Postingan

MENUNGGU AZAN PULANG

Butiran letih mulai menderas menyusuri larik-larik hijaiyah, menyebab kering jalanan makan yang belum disiram lagi semenjak fajar mengumandangkan ajakan surau yang sudah bangun dari ujung sepertiga malam. Saat mentari melongok di atas Rumah, lelah masih sibuk membalik-balik lembaran Tuhan yang dijanjikan makin tebal, merangkai bunyi lirik-lirik langit dengan liukan indah irama rima-rimanya. Surya pamit undur diri karena tidak boleh pulang terlalu malam, mengetok pintu kamar yang berpesan: jangan ganggu orang di dalam, membangunkan mukena putih dengan bawahan jarik lurik-lurik yang belum sempat tidur dari pagi, memandang jauh ke ruas-ruas di balik jendela: cemas. "Engkau menunggu siapa? tergurat gelisah" "Azan Magrib, kemarin dia datang sebentar, lalu pergi lagi" "Aku takut dia lupa jalan pulang" Surya akhirnya melangkah pulang ke garis benam, naik kendaraan tua berwarna jingga, knalpotnya nampak menyemburkan awan yang nanti perlahan hilang disapu legam mal...

LDR

Kalau kau tahu semua ketakutan yang kurasakan saat ini, aku yakin kau tak akan pergi dariku walau sedetik saja . Lembaran akhir buku harian kedua miliknya yang kubaca. Buku harian yang masih sama dengan buku harian sebelumnya. Sebuah buku biru berukuran sedang dengan gembok kecil di sisi luarnya. Belum usai perasaan syahdu yg menerpaku ketika kubaca buku harian pertama yg ditinggalkannya, ini bagai badai kedua yang hempasannya tak dapat ku tahan lagi. Air mataku tumpah bagai aliran sungai tanpa batas, memuntahkan semua emosi  penyesalan  dan rasa bersalah yang tercipta. Aku terkulai lemas di atas bekas meja kerjanya, bercengkrama bersama hayalan, mencoba meraih kenangan kembali bersamanya. Hatiku lumpuh, badanku runtuh, tak ada tenaga yang tersisa lagi untuk membuka lembaran berikutnya, hanya isak tangis yg terdengar bagai rangkaian nada yang tak beraturan. Aku ingin teriak memanggil namanya. Tapi apakah dia masih mendengarnya? Apakah sang waktu mau menyampaikan maaf d...

SEPANJANG MINGGU

anak-anak kecil riang berkecipak air, siram-siraman hingga kuyup membasahi tawa lepas, yang sepanjang minggu kering ayahnya keluar rumah dan ikut-ikutan, mengguyur ke sekujur tubuh yang menenteng laptop, senyum aslinya menyungging, yang sepanjang minggu diinjak-injak oleh senyum akting ibunya merangsek lari bergabung, membiarkan air berpendar mengitari lenggok rambutnya, dengan memeluk laptop bahagia merona membuncah  yang sepanjang minggu disumbat merana anak-anak kecil kalang kabut  "nanti laptopnya rusak!" anak-anak besar malah girang sambil berpagut,  "biarkan mereka sejenak mandi, setelah sepanjang minggu gerah kepanasan" siangnya, anak-anak besar berpandangan, gawat, laptopnya gak mau nyala, "apa masuk angin?" "mustahil, mereka ini tahan banting!" "pasti mereka bisa tidur nyenyak sekarang" "terus kita harus bagaimana?" "nanti kalau sudah kering juga siuman" Besoknya, laptop-laptop itu sudah kering, kembali meny...

