginku. Hadir di sini, muncul di situ. Menguatkan pikiran, ketika pintu terbuka yang keluar adalah kamu. Dengan baju kunyit capuccino. Berkali salah. Tetap kucoba. Sekalinya benar, aku gemetar. Sibuk mengejar kata yang berlarian kesana kemari. Hei, kalian sudah kususun sejak lama. Tak rumit bahkan terlalu sederhana. Sapa salam tak lebih. Sedikit senyum kalau bisa. Bubar, tak cukup hitungan sepuluh, terkadang cuma sampai tiga. Rumit sekali rasa ini. Mungkin tak cukup sekali reinkarnasi, untuk dapat tepat disisi. Entah kanan, entah kiri. Atau tak cukup rusuk hilang satu, supaya pasti menjelma jadi kamu. Ugh, kuproklamirkan saja nanti: aku lelah, menyimpanmu dalam ...