MASA SEKOLAH (1), GURU GEOGRAFI

Suasana kelas sangat lenng saat itu. Baru sekitar setengah penghuni kelas 3-11 sebuah SMA Negeri di Bandung yang telah berada di dalam kelas, padahal pelajaran Geografi akan segera dimulai. Guru mata pelajaran Geografi ini sebenarnya agak kuhindari karena aku belum membayar uang buku yang kubeli dari Pak Azimuth, begitu panggilan kami kepadanya (kami memanggilnya demikian karena ketika Pak Guru ini menjelaskan tentang sudut putar arah angin, gaya tangannya sangat atraktif sehingga kami menjulukinya Pak Azimuth). Agak riskan bagiku kalau hanya sedikit teman-teman yang berada di dalam kelas karena perhatian Pak Azimuth takkan terbagi dan tentu saja aku akan semakin terlihat olehnya. Ketika terdengar suara tapak kaki mendekat ke pintu kelas, jantungku semakin kencang berdetak. Sementara tak ada sedikit pun tanda-tanda teman-teman sekelasku memasuki ruang kelas. “Sebagian anak-anak ada kegiatan OSIS. Genk Boy Band seperti biasa nangkring di kantin.” Bisikan Siti semakin membuat suasana men...

GADIS KECIL BERPONI

Denting di dinding berhitung sepuluh kali Mengagetkan sepi dan gadis kecil berponi sedang menabur bunga berbahan lego sembari komat kamit merapal membetulkan letak nisan dari bantal bungkuk menuliskan: Nina Bobo kemudian dua pelayat datang dengan tawa ceria laki-laki dan perempuan, dari balik meja membawa kembang karangan berhias penat keringat tersemat ucapan: "lagi main apa, Nak?" gadis kecil berponi, matanya sudah berpakaian serba hitam meringkuk peluk menyanyi sendiri.

Kesedihan Akan Membunuhnu

Kesedihan itu seperti psikopat. Dalam kelembutan dia masuk menembus rongga dada,  bermain  senyap diantara rusuk yang berjajar rapi bagaikan pasukan penjaga,  tapi tak mampu menahannya  dan akhirnya kesedihan menguasai hati,  mencabik-cabiknya sampai kita lupa arti sebuah bahagia. Saat aku tertawa, dia hadir dan aku hanya bisa tetiba terdiam.  Desakannnya memaksaku menutup bibirku yang terbuka,  tekanannya memaksaku mengeluarkan butiran air yang kusimpan lama dalam dua bola mata.  Saat aku berdiri, dia hadir dan aku harus jatuh terduduk dan tertunduk. Disana sesosok makhluk bertanduk tertawa dengan aroma yang sangat busuk. Kesedihan..  mengapa kita harus berjumpa saat aku sedang mencoba menata istana bahagia,  saat aku sedang belajar tertawa  dan saat ku bertahan jauh dari dia.  Kesedihan ijinkan aku membencimu..  Aku juga berhak bahagia.. Ya kaan.. ?? KOS di WBC (Kumpulan Obrolan Santuy di Warung Bang Casman)

Udin dan Gelembung Sabun

Sengatan sinar matahari pada pukul dua belas siang terasa panas menyentuh kulit. Siapapun yang tidak mempunyai keperluan mendesak untuk keluar rumah, lebih memilih berdiam diri di dalam rumah sambil menikmati hembusan udara segar dari mesin pendingin udara/mesin kipas angin, kipas-kipas dengan kipas tradisional dari anyaman bambu, atau bahkan ada yang berteduh dibawah pepohonan yang berada di halaman rumah. Bagi sebagian yang lain khususnya para Ibu, sinar matahari yang terang benderang menjadi kebahagiaan tersendiri, karena jemuran pakaian yang memenuhi seluruh tali jemuran bisa kering lebih cepat sehingga sebagian pekerjaan rumah bisa selesai lebih cepat dari biasanya. Di musim penghujan, pakaian yang dijemur lebih lama keringnya. Bahkan, jika telah selesai mencuci kemudian menjemur pakaian lebih pagi, menjelang sore atau malam bahkan esok harinya pakaian masih terasa lembab, sehingga apabila dipaksa untuk di angkat pakaian yang lembab tadi dan ditumpuk selama beberapa jam, pakaian-p...